Setelah mendapatkan dua janji yang sangat yakin dijanjikan Papa dan Kakeknya, Fani belajar dengan semangat yang menggebu-gebu dan sangat rajin. Fani semangat belajar bukan serta merta dari janji Papa dan Kakeknya saja, tapi Fani juga ingin membuat Fina, Mama, Papa, Oma, Opa, Nenek, Kakek, dan semuanya bangga pada diri Fani. Berharap, Mama dan Pamanya berhenti membandingkan dia dan Fina. Karena dia bisa mendapatkan juara di kelasnya, lagi.
Seperti siang ini, setelah pulang sekolah, berganti pakaian, makan, dan salat, Fani belajar di kamarnya dengan tekun dan khidmat. Di meja belajarnya, terdapat stoples makanan ringan.
Karena merasa haus, Fani keluar kamar untuk mengambil jus jambu merah yang dibuatkan mamanya. Sampai di bawah, Fani dapat melihat Fina yang sedang menonton televisi.
Fani mengacuhkan Fina dan segera ke dapur untuk mengambil jus jambu merahnya. Fani berniat naik tangga dan kembali ke kamarnya. Namun, Fani berbalik ke arah Fina yang tengah menonton.
“Fin,” panggil Fani yang sekarang ikut duduk di atas karpet sebelah Fina.
“Apa?” ujar Fina tanpa menatap Fani.
“Kamu kok nonton TV, sih?”
“Memangnya kenapa kalau aku nonton TV?”
“Kamu memangnya udah belajar? Kita sebentar lagi ujian, Fina. Enggak boleh banyak main.” Fani menasihati Fina layaknya orang tua yang menasihati anaknya.
“Belum, aku malas. Nanti aja belajarnya. Lagian, aku nonton TV, Fani, bukannya main.” Fina tidak mengalihkan tatapa dari layar datar berplasma di depannya.
“Eh, iya-ya. Ini nonton, bukan main.”
Akhirnya Fani diam, ikut memperhatikan film kartun Princess Sofia yang tengah ditonton Fina dengan sesekali meminum segelas jus jambu merah yang di pegangnya.
“Kamu udah belajar?” Fina menatap kembarannya saat kartun yang ditontonnya sedang iklan.
“Udah tadi, tapi belum semuanya.” Fani menatap Fina yang memperhatikannya.
“Kamu belajar apa?”
“Matematika.”
"Hih! Aku engga suka matematika!" pekik Fina.
"Aku juga enggak suka, makanya aku belajar. Kalau aku enggak suka dan enggak belajar, nanti aku enggak tau mau jawab apa di ujian," ujar Fani malas.
Kedua anak kembar itu kembali mengalihkan pandangan mereka ke layar datar berplasma di depan mereka.
“Oh iya.” Fani menepuk dahinya pelan. “Kakek janji kalau kita bisa masuk peringkat lima besar, Kakek bakal kasih hadiah buat kita.”
Mendengar kata hadiah, Fina sontak menatap Fani dengan berbinar. Fani mengacuhkan Fina yang menatapnya berbinar.
“Beneran? Hadiah apa?” Fina menggoyang lengan Fani pelan.
“Iya, beneran. Aku enggak tau, Kakek bilang rahasia.” Fani menaikkan bahunya tak acuh.
“Yaaah.” Fina melepaskan pegangan tangannya pada lengan Fani.
“Makanya kamu belajar, biar bisa masuk peringkat lima dan dapat hadiahnya. Jadi, enggak penasaran lagi.” Fani mengelus rambut kembarannya.
Fina hanya memandangi Fani. Membuat Fani menghela napasnya.
“Belajar sana Fina. Kita sebentar lagi ujian kenaikan kelas, tau. Kalau gagal, nanti bisa tinggal kelas. Enggak naik ke kelas 3, tapi tetap di kelas 2. Hiiih.” Fani bergidik membayangkannya.
“Kalau tinggal kelas, bisa di marahin sama semuanya. Mama, Papa Oma, Opa, Nenek, dan Kakek. Terus, nanti diledekin sama temen-temen.” Fani terus menakut-nakuti Fina.
Mendengar itu, Fina bergidik ngeri. Membayangkan semua keluarganya memarahi dia, di-bully oleh semua teman-temannya.
“Makanya, kamu belajar. Supaya enggak tinggal kelas.”
“Ya udah, deh, aku belajar dulu.” Fina beranjak ke kamar untuk belajar. Karena dia tidak ingin tinggal kelas dan dia juga ingin mendapatkan hadiah dari Kakeknya. Fina suka hadiah.
Fani tersenyum menatap punggung Fina yang hilang di balik pintu kamar kembarannya itu. Sungguh, jiwa seorang Kakak benar-benar sudah terbentuk di diri Fani. Fani ikut bangkit dari duduknya dan mematikan televisi. Menaiki undakan demi undakan anak tangga agar sampai ke kamarnya dengan masih memegang gelas jus jambu merah yang tinggal setengahnya lagi.
Masuk ke kamarnya, Fani kembali melanjutkan belajarnya yang sempat tertunda tadi. Meletakkan gelas jus jambu merah ke atas meja belajar bergambar anime Jepang kesukaannya, Card Captor Sakura.
Selesai belajar, Fani menutup mulutnya yang terbuka lebar. Anak itu menguap karena mengantuk dan kelelahan. Beruntung, hari ini Fani tidak ada kelas les karate. Jadi, Fani memutuskan untuk istirahat dan tidur. Sebelum turun dari kursinya, Fani meneguk jusnya yang tinggal sedikit. Lalu mengambil dua buah buku cerita, membawanya ke atas ranjang king size miliknya.
Fani bersender di kepala ranjang. Mulai membaca buku kumpulan cerpen fabel untuk anak-anak. Dengan beberapa judul, seperti Kelinci dan Kura-kura, Buaya dan Kancil, Monyet dan Gajah, dan lain sebagainya.
Fani kembali menutup mulutnya ketika menguap. Kali ini, dia sudah benar-benar mengantuk. Matanya terasa sulit untuk dibuka, bahkan buku yang Fani baca tulisannya terasa berbayang. Meletakkan buku itu sembarangan di atas ranjangnya, perlahan mata Fani terpejam. Dia sudah berkelana ke alam mimpi.
???
Seorang wanita membuka pintu kamar bertuliskan Rara Fanisha. Saat pintu telah terbuka, dia tersenyum hangat, berjalan mendekati ranjang king size di tengah ruangan. Di ranjang itu, terbaring Fani yang tidur dengan posisi tidak benar dan tanpa selimut. Selimut orange dengan gambar hello kitty terbentang tidak beraturan.
Dengan pelan, wanita itu menyelimuti tubuh Fani yang tertidur dengan lelap karena kelelahan. Setelah menyelimuti tubuh Fani, wanita itu mengambil buku yang berada di atas ranjang dan meletakkannya di atas nakas. Beranjak ke meja belajar di sudut ruangan, mengambil gelas bekas yang ada.
Setelah dirasa sudah, dia keluar dari kamar bernuansa biru muda itu. Menutup pintunya dengan perlahan agar tidak membangunkan anak kecil yang tertidur di dalamnya.
“Faninya mana?” suara itu berhasil mengejutkan sang wanita.
“Ngagetin aja sih, kamu.” Memukul bahu pemilik suara pelan.
“Maaf.” Suaranya begitu tersirat akan rasa bersalah.
“Enggak apa-apa. Ayo, kita turun,” ajaknya menggandeng tangan pemilik suara.
“Kamu belum jawab pertanyaan aku Din, mana Fani? Kok enggak diajak keluar?”
“Fani masih tidur, Rian. Kasian kalau dibangunin, dia kelihatan lelah banget gitu.” Dina membawa suaminya turun ke bawah.
“Ya udah.” Dengan pasrah, Rian mengikuti langkah istrinya.
“Fina gimana?” Dina menatap Rian.
“Sama, masih tidur.” Rian menghela napasnya.
“Kenapa, sih? Kangen, sama anak-anak ya?” Dina menggoda Rian dan menaik-turunkan alisnya.
“Tau aja, sih.” Rian menarik hidung kecil mancung Dina.
“Ih, apaan sih. Sakit tau.” Dina menepis tangan Rian di hidungnya.
“Iya-iya, maaf.” Rian merangkul bahu Dina.
“Dih, enggak usah deket-deket.” Dina menepis tangan Rian di bahunya dan segera berjalan duluan.
“Aku minta maaf, sayang. Cuma bercanda.” Rian mengikuti istrinya dari belakang menuju dapur.
Rian duduk di bangku meja makan. Memandangi punggung istrinya yang meletakkan gelas di wastafel.
“Gimana sama les modelling Fina?” Rian membuka suara setelah menelan anggur yang dikunyahnya.
“Gimana apanya?” Dina duduk di sebelah Rian, memandangi pria itu dengan alis yang saling bertautan.
“Maksud aku, lancar?”
“Oh, lancar-lancar aja sih. Kalau kata guru lesnya.”
“Ada perkembangan?”
“Ya adalah, masa iya enggak ada.” Dina memutar bola matanya malas.
“Kembar dapat tawaran jadi model baju muslim dan udah aku terima.”
“Kenapa harus si kembar, sih? Kayak enggak ada anak yang lain aja.” Dina memakan anggurnya.
“Mereka berdua itu menggemaskan. So, mana ada orang yang bisa nyangkal itu.”
“Ya iyalah, Mamanya aja cantik.” Dina sedikit membanggakan dirinya.
“Papanya juga enggak kalah ganteng.” Rian menyisir rambutnya dengan jari ke belakang.
“Mereka cewek, jadi lebih ke akulah, cantik.” Dina menjulurkan lidahnya.
Membuat Rian gemas pada istrinya. Mengacak-acak rambut Dina gemas, yang ditanggapi geram dengan Dina.
"Tapi kamu ngerasa enggak, sih, Fani seminggu belajar terus? Bahkan waktu main dia gunakan buat belajar." Dina menopang dagunya dengan tatapan tak lepas dari Rian.
"Merasa, Din. Dia jadi sering terlihat kelelahan. Bahkan aku pernah lihat dia belaja malam. Katanya dia kebangun terus enggak bisa tidur lagi. Jadinya belajar aja."
"Apa Fani enggak terlalu keras belajarnya? Dia bisa sakit, Rian. Aku jadi penasaran kenapa Fani belajarnya keras banget gitu."
"Bukannya setiap mau ujian atau ulangan dia begitu?" Rian mengusap tengkuknya.
"Yang kali ini beda, Rian! Minggu sebelumnya dia udah belajar, kalau biasanya dia minggu ini harusnya sedikit lebih santai, tapi ini malah semakin keras."
“Mama, Papa,” suara seseorang membuat sepasang suami istri itu menatap pemilik suara. Rian yang sudah membuka mulutnya untuk menjawab, kembali menutupnya rapat-rapat.
“Iya, sayang. Kenapa? Sini, sama Mama.” Dina melambaikan tangannya pada anak pertamanya.
Fani dengan lesu berjalan mendekati Mamanya. Namun, Rian mengangkat Fani dan mendudukkan di pangkuannya. Dina merapikan rambut Fani yang berantakan.
“Kenapa udah bangun?” Rian mengecup puncak kepala Fani.
Fani memeluk tubuh Rian, menggelengkan kepalanya. Tanpa sadar, air mata menetes dari matanya. Rian heran saat merasakan basah di bajunya.
“Kamu nangis?” Rian memberi jarak pelukannya.
Dina terkejut melihat pipi Fani yang telah basah oleh air mata.
“Kenapa?” Rian mengusapi pipi Fani.
“Mama sama Papa ninggalin aku.” Fani sesenggukan.
“Kamu mimpi buruk?” Rian kembali memeluk Fani dan mengelus rambut Fani.
Fani tidak memberikan respons apa pun. Hanya pelukannya yang semakin mengerat di tubuh Rian.
“Udah, enggak apa-apa. Kamu cuma mimpi, sayang. Mama sama Papa enggak akan ninggalin kamu.” Dina tersenyum lembut.
Fani yang sesenggukan melepas pelukan di tubuh Papanya, menatap sang Mama dengan air mata yang masih membanjiri pipi tembamnya.
“Janji?” Fani menatap Rian dan Dina bergantian.
“Janji.” Rian dan Dina menjawab dengan yakin dan mantap.
Fani kembali memeluk Rian, diikuti dengan Dina yang ikut memeluk Rian dan Fani. Sampai pelukan mereka diinterupsi oleh panggilan Fina yang baru bangun.
“Aku juga mau dipeluk.” Fina memajukan bibir bawahnya.
“Sini, anak Mama.” Fina berjalan mendekat dan mereka semua saling berpelukan.
Melupakan bahwa Fani dan Fina belum mandi karena baru bangun tidur.