13. Jiwa Seorang Kakak

1643 Kata
Malam ini semuanya tampak tenang. Langit malam yang dihiasi bulan purnama dan ditaburi bintang-bintang. Sungguh terlihat indah, menciptakan perasaan tenteram dan tenang. Fani memandangi langit malam dari balkon kamarnya. Senyum menawan terpatri di wajahnya yang disinari cahaya rembulan. Tak berselang lama, terlihat bintang jatuh. Fani dengan segera menutup kedua matanya. Melakukan permohonan, tidak tau akan terwujud atau tidak. “Bintang, tolong sampaikan salam Fani pada Tuhan. Bilang pada-Nya, lindungilah keluarga Fani. Jangan buat Mama Fani menangis, jangan buat Papa pukul dan marah-marah sama Fani, dan jangan buat Fina sedih.” Fani membuka kedua matanya yang memiliki bulu mata begitu lentik. Senyum manis mengembang dari bibirnya karena dia telah merapalkan harapan pada bintang jatuh. Fani tau hal ini dari teman sekelasnya. Namun, tiba-tiba awan gelap berarak cepat menutupi bulan dan binta-bintang. Angin pun mulai terasa kencang dan dingin. Fani dengan segera menutup pintu balkonnya serta kain tirai kupu-kupunya. Orang tuanya sedang tidak berada di rumah, mereka pergi keluar karena harus mengurus suatu pekerjaan. Jadi, tinggallah Fani dan Fina di kamarnya masing-masing. Baru saja Fani melangkahkan kaki ke meja belajar bergambar anime Jepang miliknya, hujan telah turun dengan derasnya membasahi permukaan tanah di bumi. Fani menghela napasnya gusar. Mama dan Papanya belum pulang. Fani mencoba menghilangkan kegusarannya dengan membaca buku cerita. Duduk di atas kursi meja belajar dan membaca dengan tekun serta khidmat. Sampai, suara petir yang menggelegar mengganggu konsentrasi Fani dalam membaca. Konsentrasi anak itu terpecah belah karena terkejut mendengar suara petir yang memekakkan telinga. Berusaha tenang dan fokus pada buku yang dia baca, Fani mencoba mengabaikan suara petir yang bersahut-sahutan, membuat telinga terasa sakit dan berdengung. Namun, suara petir kelima kalinya yang paling menggelegar dengan sangat kuat. Fani menghentikan acara baca-membaca bukunya. Dia terdiam, menatap lurus ke depan dengan pandangan yang sulit diartikan. Mencoba menafsirkan perasaan gelisah di hatinya. Setelah beberapa detik terdiam, Fani tersadar karena suara petir kembali terdengar. Dengan segera Fani menutup buku yang tadi dia baca dan meletakkannyA secara asal di atas meja. Fani berlari pontang-panting keluar dari kamarnya. Tidak memikirkan bagaimana dia akan terjatuh apabila berlari dengan sangat cepat saat menuruni anak tangga. Gadis kecil itu tidak lagi memikirkan keselamatannya dan peringatan yang pernah orang tuanya berikan. Hanya ada satu di dalam pikiran dan benaknya yang membuat Fani begitu merasa khawatir dan ketakutan. Dibukanya pintu itu dengan kasar. Tidak peduli apabila pintu ruangan itu akan rusak yang bisa membuat dia dimarahi dan dihukum. Persetan dengan itu semua! Karena ada yang lebih penting. Saat pintu sudah terbuka, Fani dapat melihat seorang anak perempuan yang meringkuk di atas tempat tidur dengan kedua tangan menutupi telinga. Fani berjalan mendekat. Semakin dekat jaraknya, semakin jelas Fani mendengar suara isak tangis meluncur dari bibir anak perempuan itu. Suara petir kembali terdengar menggelegar, bahkan rumah terasa bergetar karena suara petir itu. “Fina,” suara Fani bergetar saat memanggil kembarannya. Yup, anak perempuan itu adalah Fina. Anak kecil itu begitu takut dengan petir, dia akan selalu berteriak saat mendengar suara petir. Fina menatap Fani dengan air mata yang masih mengalir di pipinya. Mata anak itu sudah terlihat memerah dan sembap. Pertanda bahwa Fina sudah menangis dalam waktu yang tidak sebentar. Hati Fani sakit melihat kembarannya seperti itu. Perasaan bersalah kini menggelayuti hatinya. Dengan sigap Fani memeluk Fina erat. Mengisyaratkan bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak akan terjadi apa-apa. Petir tidak akan masuk ke rumah dan menculik mereka. “Fani ... takut." Di tengah isak tangisnya, Fina berbicara. “Ssstt, jangan nangis. Udah enggak apa-apa. Jangan takut, ya, petirnya enggak berani sama aku. Dia enggak akan masuk ke rumah kita dan culik kamu.” Fani mengelus punggung Fina dengan lembut dan penuh kasih sayang. Fina mengeratkan pelukannya pada Fani. Seakan, bila pelukannya sedikit longgar atau renggang, Kakak kembarnya itu akan menghilang, pergi, disambar petir dan masuk ke dalam bumi. “Enggak apa-apa. Ada aku di sini.” Fani terus mengucapkan kata-kata sayang dan menenangkan di tengah pelukannya. “Jangan ... pergi.” Fina berbicara sangat pelan. “Iya, aku enggak pergi, kok.” Diusapnya rambut Fina sayang. Saat dirasanya isak tangis Fina sudah mereda dan tidak sejelas tadi, Fani berniat menyuruh adik kembarnya untuk tidur. Karena dia juga sudah mengantuk. Apalagi tubuh dan pikirannya terasa begitu lelah digunakan belajar terus-terusan. Namun, untanglah besok sudah pembagian kartu ujian. “Fina, bobo ya, udah malam.” Fani memegang bahu Fina untuk sedikit memberi jarak pelukannya. Namun, Fina bergeming, dia tetap memeluk Fani dengan erat. Membuat Fani menghela napas kesal. “Fina, ini udah malam. Bobo ya, Fin?” Fani berhasil melepaskan pelukannya secara paksa. “Nanti kamu pergi, aku takut!" Air mata luruh kembali di kedua pipi Fina. “Enggak, Fina. Aku temani kamu bobo.” Fina terus menggeleng. “Aku janji, aku bobo di sini. Jangan nangis, nanti aku dipukuk dan dimarahi Papa.” Fani mengusap air mata di pipi Fina dengan lembut. Fina berbaring dengan memeluk tubuh kembarannya. Karena petir masih terdengar meski tidak sekeras tadi. Hujan juga masih menghantam atap dan kaca jendela, kemudian luruh ke tanah. Sadar kembarannya belum juga menutup mata, Fani kembali membuka matanya yang kini sudah tampak memerah karena mengantuk. Batin anak kembar begitu terikat, dia tau apa yang tengah Fina rasakan saat ini. Fina takut dia akan pergi dari kamarnya. Maka, diusapnya rambut Fina pelan. “Bobo Fin, udah malam. Besok sekolah, nanti terlambat.” Fina tidak menjawab, hanya remasan di baju Fani yang semakin kuat. “Aku nyanyiin, mau?” Fina mengangguk, karena suara Fani adalah ketenangan untuknya. “Tapi, janji harus bobo ya.” Lagi-lagi, Fina hanya mengangguk. “Pejamin matanya.” Fina mengikuti apa yang dibilang Fani. Bintang kecil Di langit yang biru Amat banyak Menghias angkasa “Bintangnya enggak ada, Fan, kan hujan,” protes Fina pelan. “Iih, udah kamu diem aja deh, Fin. Aku kan cuma nyanyi!" Fina pun mengangguk. Aku ingin Terbang dan melayang Jauh tinggi Di tempat kau berada Tangan Fani terus mengelus rambut Fina, berharap sang kembaran bisa tidur dengan nyaman tanpa ketakutan. Tik tik tik bunyi hujan di atas genting Airnya turun tidak terkira Cobalah tengok dahan dan ranting Pohon dan kebun basah semua Tik tik tik bunyi hujan bagai bernyanyi Saya dengarkan tidaklah jemu Kebun dan jalan semua sunyi Tidak seorang berani lalu Tik tik tik hujan turun dalam selokan Tempatnya itik berenang-renang Bersenda gurau meyelam-nyelam Karena hujan berenang-renang Fani tersenyum hangat dengan tangan yang masih mengelus rambut dan punggung Fina. Adik kembarnya telah tidur dengan nyenyak, pelukannya juga sudah tidak terlalu erat. “Aku sayang kamu.” Fani mengusap pipi Fina pelan. “Jangan nangis ya, nanti aku dimarahin sama Papa. Kamu mau, lihat aku dimarahin dan dipukul sama Papa? Enggak, ‘kan? Makanya, kamu jangan nangis-nangis lagi ya.” Fani mengecup pipi Fina lembut, tak ingin membuat adik kembarnya terbangun. “Ya Tuhan, jagain aku sama Fina selagi kami bobo ya. Amin.” Setelah mengucapkan itu dan doa tidur, Fani menutup matanya. Kedua anak kembar itu tertidur dengan kondisi saling memeluk di tengah derasnya hujan di luar rumah. Sungguh, anak kembar yang manis dan menggemaskan. Apalagi, tingkah Fani yang masih terbilang kecil. Namun, sudah memiliki jiwa seorang Kakak yang begitu kental dan nyata. Siap melindungi sang adik. ??? Rian dan Dina pulang ketika malam telah larut. Mereka terjebak macet dan juga hujan deras yang disertai petir. Membuat sepasang suami istri itu pulang sangat-sangat terlambat. Mereka sebenarnya amat khawatir pada Fina karena anak itu akan sangat ketakutan ketika mendengar suara petir. Terlebih lagi, petirnya menggelegar dengan sangat dahsyat tadi. Namun, mau dikata apa lagi. Mereka tidak bisa segera pulang, di tengah derasnya hujan dan petir. Ditambah lagi, saat perjalanan pulang. Kemacetan ibukota Jakarta terasa sangat menjengkelkan. Sampai di rumah, Rian dan Dina segera mengecek Fina di kamarnya. Saat pintu terbuka, pemandangan di depan keduanya membuat terkejut sekaligus senang. Kedua anak kembar mereka tengah tidur dengan posisi saling memeluk. Senyum manis terukir dari bibir Rian dan Dina. Senang, anak pertama mereka bisa menenangkan adiknya yang tadi pasti sangat ketakutan. Setelah puas memandangi kedua anak kembarnya yang sudah tertidur nyenyak dalam balutan selimut berwarna merah muda dengan gambar barbie, sepasang suami istri itu mengecup dahi kedua anaknya dan segera keluar dari kamar Fina. Masuk ke kamar mereka sendiri untuk berganti pakaian dan tidur. Tubuh keduanya terasa sangat lelah bekerja hingga malam begini. Dina mendudukkan dirinya di sebelah sang suami yang tengah membuka laptop dan membaca e-mail. Mengeringkan rambut panjangnya menggunakan hair dryer. "Senang ya, Pa, rasanya." Dina tersenyum di tengah aktivitasnya mengeringkan rambut. Rian menatap Dina sebentar dengan aneh. Tidak mengerti dengan perkataan istrinya. Lagian, ucapan Dina masih menggantung. Rian yakin akan hal itu. "Aku senang banget, kalau lihat anak-anak kayak tadi. Keakuran, kelengkapan, dan saling butuh mereka berdua benar-benar terlihat jelas." Dina menatap lurus dengan senyum yang masih terukir di bibirnya. "Aku juga senang." Rian mengelus rambut Dina. "Tapi, ntah kenapa masalah yang dulu itu ...," ucap Dina menjeda kalimatnya, "membuat aku bimbang. Perasaan sedih dan kecewa serta tak terima masih terus menggelayuti hati aku. Aku enggak mau." "Aku juga sama kayak kamu, Din, masih belum terima." Rian menarik Dina yang sudah berkaca-kaca ke pelukannya . "Padahal, itu sudah lewat dari beberapa tahun silam. Bahkan, mereka sudah tumbuh cukup besar," isak tangis keluar dari bibir Dina yang memeluk Rian erat. "Maafin aku ya, enggak bisa wujudin apa yang menjadi keinginan terbesar kamu. Maaf," ujar Dina memeluk Rian dengan erat dan isak tangis yang semakin jelas terdengar. "Udah, enggak apa-apa. Bukan salah kamu juga, Dina. Lagian, dia senang, 'kan? Merasa bahagia akan keberadaannya." Rian mengelus rambut Dina dengan sayang. Dina tidak menjawab, hanya mengangguk. Rian melepaskan pelukannya dan mengusap pipi Dina yang digenangi air mata dengan lembut. "Kita tidur ya, udah malam." Rian menyuruh Dina berbaring yang dilaksanakan dengan patuh oleh Dina. Menyelimuti tubuh keduanya, Rian memejamkan matanya dengan memeluk Dina yang tidur membelakanginya. "Sampai kapan perasaan tidak terima ini akan terus menggelayuti hatiku ya Tuhan?" batin Dina sedih, tanpa sadar air matanya kembali jatuh. Dina segera mengusap air matanya secara cepat. Memejamkan mata, mencoba untuk tidur dan pergi ke alam mimpi yang begitu indah. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN