14. (Bukan) Pembohong

1845 Kata
Fani menggeliat tidak nyaman dalam tidurnya. Dia merasa seperti ada beban di pinggangnya yang membuat tidur lelapnya terganggu dengan hal menjengkelkan itu. Dengan malas dan sangat ogah-ogahan, Fani membuka matanya dengan perlahan. Hal pertama kali yang dilihatnya adalah wajah kembarannya yang tengah menutup mata rapat. Fani mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar untuk mencari letak jam dinding bulat dengan gambar doraemon warna biru. Namun, Fani tidak menemukan jam dinding bulat doraemon birunya di manapun. Yang dia lihat, justru jam dinding persegi dorami berwarna merah muda. Fani baru sadar, ini bukanlah kamar miliknya melainkan kamar kembarannya. Fani mencoba mengingat-ingat, hal apa yang membuat dia bisa terdampar di kamar sang kembaran. Ingatan Fani berputar ke kejadian tadi malam, di mana sang kembaran berteriak ketakutan saat hujan deras disertai petir yang terdengar kuat. Fani berhasil melepaskan diri dari pelukan Fina tanpa membangunkan kembarannya itu. Fani tersenyum tipis, mengecup pipi Fina lembut. Keluar dari kamar Fina dan kembali ke kamarnya sendiri di lantai atas adalah hal yang selanjutnya Fani lakukan. Salat dan bersiap ke sekolah karena sekarang hari sudah mulai siang. Selesai dengan semua urusannya, Fani dengan riang dan sama seperti hari-hari sebelumnya, berdiri di balkon kamar guna memandangi matahari yang akan terbit. Senyuman manis terukir di bibir Fani tatkala melihat matahari terbit dengan cahaya hangat dari matahari itu sendiri yang menghangatkan hati dan tubuhnya. "Ya Tuhan, bantu Fani ya. Semoga, Fani bisa dapat peringkat kelas di ujian Senin nanti. Agar semuanya bangga dan bahagia pada Fani." Fani mendongakkan kepalanya ke arah terbitnya matahari dengan senyum manis. Tiba-tiba pintu kamar Fani terbuka dengan keras, menimbulkan suara debuman yang sukses membuat Fani tersentak kaget dan mengalihkan pandangannya ke pintu kamar. "Fani." "Iya?" "Kamu tadi malam keluar dari kamar aku?" "Haa?" Fani mengerutkan dahinya tidak mengerti. "Bener, 'kan, kamu keluar kamar waktu aku lagi bobo." Fina melipat tangannya di depan d**a. "Kamu udah janji mau nemanin aku dan enggak ninggalin aku, Fani." "Aku enggak ninggalin kamu," ujar Fani mengerti arah pembicaraan kembarannya. "Kamu ninggalin aku, Fani. Kamu pergi dari kamar aku waktu aku udah bobo!" "Enggak, Fina." "Kamu enggak nemenin aku bobo sampai pagi," lirih Fina. "Aku nemanin kamu kok, Fina." "Tapi, kenapa waktu aku bangun tadi kamu enggak ada di samping aku?" Mata Fina berkaca-kaca menatap Fani. "Fina, dengerin aku du-" "Enggak!" potong Fina menggeleng dengan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. "Fin-" "Lepas!" Fina menghempaskan tangan Fani yang ada di bahunya pelan kasar. Namun, Fani tidak putus asa. Dia kembali memegang bahu Fina lebih erat dari yang tadi dan menatap mata Fina dalam. Mengunci mata itu agar tidak berpaling dan menatap matanya. "Ak-" "Kamu kenapa bohongin aku?" Fina menatap Fani dengan sedih. "Aku enggak bohongin kamu, Fina." "KAMU BOHONG! AKU BENCI SAMA KAMU FANI! AKU BENCI! KAMU PEMBOHONG!" Fina segera berlari keluar dari kamar Fani, meninggalkan Fani yang mematung di tempatnya berpijak. Fani terpaku pada satu perkataan Fina. Kembarannya membenci dirinya karena dia seorang pembohong. Kenapa Fina tidak mau mendengarkan penjelasan Fani dulu? Dia bukan seorang pembohong. "Aku bukan pembohong." Fani menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai turun membasahi pipi tembamnya. "Aku bukan pembohong," Fani terus merapalkan kata-kata itu. Sampai tanpa sadar, dia berteriak dengan kata yang sama. Air mata masih membanjiri pipi tembam anak itu. Bahkan, semakin banyak. Dina dan Rian yang tengah menenangkan Fina di meja makan saling berpandangan ketika mereka mendengar teriakan kencang dari kamar anak pertamanya. Di depan pintu kamar Fani yang terbuka, Dina bisa melihat anak pertamanya yang lebih kacau keadaannya dibandingkan anak keduanya. Apalagi mendengar kata-kata yang berulang kali diucapkan Fani. Dina mendekat perlahan. Menyentuh bahu Fani yang terduduk dengan lembut. Fani mendongak, menatap Dina dengan linangan air mata di pipi tembamnya. Mata Fani merah, hidungnya memerah, juga isak tangis yang keluar dari bibirnya. "Mama...." Dina memeluk Fani dengan erat. "Ssstt, udah jangan nangis." Dina membiarkan bajunya basah oleh air mata Fani. Bukannya berhenti menangis, isak tangis Fani semakin kuat, anak kecil itu menangis dengan kencang di pelukan sang mama. "Udah ya?" Dina melepaskan pelukannya dan menghapus air mata di sudut mata dan pipi tembam anaknya. "Coba, cerita sama Mama. Kamu kenapa nangis?" Dina menatap Fani lembut. "Fi-fi-na ... benci aku," isak tangisnya masih terdengar jelas. "Kenapa?" Dina mengelus puncak kepala Fani. "Fina bilang, a-aku pembohong." Fani menundukkan kepalanya sedih. "Kenapa Fina bilangin kamu pembohong?" "Fina enggak percaya sama aku, Mama." Tatapan mata bening itu menyiratkan kesedihan yang begitu dalam. "Ssstt, udah ya jangan nangis. Fina enggak benci sama kamu, dia cuma syok dan enggak terima." Mengelus rambut Fani. "Kita turun yuk, sarapan. Nanti kamu telat, loh,, sekolahnya. Bukannya hari ini pembagian kartu ujian?" Dina tersenyum lembut. Dina bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Fani yang masih duduk dengan sisa-sisa isak tangis. "Anak Mama enggak boleh nangis, enggak boleh cengeng. Karena anak Mama kuat." Dina mengusap pipi tembam anaknya. Di dapur, tepatnya di meja makan, Fani dapat melihat kembarannya yang duduk dengan menunduk. Fani tau kembarannya habis menangis. d**a Fani terasa sesak melihat kembarannya. "Bu Siti tadi masak ayam goreng kesukaan kalian, loh!" Dina berseru antusias memecah keheningan yang terjadi. "Mau Mama ambilkan, sayang?" Dina menatap Fani dan Fina bergantian. Fani menggeleng pelan dan Fina mengangguk pelan. Hanya respons itu yang diberikan keduanya. Kepala keduanya masih setia menatap ke bawah. Rian menghela napas kasar. "Enggak ada uang di bawah meja. Jadi, enggak usah nunduk-nunduk!" Perkataan Rian sukses membuat keduanya mengangkat kepala. Fina membuang muka ke samping saat matanya bertatapan dengan Fani. Fani yang melihat respons Fina hanya mampu menghela napas sedih dan mengambil makannya sendiri. Selesai makan, semuanya segera berangkat. Di dalam mobil pun masih sama, keheningan yang terjadi. Fani yang biasanya selalu antusias mendadak diam membisu. Menghadap keluar jendela. ??? Seorang guru perempuan tampak sibuk menyusun kartu ujian yang akan dibagikannya. Meskipun tidak belajar, murid di kelas 2A tenang dan tentram. Sampai seorang anak bersuara dan mengangkat tangan ke atas. "Iya, sayang? Ada apa?" tanya sang guru lembut. "Aku mau izin, Bu Guru." "Mau ke mana?" "Ke toilet, Bu Guru." "Ya udah, Ibu izinkan." Senyum penuh perhatian dia berikan pada muridnya, Fani. Fani langsung berdiri dan bergegas ke toilet. Dia melangkahkan kakinya dengan gontai menuju toilet perempuan. Sampai di toilet, Fani mencuci muka dan mengelapnya. Menatap cermin di hadapannya dengan sedih. Setelah dirasa cukup mengamati wajah sedih dan murungnya, Fani segera keluar dari toilet. Berjalan melewati kantin, ingin menyegarkan otaknya yang serasa ingin pecah. Jangan berpikiran buruk dulu, Fani hanya ingin lewat bukan berhenti untuk mampir. Anak itu berdecak sebal. Dengan langkah kesal, dia mendekati segerombolan kakak kelas perempuannya yang tengah duduk-duduk dan makan di kantin. Menatap mereka semua dengan nyalang. "Hey!" Fani berdiri di dekat segerombolan anak Kakak kelasnya dengan berkacak pinggang. Panggilan anak perempuan itu membuat mereka semua menatapnya dengan penuh tanya. Awalnya mereka kaget, mengira guru yang menegur mereka. "Kalian ngapain di sini? Bukannya di kelas, belajar." Dia memarahi layaknya seorang guru memarahi muridnya atau orang tua yang memarahi anaknya yang nakal dan tidak menurut. "Suka-suka kitalah. Emang kamu siapa nyuruh-nyuruh kita?" tanya salah satu dari mereka yang berbadan besar. "Aku bilangin Ibu Guru ya, kalian!" Fani melotot marah. Padahal, sama sekali tidak menyeramkan. Bahkan, wajahnya terlihat semakin imut dan menggemaskan. Dengan tiba-tiba, anak yang memegang gelas Aqua menyerahkannya pada Fani. Dengan kerutan di dahinya, Fani menggenggam gelas Aqua di tangannya. Lalu, anak itu mendudukkan Fani. Setelah Fani duduk, mereka semua berdiri. Membiarkan Fani duduk dengan menggenggam gelas Aqua. Tepat setelah itu, seorang guru berjalan dan melangkahkan kaki mendekati segerombolan murid-murid itu. "Ngapain kalian di sini?" tanya sang guru tegas. "Kami cuma mau ngingetin anak ini, Bu. Bukannya belajar dia malah duduk-duduk di sini sambil makan pula. Mentang-mentang hari ini cuma pembagian kartu ujian, dia malah seenaknya, Bu," jawab anak yang tadi mendudukkan adik kelasnya licik. "Fani? Kamu kenapa ada di kantin, gini? Bukannya di dalam kelas, belajar. Malah nongkrong di kantin!" Guru itu menatap Fani yang duduk di bangku dengan tangan menggenggam Aqua gelas. "Aku enggak makan, Bu Guru." Fani meletakkan gelas Aqua di genggamannya ke atas meja. Dia mengerjapkan matanya bingung. Mengapa jadi dia yang dimarahin? Seharusnya, 'kan, Kakak kelasnya, tapi kenapa malah dia? "Ayo, ikut Ibu ke kelasmu." Sang guru tidak memedulikan protesan Fani, menarik tangan Fani menyusuri lorong sekolah untuk kembali ke kelas. Tangan Fani masih berada dalam genggaman gurunya. Fani telah protes dan berontak, tapi gurunya tidak menghiraukannya. Sampai di depan ruang kelas Fani, guru itu segera mengetuk pintu kelasnya. Hingga membuat murid-murid serta guru yang tengah mengajar menatap ke arah pintu. "Bu," panggilnya pada guru yang saat ini tengah mengajar di kelas 2 A. "Iya, Bu?" Guru perempuan yang tak lain adalah wali kelas 2A itu bangkit dari duduknya dan menghampiri guru senior di depan pintu ruang kelasnya mengajar. Mereka berada di luar kelas sekarang. Berdiri di koridor sekolah SD Swasta Alfa. "Loh, Fani?" Dia mengernyitkan dahinya tatkala melihat Fani yang berdiri di sebelah guru yang sudah terbilang lama di SD Swasta Alfa. Hari ini, dia tengah piket. Makanya gurunya tersebut berkeliling untuk mengecek kondisi sekolah dan murid. "Kenapa kamu biarkan murid kamu ini berkeliaran?" Pertanyaan itu keluar dengan mulus dari mulutnya. Peraturan di Sekolah Alfa ini sangatlah ketat. Tidak peduli, mau dia anak guru, polisi, dokter, DPR, MPR, atau bahkan Presiden sekalipun. Kalau memang sang anak salah, akan tetap ditegur jika sudah kelewat batas akan dihukum atau panggil orang tua. "Maksud Ibu?" "Dia berkeliaran di kantin tadi. Bahkan makan dan minum di kantin." Wali kelasnya sontak menatap Fani dengan terkejut. Dia tahu, anak muridnya yang satu itu sangatlah disiplin dan tertib. Jadi, rasanya sedikit tidak mungkin dia sampai makan di kantin. "Bener, Fani?" tanyanyalembut. "Enggak, Bu Guru. Aku enggak minum apalagi makan di kantin. Kan belum waktunya istirahat." "Kamu mau bohong?" Guru senior tadi kembali menatap Fani dengan melotot. "Enggak, Bu Guru. Aku enggak bohong!" "Jelas-jelas tadi Ibu lihat kamu makan di kantin, kamu mau bohong? Iya? Hah?!" "Aku enggak makan di kantin, Bu Guru." Fani menggeleng dengan sedih. "Masih kecil udah mau belajar bohong kamu ya! Orang tua kamu enggak pernah ngajarin kamu bohong, 'kan? Tapi kenapa kamu justru bohong?" Fani hanya diam, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Mengapa Ibu guru tidak mau percaya padanya? Perlahan, air mata anak itu turun membasahi pipi tembamnya. Wali kelasnya yang peka bahwa murid kesayangannya menangis, merengkuh anak itu ke dalam pelukan hangatnya. "Kamu urus itu anak ya, saya mau mengecek yang lain." Sang guru senior melangkahkan kakinya. "Dasar, pembohong! Masih kecil udah belajar jadi pembohong!" ucapnya sebelum benar-benar beranjak dari situ. Tangis Fani pecah, bahkan anak itu sudah terisak. Air matanya membasahi baju yang di kenakan gurunya. Isak tangis memilukan keluar dari bibirnya. Sang guru seakan ingin meneteskan air matanya juga mendengar isak tangis Fani. "Aku bukan pembohong." Di sela isak tangisnya Fani berucap. Hari ini, sudah dua orang yang mengucapkan kalau dirinya adalah pembohong. Potongan kejadian tadi pagi, saat kembarannya membentaknya dengan suara tinggi kembali terngiang. Membuat tangis Fani semakin kencang. Dia sudah tidak sanggup lagi, hatinya serasa sangat sakit, dan sesak. Wali kelasnya semakin mengeratkan pelukan pafa muridnya dan mengelus rambut Fani dengan sayang. Tanpa disadarinya, air matanya juga menetes. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN