Suara Jasson yang rendah dan penuh otoritas itu merambat melalui getaran kaca, memukul telinga Hanami lebih keras dari dentum jantungnya sendiri. Hanami masih mematung. Jemarinya mencengkeram erat tali tasnya hingga buku jarinya memutih. "Turun." Jasson mengulanginya, kali ini dengan penekanan yang lebih tajam. Dengan tangan gemetar, Hanami perlahan membuka pintu taksi. Begitu kakinya menyentuh aspal, ia merasa dunianya miring. Hanami tetap menunduk, masker dan topinya masih setia menutupi identitasnya, seolah benda-benda itu bisa melindunginya dari tatapan Jasson yang sanggup menelanjangi rahasianya. Jasson tidak mundur. Ia justru mencondongkan tubuhnya, mengurung Hanami di antara pintu taksi yang terbuka dan tubuh tegapnya. Ia memberikan intimidasi fisik yang nyata, membuat Hanami bi

