“Maaf... mainan anak saya jatuh di sekitar sini.” Suara Jasson. Berat, serak, dan memiliki vibrasi yang membuat sendi-sendi lutut Hanami terasa meluluh. Suara itu tidak lagi membawa kehangatan yang dulu sering membisikkan kata sayang di bawah rintik hujan, melainkan sebuah nada datar yang dilapisi es tipis. Hanami tidak menjawab. Ia tidak sanggup. Lidahnya kelu, terikat oleh ribuan kata maaf yang mendadak terasa basi. Dengan gerakan yang sangat lambat, nyaris kaku, ia mengulurkan tangannya yang gemetar. Ia tetap menunduk. Topinya menutupi mata, maskernya menyembunyikan getaran di bibirnya. Hanya jemari lentiknya yang dingin yang kini menyodor ke arah Jasson, membawa mobil-mobilan merah-hitam itu. Jasson mengulurkan tangan. Saat kulit kasarnya yang penuh luka goresan logam bersentuhan

