Siang itu, Jakarta belum sepenuhnya panas. Udara masih menyisakan dingin tipis sisa malam, tapi jalanan sudah mulai hidup. Jasson menyetir dengan satu tangan, tangan lainnya sesekali menepuk paha kecil di sampingnya. Axe duduk di kursi depan, sabuk pengamannya terpasang rapi, tapi tubuhnya tidak bisa diam. Kakinya berayun-ayun kecil, matanya berbinar sejak tadi. “Yah, nanti kita ke toko buku dulu ya?” katanya untuk ketiga kalinya. Jasson mendengus pelan, tapi ada senyum tipis di sudut bibirnya. “Iya, Bos. Dari tadi juga Ayah nggak bilang enggak.” “Axe mau buku mobil balap yang baru! Yang kemarin itu sudah hafal semua.” “Hafal atau cuma lihat gambarnya doang?” “Dua-duanya!” jawab Axe tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya. Jasson terkekeh kecil. Siang yang sederhana namun selalu

