Dua tahun. Empat musim yang berganti di Kyoto, namun bagi Hanami, waktu seolah membeku di hari ia mematahkan kartu SIM-nya malam itu. Hari ini, Hanami berdiri di podium. Jubah wisuda hitamnya berkibar pelan tertiup angin musim semi. Di tangannya, ia menggenggam gulungan ijazah dengan predikat yang memuaskan. Tepuk tangan riuh memenuhi aula, namun bagi Hanami, suara itu terdengar seperti dengung lebah yang jauh. Ia mencari satu wajah di antara deretan kursi undangan. Nihil. Tentu saja. Ia sendiri yang memutus akses itu. Ia yang memilih untuk mati. Saat teman-temannya bersulang dan merayakan masa depan di restoran mewah, Hanami justru memilih pulang ke apartemennya yang kini terasa lebih sempit dari biasanya. Ia melempar ijazah itu ke atas meja belajar, bersanding dengan tumpukan draf no

