“Iya, Rez. Aku itu kalau ngomong gak pakai bohong deh. Apalagi urusan hati,” Ellen berusaha menyimpan rasa deg-degannya di depan Rezvan untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Rezvan selama ini.
“Oh gitu … “ Rezvan mangut-mangut setelah mendengar keterangan dari Ellen.
Rezvan menyeruput kembali minuman yang ada di hadapannya itu. “Pemandangan dari kafe ini bagus sekali ya. Pemandangan yang indah dan mahal, harusnya tempat ini bisa ramai dua kali lipat,” ujar Rezvan.
Ellen menyandarkan tubuhnya ke kursi, ia tidak mendapatkan respon seperti yang diharapkan sebelumnya. “Yah … percuma dong aku terus terang ke Rezvan soal perasaan aku, dia malah mengalihkan pembicaraan. Sebel, sebel, sebel!” ujar Ellen dalam hati.
Rezvan yang melihat gelagat Ellen yang sedang tidak nyaman itu terkekeh. “Kamu nungguin respon aku soal perasaan kamu, ya?”
Ellen berusaha tak melayangkan senyumnya. Ia mengangguk pelan sambil menunduk karena malu isi hatinya bisa terbaca oleh Rezvan.
“Ellen, coba angkat ketiakmu, eh maksud aku kepalamu,” pinta Rezvan.
Dengan perlahan-lahan pun Ellen menengadahkan wajahnya dan sudah melihat ada Rezvan sambil menjulurkan lidahnya dengan kedua matanya yang semuanya putih. “WLE!” sontak saja Ellen terkejut. Ellen mengelus-elus dadanya dan mengatur napasnya kembali.
“Jangan suka ngagetin, Rez! Aku lagi nervous malah kamu gituin,” pekik Ellen.
“Oh jadi kamu nervous beneran, nih? Aku kira ketika kamu terus terang, tidak ada gugupnya sama sekali loh,” kekeh Rezvan.
“Ya kali … aku juga punya hati kali, yang bisa gugup kapan pun,” balas Ellen.
“Iya deh, iya. Jangan marah ya, cantik,” tukas Rezvan yang memegang punggung tangan Ellen.
Rezvan menatap kedua mata Ellen dengan tajam, di dalam mata perempuan yang ada di depannya itu ada harapan untuk terus bersama Rezvan. Rezvan bisa merasakan getaran yang berasal dari tangan Ellen, dan siap menerima respon apapun dari Rezvan.
“Aku juga suka sama kamu, Len,” tukas Rezvan pelan.
Ellen membelalakan kedua matanya, “Serius, Rez?!”
“Iya, serius. Kali ini aku ngerasa kalau menemukan orang yang bisa diajak curhat dan asyik, hehehe,” tegas Rezvan.
Ellen membalikan tangannya dan gantian dirinyalah yang memegang tangan Rezvan. “Aku benar-benar gak menyangka, Rez. Padahal tiap kali kita ketemu itu, aku ngerasa kalau kamu gak nyaman sama aku, bosan, dan risih kalau aku samperin. Eh ternyata kamu juga mempunyai perasaan yang sama sepertiku,” Ellen kesenangan karena apa yang ia kejar terwujud juga.
“Hahahaha, yang kamu katakan itu ada benarnya kok. Awalnya juga aku tidak mempunyai rasa apapun ke kamu. Malah ya itu, aku selalu menghindar dan tidak nyaman kalau deket sama kamu. Akan tetapi Tuhan maha membolak-balikan hatinya. Sekarang ini hatiku benar-benar berada di kamu, dan aku akan menjadi teman yang lebih intens untuk kamu, Len,” jelas Rezvan.
Seperti ketiban duren ditengah-tengah sawah, Ellen langsung bergegas mengatakan, “Jadi, kita pacaran, nih?”
Rezvan mengernyitkan dahinya. “Kamu nembak aku?”
“Eh enggak sih. Harusnya laki-laki yang nembak perempuan. Ya udah sih, Rez kalau kamu gak mau pacaran juga gak apa-apa, yang penting aku sudah tahu bagaimana perasaan kita masing-masing,” Ellen berusaha senyum stabil di kala pernyataan itu keluar dari mulutnya.
Rezvan tertawa terbahak-bahak. “Kamu ini tipe perempuan yang pasrah atau berusaha keras sih, Len?”
“Ya berusaha keras dong, Rez. Tapi kalau gak sesuai dengan kondisi, aku bisa saja menjadi perempuan yang penuh kepasrahan,” jawab Ellen.
Rezvan kembali mengeratkan tangannya menggenggam tangan kanan Ellen. “Len, berhubung kita berdua sudah sangat dekat dan memahami hati satu sama lain, aku memutuskan untuk menjadikanmu pacar. Tapi, bukannya aku hanya ingin cinta-cintaan dan mesra-mesraan doang sama kamu, aku pun ingin membantu kamu mendapatkan keadilan dan meyelesaikan kasus yang menimpamu,” terang Rezvan yang membuat hati Ellen terenyuh.
Tidak lama kemudian, Ellen meneteskan air mata bahagianya di depan Rezvan. Ini pun untuk pertama kalinya Ellen merasakan hal yang luar biasa membuatnya senang. “Terima kasih ya Rez. Kamu memang laki-laki yang beda dari yang lain, aku harap dengan hubungan kita ini, kita berdua bisa sama-sama menuju lebih baik. Dan asal kamu tahu ya Rez, aku gak pernah ngerasain asmara sesenang ini,”
“Jadi, kamu mau gak jadi pacar aku?” Rezvan mengulang pertanyaan utamanya.
“MAU MAU MAU!!!!!” seru Ellen antusiasnya. Dengan diresmikannya hubungan pacaran antara Rezvan dan Ellen itu, Ellen spontan saja memeluk erat laki-laki yang ada di hadapannya. “Rez, selalu temani aku, ada untuk aku, dan yang terpenting bantulah aku,” pesan tersebut pun diselipkan ke telinga Rezvan.
Rezvan mengangguk dan membelai rambut Ellen yang tergerai, “Pasti, Len. Aku akan berusaha menjadi yang lebih baik untuk kamu.”
***
“Andin, Andin !!! aku ada berita penting untuk kamu!” Prabu menyeru ke Andin yang sedang berjalan di koridor kampus. Andin yang mendengar ada suara yang memanggilnya, segera berhenti dan sudah ada Prabu di belakangnya dengan wajah panik.
“Apa? Beritanya benar-benar penting, gak? Soalnya aku belum pernah mendengar sekali pun berita penting dari kamu, Prab,” tepis Andin.
“Ini benar-benar penting! Sini deh sini,” Prabu menarik Andin ke tempat yang lebih tersembunyi dari lalu lalang mahasiswa yang lain.
“Ups! Jangan pakai pegang-pegang ya, hehehe,” Andin menurunkan tangan Prabu yang mencengkeram bahunya itu.
“Iya deh maaf, gak sengaja. Gini, Din … barusan aku dengar percakapan Inka dan Reno di tangga darurat jurusan. Mereka berdua kan—“
“Kamu nguping?” Andin menyela.
“Iya Din, nguping … “ terang Prabu.
“Ya elah Prabu, kebiasaan tuh ya kamu ini sukanya nguping,” Andin geleng-geleng kepala.
“Gak apa-apa yang penting dapat berita penting. Din, di kampus kita ini sedang ada predator kekerasan dan pelecehan seksual. Inka dan Reno sudah tahu kalau kampus sedang menyembunyikan berita itu dari publik. Dan yang lebih parahnya lagi, kampus ikut membungkam siapa saja yang berusaha memecahkan kasus ini, termasuk pers mahasiswa kampus!” jelas Prabu dengan mata yang berapi-api.
Andin menyeringai, “Aku sudah tahu kali berita itu.”
Prabu tersentak, “Pasti tahunya barusan aja kan, waktu aku kasih tahu ini?”
Andin menggeleng, “Gak, sudah lama aku tahu soal kasus kekerasan seksual yang dilakukan di kampus itu, bahkan soal pembungkaman pers mahasiswa kampus juga sudah aku mengerti. Di pers kampus sekarang anggotanya sedikit sekali, tapi hal itu tidak menyurutkan semangat kami yang tersisa untuk mengungkapkan kasus ini,” tegas Andin.
“Bagus banget kalau gitu Din! Aku boleh ikutan, gak?” pinta Prabu.
Andin mengernyitkan dahinya, Andin tidak percaya pada laki-laki yang akhir-akhir ini selalu mendekatinya hanya sekadar menggoda dan tak membantu apa-apa. Apalagi Prabu yang suka nyontekin tugas rumah dan kuis-kuis ketika di kelas. “Aku gak yakin kamu bisa dan konsisten, Prab,” tukas Andin seraya menyilakan kedua tangannya.
“Kok bisa gak percaya sama aku, Din? Aku itu waktu sekolah juga jurnalis, kali. Aku bisa menyelesaikan majalah kampus hanya dalam sehari!” Prabu membanggakan dirinya dulu agar Andin percaya.
“Oh ya? Di mana majalah itu sekarang?” tanya Andin.
“Ada, di rumah aku. Besok aku bawa ya kalau kamu mau baca,” jawab Prabu.
“Hahahahaha. Tapi seriusan deh Prab, aku dan teman-teman pers kampus yang lain sedang mencari orang yang benar-benar niat. Kami tidak butuh orang yang niat diawal tapi akhirannya hilang di telan bumi,” terang Andin yang mencoba menurunkan niat dari Prabu.
“Aku beneran niat, Din! Sampai akhir! Sampai kasus itu selesai!” Prabu menegaskan maksud dan tujuannya.
KRING … KRING … KRING … bel masuk kelas sudah berbunyi, Andin dan Prabu yang sedang ada kuis di jam pertama, bergegas masuk ke kelas.
“Kita bahas setelah kelas ya, Prab!” tutur Andin yang meninggalkan Prabu untuk masuk ke kelas.
Prabu pun ikut mempercepat langkah dan masuk ke dalam kelas menyusul Andin.
Seluruh mahasiswa sudah menduduki kursinya masing-masing di dalam kelas. Andin dan Prabu kebagian di kursi bagian belakang, sehingga membuat Andin kesal.
“Gara-gara kamu nih aku jadi dapat bangku di paling belakang!” pekik Andin pada Prabu yang kebetulan duduk di sebelahnya.
“Gak apa-apa, Din. Bagus dong kalau kita berdua di belakang, jadi lebih dekat lahir dan batin,” balas Prabu begitu percaya dirinya.
Andin mengangkat ujung bibirnya, dan menggeser kursinya lebih jauh dari Prabu. Tidak lama kemudian datanglah dosen yang mana itu adalah Bu Ulfa. Dengan wajahnya yang murung itu, Bu Ulfa masuk ke kelas. Namun anehnya, Bu Ulfa tidak membawa buku atau tas sama sekali.
“Baik, hari ini kita memulai kuisnya. Silakan keluarkan kertas kalian dan alat tulis. Tidak ada pinjam-meminjam apapun selama jam kuis berjalan,” ucap Bu Ulfa seperti biasanya.
“Eh Din, kok lagi kuis Bu Ulfa gak bawa buku sih? Dari mana dia bisa dapat soal?” bisik Prabu ke Andin yang sempat-sempatnya.
“Mungkin beliau hapal soalnya kali,” balas Andin cuek.
“Gak mungkin, Din. Bu Ulfa itu bukan tipe orang penghafal yang baik, nama mahasiswa di kelas ini saja yang ditahu hanya kamu, apalagi soal kuis,” Prabu masih saja sangsi.
“Bawel ah, diem napa Prab. Ini kuisnya udah mau mulai loh,” tukas Andin yang ingin mengakhiri pembicaraan tidak penting dari Prabu itu.
Prabu melengos. Berbagai cara dilakukan untuk mendekatkan diri pada Andin lewat batin, selalu saja gagal. “Kapan sih Andin bisa betah ngobrol sama aku? Mulai dari hal penting sampai tidak penting selalu aku lakukan,” batin Prabu yang kecewa.
“Baik semua mahasiswa dan mahasiswi, saya hanya memberikan satu soal kuis. Dan saya harap kalian semua bisa menjawab dengan baik. Kalau satu soal ini jawaban kalian tidak tepat, kalian akan mendapatkan nilai NOL!” ujar Bu Ulfa sebelum menyebutkan pertanyaan kuisnya.
“Siap, Bu … “ koor seluruh mahasiswa di kelas.
“Oke, deh. Soal nomor satu,” mata Bu Ulfa melirik ke seluruh mahasiswa yang ada di kelas itu. Seperti biasa ketika suasana kuis berlangsung, kondisi kelas akan menjadi mencekam.
“Soal nomor satu, kalian akan saya tugaskan untuk mencari nama-nama orang yang tergabung dalam anggota pers mahasiswa kampus di seluruh kampus ini. Lalu, kalian bisa mengumpulkan tugas tersebut di ruangan saya hari ini maksimal jam lima sore. Semakin banyak kalian mendapatkan nama anggota tersebut, nilai kalian akan A!”
Setelah mendengar soal yang ditukaskan oleh Bu Ulfa, semua mahasiswa mengarahkan pandangannya ke Andin yang berada di belakang, sebelahnya Prabu. Andin pun ikut tersentak dengan soal kuis yang dilontarkan Bu Ulfa.
“Maaf, Bu Ulfa!” Andin mengangkat tangannya.
“Kenapa, Andin? Kamu tidak terima dengan soal yang baru saja saya buat?” tegas Bu Ulfa.
“Iya, Bu. Saya rasa soal yang Ibu beri itu tidak ada sangkut pautnya dengan mata kuliah yang Ibu ajarkan,” balas Andin dengan beraninya.
“Mahasiswa dan mahasiswi yang lain, apakah soalnya mau saya ganti?!” tanya Bu Ulfa pada semua mahasiswa dan mahasiswi di kelas.
“TIDAKKKKK!” jawab sebagian besar rakyat-rakyat yang ada di kelas tersebut. Kecuali Andin dan Prabu yang tidak menjawabnya.
“Nah, dengar kan Andin? Semua teman-temanmu gak mau soalnya diganti. Jadi dengan ini saya nyatakan soal itu fix dan harus dikumpulkan maksimal jam lima sore. Baik, saya tinggal dulu kelas ini. Selamat pagi,” Bu Ulfa pun pergi dari kelas seraya melirik licik ke arah Andin.
Andin mengepalkan tangannya dan meremas-remas kertas kuisnya itu. Andin melempar kertas itu ke sembarang arah, dan ternyata mengenai Prabu yang sedang mengambil berjalan ke depan.
“Eh, maaf Prab!” ujar Andin.
“Iya gak apa-apa Din, aku ngerti kok,” Prabu mengambil kertas Andin itu dan dilemparkannya ke tempat sampah. Setelah itu, Prabu kembali mendatangi Andin.
“Aku tahu apa yang kamu rasain Din, segimana kecewanya kamu dengan ungkapan Bu Ulfa tadi. Aku pun juga merasakan hal yang sama, kok,” kata Prabu.
Andin tidak menjawab, di kepalanya masih penuh rasa amarah untuk Bu Ulfa. Bibir Andin bergetar ingin rasanya berteriak dan mencakar-cakar wajah Bu Ulfa. Lebih kesalnya lagi, seluruh mahasiswa dan mahasiswi di kelas itu langsung nimbrung ke Prabu.
“Prab! Pasti kamu sudah dikasih tau Andin siapa saja anggota pers mahasiswa kampus ya? Minta dong!!!!” ujar salah satu mahasiswa.
“Iya nih, Prabu kalau sudah dapat jawaban dari Andin, gak malu bagi-bagi. Mana Prab nama-namanya,” balas mahasiswa yang lainnya.
“Apaan sih kalian! Aku gak ada minta apapun dari Andin!” seru Prabu dengan kesalnya.
“Din, Din … spill dong nama anggota kamu biar nilai kita bagus nih!” mohon mahasiswi di kelas itu.
“Ih, kalian semua aneh deh! Kok malah minta ke aku!” cerca Andin yang beranjak dari tempat duduknya.
Andin segera pergi dari ruang kelas itu yang membuat mood-nya hari ini turun drastis. Andin yang sudah belajar mati-matian dan keras tadi malam agar bisa menjawab kuis dengan baik, malah berakhir zonk. Andin tidak menyangka soal kuisnya hari ini menyangkut organisasi persnya.
“Gak professional banget sih jadi dosen! Dosen kayak gitu pantesnya dipecat!” decak Andin dengan menghentak-hentakan kakinya. Andin pun pergi menuju gedung student center untuk memberi tahukan hal ini kepada Bu Rere dan teman-teman lainnya yang masih bertahan.