Flashback

1059 Kata
“Aku gak boleh terus-terusan bikin Ellen mengingat kejadian yang kelam itu. Sebagai kekasih sekaligus teman curhat Ellen, aku harus bisa membuat dirinya semakin tegar, senang, dan tidak berlarut dalam kesedihannya,” ujar Rezvan ketika sedang nyantai di kamarnya. Rezvan yang baru pertama kali menjalin cinta di bangku kuliah, merasa dirinya harus lebih baik lagi di depan Ellen, terutama untuk menghilangkan kesedihan Ellen, walaupun tidak cukup untuk menghilangkan total, sih. Rezvan yang berbaring di atas kasurnya saat itu, teringat ketika pertama kali menembak Ellen menjadi pacarnya. Ada satu janji yang harus ditepati oleh Rezvan, untuk menjadi kekasih Ellen seutuhnya, salah satunya membantu kasus pelecehan yang menimpa Ellen itu menjadi selesai. Flashback – di sebuah pantai baru, di mana pantai tersebut tempat pertama kalinya Rezvan dan Ellen nge-date. “Jadi, kamu juga sempat mengalami pelecehan yang dilakukan sama Pak Taufan?” tanya Rezvan memastikan kembali. Ellen mengangguk pelan seperti tenaganya yang sudah teriris karena bercerita pada Rezvan soal kejadian itu. Rezvan memandang wajah perempuan yang duduk menunduk di sebelahnya, “Tapi, kamu jangan larut dalam kesedihan, ya. Aku akan menjadi teman curhat kamu, di mana kamu boleh bercerita apapun dan aku membantu apa yang kamu mau,” tambah Rezvan lagi. “Serius, Rez?” Ellen menengadahkan kepalanya menatap nanar laki-laki idolanya sejak dua tahun terakhir itu. Rezvan pun mengangguk sambil tersenyum. “Terima kasih ya Rez, cuma kamu laki-laki yang gak menggunjing aku setelah aku bercerita ini. Dan, aku pun merasa beruntung bisa berbagi kisah sama kamu,” ujar Ellen saking senangnya. “Memangnya sebelum bercerita sama aku, kamu cerita sama siapa aja?” tanya Rezvan lagi. “Aku cerita sama teman sekelas aku, kurang lebih teman dekat laki-laki aku ada tiga orang. Namanya Ardi, Ian, dan Miko. Aku yang biasa ngopi sana-sini untuk menyelesaikan tugas mingguan, selalu bareng mereka. Sampai akhirnya aku sakit hati sendiri menyimpan peristiwa itu. Aku pun berterus terang kepada mereka bertiga dan jawaban mereka benar-benar tidak seperti ekspetasiku,” ungkap Ellen dengan wajahnya yang mulai meredup lagi. “Apa kata mereka kalau boleh tahu? Tapi kalau kamu keberatan untuk bercerita, tidak usah bercerita, Len,” tutur Rezvan. Ellen menghembuskan napasnya, dan mulai bercerita terang-terangan dengan Rezvan. “Iya, mereka malah menyudutkan aku sebagai orang yang merayu Pak Taufan lebih dulu. Mereka bilang kalau penampilanku terlalu terbuka lah, menggoda lah, dan intinya aku menjadi orang paling berpengaruh terjadinya pelecehan seksual itu,” decak Ellen menceritakan kejadian itu. Rezvan pun mengetahui apa yang dirasakan Ellen setelah mendapatkan perlakuan seperti itu. Lalu, Rezvan pun mengelus bahu Ellen, yang pasti ia sedang lelah memikul banyak beban dan masalah, serta penyudutan oleh ketiga teman laki-lakinya itu, Ardi, Ian, Miko. “Orang-orang memang banyak yang tidak melihat sudut pandang yang lain dari sebuah kejadian pelecehan seksual. Apalagi kasus ini dilakukan sendiri oleh oknum dosen. Banyak orang yang beranggapan, kalau dosen tidak mungkin melakukan hal itu, maka dari itu mahasiswalah yang diduga sebagai penyulutnya,” tukas Rezvan. “Sekali lagi, Len, kamu jangan khawatir, masih banyak kok orang-orang yang menyayangi kamu, dan akan membantu kamu menyelesaikan segalanya ini,” tiba-tiba saja Rezvan mengelus rambut hitam milik Ellen. Ellen terenyuh dengan kata-kata yang disebutkan oleh Rezvan itu. Seketika saja Ellen merasakan ketenangan, dan menyenderkan kepalanya di pundak kiri Rezvan. “Terima kasih lagi ya, Rez. Aku gak tahu mau balas ke kamu bagaimana,” ujar Ellen. Dan menyender di pundak Rezvan itu, membuat Ellen menemukan sebuah ketenangan, kebahagiaan, dan jalan terang untuk menuntaskan kasus itu. “Aku gak perlu balasan, yang penting kamu bisa mendapatkan keadilan yang seharusnya menjadi hak kamu. Sekali lagi jangan dengerin omongan orang lain yang merendahkan atau menjelekan kamu, mereka semua berpikiran sempit dan tidak memahami keadaanmu. Jika kamu menemukan orang yang seperti itu lagi, segera tinggalkan dan tetap tenang,” pesan Rezvan pada Ellen. Ellen kembali tersenyum setelah menceritakan hal pilu yang dialaminya. Namun, Rezvan yang memang mempunyai kakak yang senasib dengan Ellen dan pelaku yang sama, Rezvan pun jadi paham. Bahwa jika bertemu dengan korban kekerasan atau pelecehan seksual, sebaiknya menebarkan hal positif pada mereka, tidak menyalahkan tindakan korban sekali pun, memberi bantuan seperti tempat beristirahat, saling membagi kisah, atau hal apapun yang dibutuhkan korban. Dan yang terpenting, tunjukanlah sikap empati dengan mendengarkan, mendukung, dan mempercayai keterangan korban. Dan selang beberapa hari kemudian, Rezvan merasa Ellen adalah orang yang cocok untuk bersenda gurau, berbagi segala macam hal, dan tidak menjengkelkan seperti sebelum-sebelumnya. Di mata Rezvan, Ellen menjadi orang yang dewasa, manja, dan menebarkan aura positif di setiap hal yang dikerjakannya. Ternyata, kedekatan Rezvan dan Ellen yang awalnya sebatas teman curhat, berlabuh menjadi hubungan yang lumayan intens. Dan di malam itu pula, Ellen dan Rezvan saling mengungkapkan perasaan mereka masing-masing. “Rez, kita deket kayak gini, saling komunikasi setiap hari, sudah berapa lama ya?” tanya Ellen ketika Ellen dan Rezvan sedang jalan berdua ke sebuah kafe. “Kayaknya baru seminggu sih. Kenapa emangnya?” jawab Rezvan sembari menyeruput jus alpukat di atas mejanya. “Aku boleh ngungkapin sesuatu sama kamu, gak Rez?” tanya Ellen. “Silakan, silakan, aku menerima apapun masukan untuk diriku sendiri kok,” jawab Rezvan yang tak keberatan sama sekali. “Tapi sebelum aku mengungkapkannya, apa kamu sudah punya gebetan atau kekasih, belom?” tanya Ellen dulu mengambil ancang-ancang pembicaraannya. Rezvan menggelengkan kepalanya. “Gak ada. AKu lagi gak ada pacar, sudah dua tahunan lebih,” jawab Rezvan. “Kalau gebetan atau teman dekat perempuan, apa ada?” tanya Ellen. Duh Ellen banyak banget nanyanya. “Gak ada juga. Kenapa sih memangnya? Kok muka kamu kayak pucat gitu,” tukas Rezvan yang ternyata menyadari gelagat Ellen yang lagi nervous. Rezvan melihat gadis di depannya itu tampak gugup sambil meremas tangannya sendiri. Ellen menekan-nekan wajahnya dan menggerlingkan pandangan matanya ke seluruh arah. Menurut yang Rezvan pahami, tingkah laku Ellen sekarang menunjukan bahwa ia sedang menenangkan dirinya, dan mencari celah agar gugupnya itu terhilangkan. “Aku suka kamu!” seru Ellen yang spontan mengagetkan Ellen. “HAH?!” respon Rezvan itu terkejut karena mendapati ucapan Ellen yang membuatnya HAH dan terbagong-bagongkan. Sementara Ellen ikut senyum-senyum dengan kedua pipinya yang sudah memerah duluan. Ellen juga membunyikan kesepuluh jemari di tangannya sehingga menghasilkan bunyi KREK … KREK … KREK … dan tanpa disadari oleh Ellen, itu menunjukan kalau dirinya sedang berusaha menyembunyikan kegelisahannya itu. “Kamu ini ngomongnya pakai serius atau bohong? Aku gak suka loh kalau dibohongin,” tukas Rezvan dengan kedua matanya yang menyipit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN