Dua orang mahasiswa anak bimbingan Bu Ulfa duduk rapi di hadapan Bu Ulfa. Mereka yang bernama Reno dan Inka itu adalah dua orang anak bimbingan Bu Ulfa yang sudah melakukan penelitian sampai tahap akhir. Namun, entah kenapa tulisan-tulisan yang ada di dalam dokumen skripsinya itu “kurang menendang” di hati Bu Ulfa. Padahal, Inka dan Reno yang sudah semester akhir itu tidak mau membayar uang kuliah tunggal lagi untuk semester depan.
“Sudah diperbaiki kan permintaan saya minggu lalu? Coba saya lihat hasil perbaikan kalian,” ucap Bu Ulfa yang menjulurkan tangannya untuk melihat dokumen skripsi dua anak bimbingannya itu.
Langsung saja Inka dan Reno memberikan skripsinya ke Bu Ulfa. Bu Ulfa membuka halaman demi halaman dan membaca perlahan-lahan kinerja dua anak bimbingannya. Sembari menunggu feedback dari Bu Ulfa, pandangan Inka terfokus pada kertas putih di sebelah Bu Ulfa, yang sangat jelas sekali terdaftar nama-nama mahasiswa di fakultasnya ini.
Inka mencolek dengkul Reno, dan menggerlingkan matanya ke arah kertas itu. Rupanya Reno memahami maksud dari sorotan mata Inka itu. Reno ikut memperhatikan lebih jeli lagi soal kertas putih itu dan Reno dikagetkan dengan tulisan di paling atas, “Nama-nama mahasiswa yang tergabung dalam pers mahasiswa, pengungkapan kasus kekerasan seksual di kampus.” Mengetahui tulisan yang membelokan kedua matanya itu, Reno mencoba tenang, mengalihkan pandangannya, dan mengatur napasnya lebih baik lagi.
Inka yang berada di sebelah Reno, melihat sesuatu yang auto berubah dari Reno. Ada apa gerangan? Tapi, Inka tidak mau bertanya terang-terangan di depan Reno dan Bu Ulfa karena takut mengganggu kefokusan dalam bimbingan hari ini. Jadinya, Inka hanya melemparkan tatapan tajam dan mengernyitkan dahinya ke Reno. Reno pun menggelengkan kepalanya. Inka jadi makin penasaran dengan hal tersebut.
“Oke, saya sudah membaca keseluruhan naskah kalian berdua, Inka dan Reno. Naskah kalian sudah bagus dan sesuai dengan permintaan saya. Saya langsung menanda tangani skripsi kalian ya, dan kalian bisa segera mendaftar untuk ujian skripsi bulan depan,” ucap Bu Ulfa seraya mengambil pulpen dari kantong bajunya.
Satu buah tanda tangan terbubuhi di atas skripsi Inka dan Reno. Terlihat sorot kebahagiaan yang terpancar dari Inka dan Reno, yang mana mereka saling pandang satu sama lain. “Nih, sudah selesai semua,” seru Bu Ulfa dan mengembalikan dokumen skripsi milik Inka dan Reno.
“Terima kasih banyak ya, Bu Ulfa. Terima kasih banyak atas bimbingannya pada saya selama empat tahun lamanya berkuliah di sini. Terima kasih atas semua ilmu yang diberikan, dan saya mohon maaf apabila ada salah kata yang menyakiti Bu Ulfa,” tutur Inka pada Bu Ulfa. Hal ini memang menjadi ritual bagi seluruh mahasiswa jurusan ketika tugas akhirnya sudah tahap final. Pasti ada kata-kata mutiara yang spesial dipersembahkan untuk sang dosen pembimbing tercinta.
“Iya, Bu, saya juga banyak-banyak berterima kasih pada Bu Ulfa, ya … “ sahut Reno dengan singkatnya.
“Iya, sama-sama anak bimbinganku semua. Semoga dengan ilmu yang telah kalian dapatkan di kampus dan jurusan ini, bisa membantu kalian dalam menuntun ke masa depan yang lebih baik,” balas Bu Ulfa. “Jangan pernah berhenti belajar dan berusaha, karena kalian adalah generasi penerus bangsa,” pesan Bu Ulfa lagi.
Reno dan Inka memberikan senyuman pada Bu Ulfa, yang mana dosen pembimbingnya selama ini. Walaupun Bu Ulfa banyak kerjaan dan kebanyakan sibuknya daripada longgarnya, tapi Inka dan Reno merasa puas karena Bu Ulfa tidak neko-neko dan minta yang aneh-aneh soal dunia per-revisian.
Setelah keluar dari ruangan Bu Ulfa, Inka masih bertanya-tanya soal mimik wajah Reno yang berubah begitu cepat di dalam ruangan Bu Ulfa lagi. Inka dan Reno berjalan menjauh dari ruangan Bu Ulfa, dan Inka segera bertanya. “Ren, ada apa? Kayaknya dari tatapan kamu tadi, ada sesuatu yang mau kamu ungkapkan,” kata Inka.
Reno celengak-celinguk memantau kondisi di sekitaran mereka. Reno menarik tangan Inka ke situasi yang lebih sepi lagi, dan orang-orang penting kampus tidak akan lewat ke sini. “Kita sambil turun ke tangga darurat dan ngobrol, ya,” ujar Reno. Inka pun mengikuti jalan Reno.
“Inka, aku sangat lega bisa terlepas dari cengkraman kampus ini,” ujar Reno kemudian seraya mengelus dadanya.
“Emangnya ada apa? Bukannya ketika awal-awal masuk ke kampus ini, kamu sangat menyukai sistem pembelajarannya? Kok waktu lama kuliah di sini, pikiranmu malah berubah,” tanya Inka bingung.
“Iya, karena aku baru saja menemukan bukti kuat kalau kampus ini tidak ramah korban kekerasa seksual,” kata Reno yang memelankan nada bicaranya.
“Eh, eh, kenapa, Ren? Aku penasaran deh, coba cerita dulu yang sejelas-jelasnya,” pinta Inka.
Reno dan Inka adalah dua aktivis luar kampus yang fokus juga terhadap kasus kekerasan seksual, terutama di lingkup pendidikan. Mereka berdua menyadari kalau kekerasan seksual yang seperti itu tidak boleh dan tidak patut ada di lingkungan pendidikan. Jadi, ketika ada informasi tentang kasus kekerasan seksual di kampus, Reno dan Inka turut andil.
“Kamu tahu kan kertas putih yang tadi ada di sebelahnya Bu Ulfa? Nah, tadi itu aku sempat baca yang isinya nama-nama anak anggota pers mahasiswa kampus. Nama mereka yang ada di kertas itu terancam untuk di blacklist atau mendapatkan nilai D. Dan kamu tahu apa penyebabnya? Karena mereka konsen dengan kasus kekerasan seksual yang dilakukan salah satu oknum kampus ini!” terang Reno dengan bola matanya yang berapi-api.
“Serius, Ren?! Aku sempat lihat dan hanya ada nama-nama di sana. Aku tidak begitu lihat dengan tulisan yang mengarah ke kasus kekerasan seksual. Ih berarti, di kampus ini sedang menyembunyikan kasus kekerasan seksual dong?” Inka mencoba menyimpulkan cerita detail dari Reno.
“Iya, bisa dikatakan seperti itu. Makanya, aku sangat lega bisa berakhir menuntut ilmu di institusi tidak sehat ini,” balas Reno.
“Ckckckc, kenapa baru sekarang kelihatan ya? Kalau sudah dari dulu, kan kita bisa bantu pers mahasiswa kampus untuk menyelesaikan kasus tersebut,” ujar Inka.
“Jangan khawatir, Inka. Kita memang sudah tidak berkuliah di sini, sudah tidak ada kaitannya dengan institusi ini, tapi kita tetap bisa membantu para pers mahasiswa kampus untuk mengungkap kasus ini kok. Soalnya kan anggota mereka banyak yang di blacklist, otomatis berkurang drastis tenaganya. Gimana kalau kita juga ikutan membantu mereka?” Reno mengemukakan pendapat, dan ia yakin kalau Inka pasti menyetujuinya. “Kamu sepakat kan dengan saran aku?”
“Biarpun tidak aku jawab, kamu pasti sudah tahu apa jawaban aku,” Inka tersenyum.
“Sepakat! Hehe, ayo kita daftar ujian skripsi dulu di ruang administrasi, nanti kehabisan kuota lagi kayak bulan kemarin,” tukas Reno ketika sampai anak tangga paling bawah.
Suara dua orang anak semester akhir yang menuruni anak tangga itu, mengundang Prabu untuk menguping. Prabu yang awalnya ingin melewati anak tangga, tak sengaja mendengar pembicaraan Reno dan Inka, dan mengurungkan niatnya untuk berjalan di belakang Reno dan Inka. Telinga Prabu mode on pendengaran dewa, dipasangnya untuk mendapatkan informasi lebih. Karena Prabu tahu kalau Reno dan Inka itu aktivis luar kampus yang mempunyai segudang informasi.
“Oh ternyata … Bu Ulfa sedang membungkam anak-anak pers mahasiswa untuk mengungkapkan kasus kekerasan seksual, toh,” Prabu mangut-mangut setelah mendengar informasi secara lengkap. Dasar Prabu demen nguping, nih.
Bak ksatria yang belum kesiangan, Prabu berpikir kalau dia harus bertindak dalam hal ini. “Kebetulan Andin si perempuan idamanku itu tergabung dalam pers mahasiswa. Dan sepertinya aku harus menceritakan informasi ini ke Andin, biar aku dikira kritis juga. Aku kan pengen deketin Andin dengan cara yang cerdas! Biar gak ngang ngong ngang ngong aja tiap ngobrol sama Andin yang pintar itu.”
Prabu menjentikan jemarinya dan segera mencari di mana keberadaan Andin, si pujaan hatinya itu. “Kalau di jam jam segini, Andin pasti masih berada di ruang pers nih. Aku kejar ah kesana,” kata Prabu dengan antusiasnya.