Kesal Pada Tindakan

1409 Kata
Ellen menarik napasnya berkali-kali untuk menenangkan diri dan pikirannya saat itu. Ellen merasakan ada boomerang yang mengantam dirinya bertubi-tubi yang menghasilkan sakit luar biasa. Sepertinya, ini saat yang tepat untuk meluapkan semua kekesalan dan kekecewaan Ellen terhadap apa yang ia alami. Ellen menatap satu per satu Andin, Tisya, Bu Rere, dan juga kekasihnya Rezvan, yang sedang menatapnya balik. “Aku sangat kecewa …” ungkap Ellen dengan matanya yang nanar. “Kami mengerti, Len. Tidak kamu ceritakan pun, kami ikut merasakan apa yang kamu rasakan,” tukas Andin. “Len, kami di sini akan membantu kamu, sebisa kami, dan semaksimal mungkin. Kami gak akan membiarkan kamu berjuang sendirian, apalagi dalam lingkup yang tidak mendukung seperti ini,” timpal Tisya. Bu Rere memindahkan tempat duduknya ke samping Ellen. “Ellen cantik sayangnya Bu Rere, kamu jangan berpikir berat ya. Kamu jangan sedih sendirian juga. Ada kami di sini tempatmu untuk berjuang dan berbagi cerita. Apapun yang terjadi di luaran sana, memang banyak yang tidak sesuai dengan kehendak kita. Lantas, apa kita harus menyerah? Tidak! Itu adalah tantangan untuk kita karena keberhasilan akan terjadi. Semua akan baik-baik, tenang saja,” Bu Rere mengelus rambut Ellen. Ellen menarik kembali air matanya agar tidak keluar. Ellen tidak mau teman-temannya itu menyaksikan kepedihan yang amat perih di dalam diri Ellen. Rezvan sebagai kekasih itu memegang tangan kanan Ellen, diusapnya tangan lembut milik Ellen itu dan Rezvan tersenyum. “Kamu orang hebat dan kuat, Sayang … kita semua satu di sini, berusaha untuk kamu! Ingat itu …” ucapnya. Dengan semangat dan ucapan dari pacar dan teman-temannya itu, Ellen bisa melengkungkan senyumnya kembali yang sebelumnya dirundung rasa kecewa. “Terima kasih banyak, aku sangat sangat sangat percaya pada kalian!” Ellen pun mengepalkan tangan kirinya dan mengangkatnya. Hati-hati bau ketiak, Len. “Ketidakadilan harus dituntaskan!” seru Ellen keras. Dengan tegas pun Tisya, Andin, Rezvan, dan Bu Rere ikut melayangkan kata-kata tersebut di depan Ellen. *** “Saya sudah mencatat semua nama-nama anggota pers kampus yang tergabung dalam misi pengungkapan kasus kekerasan seksual, Pak,” Bu Ulfa menyerahkan satu lembar nama mahasiswa dan mahasiswa yang mengambil jurusan di fakultasnya. Pak Taufan yang duduk di depan Bu Ulfa, mengambil kertas tersebut dan membacanya. Pak Taufan mangut-mangut mengetahui lima belas nama yang akan menjadi sasaran amuknya, jika mereka tidak meninggalkan organisasi pers itu. “Kita ancam saja dulu, jikalau mereka masih keukeh mengungkapkan kasus yang menyangkut saya ini, baru kita ambil tindakan yang lebih tegas,” ucap Pak Taufan dan meletakan kembali kertas itu di atas mejanya. Bu Ulfa menghela napasnya, berusaha mengontrol jantungnya yang berdetak begitu cepat. “Lalu, apa yang harus saya lakukan selanjutnya, Pak?” “Tunggu arahan dari saya, yang penting saat ini kamu harus memastikan bahwa tidak ada lagi anggota di pers itu yang berani mengangkat kasus saya ini,” jawab Pak Taufan. “Baik. Kalau begitu, apakah saya bisa langsung kembali ke ruangan saya?” tanya Bu Ulfa. Pak Taufan menganggukan kepalanya. “Silakan, nanti kalau saya butuh, kamu cepat ke sini lagi,” kata Pak Taufan. Bu Rere pun ikut mengangguk dan membalikan badannya. “Eh tunggu!” seru Pak Taufan dan Bu Ulfa membalikan dirinya kembali ke arah Pak Taufan itu. “Iya, Pak? Ada yang perlu saya bantu lagi, atau ada hal yang belum tersampaikan ke saya?” tanya Bu Ulfa. “Tidak, tidak, tidak,” Pak Taufan menggelengkan kepalanya. Pak Taufan menyipitkan kedua matanya dan memadang penampilan Bu Ulfa dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Ternyata biarpun umur kamu sudah tidak muda lagi, kamu masih terlihat muda ya, Bu Ulfa …” seru Pak Taufan. Deg! Jantung Bu Ulfa mulai berseteru kembali. “Maaf ya Pak, saya banyak kerjaan yang harus selesai di ruangan saya. Apa bisa sekarang saya pergi?” Bu Ulfa mencari cara agar bisa keluar dari ruangan Pak Taufan itu. Pasalnya, Bu Ulfa takut jika ada sesuatu menimpa dirinya, seperti kasus yang sedang heboh sekarang ini. Di mana Pak Taufan terdaftar menjadi pelaku kekerasan seksual di kalangan mahasiswi kampus. Bu Ulfa menengok ke seluruh ruangan Pak Taufan, tidak ada Closed Circuit Television alias CCTV yang mengitari dalam ruangannya itu. Padahal, Pak Taufan termasuk dosen senior dan memegang jabatan sebagai Wakil Rektor III. Hal itu menimbulkan rasa ketidaknyamanan lagi bagi Bu Ulfa karena di ruangan Wakil Rektor yang lainnya banyak sekali CCTV. “Kamu jangan terburu-buru gitu lah. Suruh saja anak pembimbingmu untuk menyelesaikan tugas itu. Lagian, kamu iming-imingi nilai A, banyak yang rebutan membantu kamu,” celetuk Pak Taufan. Namun hal itu tentunya tidak sesuai dengan idealisme Bu Ulfa. Bu Ulfa adalah orang yang menjunjung tinggi idealisnya ketika melakukan pekerjaan di ruangannya. Bu Ulfa tidak mau ada campur tangan orang lain dalam pekerjaannya. Hal itu bisa mengakibatkan ketidak maksimalan dalam hasil kerjanya. “Enggak, Pak. Saya tidak menganjurkan hal seperti itu di diri saya. Lagipula semua anak pembimbing saya tahun ini sudah lulus semua dan sisanya sedang tahap akhir penelitian. So, saya tidak mungkin menyuruh mereka mengerjakan tugas yang seharusnya rahasia dan tidak mereka lakukan,” Bu Ulfa pun segera mengontra pernyataan Pak Taufan. “Hahahaha,” Pak Taufan geli mendengar ucapan Bu Ulfa seraya memegangi perutnya yang bergetar karena tertawa. “Kamu boleh idealis, boleh menggunakan idealismu. Tapi, kalau kamu dalam situasi genting dan kewalahan mengerjakan tugasmu, tidak apa-apa mau menyuruh mahasiswa. Janganlah kamu terlalu kaku, hahahaha.” Bu Ulfa mengeryitkan dahinya mengetahui ucapan tidak menyenangkan itu keluar dari mulut Pak Taufan. Dosen senior sekaligus pejabat kampus Wakil Rektor III itu malah menyarankan saran yang tidak patut untuk dilakukan. Akan tetapi, Bu Ulfa tidak mau meributkan hal itu untuk sementara ini. Karena, di ruangannya masih banyak tugas-tugas yang berkaitan dan bakal meminta bantuan Pak Taufan, jadi Bu Ulfa memilih senyum saja. “Jadi, apakah saya boleh keluar sekarang, Pak?” izin Bu Ulfa untuk yang kesekian kalinya. “Kamu yakin tidak menyuruh mahasiswamu yang lain saja untuk menyelesaikannya?” Pak Taufan malah melemparkan pertanyaan yang tidak akan diamini oleh Bu Ulfa. Bu Ulfa memaksa senyumnya, “Tidak, Pak. Mungkin lain kali saja. Saya keluar ya, Pak,” Bu Ulfa langsung membalikan badannya dan cepat-cepat keluar dari ruangan yang diisi oleh monster gak jelas itu. Setelah keluar dari ruangan Pak Taufan, Bu Ulfa sengaja mempercepat langkahnya agar tidak ada panggilan balik lagi. Sambil berjalan cepat, Bu Ulfa mengelus dadanya dan meminta maaf berkali-kali. Kalau dihitung-hitung, Bu Ulfa mengatakan kata maaf sebanyak lima puluh kali selama perjalanannya itu sampai ke ruangannya. Sesampainya di ruangannya itu, Bu Ulfa mengunci dan menutup pintunya erat. Bu Ulfa mendudukan badannya di kursi seperti biasa. Ia memegangi kepalanya dan menunduk. “Kenapa aku begitu jahat, ya?” katanya pada dirinya sendiri. Bu Ulfa tiba-tiba saja menitikan air matanya, ia mencari-cari selembar tisu yang ada di dalam lacinya. Diusapnya air mata kekesalan itu, “Apa gunanya aku menjadi aktivis perempuan yang memperjuangkan hak-hak perempuan, sedangkan aku sendiri ikut andil dalam penyembunyian kasus dan pembungkaman korban,” isak Bu Ulfa lagi yang mengusap air matanya berkali-kali. Bu Ulfa membaca satu per satu kembali nama-nama yang berhasil ia catat dan mereka-mereka yang diancam oleh Bu Ulfa. Air mata Bu Ulfa semakin deras mengalir, “Maafkan saya, ya, mahasiswa dan mahasiswiku. Kalian sepatutnya tidak harus menghormati saya yang kurang ajar ini. Kalian di kampus ini tidak aman, tidak baik-baik saja, dan kalian tidak akan mendapatkan kebebasan berekspresi di sini,” seru Bu Ulfa kembali sembari menggelengkan kepalanya. TOK … TOK … TOK … tampak samar dua orang mahasiswa mengetuk pintu ruangan Bu Ulfa dan mereka mengintip aktivitas Bu Ulfa. Dua orang mahasiswa yang ternyata anak bimbingannya Ulfa itu, sudah membawa kertas tebal di tangan mereka. Bu Ulfa cepat-cepat mengusap air matanya dengan mengambil tisu banyak-banyak dari lacinya. Bu Ulfa menarik napasnya. Dan menenangkan dirinya sebelum menerima orang masuk ke ruangannya. “Kalian Inka dan Reno yang mau bimbingan sama saya, ya?” teriak Bu Ulfa dari dalam ruangan. Lantas suara Bu Ulfa pun terdengar oleh anak bimbingannya, Inka dan Reno. “Iya, Bu!” ucap mereka bersamaan. “Kalian yang kemarin kirim chat dan janjian sama saya itu, ya?” tanya Bu Ulfa lagi sambil menghabiskan jejak-jejak air mata yang masih tampak di wajahnya. “Iya Bu,” ujar Inka dan Reno kembali. Setelah berhasil menghapus air mata kekecewaannya mengingat kejadian yang ia lakukan itu, Bu Ulfa bergegas membuka kunci pintu ruangannya dan mempersilakan dua mahasiswanya untuk bimbingan. Dengan wajah semringah yang ditampilkan oleh Bu Ulfa itu, Inka dan Reno masuk ke dalam ruangan yang sebelumnya sudah dingin karena air conditioner.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN