"Maaf, Len. Saya mau bertanya lagi. Ketika kamu berada di ruang kesehatan kampus itu, apa di sana juga ada Pak Taufan?" Tanya Bu Ulfa kemudian.
Ellen menggelengkan kepalanya. "Yang saya lihat hanya anggota palang merah kampus yang sedang bertugas," Terang Ellen.
"Oke, lalu setelah kejadian itu apakah kamu sempat bertemu dengan Pak Taufan lagi?" Tanya Bu Ulfa yang betul-betul menuliskan kronologi kejadian.
Ellen cukup lega dalam hatinya karena melihat respon Bu Ulfa yang tidak menghakiminya sama sekali. Bu Ulfa malah mendengarkan pernyataan demi pernyataan yang keluar dari mulut Ellen. Ellen merasa kalau Bu Ulfa lah sosok pendengar yang baik.
"Setelah itu saya sudah jarang bertemu sih Bu. Karena Pak Taufan sudah tidak mengajar di kelas saya lagi. Dan itu membuat saya senang sih, tidak bertemu orang itu," Tutur Ellen.
"Baik. Semua kronologis yang sudah kamun ceritakan ke saya, akan saya simpan dengan baik. Nantinya saya akan meminta pertanggungjawaban dari Pak Taufan perihal ini. Ellen, apa yang ingin kamu berikan ke Pak Taufan agar dia jera? Tanya Bu Ulfa.
"Kok malah saya yang meminta, Bu? Bukannya jika ada sanksi atau hukuman yang diberikan kepada orang-orang kampus terutama di jurusan ini, semua kehendak berada di Ibu," Kata Ellen yang sudah tidak mampu berpikir. "Saya yakin Bu Ulfa bisa memberikan sanksi terbaik untuk Pak Taufan. Saya gak ingin ada banyak korban berjatuhan lagi selain saya. Cukup saya yang merasakan, Bu," Ungkapan Ellen dengan tatapan nanar.
Bu Ulfa tersenyum mendengar kata-kata itu. "Iya, Len. Ibu akan berusaha lebih agar bisa tegas dalam menindaklanjuti kasus ini. Kamu jangan khawatir, kejadian yang kamu alami ini memang masalah serius. Tapi, saya akan memberikan sanksi tegas kepada Pak Taufan. Kampus ini baik, kampus ini melindungi orang-orang baik," Jelas Bu Ulfa.
Bak menelan rasa kepuasan, wajah Ellen yang tadinya tak bertenaga lagi, kini tampak berseri karena senyuman kecil itu bisa berwarna lagi di wajahnya. "Terima kasih banyak ya Bu. Saya seperti mendapatkan banyak tenaga hari ini. Saya tidak menyesal berbicara kepada Ibu. Dan saya yakin kalau Bu Ulfa ini bisa menjadi pahlawan buat saya," Tutur Ellen dengan wajahnya semringahnya.
Bu Ulfa beranjak dari duduknya. Ia menghampiri Ellen yang duduk di seberang mejanya. "Sini ... " Bu Ulfa merentangkan tangannya ke Ellen. Seolah-olah ada sambutan untuk melakukan pelukan hangat. Ellen ikutan beranjak dari duduknya, dan menerima pelukan itu. Kepala Ellen mendekap di d**a Bu Ulfa.
Detakan jantung Bu Ulfa terdengar jelas di telinga Ellen. Detakan itu mengirimkan isyarat pada Ellen, bahwa masih banyak orang yang peduli dengannya tentang kasus yang dialaminya saat ini. Ellen pun tak menyesal sudah cerita ke Bu Ulfa. Dan betul kata orang-orang di luaran sana, kalau Bu Ulfa adalah aktivis perempuan yang sangat getol dan mengedepankan hah asasi manusia.
"Terima kasih banyak sekali lagi, Bu. Saya beruntung bertemu dengan orang kayak Ibu. Ibu Ulfa tidak langsung menyela apa yang saya katakan, apa yang saya jelaskan dan alami itu. Bu Ulfa memang malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk membantu saya menyelesaikan masalah berat ini. Sungguh, pelecehan seksual yang semacam ini membuat saya trauma, Bu," Tutur Ellen dikala dekapan itu masih tersedia untuknya.
Bu Ulfa melepaskan pelukan itu, dan memegang wajah Ellen dengan kedua tangannya. Di balik tatapan Ellen itu, Bu Ulfa pun ikut menyorotkan tatapan yang memberikannya semangat. "Semangat ya. Kamu harus yakin masalah ini akan berhasil dengan maksimal dan kamu puas dengan hasil akhirnya," Kata Bu Ulfa yang tidak melepaskan tatapan itu pada Ellen.
Di dalam kedua mata Bu Ulfa itu, Ellen yakin ada keadilan yang bisa ia dapatkan kemudian hari. Bu Ulfa yang sangat merespon baik laporan Ellen itu, membuat Ellen percaya bahwa di dunia ini masih ada orang baik yang mau melindunginya. Ellen juga yakin kalau Bu Ulfa tidak akan membiarkan kasus-kasus ini terjadi lagi, guna menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
Sekelumit flashback itu muncul dari kilas balik ingatan yang hadir di pikiran Ellen. Rezvan yang menatap kekasih di sebelahnya itu hanya diam dan menatap ke arah pantai dengan tatapan kosong. Rezvan sudah mempunyai pikiran yang aneh-aneh, kenapa Ellen bisa diam membisu setelah mendengar cerita hari ini.
"Sayang, kamu gak apa-apa?" Tanya Rezvan seraya berbisik tepat di telinga kekasihnya itu. Apalagi ketika Rezvan tahu kalau kekasihnya ini telah menurunkan air mata dari pelupuk matanya.
Merasa jika ada angin yang berhembus di telinganya, Ellen terkejut dan meraup wajahnya dengan kedua tangannya. "Maaf, aku melamun. Gak sengaja melamun. Duh jadi gak enak sama Bu Rere dan kalian semua deh," Tukas Ellen dengan senyum di wajahnya.
"Len, apa yang kamu pikirkan? Dari tadi kita semua di sini melihat air matamu yang mengalir di pipimu," Tanya Andin.
"Ah, enggak enggak," Ellen cepat-cepat menghapus sisa-sisa air mata yang ada di pipi Ellen, yang juga belum hilang dan masih tampak jelas.
"Ini bukan air mata kesedihan kok. Hanya saja aku mengantuk. Aku kalau mengantuk, terkadang mengeluarkan air mata. Maklum, aku ini kasih kayak anak kecil yang butuh tidur siang di jam jam segini hehehe," Alasan Ellen seraya menepuk-nepuk jam di tangan kanannya.
"Yakin? Kamu kalau ada sesuatu yang perlu diomongkan, omongin aja, Len. Saya paham sekali loh arti dari sorotan mata kamu itu," Timpal Bu Rere.
Bu Rere yang memiliki latar belakang psikolog itu cukup paham dengan tanda-tanda atau gelagat manusia yang sedang berada dalam situasi kegentingan. Bu Rere pun tidak tinggal diam jika melihat tanda-tanda tidak aman yang dirasakan orang terdekatnya. Hanya dengan tatapan, semua pembicaraan bisa jelas, biarpun mulut ini membisu.
Jikalau seseorang pernah menonton serial di TV berjudul Televisi Lie To Me, mereka akan menemukan kisah menarik soal seorang profesor yang dapat melihat orang jujur atau sedang menyembunyikan sesuatu. Menariknya, profesor itu mengetahui hanya dengan melalui perubahan senyum, ekspresi wajah, dan kerutan dahi dirinya. Namun untuk mendeteksinya pun tidak semudah itu ferguso! Meski demikian, menampilkan emosi palsu ialah sesuatu hal yang sangat sulit.
"Ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari kami, Len," Ujar Bu Rere.
Ellen tersenyum, lagi lagi dia hanya menggeleng dan menatap ke arah pantai dengan sengaja. Di mana pantai itu berada di sisi kanannya. Bu Rere yang tahu ini adalah salah satu kebohongan dari Ellen, berusaha menggali informasi kembali.
"Jelaskan saja, Len. Ibu tahu kalau kamu sedang menyembunyikan sesuatu. Kamu sedang mencari imajinasi untuk mendatangkan sebuah jawaban kan? Makanya kamu malah melemparkan pandangan ke pantai sana," Timpal Bu Ulfa lagi.
"Emmm ..." Dan kali ini Ellen menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal itu.
Akan tetapi, arah tatapan itu agak berbeda untuk orang yang kidal. Orang kidal cenderung akan menunjukkan reaksi berlawanan dari sebelumnya, yang mana disebut sebagai respon spontan. Selain itu, beberapa orang mencoba menatap lurus ke depan ketika mencoba untuk mengingat memori visual.
"Sayang, jelaskan saja, aku tahu kamu sedang tidak Baik-baik saja sekarang ini," Ungkap Rezvan sembari mengelus punggung Ellen itu. Ellen menatap lagi si Rezvan begitu dalam.