Ruang

1441 Kata
Di kafe yang tidak begitu riuh pengunjung berlalu lalang, membuat suasana di meja Bu Rere, Tisya, Andin, Rezvan, dan Ellen pun hening. Mereka semua sudah mempersiapkan apa yang harus dibicarakan. Bu Rere yang sengaja mengumpulkan semua orang-orang yang menurutnya penting itu, segera membuka obrolan siang itu. "Baik, terima kasih banyak atas kedatangan kalian semua ke sini. Saya sangat mengapresiasi kalian karena mau meluangkan waktunya untuk membahas permasalahan ini. Oh ya kalian sudah tahu kan garis besar masalah ini apa?" Tanya Bu Rere pada pemuda-pemudi yang ada di hadapannya itu. "Ketidakadilan yang dipertuankan oleh pejabat!" Seru Tisya. "Intimidasi yang tak berdasar," Lanjut Andin. "Minimnya empati yang dimiliki oleh pejabat," Terang Ellen. "Manipulatif dan keegoisan pejabat kampus," Pertanyaan itu pun ditutup oleh Rezvan. Bu Rere tersenyum kecil. "Ya, semua yang kalian katakan itu benar. Semua yang keluar dari mulut kalian adalah kekesalan yang begitu nampak. Jadi, kalian dan juga saya pasti tidak ingin menjadikan hal tersebut belarut tanpa kejelasan dan ketegasan. Makanya saya bermaksud mengumpulkan kalian disini untuk membahas kelanjutan misi ini," Beber Bu Rere. "Saya mempunyai informasi bahwa ada lima belas anggota pers mahasiswa kampus yang mendapatkan intimidasi dari Bu Ulfa. Dan semuanya memutuskan untuk berhenti bergabung di pers kampus karena memilih aman. Padahal, kita sedang melakukan misi rahasia yang sangat penting dan ini menyangkut harkat martabat pada korban yang kita bantu. Namun, anggota kita berkurang secara tiba-tiba yang menegaskan kalau tenaga kita untuk mengungkapkan kasus itu melemah," Jelas Bu Rere kembali. Kedua matanya tampak nanar mendengarkan ucapannya sendiri. "Jangan khawatir Bu, anggota kita boleh berkurang drastis, tapi ingat Bu, semangat kita gak pernah berkurang! Selalu terisi penuh dengan tekad yang besar untuk menyelesaikan misi tersebut," Andin menimpali dan mengelus pundak Bu Rere. "Iya Bu Jangan berpikir terlalu berat. Kita di sini akan membantu pekerjaan Bu Rere. Pokoknya jangan khawatir Bu, kita bisa walaupun anggota kita berkurang," ujar Rezvan meliukkan senyumnya kecil. "Ada pepatah yang mengatakan, bahwa lebih baik organisasi diisi oleh orang-orang sedikit tapi berkualitas. Daripada dipenuhi oleh orang-orang yang tidak berkualitas. Dan aku rasa kita sudah mengantongi ciri organisasi yang berkualitas walau jumlah orang yang sedikit," kata Tisya kali ini tumben dan benar. "Betul yang dikatakan Rezvan dan Tisya, jangan patah semangat jika kita ditinggalkan oleh rekan-rekan kerja. Bisa jadi ini adalah rintangan untuk kita. Apakah kita sudah pantas berjuang untuk misi yang berat ini?" Balas Andin lagi. Sementara itu terlihat raut wajah dari Ellen yang dari tadi menatap kosong lantai-lantai di depannya. Helm sama sekali tidak berbicara lebih seperti teman-temannya yang lain di meja itu. Entah bagaimana Ellen mempunyai rasa kekecewaan yang mendalam Karena anggota pers kampus mahasiswa harus mendapatkan ganjaran. Ellen merasa hal itu sama sekali tidak adil dan bisa menjadi hambatan untuk menyelesaikan kasus ini. "Len, kamu kenapa?" tanya Bu Rere yang ternyata paham raut wajah yang ditampilkan oleh Ellen. "Tidak apa-apa kok Bu, berfikir kalau kampus sengaja membuat anggota pers mahasiswa kampus ini menyusut. Mereka juga sengaja supaya tenaga yang kita keluarkan untuk mengungkapkan kasus itu lemah. Dengan begitu, mereka yakin jika kita gagal untuk mengungkapkannya," tegas Ellen yang akhirnya buka suara juga. Rezvan yang duduk disebelah kekasihnya itu, segera merangkul dan mengelus pundak Ellen. "Kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh ya sayang, yakin saja bahwa yang dilakukan Bu Ulfa itu adalah tindakan yang bodoh. Biarpun Bu Ulfa mengintimidasi anggota pers di sini, Tapi kita tetap jalan untuk menyelesaikan kasus yang menyangkut Pak Taufan," Ujar Rezvan dengan lembutnya kepada kekasihnya itu. Elen memandang Andien, Tisha dan Rezvan dengan tatapannya yang nanar, "Terima kasih banyak ya untuk kalian pejuang hebat. Aku gak tahu lagi mau balas apa ke kalian yang sudah rela menghabiskan tenaga dan waktunya untuk melanjutkan misi ini. Aku sebagai orang yang merasa ditolong, sangat mengapresiasi penuh. Dan semoga langkah kita selanjutnya selalu diberkahi Tuhan." Bu Rere ikut tersenyum ketika mendengar perkataan bijak dari Ellen. Baru kali ini ia melihat Ellen tidak sama sekali goyah semangatnya hadapi rintangan yang luar biasa. Salah satunya seperti hari ini, yang mana ia kehilangan dukungan dari Bu Ulfa. "Tetap semangat ya Ellen! Doakan kami semua bisa membantu kamu dan korban-korban yang lainnya," ujar Bu Rere. Ellen pun menganggukkan kepalanya dan di dalam hatinya benar-benar kacau. Seketika saja Ellen teringat ketika dirinya menghadap ke Bu Ulfa untuk pertama kalinya. Pada saat itu Ellen sedang berusaha menguatkan hatinya agar bisa berbicara jujur kepada Bu Ulfa tentang kejadian yang dialaminya. Dan untuk pertama kalinya masalah Ellen dengan Pak Taufan itu muncul. Berada di ruang ketua jurusan berdua dengan Bu Ulfa, membuat Ellen yakin bahwa inilah waktu yang tepat untuk berterus terang. "Permisi Bu Ulfa, maaf mengganggu waktunya," ujar Ellen ketika membuka pintu ruangan pintu Bu Ulfah. "Oh Ellen, silakan masuk ..." sahut Bu dengan ramahnya seperti biasa. Ellen pun duduk tepat di depan Bu Ulfa dan mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu karena di dalam dadanya begitu sesak dan sulit untuk dilepaskan ucapan-ucapan itu. "Begini bu, saya ingin menceritakan kejadian yang saya alami 3 hari kemarin, tepat ketika saya berada di kelas," Ellen pun mulai membuka pembicaraan itu. "Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Oh ya saya minta maaf ya, karena saya banyak kerjaan yang perlu saya selesaikan, saya mendengarkan cerita kamu sambil mengerjakan tugas ya," seru Bu Ulfa. Ellen pun ikut tersenyum, akan tetapi di dalam hatinya timbul rasa kekecewaan karena Bu Ulfa tidak sepenuhnya fokus kepada pembicaraan dia. Padahal Ellen pun ingin mengungkapkan sebuah kejadian yang menurutnya sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang dosen terutama Pak Taufan. Tapi mau bagaimana lagi, Bu Ulfa kan memang banyak kerjaannya di kantor dan masuk ke ruangan Bu Ulfa dan bisa duduk di depannya pun adalah sebuah kelonggaran. Biasanya Bu Ulfa tidak menerima satu seorangpun untuk datang ke ruangannya ketika kerjaannya membludak. Itu sih kalau kata temen-temen yang lain. "Iya Bu gak apa-apa. Saya lanjutkan ya Bu. Jadi waktu itu ketika saya pulang terakhir di jam mata kuliah Pak Taufan, Pak Taufan menghampiri saya, Bu ..." Ellen pun lanjut bercerita. "Oh ya? Kenapa Pak Taufan menghampiri kamu? Pasti mau diajak ikut Olimpiade ya? Atau ada lomba lain yang Pak Taufan tawarkan ke kamu?" Balas Bu Ulfa dengan santainya dan masih sibuk di depan komputer mejanya. Ellen menggelengkan kepalanya. "Bukan, Bu. Bukan itu yang dikatakan oleh Pak Taufan. Tapi, Pak Taufan melakukan hal yang tidak sama sekali terlintas di pikiran saya ..." Terang Ellen seraya menundukan kepalanya. "Lalu kenapa?" balas Bu Ulfa lagi yang kedua matanya terfokus pada komputer. "Pak Taufan mendekati saya dan mencolek p******a saya, Bu," ungkap Ellen dengan nadanya yang merendah. Sontak saja Bu Ulfa mengalihkan pandangannya dari layar komputer di depannya. Bu Ulfa juga menggeserkan tempat duduknya berhadapan dengan Ellen. "Yang kamu bicarakan itu apakah serius, Len?" tanya Bu Ulfa lagi dan melepas kacamatanya. Ellen mengangguk pelan, disitulah tampak kegelisahan mendalam dari seorang Ellen. Ellen pun menunggu respon dari Bu Ulfa, berharap ada keajaiban yang keluar dari mulut dan juga tindakan Bu Ulfa. "Sebentar, sebentar, saya ambil buku catatan dulu ya biasanya saya suka lupa," Bu Ulfa membongkar laci mejanya dan meraih satu buah buku tulis. "Coba kamu ceritakan kronologi yang sejelas-jelasnya, ya. Yang lengkap dan jangan ada yang ditutupi," seru Bu Ulfa dengan pulpen di tangan kanannya yang siap menuliskan kesaksian dari Ellen. "Baik Bu ..." Ellen berusaha menengadahkan kepalanya menatap Bu Ulfa. Ellen yakin sekali kalau Bu Ulfa ini memberikan respon positif terhadap masalah yang dialaminya. "Kejadiannya baru-baru saja kok, Bu. Ketika Pak Taufan masuk ke kelas saya untuk mengajar mata kuliah yang diampunya. Saat pelajaran berakhir, saya sengaja pulang belakangan karena saya menunggu teman saya di kelas sebelah. Saya sudah biasa nunggu lama-lama di kelas dan pulang terakhiran, Bu, dan tidak hanya di jam Pak Taufan saja, di jam dosen lain pun gitu," terang Ellen yang menarik napasnya terlebih dahulu. Jujur itu butuh tenaga, say. Apalagi jujur yang bikin hati itu jadi terkoyak kesal. "Tak lama kemudian, Pak Taufan mendekati saya ... awalnya Pak Taufan terlihat basa-basi dengan menanyakan bagaimana kelas hari ini, bagaimana cara belajar saya, dan kenapa saya pulang belakangan. Namun, ketika saya menjelaskan pertanyaan dari Pak Taufan satu per satu, tanpa disangka Pak Taufan mencolek p******a kanan saya, Bu. Saya terkejut dan membisu untuk seketika, rasa pedih di seluruh tubuh saya itu nyata sekali," terang Ellen kembali. "Apa yang dilakukan Pak Taufan selanjutnya setelah melihat reaksi kamu yang seperti itu?" tanya Bu Ulfa dengan pulpennya yang masih berjalan di atas kertas, untuk menuliskan poin-poin kejadian yang dialami Ellen. "Pak Taufan malah terkekeh. Dia meminta saya untuk tidak berteriak sedikitpun. Karena katanya, akan mengganggu jam belajar kelas lain. Akan tetapi, saya yang gemetaran itu langsung terkulai lemas di atas kursi dan tak sadarkan diri. Sejak saat itu, saya tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tiba-tiba saya sudah berada di ruang kesehatan kampus," pungkas Ellen yang menceritakan kronologi dengan lengkap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN