Tidak seperti mahasiswa yang lainnya, Rezvan malah nyelonong pergi ke kantin daripada masuk ke kelasnya. Gimana gak nyelonong, baru saja turun dari motor Rezvan sudah melihat penampakan Pak Taufan yang sedang mengarah ke kelasnya. Ya, daripada bikin naik tekanan darah pagi-pagi, mending Rezvan ngisi perutnya ke kantin.
“Ntar aku ikut kelas sebelah lah, toh mata kuliahnya juga sama, dan dosennya tidak senyebelin Pak Taufan,” tukas Rezvan. Akhirnya Rezvan benar-benar menuju kantin yang hanya diisi beberapa mahasiswa saja.
Rezvan melangkahkan kakinya ke tempat di pojokan dengan sengaja. Rezvan mengambil teh botol dan satu buah martabak solo. “Sarapan yang lumayan … “ kata Rezvan.
NYAM! Rezvan menggigit martabak solo yang ada di tangan kanannya, tak lupa ia meneguk teh botol dingin yang berada di tangan kirinya.
“KAK REZVAN! KAK!!!!” Andin pun datang menghamburkan kesantaian Rezvan di kanton. Rezvan menyeritkan dahinya karena melihat Andin yang panik mendatanginya. Biasanya Andin datang dengan wajah yang ceria, namun kok kali ini wajahnya panik. Apa jangan-jangan lagi ngikutin trend di i********: ya, panik gak?! Paniiiik gak?!
Napas Andin yang masih terengah-engah, ia langsung duduk di depan Rezvan. “Kamu kenapa, Din? Lari pagi? Kalau lari pagi di lapangan noh, jangan di kantin,” seru Rezvan yang meletakan teh botolnya di atas meja.
“Bukan, Kak. Maksud aku bukan itu. Kakak sudah tau masalah intimidasi dari Bu Ulfa kepada anak-anak pers kampus?” tanya Andin.
Rezvan menggelengkan kepalanya. “Tidak tahu, tuh. Emang kapan berita itu ada?” balas Rezvan.
“Baru kemarin, Kak. Masa Kak Rezvan gak tahu, sih? Bukannya tugas ketua BEM itu ya tahu masalah kampus ya?” tanya Andin lagi.
“Ya tapi gak harus semuanya diketahui, karena kampus pun punya privasi. Emangnya ada apa sih, Din? Intimidasi apa yang dilakukan Bu Ulfa? Kasih tahu cepetan dong, kayaknya serius amat ya sampai wajah kamu panik gitu,” ucap Rezvan.
“Iya, Kak. Ini sudah keterlaluan sih, Bu Ulfa mengancam seluruh anggota pers kampus yang masih bergabung. Jika masih ada mahasiswa yang tergabung dalam pers ini, hukumannya nilai mereka tidak lulus. Mau tidak mau, mahasiswa yang bergantung dengan nilai itu harus mengundurkan diri dari pers dengan terpaksa,” terang Andin.
“Hah?! Serius??? Itu sudah masuk ancaman dan tidak ada kebebasan berekspresi, loh!” tukas Rezvan. “Harusnya kampus itu mendukung semua kegiatan mahasiswa yang positif dan inovatif, bukan malah membungkam mereka. Kalau gini ceritanya, berekspresi di kampus itu hanya berlaku bagi orang-orang yang mempunyai jabatan! Gak adil lah!” Rezvan mulai larut dalam emosinya.
“Tenang, Kak tenang. Aku, Tisya, dan Bu Rere pun gak sepakat dengan tindakan yang dibuat oleh Bu Ulfa itu. Kak Rezvan mau bantu kita, kan?” tanya Andin.
“Ya jelas mau dong, Din. Apa yang bisa aku bantu? Kalau urusannya sudah begini, aku sebagai ketua BEM kampus ya tidak bisa diam saja,” jawab Rezvan yang memberikan respon positif pada Andin.
“Nanti siang kita bertemu di kafe Purwa Indah, di sana ada aku, Tisya, dan Bu Rere yang akan menindaklanjuti masalah ini. Aku harap Kak Rezvan datang untuk membantu meringankan kita-kita ini,” info Andin yang memberikan alamat kafe tersebut pada Rezvan di selembaran kertas.
Rezvan meraih kertas itu, dan membaca alamat yang tertera, “Aduh, kok jauh sekali sih? Gak ada di kafe deket-deket sini gitu?” seru Rezvan.
“Gak Kak, kita sengaja memilih tempat yang lumayan jauh dari kampus agar tidak ada mata-mata nakal yang menguntit kita,” terang Andin.
“Emangnya siapa yang bakal menguntit kita?” tanya Rezvan heran.
“Ya entah, tapi kita harus siaga satu lah. Jangan sampai rencana kita gagal karena ada yang memata-matai,” jawab Andin. “Gimana, Kak? Kak Rezvan bisa datang kan?”
Rezvan pun menganggukan kepalanya paham. “Ya udah kalau gitu sampai ketemu siang nanti,” balas Rezvan.
“Oke deh, Kak. Aku balik ke kelas lagi ya, soalnya tadi izinnya ke toilet. Takut kelamaan nanti dicurigain sama dosen. Bye ya Kak Rez!” ujar Andin yang membalikan badannya dan lari terbirit-b***t menuju ruang kelasnya.
Rezvan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku adik tingkatnya itu. “Bisa-bisanya punya kesempatan datangin aku ke sini,” seru Rezvan.
***
Kafe Purwa Indah, adalah kafe bernuansa vintage yang terkenal di Ibukota. Kafe yang cukup diisi lima puluh orang itu, tampak sepi ketika siang hari ini. Andin, Tisya, dan Bu Rere merasa beruntung karena mendapatkan tempat duduk di bagian pojok, dekat bibir pantai. Biasanya di tempat duduk ini, para pengunjung bisa ngantri atau sikut-sikutan buat bisa menikmati pantai sembari nyantai di kafe.
“Rezvan sudah kamu hubungin kan, Din?” tanya Bu Rere yang berada di hadapan Andin.
“Sudah, Bu. Tadi pagi juga saya beri tahu untuk datang ke sini, alamat kafe sudah saya kasih juga,” jawab Andin.
“Bagus kalau begitu. Ellen juga sudah saya hubungi tadi malam,” tambah Bu Rere.
Andin cukup lega dengan perencanaan itu. Bu Rere dan Andin pun menunggu kedatangan Ellen dan Rezvan. Sementara itu Tisya sibuk sekali dengan ponselnya sambil memperlihatkan wajahnya yang jutek.
“Kamu kenapa, Tis?” tegur Andin sambil menepuk pelan paha Tisya.
“Kuotaku habis,” balas Tisya seraya memanyunkan bibirnya.
“Oalah sudah biasa mah kalau tanggal tua begitu. Malah uang jajan nyaris habis,” celetuk Andin.
“Yee! Bukan masalah tanggal tuanya, aku mau beli Chateeme BTS nih di Go-Yeah pakai diskon. Sayangnya kuotaku habis, gagal deh nikmatin minuman Oppa,” terang Tisya.
Andin melengos. “Ya udah sih belinya awal bulan depan aja, kan uang jajan nambah tuh,” saran Andin.
“Apaan sih Din! Ngaco deh, ini produknya terbatas dan bulan depan dipastikan bakal habis total di semua gerai Chateeme. Aku sebagai isteri sah dari Jeon Jong Kook ya gak terima lah,” Tisya ngomel-ngomel ke Andin.
Andin terkekeh, “Aduh, Tis. Ayo sadar, sadar … gak boleh siang bolong gini ngehalu. Ntar malam aja ngehalunya biar ketemu dalam mimpi!” seru Andin yang bikin Tisya sedikit jengkel.
“Alah, gak bisa lihat orang senang kamu mah!” sewot Tisya sembari menjulurkan lidahnya ke Andin.
“Sudah, sudah, kalian ributin apaan, sih?” timpal Bu Rere yang mendengar perdebatan kecil dari dua orang perempuan di hadapannya itu.
“Biasa, nyonya Tisya lagi mengkhayal, Bu, hehehe,” celetuk Andin dan membuat Tisya mencubit paha atas Andin. “Diiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn!” ujar Tisya sambil membesarkan kedua matanya.
“Ih, ya emang kamu lagi mengkhayal, kan?” Andin cepat-cepat menepis tangan Tisya dari pahanya.
“Tapi jangan dikasih tahu ke Bu Rere juga kali!!” tukas Tisya yang menggigit gigi-gigi depannya.
Bu Rere tertawa melihat aksi Tisya dan Andin di kafe itu. Baru siang bolong udah ketawa aja, ya bagus aja sih panas-panas gini disuguhkan lelucon. “Kalian berdua kok malah berkelahi, sih? Gak baik, loh,” repson Bu Rere geleng-geleng kepala.
Tidak lama kemudian laki-laki berbadan ideal masuk ke dalam kafe itu. Di belakangnya sudah ada perempuan berambut sebahu, yang mengikuti langkah dari laki-laki itu.
“Nah itu Ellen dan Rezvan sudah datang!” seru Bu Rere sambil melambaikan tangan ke Rezvan dan Ellen, sebagai bentuk pemberian sinyal di mana dirinya berada.
Ellen dan Rezvan yang cepat tanggap, langsung menghampiri meja yang berada di dekat bibir pantai itu. Tersirat wajah semringah dari Bu Rere, Andin dan Tisya kala itu. Ellen dan Rezvan segera mengambil tempat kosong.