"Ellen, kabar kamu baik-baik saja, kan?" Tanya Bu Rere dari telepon.
Sudah jam sembilan malam, harusnya Ellen telah memejamkan matanya dan menuju alam mimpi. Namun, nada dering ponselnya yang bersuara lagu, "Hampa Hatiku" dari band Ungu asal Indonesia itu mengganggu tidurnya. Dan ternyata, Bu Rere yang menelpon Ellen, tumbenan saja di jam-jam segini Bu Rere juga belum tidur.
"Baik-baik saja kok, Bu Re. Emangnya ada apa ya, Bu?" Balas Ellen yang lumayan terkejut dengan pertanyaan pembuka dari Bu Rere.
"Begini Len, saya ingin memberitahu kamu tentang informasi yang saya dapat dari Tisya dan Andin. Tapi sebelumnya, kalau kamu sedang istirahat dan butuh waktu untuk tidur ya lain kali saja. Hal ini bisa kita bicarakan besok di kampus," ujar Bu Rere sebelum melanjutkan perbincangan nya ditelepon bersama Ellen.
Ellen pun menyeritkan dahinya, "Apakah informasi itu sangat penting Bu?" Tanya Ellen sebelum memutuskan jawabannya.
"Kalau dibilang penting ya sangat penting Len, tapi di sisi lain saya juga harus menghargai waktu istirahat kamu," jawab Bu Rere.
Karena rasa penasaran yang mendalam dari Ellen itu tumbuh, Ellen pun siap untuk mendengarkan pernyataan informasi dari Bu Rere, "Sekarang aja deh bu, nanti kalau ditunda-tunda terus malah lupa," ujar Elen seraya membetulkan posisi tubuhnya yang semula rebahan menjadi duduk.
Ellen mencolokan headset berwarna putihnya itu ke ponselnya, agar suara Bu Rere terdengar jelas di telinganya. Maklum, kalau sudah malam-malam gini malah Ellen itu bisa saja tersumbat. Maka dari itu Ellen tidak ingin Bu Rere mengulang untuk menceritakan informasinya tersebut hanya karena telinganya tersumbat.
"Oke deh, kalau begitu saya mau cerita ya," Kata Bu Rere. "Jadi begini, tadi ketika di ruang organisasi pers mahasiswa kampus, Saya bermaksud untuk memberikan informasi kepada anggota yang bertugas menjalankan misi ini. Kurang lebih satu jam lebih hanya ada 2 anggota yang hadir yaitu Andien dan Tisya, padahal total dari anggota kami ada puluhan orang. Lama kemudian Andien mendapat pesan dari salah satu anggota pers, anggota itu mengatakan ..." cerita Bu Rere itu tiba-tiba terhenti.
Bu Rere pun mempunyai firasat yang tidak enak untuk menyampaikan berita ini. Namun karena ini sangat penting diketahui oleh Ellen maka Bu Rere memberanikan diri juga. "Mereka semua mendapatkan intimidasi dari Bu Ulfa," Sambung Bu Rere.
Otak Ellen yang tidak sepenuhnya bekerja malam itu, tampak bingung dengan pernyataan Bu Rere yang menegaskan kalau Bu Ulfa sedang melakukan tindakan intimidasi kepada anggota pers kampus.
"Maaf, maksud Bu Rere bagaimana ya? intimidasi yang seperti apa ini?" tanya Ellen.
"Intinya Bu Rere mencatat seluruh nama anggota pers kampus, dan mereka menyuruh semua anggota untuk mengundurkan diri dari organisasi ini. Jika lho mereka semua tidak menghormati atau tidak menaati peraturan yang dibuat oleh Bu Ulfa itu, konsekuensinya adalah nilai mereka D dengan artian tidak lulus," Beber Bu Rere.
"Eh, serius Bu? Kenapa intimidasinya harus keluar dari pers sih?" Ellen pun ikut geregetan.
"Entah, saya kurang paham dengan maksud Bu Ulfa mengatakan hal demikian. Kalau saya perhatian sih memang ada hal yang disembunyikan dan ditakuti dari organisasi kita," Ujar Bu Rere.
"Saya pun mempunyai firasat yang sama sih, Bu. Tapi kita berusaha jalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan saja, jangan terlalu terpaku dengan intimidasi yang dilakukan sama Bu Ulfa itu. Bisa jadi itu hanya gertakan kecil saja untuk menakuti kita," Jelas Ellen.
"Jelas, dong. Dan apapun yang terjadi, tentang semua hal yang mengarah pada intimidasi, saya berusaha tenang terlebih dahulu. Yang penting, masih ada anggota yang mau mensupport dan membantu meringankan misi ini, seperti Andin dan Tisya," Balas Bu Rere.
"Betul. Gak masalah kalau kita bekerja dengan orang-orang yang sedikit, itu pun tidak mengganggu atau menurunkan kualitas kita, kok," Terang Ellen.
Bu Rere ikut sepakat dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Ellen. "Sepakat! Saya pikir kamu akan down mendengar kabar ini, Len. Ternyata, pikiran saya salah. Kamu adalah orang yang tetap tegar," Kata Bu Rere yang salut dengan sosok Ellen itu.
Ellen melengkungkan senyumnya di malam hari. Iya Len, asal engga di tengah-tengah jalan raya kamu senyumnya, apalagi malam begini bisa dianggap orang gila. "Terima kasih banyak, Bu. Semua ini memang untuk kesejahteraan kita bersama," Seru Ellen.
Ting! Tong! Ting!
Jam dinding di kamar Ellen berdering, dan kini sudah pukul sepuluh malam. Lama juga ya Ellen dan Bu Rere ngobrolnya, cyin. Pantas saja kedua mata Ellen sayup-sayup ketika mendengarkan Bu Rere, rupanya sudah masuk jam istirahat Ellen.
"Oh ya Len. Ada hal lain lagi yang mau saya diskusikan ke kamu, tapi besok saja ya. Saya tahu kalau sekarang adalah jam tidurmu," Tukas Bu Rere. Bu Rere mah biarpun bukan orang tua Ellen, tapi dia bisa menjadi sosok perempuan dewasa yang pengertian.
"Hehehe Ibu Rere ngerti aja," Ellen nyengir.
"Ya ngerti lah. Ya udah ya Len, sampai jumpa besok," Ujar Bu Rere dipenghujung teleponnya.
Ellen pun melepaskan headset yang masih tersambung di ponselnya, dan meletakannya di atas meja, tepat di samping tempat tidurnya pula. "Semoga ada kabar baik esok hari, biar aku gak selalu overthinking kayak begini. Aku butuh banyak semangat dan tenaga untuk bisa menyelesaikan kasus yang menimpa diriku, juga orang-orang yang belum berani berterus terang," Harap Ellen sebelum kedua matanya menutup rapat untuk menyambut esok hari.
***
Langkah kaki Rezvan menuju ke kampus hari ini tidak se antusias biasanya. Kali ini Rezvan cukup lama berdiam diri di depan teras rumahnya, sembari menunggu mesin motornya memanas. Kinan berkali-kali menatap jam tangannya, sudah lebih dari empat puluh lima menit Rezvan menyalakan mesin motornya dengan posisi motor berstandart.
"Kok gak pergi-pergi sih, Rez?" Tanya Kinan seraya menghampiri Rezvan di teras rumah.
"Eh, Kak ... " Jawab Rezvan yang terkejut dan cepat-cepat berdiri dari tempat duduknya.
"Mata kuliah pertamamu hari ini jam berapa? Kok kamu belum berangkat, Rez?" Tanya Kinan kembali.
"Hmm, jam berapa ya ... " Rezvan tampak gelagapan sembari membuka kunci di ponselnya. Di wallpaper ponselnya itu ada jadwal mata kuliah tiap minggunya, dan tertera di sana kalau lima belas menit lagi jam kuliah akan dimulai. Namun, jam kuliah itu menunjukan kalau Pak Taufan yang mengajar untuk hari ini.
"Hmm, kayaknya gak ada jam, Kak," Jawab Rezvan singkat.
"Serius? Biasanya kalau hari Rabu gini kamu masuk jam tujuh lewat lima belas. Berarti sekarang sudah gak ada kelas ya," Balas Kinan.
"Ehehehe, ya begitu deh pokoknya, Kak," Rezvan nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Kinan menghela napasnya, dan Kinan pun tahu kalau adik laki-lakinya itu sedang membuat sebuah alasan. Pagi-pagi sudah bikin alasan aja kamu, Rez. Namun, Kinan yang juga dikejar waktu untuk pergi ke kantor, pamit untuk meninggalkan Rezvan duluan.
"Kalau begitu Kakak pergi duluan, ya. Kamu cepetan pergi ke kampus biar gak telat masuk kelas. Satu menit ketinggalan pelajaran itu udah berharga banget loh," Pesan Kinan sebelum menaiki motornya yang sudah dipanasi terlebih dahulu.
"Iya, Kak. Itu aman aja kok. Kapan sih aku bolos kelas?" Balas Rezvan dengan santuynya.
"Kemarin." Terang Kinan singkat dan membuat Rezvan bungkam.
"Yee itu kan beda cerita Kak!" Teriak Rezvan pada Kinan yang sudah melaju dengan motor matic-nya.