“Bu Rere! Sepertinya ada sesuatu hal buruk yang terjadi!” tukas Andin seraya memperlihatkan layar ponselnya ke Bu Rere.
Dari: Anton Persma
Din, hari ini Bu Ulfa masuk ke kelas aku. Dia mencatat nama-nama mahasiswa yang terdaftar sebagai pers mahasiswa kampus. Bu Ulfa menegaskan, kita semua mendapatkan nilai D alias tidak lulus karena bergabung di pers mahasiswa. Jikalau mau mendapatkan nilai normal, kita semua harus keluar dari organisasi pers kampus.
Bu Rere pun menggelengkan kepalanya, “Belum saja mendapatkan klarifikasi sudah ada ancaman kayak begini,” tukas Bu Rere lemah.
Andin dan Tisya mengelus punggung Bu Rere yang tenaganya mulai melemah. “Sabar ya Bu, namanya orang yang mau dalam kebenaran, pasti selalu banyak cobaan yang menghadang,” ujar Andin.
“Iya, Bu. Banyak orang yang berusaha berbuat jahat karena mudah, sedangkan menjadi orang baik itu susah,” lanjut Tisya.
“Saya gak habis pikir saja, seorang Bu Ulfa yang menjadi aktivis perempuan di luar kampus itu, masih memikirkan nasib pelaku, bukannya nasib korban yang diperjuangkan. Bahkan, ketika kita mau membantu mengusut tuntas kasus ini, malah anggota kita yang dicamkan,” ucap Bu Rere lirih. “Andin, Tisya, sisa berapakah anggota pers mahasiswa kita yang bebas dari black list Bu Ulfa?” tanya Bu Rere kemudian.
Andin dan Tisya saling pandang, rasanya sulit untuk mengungkapkan jumlah anggota pers kampus yang masih tersisa. Andin dan Tisya tidak menjawab, dan hanya memandang Bu Rere dengan tatapan sayu.
“Sisa kalian berdua, ya?” tanya Bu Rere yang sepertinya sudah merasa bahwa hanya ada dua unit manusia yang masih bertahan.
Tisya dan Andin pun menganggukan kepala mereka pelan. “Iya Bu, sisa kita berdua. Tapi, Ibu Rere jangan khawatir soal ini ya,” Andin kembali menenangkan Bu Rere.
“Betul, Bu. Walaupun personil kita sangat sangat terbatas, tapi semangat kita untuk mengungkapkan kebenaran itu tidak terbatas!” lanjut Tisya mencoba mengirimkan energi untuk Bu Rere.
“Akan tetapi, saya cukup ragu untuk mengajak kalian berdua melakukan investigasi lebih. Karena, saya pun dihantui rasa bersalah jika kalian terdaftar sebagai mahasiswa blacklist juga,” ungkap Bu Rere yang gusar.
“Tenang saja, Bu. Kami berdua berani kok menghadapinya. Dan kami berdua juga tidak tinggal diam jika Bu Ulfa melakukan hal serupa pada kita,” balas Andin.
“Percayakanlah sama kita berdua, Bu. Seperti janji kita di awal, kita berdua selalu siap menjadi coordinator atau apapun untuk membantu Bu Rere menjalankan misi ini,” sahut Tisya.
Bu Rere pun tersenyum namun tampak sekali kalau senyum tersebut sengaja dilengkungkan. “Terima kasih banyak ya, Din, Tis. Kalian berdua adalah potret perempuan hebat masa kini, masa modern ini. Kalian berani mengambil jalan lain dan berani menghadapi cobaan-cobaan yang akan datang. Salut sama kalian berdua!” Bu Rere meraih bahu Tisya dan Andin bersamaan, Bu Rere memberikan pelukan hangat untuk dua sosok kartini masa sekarang.
“Bersatu kita teguh … bercerai kita????” bisik Bu Rere.
“BERSATU LAGI!” balas Andin dan Tisya bersamaan dan tawa pun tergambar di wajah mereka.
***
Rezvan merebahkan badannya di atas kasurnya, sembari menutup kedua matanya pelan-pelan. Hari ini terasa lelah, terutama di dalam pikirannya. Ia diketemukan dengan perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual oleh dosen X, yang mana sekarang menjadi kekasihnya, Ellen.
“Sebenarnya aku gak sampai kepikiran memacarimu, Len. Tapi, namanya hati biasanya suka berubah. Dan kini aku sangat menyayangimu … “ seru Rezvan dalam hatinya. Tak lama kemudian, pintu kamar Rezvan diketuk oleh seseorang.
Tok … tok … tok … “Rez?” seru seorang perempuan yang mana itu adalah kakak Rezvan sendiri, Kinan.
“Masuk, Kak,” sahut Rezvan yang mengubah posisinya menjadi duduk.
CIIIIT, pintu berdecit dan Kinan melangkah masuk ke kamar Rezvan. Kinan mengambil tempat duduk di sebelah Rezvan, di atas tempat tidur juga. “Kamu lagi sibuk, gak?” tanya Kinan dengan nada pelan.
Rezvan menggelengkan kepalanya. “Emangnya ada apa, Kak?” tanya Rezvan.
“Kakak mau ngomong sama kamu sebentar,” ujar Kinan.
Rezvan menyeritkan dahinya, Kinan yang akhir-akhir ini jarang memasang wajah lesu, kini tampak lagi di hadapan Rezvan. Rezvan pun ikut berdegup kencang jantungnya, bersiap-siap mendengarkan perkataan Kinan di balik wajahnya yang kini gusar itu.
“Boleh, Kak,” Rezvan mengubah posisi duduknya kembali dan menghadap ke Kinan.
Kinan menatap kedua mata Rezvan, “Apa yang terjadi di kampus?” tanya Kinan.
“Apa? Ya seperti biasa, Kak. Belajar dan pulang,” jawab Rezvan dengan polosnya.
“Apa yang kamu lakukan di kampus?” tanya Kinan lagi.
“Ya itu, masuk kelas dan aku diusir,” jawab Rezvan yang kali ini menundukan kepalanya.
“Sama dosen b***t itu?” Kinan memastikan lagi.
Rezvan mengangguk, “Dan alasannya bikin aku muak. Aku malah bersyukur tidak diberi hak masuk di jam pelajarannya. Gak peduli ah habisnya itu dosen bikin kesel,” terang Rezvan.
“Jadi tadi di kampus, kamu dan dosen b***t itu ada perselisihan?” dari tadi Kinan nanya mulu.
“Iya, ya Kakak tahu sendiri kalau dosen gak jelas itu memang suka cari masalah, kan?” jawab Rezvan yang seadanya.
“Benar sih, dan dosen gak jelas itu kembali menerror Kakak,” info Kinan seraya mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya. “Coba lihat dan baca baik-baik,” kata Kinan.
Satu buah pesan masuk ke nomor Kinan lima belas menit yang lalu. Pesan yang dikirimkan oleh nomor baru yang belum disimpan Kinan itu, mengirim pesan yang membuat Rezvan menghela napasnya panjang.
Dari: Nomor tidak dikenal (0876429xxx)
Dengarkan baik-baik! Tolong bilang ke adik kamu, jangan sombong dengan jabatannya menjadi ketua BEM kampus. Adik kamu itu tidak ada apa-apanya dibanding saya yang sudah mengabdi di kampus ini bertahun-tahun lamanya. Anak kemarin sore kok berani-beraninya melawan saya? Cih, saya kasih kuku jempol saya saja deh! Gak level sekali kalau saya mau melawan. Bilang ke adik kamu ya, jaga kesopan santunan dan etika ketika bertemu saya!
“Gak usah diladenin lah orang kayak gitu,” Rezvan mengembalikan lagi ponsel Kinan.
“Iya, Kakak gak ngeladenin kok. Tapi, dia menelpon sudah lebih dari dua puluh lima kali. Tetap saja kakak tidak angkat,” terang Kinan.
“Bagus, Kak. Kalau orang toxic kayak gitu anggap saja patung lilin pameran. Ada tapi tidak bernyawa, hahaha,” ungkap Rezvan.
“Bisa-bisanya kamu bikin Kakak tertawa. Gitu ya Rez, tolong etika kamu selama di kampus di jaga, karena ini menyangkut figure kamu sebagai seorang ketua BEM kampus,” tutur Kinan.
“Iya Kak, tapi kalau ada dosen yang kurang ajar macam dosen itu tuh, saya pasti melawan kalau diomongin yang enggak-enggak,” balas Rezvan.
“Ya itu pilihan kamu, kamu kan sudah besar dan sudah bisa memilah mana yang terbaik untuk kamu. Yang penting saran Kakak, tetap berhati-hati dalam bertindak dan berbicara,” kata Kinan yang tak henti-hentinya memberi nasihat pada adiknya, Rezvan.
Dddrttt … drtttt … dddrrrrttttt … ponsel Kinan berdering kembali. Diliriknya di layar ponselnya, nomor tidak dikenal itu kembali mengirimkan pesan singkat.
Kamu juga jangan banyak gaya sudah jadi alumni! Kamu jangan bongkar-bongkar aib saya ya! Kamu ini memang perempuan gak bisa diatur, banyak sekali tingkahnya, sudah tidak kuliah di kampus sini saja masih nyusahin!
Membaca pesan teks tersebut yang mengarah pada perendahan diri Kinan, Rezvan pun naik pitam. “Kak, ini gak bisa didiamin! Dosen b***t itu kalau kita cuekin, makin bikin emosi!” cerca Rezvan yang hatinya memanas seraya berdiri dari duduknya. Kedua tangannya pun sudah mengepal seperti menyimpan amarah yang meledak-ledak.
“Yang tenang, Rez! Atur emosi kamu,” ujar Kinan menarik tangan Rezvan yang mengepal.
“Aku sudah mencoba atur emosi saat di kelas tadi, Kak. Tapi kenapa dia masih saja membuat emosiku makin naik? Aku juga manusia Kak, punya kesabaran yang ada batasnya. Aku gak suka Kak dia semena-mena sama Kakak, padahal dia itu salah besar!” tukas Rezvan lagi yang diangannya itu terbayang sosok Pak Taufan yang begitu menjengkelkan.
"Rez, sepertinya hari ini kamu lelah sekali, makanya emosi kamu naik turun. Istirahat ya Rez, istirahat," Kinan pun berusaha menenangkan Rezvan yang penuh murka itu.
Rencana mencoba mengatur napasnya, walaupun emosi itu terus membabi buta menyerang hatinya. Gimana gak emosi? Rezvan yang sama sekali tidak menyerang atau memulai perselisihan dengan Pak Taufan, malah menjadi sasaran Pak Taufan dan di lampiaskan ke Kinan. Jelas-jelas tidak ada sangkut pautnya sama Kinan.
"Entah ya, kenapa dosen itu selalu menyasar Kak Kinan jika sesuatu hal terjadi? padahal kan Kak Kinan gak ikut-ikutan soal ini," pikir Rezvan.
Kinan menaikan kedua bahunya. "Mungkin Kakak terlalu baik sama dia sehingga dia semena-mena sama Kakak. coba saja Kakak punya kekuatan lebih untuk menyerang Pak Taufan, pasti dia juga ciut kok. Dia kan tipe orang yang pengecut," terang Kinan.
Rezvan memegang bahu Kinan. "Kak, tenang saja. Semua bakal indah pada waktunya, Kak Kinan akan mendapat keadilan sesuai keinginan Kak Kinan. Aku pun ikut membantu, Kak!" kata Rezvan yang perhatian sekali.
Biarpun Rezvan adalah seorang laki-laki yang terkadang cuek, tapi dirinya bisa menempatkan dirinya sebagai tempat curhat, tempat berlindung, dan apapun yang berhubungan soal hati. Kinan pun merasa beruntung mempunyai adik seperti Rezvan, yang semangat sekali membela dirinya walau jalannya masih terbatas. Namun, Kinan pun yakin jika semangat yang tertanam dalam diri Rezvan itu adalah api yang bisa membakar Pak Taufan di waktu tertentu.
"Kak, ingin rasanya aku membalas balik pesan itu ke Pak Taufan," ujar Rezvan tiba-tiba.
"Gak usah ... kamu sendiri kan yang bilang kalau manusia kayak dia gak perlu diladenin dan bikin habis-habisin waktu saja," balas Kinan yang menahan niat Rezvan.
Rezvan jadi mengurungkan niatnya. Padahal, sesak di dadanya itu menghantam nya perih dan perlahan-lahan menusuknya.
"Kak, do'ain aku agar bisa menjalankan semua misi soal keadilan Kak Kinan. Dan ini juga sebagai bentuk hutang aku ke Ellen," balas Rezvan.
"Iya, Rezvan. Apapun soal keadilan, Kak Kinan pasti selalu mendukung karena Kak Kinan tahu untuk mencapai sebuah kebenaran itu butuh waktu yang lama. Tenaga dan pikiran juga terkuras. Tapi Kak Kinan tekankan ya, kamu harus tetap fokus dengan kuliah kamu," pesan Kinan pada Rezvan.
Pasalnya, semester ini adalah semester terakhir alias empat belas semester pendidikan yang sudah ditempuh Rezvan. Kinan tidak mau Rezvan terus menerus memikirkan Kinan sendiri dan tidak peduli dengan pendidikannya. Kalau pun Rezvan masih bersikeras tidak mau menjalani kuliahnya secara serius, hal itu menjadi petaka untuk Kinan juga. Kan Kinan yang membayar seluruh biaya kuliah Rezvan dengan bekerja sebagai wartawan media lokal. Sementaranya, untuk upah yang didapatkan oleh Kinan pun tidak masuk dalam upah minimum regional (UMR), makanya Kinan harus punya pekerjaan lain untuk biaya hidup.
"Iya, Kak. Aku akan berusaha menyeimbangkan semuanya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk membantu menuntaskan kasus itu dengan baik, sebelum aku meninggalkan kampus yang isinya orang-orang yang ya ... Kak Kinan tau sendiri lah ya," tegas Rezvan yang sebenarnya sudah muak dengan permainan orang-orang kampus atau pejabat kampus yang penuh kemunafikan dan kenaifan.
"Itulah hidup yang sebenarnya. Hidup itu selalu diisi dengan orang-orang rakus dan mementingkan dirinya sendiri. Maka dari itu, kita sebagai manusia yang normal, dan punya harga diri, jangan sampai terjerumus ke dalam lingkaran itu," Kinan memberi nasihat kembali pada Rezvan.
Rezvan memandang Kinan yang duduk di sebelahnya, sosok perempuan yang kuat, tegas, dan berani sekali menghadapi masalah yang menghadangnya. Sosok Kinan yang menjadi semangat bagi Kinan, untuk menyelesaikan semua kasus yang berhubungan dengan Kinan.
"Kak, aku belajar tentang hidup dari Kak Kinan. Mulai dari kesabaran, ketabahan, dan berjuang. Semua itu sudah tergambar jelas di dalam diri Kak Kinan, dan aku benar-benar ingin membayar semua perjuangan Kak Kinan," balas Rezvan.
"Terima kasih banyak ya Rezvan, kamu memang adik yang baik dan paling pengertian soal Kak Kinan. Kakak senang sekali bisa menghabiskan waktu bersama kamu seharian penuh, dan kita saling menjaga satu sama lain," ujar Kinan dengan tatapan nanar di kedua matanya.
Pandangan Kinan tiba-tiba pergi menuju ke arah foto keluarga yang terpampang di dinding kamar Rezvan.