Kesaksian

1138 Kata
Suasana di ruang organisasi sangat berbeda dengan pertama kali Bu Rere masuk ke sini. Dulunya, Bu Rere disambut dengan hangat, dan ada beberapa anggota yang sudah lebih dulu datang daripada dirinya. Namun sekarang? Entah kenapa hari itu berbeda. Bu Rere menengok ke seluruh isi ruang organisasi tersebut dan memang hanya dua orang anggota saja yang berada di sana, Andin dan Tisya. "Mana teman-teman kamu yang lain?" Tanya Bu Rere pada Andin. "Kurang paham ya, Bu," Jawab Andin seraya menggelengkan kepalanya. "Kamu sudah mengabarkan ke teman-teman kan kalau hari ini kita lanjut untuk mengerjakan misi yang saya berikan?" Tanya Bu Rere lagi. Andin menganggukan kepalanya. "Sudah, Bu. Kemarin banget saya beri tahu teman-teman yang lainnya untuk datang ke ruang organisasi, membahas misi selanjutnya," Jawab Andin kembali. "Lalu apa tanggapan mereka?" "Tidak ada tanggapan, chat saya hanya dibaca," Terang Andin. Masuk ke dalam sebuah organisasi harus kuat-kuat menahan sakitnya dicuekin. Seperti yang kita tahu sendiri, bahwa mengirimkan pesan ke anggota lain untuk hadir ke sebuah kepentingan organisasi, biasanya tidak dibalas atau malah dibaca saja tidak. Itu namanya hukum alam, ada saatnya anggota yang benar-benar niat sajalah yang bakal bertahan di sana. Tisya mengelus pundak Andin, "Sudah biasa ya kan kalau kamu kirim chat dan tidak ada yang menggubrisnya." Mendengar pernyataan tersebut, Bu Rere menghela napasnya. Baru hitungan hari saja, kelakuan teman-teman organisasi lainnya berbeda. Apa yang menyebabkan hal itu terjadi? Apakah karena ini salah satu sinyal dari mereka yang memilih mundur dari organisasi ini? Setelah misi terakhir yang dicetuskan Bu Rere itu? Ah, tidak usah sok tahu, berusahalah berpikir positif, mungkin mereka sedang ada kelas atau kuis yang tidak bisa ditinggalkan. "Jadi kita mulai bahas rencana kita selanjutnya sekarang ya?" Tawar Bu Rere yang langsung duduk melipat kakinya di hadapan Andin dan Tisya. "Boleh, Bu. Sepertinya sudah tidak ada lagi anggota organisasi yang main ke sini," Ujar Tisya. "Iya, Bu. Daripada kita membuang waktu untuk mereka, lebih baik kita mulai saja. Jikalau anggota yang lain datang, kita akan beri tahu garis besarnya saja," Sahut Andin. Bu Rere pun menyetujui saran dari Tisya dan Andin. Dan ketiga perempuan tegas itu berada di ruang organisasi, untuk memulai sebuah pembahasan sederhana yang berkaitan dengan misi Bu Rere. "Baik. Maksud kedatangan saya ke sini adalah memberi tahu informasi baru kepada kalian semua. Kemarin siang, ketika kalian berdua selesai ke ruangan saya, saya langsung pergi ke ruangan Bu Ulfa yang mana menjabat sebagai ketua jurusan saat korban pelecehan seksual masih bersekolah di sini. Dari pernyataan korban yang sudah kita ketahui dari buku catatan hitam saya, korban K pernah melaporkan kasus ini kepada Bu Ulfa. Namun, hasil yang diterima korban K adalah penolakan dan kesangsian dari Bu Ulfa," Jelas Bu Rere seraya menatap secara bergantian Andin dan Tisya. Ya iyalah mau menatap siapa lagi, toh hanya ada dua orang di tempat itu. Kalau ada satu lagi yang dilihat Bu Rere, bakal jadi horror ya kan jadinya. "Hah? Serius Bu? Korban K malah dapat perlakuan seperti itu?" Tanya Tisya yang tidak percaya. "Bukannya Bu Ulfa itu terkenal sebagai aktivis perempuan, ya? Dan beliau sering banget mengisi seminar soal hak-hak perempuan gitu," Lanjut Tisya. Bu Rere menganggukan kepalanya pelan. "Iya, Tisya. Saya pun sebagai orang yang pernah datang ke seminarnya Bu Ulfa, merasa sangsi juga dengan pernyataan korban K. Masa iya Bu Ulfa malah gak tindak tegas? Nah maka dari itu kemarin siang saya langsung mengonfirmasi hal tersebut ke Bu Ulfa," Jelas Bu Rere. "Dan hasilnya--" Suara Bu Rere lirih. Bu Rere tampak menelan ludahnya beberapa kali sebelum menjelaskan lebih lanjut tentang apa yang ia dapatkan usai pergi menemui Bu Rere. Tisya dan Andin saling adu pandang dengan tatapan yang nanar. Kekecewaan mendalam sangat dirasakan oleh Bu Rere, dapat dilihat dari raut wajahnya yang gusar. "Gimana Bu? Ibu Rere bisa memberi tahu ke kami, dan bisa juga tidak kok, Bu. Kami tidak memaksa. Jikalau hal itu membuat Bu Rere kesal, boleh beberapa hari kemudian mengabarkan pada kita agar kekesalan itu mereda," Tukas Andin seraya mengelus pundak Bu Rere yang awalnya tegak kini sengaja dibungkukkan ke depan. "Rasa yang ada di d**a saya ini memang kesal. Kesal sekali. Akan tetapi, saya harus mengatakan semuanya kepada kalian agar kalian tahu bagaimana potret pejabat-pejabat kampus kita ketika dihadapkan dengan kasus serius seperti yang dialami korban K itu," Terang Bu Rere. "Dan ternyata hasilnya sesuai dengan pernyataan korban K," Lanjut Bu Rere seraya mengelus dadanya sendiri, tampak Bu Rere berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Bagaimana kata Bu Ulfa? Apa ia benar-benar tidak mengakui bahwa ada kasus pelecehan seksual di kampus ini?" Tanya Andin lagi yang penasaran. "Ya, Bu Ulfa malah menyalahi saya dan bilang tidak bisa menelaah mana berita yang benar dan tidak. Intinya, Bu Ulfa tidak mengakui soal kasus yang terjadi pada korban K. Saya sangat kesal, terlebih saat Bu Ulfa mengusir saya dari ruangannya," Ucap Bu Rere. Tisya ikutan menghela napasnya setelah mendapat pernyataan seperti itu. Sangat tidak dibayangkan dan dipikirkan bahwa Bu Ulfa malah tidak mempercayai penegasan yang dilakukan oleh korban K. "Saya benar-benar tidak menyangka sih, padahal baru saja saya melihat seminarnya yang terakhir, tiga hari lalu yang membahas soal kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan kampus. Bu Ulfa sangat menggebu-gebu untuk menindaklanjuti pelaku. Namun nyatanya semua itu hanya omong kosong dan halu semata, Bu Ulfa tidak benar-benar baik ternyata," Beber Tisya yang makin lama makin sangsi dengan pernyataan Bu Ulfa di dalam seminar. Bu Rere tersenyum kecil. "Iya, begitulah dunia. Kadang banyak yang bilang, dunia itu penuh ilusi dan tipuan semata. Dunia itu tempatnya orang-orang berdrama dan memulai imajinasinya sendiri. Maka dari itu, sangat diwajarkan banyaknya orang-orang yang mencla-mencle seperti Bu Ulfa ini," Tegas Bu Rere. "Duh, aku jadi gak mood deh masuk di jam pelajarannya Bu Ulfa," Tisya kesal, melipat kedua tangannya di dadanya. "Tidak selamanya pejabat kampus itu mengiyakan apa yang ia katakan. Kadang juga mereka sengaja mengatakan hal-hal bijak untuk menutupi kebohongannya. Namanya juga manusia ya, ingin selalu terlihat manis di depan semua orang," Tegas Tisya kembali. Tisya yang awalnya menjadi perempuan pengidola boyband Kpop, sekarang mencetuskan kata-kata bijak yang lebih paham membaca situasi. Ada kemajuan dalam diri Tisya. "Begitulah manusia, kalian sudah lihat sendiri kan gambaran orang-orang bermuka dua. Bahkan kebiasaan itu dibuat sendiri oleh pejabat kampus kalian sendiri. Sangat kejam bukan?" Bu Rere menegaskan. Tidak lama kemudian, ponsel Andin berdering tiada henti. Suara dering dan getaran dari ponsel Andin menandakan ada balasan chat yang masuk dari anggota lain. "Maaf, bentar ya Bu Rere, Tisya. Saya izin membuka ponsel karena ini ada balasan chat dari anggota organisasi kita yang lain," Kata Andin. Bu Rere dan Tisya pun mengiyakan perizinan Andin. Andin membuka ponselnya dan benar adanya chat masuk dari teman organisasinya. Setelah Andin membuka chat itu, Andin terbelalak kaget karena semua isi chatnya sangat berhubungan dan ada unsur intimidasi di sana. "Din, apa yang dilakukan Bu Rere ke Bu Ulfa? Kita semua dalam intimidasi," Bunyi salah satu chat dari anggota organisasi yang lain, Irma.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN