Prabu sudah menunggu Andin, yang mana dirinya sudah membuat perjanjian untuk makan malam di tempat ini. Prabu yang sengaja datang tiga puluh menit lebih cepat, mengambil meja kursi yang berada tepat di dekat bibir pantai. Ya, Prabu menyukai pantai, dan ingin memperlihatkan eloknya pantai di mata Andin. Meja bundar berukuran mini yang sudah dihiasi oleh lilin-lilin dan bunga melati itu, sukses membuat meja yang awalnya gambar menjadi bermakna.
"Uh, malam ini bakal jadi malam yang bersejarah nih, karena ini pertama kalinya mengajak Andin makan malam," Ujar Prabu seraya merapikan poninya yang terhempas angin pantai.
Sesekali Prabu melihat parasnya yang tidak seberapa itu di depan cermin kecil yang dibawanya. Biarpun Prabu adalah orang yang wajahnya tidak setampan Lee Min Hoo atau Lee Dong Hae, tapi dia tetap memperhatikan dirinya dari segi kerapian. Duh, kalau ada acara lomba rapi-rapian diri, Prabu bisa jadi kandidat juaranya nih.
Prabu berkali-kali melihat jam yang ada di tangan kanannya, seraya menatap pintu masuk restoran. Datanglah seorang perempuan, memakai baju kaos merah dengan celana jeans. Mimik wajah Prabu berubah semakin semringah ketika perempuan itu memasuki restoran.
"Masa depanku datang, cuy," Tukas Prabu yang kembali memperhatikan rambutnya, bajunya, dan kali ini taplak meja yang ada di hadapan Prabu itu ikut dirapikannya juga.
Prabu melambaikan tangannya untuk memberikan sinyal bahwa dirinya ada di sini. "Din! Abang di sini," Seru Prabu. Andin yang tipe-tipenya bukan perempuan lemot dan benar-benar anti lemot, menangkap sinyal yang diberikan oleh Prabu.
Segeralah Andin menuju ke meja yang sudah ada Prabu di sana. Andin menyeritkan dahinya ketika mejanya lebih mewah dan meriah sekali dibanding meja-meja di sebelahnya. Apalagi ada lilin yang tidak bakal mati ketika angin pantai menghembusnya.
Andien melihat lagi di sebelahnya meja-meja yang tertera di restoran tersebut. Benar, hanya mejanya dia dan Prabu yang dihiasi bunga-bunga beserta lilin yang sudah menyala. Andien pun sempat ragu untuk duduk di meja itu, takut ada tambahan duit yang ah apa menguras dompetnya. "ini beneran aku duduk di sini? Kok aku melihat meja dan kursi di sini tidak ada yang dihias seperti punya kita," tanya Andien penuh kecurigaan. " Kamu bukan mau menjebak aku untuk membayar semua dekorasi ini kan, Prabu?" tanpa basa-basi pun Andin langsung mencurigain Prabu.
Prabu pun tertawa, "Hahaha tidak mungkin dong aku melibatkan kamu untuk membayarnya semua ini. Lagi pula ini murni dari keinginan aku kok, Aku ingin saja makan di restoran yang dekorasinya beda daripada yang lain," tugas Prabu yang membuat Andien mangut-mangut. " sekarang ayo duduk Din, kita itu mau makan bukannya mau berdiri bareng-bareng," Prabu mempersilakan.
Dengan perasaan yang masih curiga, Andien pun memberanikan diri untuk duduk didepan Prabu dimana hanya kursi itu saja yang kosong. Angin sepoi-sepoi yang berasal dari pantai itu membuat rambut Andien tampak berantakan. Padahal rambut Andien adalah rambut yang sulit untuk berantakan karena belahan rambutnya sudah di-setting seperti itu, "Kamu yakin bisa makan di posisi meja dan kursi ini? Apa tidak mengganggu makan ya karena rambutku dari tadi sulit sekali untuk diam," ujar Andin sembari memperbaiki rambutnya yang berantakan.
"Nggak kok tetep masih bisa makan di sini. Lagipula nggak ada masalahnya kalau kita makan dan rambut kamu berantakan, Kamulah masih tetap cantik Din," ungkap Prabu yang sudah melancarkan 1 bujuk rayunya ke Andin.
Sekitar lima belas menit kemudian, datanglah seorang pelayan yang berpakaian hitam putih ke meja Andin dan Prabu. Pasti yang begini nih pelayan magang yang baru saja lolos seleksi kerja. Pelayan laki-laki itu membawa dua piring berukuran sedang ke hadapan Andin dan Prabu. "Ini ya Kak, pesanannya dua porsi pasta yang diberi saus bolognaise," Ujar pelayan tersebut sembari meletakan dua piring berisi pasta itu di hadapan Andin.
"Terima kasih banyak ya, Mas." Sahut Prabu.
Namun, Andin masih menyeritkan dahinya itu terheran-heran. "Aku tidak merasa memesan makanan ini. Lagipula aku pun tidak tahu apa itu pasta bersaus bolognaise," Terang Andin.
"Udah, kita makan aja. Kan ini pertama kalinya aku mengajak kamu makan. Dan aku ingin first impression kita berdua itu bagus. Jadi aku memesankan pasta bersaus bolognaise yang menjadi pesanan favoritku," Ucap Prabu.
Andien pun sedikit melengkungkan senyumannya karena merasa senang Prabu bisa berbagi kesukaannya sama dia. "Terima kasih banyak ya Prabu tapi apakah ini aku harus membayarnya sendiri? Mahal Jujur aku bakal pinjam uang kamu dulu untuk sementara," tugas Andin yang belum mengambil garpu dan sendok untuk menyantap pasta saus bolognaise itu.
"Tidak masalah Andien, kan aku yang mengajak kan kamu ke restoran ini dan makan malam bersama aku. Sudah menjadi kewajiban aku untuk pembayarannya," tutur Prabu dengan halusnya dan berharap adanya pujian dari Andin.
"Wah kamu memang benar-benar baik Prabu. Kamu membawa aku makan malam di sini dan makan mewah. Aku jadi bingung deh bagaimana membalas ke kamu," kata Andien.
"Tidak usah terlalu dipikirkan Din, cara kamu membalasnya cukup mudah. Kamu hanya perlu mengajari aku setiap mata kuliah yang aku tidak mengerti. Mudah bukan dan itu pun bisa membuat kamu lebih paham mata kuliah lainnya," tugas Prabu.
Andien yang merasa persyaratan atau perjanjian itu cukup mudah untuk dirinya, dia pun terkekeh, "Hah? Seriusan hanya itu saja? Kan mengajari kamu itu tidak sebanding dengan mengeluarkan uang yang banyak ini. Apalagi restoran kamu pilih benar-benar Elite," kata Andin yang berat hati.
"Udah enggak usah dipikirin habis ini kamu anggap aja tidak ada hutang-hutang sama aku. Ini adalah bentuk Terima kasih aku karena kamu sudah mengajari aku mata kuliah yang aku tidak mengerti. Paham ya sampai sini? titik tidak ada koma," pungkas Prabu yang langsung mengaduk pasta tersebut dengan garpu dan sendok nya yang sudah tersedia. Begitu pula dengan Andien yang mencoba mencicipi pasta tersebut.
Malam itu menjadi kesempatan Prabu untuk berduaan bersama Andien di restoran yang dekorasinya indah. Dengan pemandangan pantai, Prabu dan Andien menikmati malam itu. Suasana di restoran itu cukup kondusif, dan membuat Prabu dan Andien senang.
"Gimana rasa pasta bolognaisenya Andin?" tanya Prabu ketika suapan terakhir mendarat di mulutnya.
Andien pun menganggukkan kepalanya, "Enak sih dan Baru kali ini aku merasakan makanan khas Italia. Baru mencarinya di Google bahwa makanan ini ya makanan orang Italia yang banyak penggemarnya," jawab Andien yang juga menghabiskan pasta itu sampai bersih.
Piring yang awalnya diisi oleh pasta saus bolognaise, kini sudah bersih karena Andin dan Prabu suka dengan rasanya. Prabu melirik jam di tangannya dan masih menunjukkan pukul 8 malam. "Wah ini kesempatan buat aku untuk mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya sama Andin. Kira-kira gimana ya respon Andien yang sebenarnya sama aku. Apakah dia mempunyai perasaan yang sama?" Batin Prabu.
"Oh ya Din habis ini kamu mau kemana? Apa ada kegiatan lain lagi?" tanya Prabu.
Andien pun menggelengkan kepalanya, " tidak ada sih, setelah ini aku mau pulang untuk istirahat. Karena besok menjalankan misi yang diberikan oleh pembimbing organisasi ku," jawab Andin yang menyenderkan tubuhnya ke kursi untuk menurunkan makanan yang ada di perutnya.
"Begitu ya ... Tapi bisakah aku meminta waktumu sebentar? Ada hal yang ingin aku bicarakan sama kamu dan ini penting," tanya Prabu sembari memperlihatkan wajahnya serius.
"noleh emangnya mau bicara tentang apa? Kamu mau protes sama aku tentang penjelasan aku yang kurang baik ya? Apa kamu mempunyai bocoran soal kuis dari kelas sebelah? Kalau benar yang kedua, aku mau dong," tukas Andi bertanya-tanya.
"Bukan di bukan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mata kuliah atau perkampusan yang Hakiki. Ini hubungannya dengan hati, Din," Ujar Prabu yang mulai melembutkan suaranya.
Andien menelan ludahnya banyak-banyak, karena merasa tidak enak jika Prabu membicarakan soal hati. "Kamu yakin ini adalah waktu yang tepat? Ini tempat ramai loh. Bagaimana jika respon aku tidak sesuai dengan keinginanmu?" Andien pun mewanti-wanti di awal.
"Apalagi di sini banyak orang, lumayan riuh, dan aku rasa ini tidak kondusif," ungkap Andien yang mencari celah untuk membatalkan pembahasan itu.
"Din ..." Suara Prabu yang melembut itu, memegang punggung tangan Andin.
"Sebenarnya aku sudah memendam perasaan ini sangat lama ke kamu. Kamu adalah orang yang pertama kali membuat aku terkagum, berkesan, dan pastinya kamu mempunyai ruang sendiri di hati aku," Prabu pun mulai menjelaskan isi hatinya kepada Andien.
Andin yang merasa perutnya mules setelah mendengar kata-kata dari Prabu, hanya bisa menelan ludahnya sambil menepis tangan yang disentuh Prabu. "Prab, Sepertinya kamu butuh istirahat dulu deh agar pikiran kamu itu tidak kacau kayak gini. Aku yakin sekali kalau pikiran kamu itu sedang lelah, apalagi setelah aku jelaskan ke kamu tentang materi yang terkenal sulit di jurusan kita," Andien berusaha lari dari pembahasan itu.
Andin adalah tipe perempuan yang tidak suka dirayu oleh laki-laki yang baru dikenalnya. Biarpun Prabu dikenal sebagai teman sekelas, tapi Andin tidak begitu tahu bagaimana sifat Prabu. Terlebih lagi Andin adalah perempuan yang tidak terlalu suka digoda-goda apalagi diberi ungkapan isi hati. Fix lah, Andin benar-benar jyjyk.
"Din, aku ini menjelaskan ke kamu dari hati aku yang paling terdalam. Kalau kata orang-orang Oceanograpy, ini tuh kedalamannya setara dengan palung mariana yang ada di dasar laut," Tegas Prabu. Perasaan Andin pun mulai tidak enak. Kata-kata yang keluar dari mulut Prabu itu membuat Andin geleng-geleng kepala karena muak dengan perkataan lelaki kardus yang biasa ditemukannya di i********:.
"Din, kamu ini harus percaya sama aku," Tukas Prabu yang berusaha meraih tangan Andin kembali, namun Andin berhasil menghindarinya. "Prab, usahakan kalau ngomong sama perempuan, jangan sampai sentuh seenaknya ya. Kalau perempuannya gak nyaman, gimana?" Tegas Andin.
Raut wajah Prabu pun berubah. "Oh iya, maaf sekali ya Din. Tapi--"
Ddrrtttt ... Ddrrtttttt ... Drettttt ... Ponsel Andin berdering secara tiba-tiba.
Andin melihat ada 1 panggilan yang berasal dari Tisya. Sobat karibnya itu tumben-tumbenan menelponnya tengah malam ini. Tanpa perlu menunggu waktu yang lama, Andien segera mengangkat panggilan dari Tisya.
"Halo Tisya, ada apa?" tanya Andien.
Prabu yang mendengar nama Tisha itu, langsung menyenderkan tubuhnya ke kursi. Tampak ada rasa kesal dan kecewa karena Tisa sudah membuyarkan obrolannya bersamaan di malam ini. "Ih, perempuan gendut itu menghancurkan rencana aku. Kenapa sih dia selalu ada? Kan aku benar-benar males kalau kayak gini caranya," Kata Prabu dari dalam hatinya.
"Gini Din, hari ini kan ada promo minuman Boba. Nah kebetulan Minuman itu disponsori oleh BTS, dan aku mau banget," ujar Tisa dari balik telepon.
"Ya udah kalau kamu mau tinggal beli saja," balas Andien dengan santainya.
"Kalau ada uang aku langsung beli dong. Tapi ini--"
"Oh jadi kamu menelepon aku untuk minta ditraktir gitu? Aduh Tisa kalau soal urusan BTS itu pasti mahal dan uangku tidak cukup," Kata Andin lirih. "Kayaknya untuk saat ini aku tidak bisa membantu kamu deh," Tambah Andin lagi sebelum Tisa memaksanya untuk ditraktir.
"Ya udah deh nggak usah traktir aku, Aku pinjem uang kamu untuk diisikan go-payek dong, biar aku bisa langsung beli nih," Pinta Tisa.
"Berapa banyak duitnya jangan banyak-banyak ya karena aku juga nggak ada pegangan. Berapa hari ini kamu bakal balikin uang aku?" tanya Andin bertubi-tubi.
"Yaelah Andien, Aku aja belum ngasih tahu berapa nominal yang mau aku pinjam, Eh kamu sudah duluan nagih," Sahut Tisya. "Kebiasaan ya kamu itu perhitungan sama teman sendiri, Din," balas Tisya.
"Kamu kayak tidak tahu bagaimana aku, Ya udah berapa mau pinjem uangnya?" Tanya Andin.
"Lima puluh ribu aja deh langsung isi aja ke GO-peyek nomorku ini. Terima kasih banyak ya Din sebelumnya," Jawab Tisya dan langsung menutup teleponnya.
Andin pun langsung mengerjakan keinginan temannya itu untuk membeli minuman boba bersponsor BTS. Sementara Prabu dengan wajahnya yang tidak mood lagi, hanya sibuk dengan ponselnya.
"Prab, mau dilanjut lagi obrolan kita malam inj?" Tanya Andin.
"Hmmmm--" Prabu pun tampak berpikir mengingat jam sudah mulai larut. Apalagi Andin sudah bilang kalau dirinya besok mau menjalankan misi di organisasinya.
"Eh kayaknya sudah malam deh dan nggak sempet kalau kita bicara lebih banyak. Gimana kalau kita tunda aja sampai batas waktu yang tidak ditentukan?" jawab Andien tanpa menunggu jawaban dari Prabu terlebih dahulu.
Prabu pun menghela nafasnya, malam ini keberhasilan itu masih tertunda padanya. Omongan intim antara dirinya dan Andin tidak bisa diselesaikan hanya dalam satu malam Apalagi malam itu. Prabu mencoba bersabar untuk menunggu waktu kapan lagi bisa berduaan dengan Andin kayak begini.
"Ya udah deh kalau begitu kita pulang aja. Aku pun tidak nyaman membawa pulang kamu terlalu malam. Apalagi besok kamu masih ada kegiatan penting, kan," Ujar Prabu.
Andin pun menganggukan kepalanya. "Iya, Prab. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya ya. Kamu paling pengertian banget deh," Balas Andin yang menghabiskan terlebih dahulu air mineral yang masih tersisa di botol.
"Yuk, cabut!!!" Tukas Andin yang sudah lebih dulu beranjak dari kursi.
"Iya bentar aku bayar dulu. Kamu kalau mau duluan gak apa-apa," Ucap Prabu dan dengan santainya Andin keluar dari pintu restoran.
YEAH! KENCAN PRABU DAN ANDIN HARI INI KEBERHASILANNYA LIMA PULUH PERSEN.