15. Menyandera Mynhemeni

2119 Kata
 “Anak remaja yang kita kurung di ruangan khusus tiba-tiba kabur!” kata  proyeksi pria bertubuh besar, dengan status analis tingkat tiga tanpa berani memandang  Mynhemi dan Ketua Thungsiruv. Setelah terdengar bunyi peringatan yang tersiar di ruangan kerja Thungsiruv. “Bagaimana anak itu bisa kabur?!” tanya Thungsiruv heran, rantai yang melingkar di pergelangan tangan dan kaki Cakra, tidak mudah dihancurkan begitu saja. Bahkan walaupun hancur, besi-besi itu akan kembali utuh dan berusaha mencengkram bagian tubuh yang sudah diprogram. Untuk menangkap jenis kulit dan informasi genetik lainnya dari apapun yang terlingkar pada besi tersebut. “Saat kita berhasil mengorek lebih jauh ingatannya, tiba-tiba dia terbangun dan menghancurkan ikatan besi serta dinding ruangan khusus itu menggunakan tubuhnya sendiri Ketua! Dia sangat kuat!” raut wajah yang ketakutan, tak dapat bersembunyi dibalik rambut wajah yang lebat nan kriting itu. “Bagaimana dengan Georu?” Mynhemeni menyebutkan nama penjaga Cakra si pria cantik. “Dia sedang berlari menuju ruangan khusus dan akan melumpuhkan anak itu Komandan!” “Ok amati terus anak itu…” kemudian menutup saluran percakapan singkat itu dan berbalik menghadap Sang Ketua. “Ketua saya mohon berikan perintah untuk mengerahkan pasukan menangkap anak itu!!” “Kerahkan pasukan dan tangkap anak itu hidup-hidup! Jangan sampai ada satu tetes darahpun yang keluar dari anak itu! Mengerti!” “Siap Ketua!” jawabnya lalu kembali keluar dari ruangan Thungsiruv.  Setelah itu ia melaju di atas petakan lantai dengan kecepatan penuh. Seluruh orang yang sedang terbang dan melaju di petakan lain, harus mempersilakan dirinya untuk lewat. Mereka tak mengerti mengapa Mynhemeni bergerak dengan kecepatan tinggi, seakan dikejar monster. Karena sejatinya penghuni gedung itu tak mengetahui bahwa ada anak remaja yang mereka sekap. Dengan alasan, anak itu dapat mengancam hidup mereka. “Georu?!” ucap Mynhemeni tanpa menggerakkan bibirnya, seolah-olah ia sedang berkomunikasi dengan sang penjaga melalui telepati. “Iya saya sudah dengar beritanya Komandan! Ini saya sedang kembali ke ruangan khusus tempat anak itu ditahan Komandan!” terdengar suara di kepala Mynhemeni. Bangsa Porkah mempunyai beberapa alat komunikasi. Dan salah satunya, dengan alat yang dapat memproduksi dan menghantarkan gelombang suara langsung ke dalam pikiran mereka. Alat ini hanya dipakai untuk para petugas kerajaan dan pemerintahan. Gunanya, agar informasi penting tidak mudah bocor ke pihak yang tidak atau belum boleh untuk mengetahui apapun informasi penting tersebut. “Ingat rencana yang kakak bilang tadi?” ucap Mynhemeni kembali yang terdengar di pikiran Georu!” “Tancapkan alat anti sadap yang Kakak kasih, ke anak itu?” ucap Georu sambil berbelok menuju lorong tempat Cakra disekap. Seketika ia terkejut, karena mendapati Cakra sudah berada di luar ruangan khusus sedang kebingungan.  Menelaah sedang berada dimanakah sebenarnya dirinya. “Iya! Dan jangan sampai diketahui oleh siapapun termasuk Sang Ketua. Kalau kakak sudah aman, akan kakak kabari tempat kakak bersembunyi. Sekarang kamu jangan sampai melukai anak itu dan juga jangan sampai terluka darinya, anak itu kuat! Lebih baik kamu pura-pura pingsan. Aktifkan mode lelap di seragammu, setelah berhasil menancapkan alat anti sadap! Kita harus mendekatinya dengan cara lain! Kakak yakin ini satu-satunya jalan!” ucapnya kemudian. “OK Kak!” setelah itu Mynhemeni mengedipkan matanya. Lalu muncul satu cahaya yang keluar dari matanya dan terbang di hadapannya. Cahaya itu mengikuti setiap gerakan Mynhemeni dari depan, seperti seorang operator kamera pada program televisi acara realitas dan varietas. Yang sedang mengikuti pengisi acara program tersebut. “Seluruh pasukan keamanan kumpul di lantai bawah tanah tingkat lima sektor tujuh. Saya akan jelaskan ketika kalian sudah sampai di sana. Bergerak sekarang juga!” ucapnya lantang. Sempat mengagetkan beberapa orang yang berhenti melaju untuk mempersilakan Mynhemi melaju terlebih dahulu. Dengan cekatan, seluruh pasukan keamanan yang jumlahnya kurang dari seratus personil langsung berbondong-bondong menuju lantai bawah tanah tingkat lima sektor tujuh yang dimaksud Mynhemeni. Setelah mereka melihat proyeksi Mynhemeni di hadapan mereka beberapa detik lalu. Mereka semua bertanya-tanya, apa yang terjadi. Namun, tidak dengan delapan pasukan lain yang mengetahui bahwa Cakra berhasil keluar dari tahanannya. Bahkan pasukan tersebut sudah lebih dulu bergerak menghadang Cakra, begitu mengetahui bahwa Cakra berhasil lolos. Saat mereka sudah hampir sampai di tempat penahanan Cakra, tiba-tiba mereka terhenti karena Cakra sudah berada di hadapan mereka. Seluruh pasukan yang hanya berjumlah tujuh orang itu dengan sigap langsung bergerak lincah, berkat petakan lantai yang membawa mereka melesat. Tidak lupa mereka mengkatifkan perisai, serta mengeluarkan senjata yang sesuai untuk melumpuhkan Cakra. Yaitu senjata yang tidak boleh membuat darah Cakra keluar dari pembuluhnya. Mereka mengelilingi Cakra, serta menggiring Cakra ke sudut lorong. Mereka juga menghunuskan seluruh senjata, yang hanya mampu mengalirkan listrik ke araha Cakra. Ada yang melayang berada tak jauh Cakra, ada yang di melayang di samping kanan kiri Cakra. Ada pula yang berdiri sejajar dengan Carka di hadapannya.  Cakra sendiri bingung mengapa mereka dapat melayang seperti itu, ia masih mengira bahwa mungkin di dunia akhirat semua mahluk dapat terbang. Sehingga ia pun berinisiatif untuk melompat. Akan tetapi bukannya terbang yang di dapat namun justru Cakra melayang dengan sangat pesat.  Ia lebih dari pada terbang. Namun kenyataannya, Cakra bukanlah terbang melaikan mengambang di dalam air dengan kecepatan tinggi. Melebihi kecepatan alat yang mereka gunakan. Hal itu tentu membuat seluruh pasukan yang mengepung Cakra kaget, dan juga heran.  Seluruh pasukan itu tak yakin dapat melumpuhkan Cakra dengan perlengakapan senjata yang terbatas. Jika saja mereka boleh menyerang alat vital Cakra, tentu tak lebih dari lima detik Cakra sudah tersungkur di bawah mereka. Itu yang mereka yakini tanpa mengetahui bahwa Cakra maha kuat saat ini. “Jangan bergerak atau kami akan menyerangmu!” ancam salah satu pasukan, namun tak digubris oleh Cakra. Ia justru mengahmpiri orang tersebut dan langsung menghajarnya. Tepat seperti Georu, pasukan itu sempat meremehkan tindakan Cakra yang akan menghajarnya dengan tangan kosong. Dirinya yang sudah dilindungi perisai transparan tentu tak akan terluka sedikitpun. Bahkan, perisai dapat bekerja lebih. Dengan mengirimkan balik sinyal yang ia dapat ke arah penyerang. Sehingga siapapun yang menyerang seserang yang menggunakan pelindung transpan itu, akan merasakan serangannya sendiri. Semacam senjata makan tuan. Namun kesombongannya sirna setalah pukulan Cakra yang ia layangkan dengan sekali ayun saja, sudah dapat menghancurkan pelindung yang nampak sangat tipis. Sehingga, anggota pasukan tersebut langsung terlempar dengan cepat. Hingga membobol dinding ruangan sebelah. Untungnya ruangan itu kosong, sehingga usaha mereka dalam menyembunyikan menganai kehadian Cakra di negeri Porkah, masih terjaga kerahasiaannnya. Padahal dinding ruangan itu terlapisi dinding yang kuatnya seratus kali lipat dari baja. Namun, tentu tak sebanding dengan daya pukul Cakra yang mencapai seratus ribu Newton. Itu setara dengan daya yang dapat menghancurkan tiga lapis dinding tersebut, dalam satu pukulan. Akibatnya pasukan itu langsung pingsan, untungnya seragam mereka dapat melindungi mereka dari hataman keras. Sehingga pasukan itu tidak terluka parah. Karena pukulan Cakra berpotensi menghancurkan tubuh mereka hinga berkeping-keping. Menyaksikan temannya tersungkur, tidak membuat petugas lain takut. Akan  tetapi, mereka bersikap lebih hati-hati dalam berstrategi.  Mereka bertekad untuk menyerang Cakra secara sekaligus, seraya tetap memperhatikan dan bersiap siaga, atas setiap gerakan yang dibuat Cakra. Sesuai rencana, mereka menyerang Cakra secara serempak, hingga mereka saling menyerbu beberapa meter dari permukaan lantai. Cakra dengan cepat dapat menghindari seluruh serangan mereka, dan berhasil melayangkan beberapa pukulan serta tendangan pada mereka yang mengakibatkan mereka semua tumbang dalam berbagai bentuk kehancuran. Ia sempat melihat salah satu dari mereka, sampai terluka dan berdarah. Namun ia sangsi, apakah mahluk itu benar berdarah? Mengingat, harusnya mahluk penjaga neraka tak mempunyai raga. Ia bahkan menganggap ini masih berada di dalam mimpi. Setelah dirasa seluruh pasukan itu tak kembali bangkit, Cakra melanjutkan langkahnya. Ia berbelok ke arah kanan, tempat tujuh pasukan tadi muncul. Namun setelah beberapa langkah, dari ujung lorong berdatangan secara gerombolan pasukan lain. Jumlah mereka berkali-kali lipat dari pasukan yang baru saja berhasil ia kalahkan. Mereka semua berbaris rapi tersusun dari dua tingkat, yang berjarak tak lebih dari satu meter antara pasukan di atas permukaan lantai dan pasukan yang melayang. “Cukup! Kembali ke ruanganmu hingga kami dapat mengidentifikasi apakah kamu mahluk berbahaya atau tidak! Kalau kamu tidak mau menurut! Jangan salahkan kami jika kami harus membunuhmu!” ancam Mynhemeni yang berada pada barisan depan. Ia bersuara dengan lantang berusaha menakuti Cakra. Karena tak mungkin ia akan membunuh Cakra. Bahkan ia pun sudah mengaskan kepada seluruh pasukannya, untuk tidak membunuh Cakra, dan jangan sampai ada luka pada tubuhnya. Para pasukan pun mengerti tanpa bertanya lebih jauh. Secara garis besar, mereka paham bahwa Cakra adalah manusia darat, yang mereka bawa ke kantor mereka dengan alasan Cakra dapat hidup, dan mempunyai kekuatan aneh lainnya. Sehingga, mungkin saja Cakra bukanlah manusia darat. Mereka semua memandangi Cakra dengan tatapan Cakra harus mengikuti perintah atasannya. Akan tetapi, Cakra tidak mempedulikan ucapan Mynhemeni. Ia menimbang apa yang harus ia lakukan. Ia pun bergerak maju, dan seketika seluruh pasukan bersiaga menyerangnya. Cakra pun tak segan, langsung melayangkan tinju ke arah Mynhemeni. Namun gagal, karena seluruh pasukan langsung berusaha menarik Mynhemeni untuk melindunginya. Mereka kemudian dengan sigap, langsung menyerang Cakra secara bersamaan setelah merasa atasan mereka sudah berada di tempat yang aman. Di tengah-tengah mereka. Sesekali tombak aliran listrik berhasil mengenai tubuh Cakra. Sempat membuat mereka berpikir lega, karena akhirnya Cakra dapat mereka lumpuhkan. Namun apa yang mereka dambakan sirna. Aliran listrik dari tombak tersebut, tak mampu lagi melumpuhkan Cakra. Tubuhnya seakan sudah beradaptasi dengan aliran listrik tersebut, sehingga dengan cepat Cakra menarik dan mematahkan tombak itu dengan tangannya. Beberapa pasukan mulai ragu untuk bergerak. Hal ini digunakan Cakra dengan melesat mundur, kembali ke tempat semula ia berada. Seluruh pasukan melangkah pelan, layaknya manusia yang menggiring binatang buas untuk kembali ke kandangnya.  Cakra mundur dengan sangat hati-hati, dan perlahan-lahan. Ia sampai tak sadar, bahwa dirinya sudah berada tak jauh dari lubang tembok yang ia buat sendiri. Ia baru menyadarinya, ketika rantai besi yang membelenggu pergelangan tangan dan kakinya berhasil melilitnya kembali. Hal itu tak disia-siakan oleh seluruh pasukan. Mereka secara sekaligus langsung menyerbu Cakra dengan sengatan listrik yang keluar dari tombak kecil yang mereka genggam. “Dasar!!! Malaikat kaya apa kalian? Cuman buat gue tumbang doang sampai keroyakan kaya gini! Pengecuuuut!!” hardik Cakra geram sambil berusaha menahan geli yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Serta berusaha membebaskan diri dari belenggu rantai, yang bergerak cepat bagaikan ular hutan yang menarik dan melilit tubuhnya. Ternyata upayanya berhasil. Rantai itu kembali pecah serta berhamburan, beberapa pecahannya justru menyerang pasukan itu. Dengan cekatan, Cakra langsung melayangkan pukulannya ke segala arah, seluruh tombak yang mengenai tangan dan pukulan Cakra pecah seketika. Bahkan, beberapa pasukan harus terpental cukup jauh. Sisa pasukan yang masih belum tersentuh oleh Cakra, terus memojokkannya. Menurut mereka,  Cakra tak akan bergerak bebas jika Cakra sudah terpojok. Dengan begitu, mereka dapat melumpuhkan Cakra beramai-ramai. Cakrapun pasrah dengan keadaannya, saat ia berhasil terpojok. Ia tak mungkin dapat mengalahkan seluruh pasukan itu. Ia hanya berhasil menumbangkan beberapa, belum ada separuh dari mereka. Cakra masih dapat melawan, namun ia tak yakin sampai kapan ia dapat bertahan. Di saat keputusasaannya menyerang, beriringan dengan helaan napasnya yang tak beraturan serta pikirannya yang semakin menumpuk, tiba-tiba di dalam kepalanya terdengar suara wanita bernada rendah. “Serang mereka lalu tangkap perempuan yang tadi menggertak kamu, ancam mereka kamu akan membunuh perempuan itu! Itu satu-satunya cara agar kamu bisa keluar dari sini!” Cakra kebingungan dari mana asal suara tersebut. Sambil tetap menjaga pertahanan dirinya, ia melayangkan seluruh pandangan ke arah pasukan.  “Kamu bisa dengar kan yang saya bilang? Serang mereka dan tangkap perempuan itu!” kembali muncul suara tersebut. Namun kali ini Cakra yakin, suara itu bukan dari salah satu pasukan yang mengepungnya. Ia tak tahu darimana asal suara itu namun sangat terdengar jelas di dalam kepalanya. “Kamu lihat perempuan yang maju itu?” ucap suara itu kembali, seketika Cakra melihat beberapa pasukan bergeser untuk mempersilakan Mynhemeni lewat. “Tenang… kami tidak akan menyakitimu, kami hanya berusaha melindungimu!” ucap Mynhemeni sambil mengangkat tombaknya tinggi. Tombak milik Mynhemeni sedikit berbeda, terdapat setitik cahaya terang pada ujungnya, secamam bola pada pena bertinta. “Lihat aku berusaha untuk tidak menyakiti kamu…” lanjutnya. Cakra sempat kebingungan, suara pasukan yang bergerak maju ke arahnya sungguh persis dengan suara yang ia dengar dalam pikirannya. Dan ia tahu mana yang suara yang terdengar dari pikirannya, dan mana yang yang didengar oleh alat pendengarannya. “Saat perempuan itu sudah hampir mendekatimu, langsung serang mereka dan sergap wanita itu. Ambil tombaknya dan hunuskan ke lehernya! Ancam mereka bahwa jika mereka tidak membiarkan kamu pergi, kamu akan membunuhnya!” kembali terdengar suara itu di dalam telinga Cakra. Kemudian dalam sekejap, apa yang dikatakan wanita itu benar-benar dilakukan oleh Cakra. Saat Mynhemeni sudah berjarak sekitar tiga meter dari Cakra, tiba-tiba ia menyerang. Entah bagaimana caranya, Cakra berhasil mengambil tombak Mynhemeni dan menodongkannya ke arah leher si komandan cantik. “Dengar, akan aku bunuh dia kalau kalian tidak memebiarkanku pergi dari sini!” ancamnya kemudian. Terdengar suara Cakra yang penuh keraguan serta tangannya sedikit bergetar.  Sehingga membuat Mynhemeni harus memajukan lehernya.  Berusaha meyakinkan seluruh pasukan tersebut bahwa dirinya terancam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN