16. Terpukau oleh Nor

2921 Kata
“Jangan terlihat ragu seperti itu dong! Pastikan kamu benar-benar ingin membunuh wanita itu!” tegas suara yang terdengar di dalam kepala Cakra. Ia tak yakin bagaimana melakukannya. Cakra memang sudah sering berkelahi, serta adu tinju dengan banyak orang. Tapi, tak pernah ia melukai seseorang dengan sengaja, apalagi mengancam membunuh orang. Wajar kalau kini ia lebih gugup dari sebelumnya. “Cengkram dengan baik kedua tangan wanita itu. Lalu tanyakan padanya bagaimana cara agar ia tak dapat bergerak bebas!” seru suara itu kembali, dengan teryakinkan Cakra mengikuti arahan suara itu. Sedangkan seluruh pasukan di hadapannya bergerak dengan sangat hati-hati, sembari menunggu apa yang harus mereka lakukan demi membebaskan komandan mereka.  Terlihat seorang petugas yang sedang geram, ia bahkan berinisiatif untuk mengeluarkan senjata yang lebih berguna dalam situasi ini, untung hal itu terlihat oleh Mynhemeni. “Jangan konyol! Kamu tidak lihat saya sedang dalam bahaya!” teriak Mynhemeni cukup mengagetkan Cakra sehingga tangannya sedikit menjauhi leher Mynhemeni. Terpaksa lagi-lagi Mynhemeni mendekatkan lehernya pada tombak tersebut. Dan kali ini, tak sengaja bola kecil cahaya itu mengenai bagian seragam Mynhemeni yang menutupi lehernya. Seketika, kilatan kecil keluar dengan suara menggelegar bagaikan mesin rusak. Ditimbulkan akibat sentuhan bola kecil pada ujung senjata Mynhemi, yang digenggam Cakra pada seragam komandan cantik itu. Gadis itu sempat menjerit, membuat Cakra sekali lagi kaget dan menekan lebih dalam cahaya bola kecil itu ke leher Mynhemeni. Sungguh bukan hal yang sulit sebenarnya bagi Mynhemeni untuk membaskan diri, ia bahkan dapat dengan mudah meng-non-aktifkan tombak yang kini dikuasai oleh Cakra. Hal itu pun diketahui oleh seluruh pasukannya, namun ia ingin membuat seluruh pasukan berpfikir bahwa ancaman Cakra berbahaya sehingga ia tak sempat kepikiran untuk meng-non-aktifkan senjatanya. Walaupun sebenarnya seluruh pasukan juga bingung kenapa Mynhemeni dengan mudah dapat dikuasai Cakra tanpa perlawanan, namun mereka tetap mematuhi perintah atasannya.  “Hentikan! Kau bisa melukai wanita itu!” tegur sang suara menyadarkan kepanikan Cakra. Dan tanpa sengaja Cakra justru menyahut dalam pikirannya. “Maafkan saya…. Saya tidak bermaksud!” “Saya tahu… sekarang pastikan kamu mengancam mereka dengan benar! Jangan biarkan mereka membuat gerakan lain, jadikan wanita itu sebagai sandera! Minta mereka untuk mengeluarkanmu dari bangunan ini dan minta juga kendaraan tanpa sadap. Minta wanita itu untuk memastikan bahwa kendaraan itu sudah aman!” ucap suara itu kembali mengarahkan apa yang harus dilakukan Cakra agar dapat keluar dari tempatnya terkurung.  “Dengarkan!! Saya akan membunuh wanita ini jika kalian tidak mengikuti kata-kata saya!” kini suara Cakra sudah terdengar lebih meyakinkan, terbukti seluruh pasukan kini tak berani bergerak. Semua terdiam bak patung pasukan Terakota. Bahkan untuk bernapas saja mereka harus sangat berhati-hati. Setelah memastikan bahwa seluruh pasukan yang menghadang Cakra tak dapat lagi berkutik, ia langsung memalingkan wajahnya pada Mynhemeni.  “Kamu tidak apa-apa kan?!” ucap Cakra pada Mynhemeni, terdengar nada khawatir yang serius. “Tolong lepaskan saya dan kita bisa bicarakan baik-baik!” ucap Mynhemeni tanpa menoleh pada Cakra, matanya mengamati setiap pasukannya, ia cemas mereka akan melakukan hal bodoh. “Tidak akan! Sebelum saya keluar dari sini, bagaimana cara agar tangan kamu bisa terikat? Supaya tombak ini tak usah lagi saya letakkan depan lehermu!” Cakra tak ingin melukai gadis itu lagi, ia ingin menyandera Mynhemeni dengan sopan. Cara satu-satunya adalah dengan membuat Mynhemeni tak dapat bergerak. “Bodoh! Seragam mereka terdapat senjata yang dapat menghancurkan materi apapun. Wanita itu juga sudah mengunci tubuhnya! Jangan lepaskan sentaja itu dari tubuhnya! Jika kamu membebaskan ancamanmu dari membunuh wanita itu, mereka semua akan menyerbumu dan kamu dipastikan akan kembali disekap! Jadi, tetap tancapkan tombak itu pada leher wanita itu, tapi pastikan jangan sampai dia terluka! Dan minta minta seluruh pasukan untuk masukkan kembali senjata mereka serta meng-non-aktifkan mode serang! Lalu tempatkan mereka di dalam ruangan pada ujung lorong ini. Setelah itu minta wanita itu untuk mengunci sempurna ruangan itu.” ucap sang suara membuat Cakra sungguh kebingungan dengan seluruh rangkaian ini.  Ia ingin sekali bertanya siapa sosok di balik suara yang bergema di dalam kepalanya, dan ingin sosok itu membantunya menyerang seluruh pasukan di hadapannya. Daripada hanya memberikan instruksi di kepalanya. Saat Mynhemeni ingin menjawab pertanyaan Cakra, dengan cepat Cakra memotongnya. “Tidak jadi! Saya tidak yakin akan mampu mengontrol kamu dengan baik tanpa mengancammu. Bagiamana cara pasukan itu untuk tidak lagi mengancamku?” tanya Cakra mengikuti saran sang suara. “Maksud kamu?” tanya Mynhemeni bingung. “Saya ingin seluruh pasukan itu tak dapat menyerangku saat aku membawa kamu keluar dari tempat ini!” “Kamu gila! Mana mau….” belum sempat kalimat yang terucap oleh bibir tipis bergelombang milik Mynhemi tuntas. Cakra langsung kembali menodong tombak itu, terlihat kilatan kecil kembali menghiasi leher Mynhemeni. “Semuanya! Dengarkan saya! Tidak ada cara lain agar saya tidak terbunuh! Jadi masukkan kembali senjata kalian, dan non-aktifkan mode serang!” “Tapi Komandan….!” sela salah satu pasukan yang berada tak jauh dari hadapan mereka. “Jangan membantah! Ingat arahan Ketua tadi! Kalau tidak menurut, justru kita semua akan dihukum oleh pusat! Sekarang ikuti perintah saya! Kembalikan senjata kalian dan non-aktifkan mode menyerang!” perintah Mynhemeni tegas. Cukup membuat Cakra sedikit terkesima. Tapi tidak dengan seluruh pasukan, nada Mynhemeni justru membuat mereka ketakutan. Tak lama kemudian, seluruh senjata terlepas dari genggaman mereka. Kemudian melesat dengan kecepatan tinggi ke belakang masing-masing pasukan, setelah itu senjata mereka menyatu dengan busana mereka. “Apakah ada ruangan kosong yang dapat mengurung mereka?” tanya Cakra masih memegang kendali atas Mynhemeni.  “Kalian semua masuk ke ruangan di ujung lorong ini!” seru Mynhemeni dan seketika seluruh pasukan melayang menuju ruangan yang dimaksud. Cakra sempat kaget saat tubunya terangkat oleh lantai yang ia pijak. Mereka ikut melayang mengikuti seluruh pasukan. Sempat saat melewati ruangan khusus tempat Cakra disekap, rantai yang sudah utuh ingin melilit tubuh Cakra kembali. Namun dengan satu pukulan dari tangan kiri Cakra, rantai-rantai itu kembali hancur. Tak lama, mereka sudah berada pada pintu ruangan yang dimaksud. Mynhemeni mengedipkan matanya, lalu dinding kokoh itu bergeser seperti pintu otomatis yang sering Cakra lewati saat berada di kantor Ayahnya, atau di pusat perbelanjaan favoritnya. Satu persatu pasukan yang tersisa masuk ke dalam ruangan itu secara beraturan. Jumlah mereka yang tersisa, tak lebih dari empat puluh orang. Sehingga ruangan yang besarnya seperti gudang penyimpanan, sangat mampu menampung mereka semua. Ruangan itu memang gudang penyimpanan.  Untuk menyimpan seluruh barang manusia darat, yang terlempar ke wilayah mereka. Ruangan itu sangat luas dengan jejeran rak yang saling menumpuk. Cakra melihat ada kepingan pesawat, dari salah satu maskapai yang hilang, dan sempat menghebohkan dunia.  Karena tetiba lenyap dari radar setelah lepas landas.  Sesudah mereka semua masuk, lagi-lagi terdengar suara yang bergema dalam kepala Cakra.  "Suruh wanita itu untuk membuat seluruh pasukan tertidur!"  "Bikin mereka semua tertidur!" perintah Cakra mengikuti arahan sang sura bergema. Ia bahkan menodongkan tombak Mynhemeni lebih dalam, kilatan cahaya semakin dahsyat berputar di sekitar leher Mynhemeni.  "Semuanya! Aktifkan mode lelap!" ucap Mynhemeni lantang. Membuat seluruh pasukan keamanan tak berani melawan, satu per satu langsung terjatuh dengan perlahan. Cakra seperti menyaksikan adegan pingsan yang sering ia saksikan di sinetron-sinetron.   Ia bahkan sempat ingin tertawa. "Tutup ruangan ini dan kunci!" ucap Cakra setelah mematiskan seluruh pasukan sudah tertidur lelap.  Mynhemeni yang masih belum dapat bergerak bebas langsung mengedipkan matanya lagi. Dinding ruangan itu kembali menyatu, mengurung seluruh pasukan di dalamnya yang sudah tertidur pulas, bersamaan dengan seluruh benda-benda manusia darat yang terdampar di negeri Porkah. “Sekarang minta wanita itu untuk membawa kalian keluar dari tempat itu. Jika ada yang menghalangi kalian, katakan pada mereka untuk menjauh karena seragam wanita itu sudah di non-aktifkan. Setelah itu seperit yang saya bilang, minta kendaraan tanpa sadap!  Minta wanita itu untuk memastikannya, dan juga minta wanita itu untuk mematikan seluruh sadap yang ada di tubunya sebelum kalian pergi!” suara itu kembali bergema dalam kepala Cakra seiring menutupnya tembok ruangan tersebut. “Bawa saya keluar dari tempat ini!” seru Cakra begitu ruangan tersebut tertutup sempurna. Tannpa dibalas, kini mereka langsung melesat ke ujung lorong, kemudian belok kea rah kanan masih mengikuti lorong. Hingga Cakra ditakjubkan pada ujung lorong yang tiba-tiba luas. Ia seperti berada pada dasar jurang. Di hadapannya terdapat beberapa lorong yang mengelilingi ruang berbentuk lingkaran dengan diameter lebih dari tiga puluh meter. Sangat luas! Di tengah-tengahnya berdiri patung raksasa yang jempol kakinya saja melebihi tinggi Cakra. Patung itu dikelilingi oleh berbagai macam biota laut, dan pada patung itu pula terdapat beberapa terumbu karang berwarna warni dengan percikan cahaya. Sungguh Cakra takjub mendapatinya berada di tempat yang sangat indah ini. Tempat itu seperti lobby atau hall pada hotel-hotel mewah dan gedung-gedung pencakar langit. Tinggi patung itu bisa dipastikan lebih dari tiga ratus meter, menyisakan ruang kosong yang cukup dari ujung atas patung itu dengan langit-langit gedung yang nampaknya tidak beratap. Karena terlihat jelas nuansa lembayung sore, lengkap dengan matahari yang seperti akan menghilang untuk terbenam. Serta bubuhan garis awan tipis. Namun anehnya, terlihat seperti butiran salju dan juga air seperti hujan, yang turun dari langit-langit itu. Dan yang bikin lebih menakjubka adalah, salju dan air itu nampak tak pernah dapat menuntaskan tugasnya untuk membasahi apapun di bawahnya.   Selain itu, sepanjang patung itu berdiri. Terdapat pula lorong-lorong lain yang saling berhadapan mengelilingi patung tersebut, Cakra bisa memastikan bahwa dirinya sedang berada di lantai paling dasar sebuah gedung pencakar langit. Lorong itu seperti lantai bertingkat tanpa elevator, sempat Cakra berpikir bagaimana seseorang dapat menjangkau lantai yang ada di atasnya tanpa elevator. Namun ia langsung menemukan jawabannya begitu melihat beberapa orang yang sedang melayang masuk-keluar dari lorong satu, ke lorong lainnya. Bahkan mereka saling-silang dari lorong yang berada di lantai atas ke lantai yang lebih bawah, atau sebaliknya. Mereka semua melayang dengan kecepatan yang beragam. Ada yang kecepatannya seperti kecepatan yang sering Cakra rasakan, ketika mengendarai mobil kesayangannya di jalanan sepi. Ada pula kecepatannya, tak lebih cepat dari seseorang berlari pelan. Ketakjuban Cakra seketika sirna, ketika Mynhemeni melajukan petakan lantai yang terbelah dari pijakan terakhir mereka menuju ke atas. Anehnya, dengan kecepatan yang ditaksir Cakra sekitar sembilan puluh kilometer per jam ini, tak membuatnya goyang. Badannya sangat stabil berada di atas petakan kecil itu, bahkan saat mynehemi harus berbelok tajam dan membuat tubuh mereka miring seratus delapan puluh derajat, tak membuat Cakra merasakan perubahan gerakan pada tubuhnya. Hanya mengubah sudut pandangannya saja. Ia juga dibuat takjub dengan langit-langit lorong yang begitu indah, ia ragu bahwa dirinya sedang berada di nereka. Melainkan dirinya sedang berada di surga, tapi setelah menelaah tentang semua kejadian setelah ia tenggelam, ia justru tak yakin dengan apapun ini semua. Sempat terlintas perkataan Georu bahwa dia masih berada di bumi. Namun ia pun sangsi, belahan bumi mana yang mempunyai teknologi secanggih ini? Belahan bumi mana yang mempunyai gedung tinggi sekeren dan seindah ini?  Pikiran Cakra membuat genggaman tombak pada leher Mynhemeni mengendur. “Fokus! Jangan sampai wanita itu tahu lehernya bebas dari tombak itu!” tegur suara perempuan dalam kepada Cakra menyadarkan dirinya. Ia pun langsung kembali menodongkan tombak pada Mynhemeni, yang sebelumnya harus menggerakkan lehernya mengikuti tangan Cakra yang mulai tidak terarah.   Mynehemeni masih membawa Cakra keluar gedung itu. Cakra pun bingung, setelah beberapa kali melintasi beberapa ragam orang, tak satupun yang terlihat peduli bahwa dirinya kiri tengah menculik Mynhemeni. Hingga mereka memasuki lorong yang sangat besar, lorong itu tergabung dari lima lantai sekaligus dengan lebar yang tak lebih dari tujuh meter. Cakra dapat menyimpulkan bahwa lorong ini merupakan lobby dari gedung tempatnya berada. Lobby itu pun tak kalah menakjubkan, terdapat beberapa proyeksi cahaya ilusi optik yang indah. Cakra menebak itu seperti lukisan yang sering ia lihat pada dinding rumahnya. Selain itu, juga terdapat patung yang mirip dengan patung raksasa yang dilihat Cakra tadi, namun dengan versi yang lebih mini.  Akan tetapi yang lebih mencengangkan bagi Cakra adalah, apa yang tersuguhkan di luar sana. Ujung lorong itu tak berdinding, atau mungkin berdinding namun transparan. Menyuguhkan Susana kota yang sangat menakjubkan. Apa yang dilihat Cakra seperti di alam mimpi, ia sempat menyangka bahwa dirinya sedang berada di Asrgard atau planet-planet yang ada dalam serial Star Wars.  Sungguh ia tak yakin kalau dirinya bukan berada di akhirat. Teryakinkan sudah, kalau dirinya tak lagi berada di bumi, dan ia pun yakin bahwa  dirinya memang sudah tak bernyawa lagi. Saat sedang menikmati pemandangan yang tersuguhkan, tiba-tiba petakan lantai yang membawa mereka melayang terhenti. Mynhemeni berkedip dua kali, kembali cahaya keluar dari dalam matanya dan berubah menjadi proyeksi Thungsiruv. “Bagaimana? Sudah dapat kabar mengenai asal-usul anak itu?” Thungsiruv yang tidak mengetahui bahwa Mynhemeni tengah diculik oleh Cakra, langsung bertanya mengenai status Cakra. Proyeksi Thungsiruv yang menyuguhkan pemandangan bagian belakang tubuhnya. tentu tak dapat menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi. Cakra memperhatikan proyeksi itu dengan tangan kirinya masih membelenggu Mynhemi, sedangkan tangan kanannya melingkari leher Myhemeni sambil menodongkan tombak di lehernya yang seksi. Sebenarnya bisa saja Thungsiruv mendapatkan informasi dari seluruh bawahan Mynhemeni, namun sayangnya seluruh analis yang berada di bawahnya juga ikut terkurung di ruangan gedung tersebut. Sehingga tidak ada siapa pun yang dapat memberikan kabar terkini mengenai Cakra. “Ketua! Saya disandera olehnya!” satu ucapan yang berhasil membuat Thungsiruv berbalik dan menghentikan kegiatannya. Ia cukup kaget begitu melihat dengan jelas bahwa kilatan cahaya seperti petir mengelilingi leher Mynhemeni. “Apa yang sebenarnya terjadi!” tanyanya tak kuasa menahan rasa takjub dan heran. Namun suara itu tidak tedengar oleh Cakra, suara Thungsiruv bergema di dalam pikiran Mynhemeni. “Anak ini sungguh kuat Ketua, tapi sepertinya dia tak ada niatan untuk mencari perkara. Anak ini hanya berusaha melindungi diri. Bahkan dia tak ada niatan untuk membunuh para pasukan yang seharusnya dapat ia bunuh dengan mudah! Dia hanya mengurung mereka semua di ruangan penyimpanan manusia darat!"  ungkap Mynhemeni tanpa menggerakkan bibirnya sama sekali. “Apa ada yang menyaksikan kalian?” “Tidak ada Ketua! Saya langsung mengaktifkan mode penyamaran!” “Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan? Kamu tidak bisa menyerangnya saat dia lengah?” “Ketua tidak dapat melihat kondisi saya? Saya dipaksa untuk mengaktifkan mode kunci untuk diri saya sendiri!" desak Mynhemeni agar Ketua dapat melihatnya lebih detail. "Trus apa yang diinginkan anak itu dengan munculik kamu?" "Dia meminta  untuk mengeluarkannya dari gedung pusat pemerintahan ini, tanpa diketahui oleh siapapun! Sepertinya dia minta untuk dipulangkan ke tempat asalnya!” “OK! Kamu turuti saja dulu perintahnya, kami akan bantu kamu begitu kalian sudah berada di dalam jet. Pastikan kamu bisa dihubungi kapanpun!” “Suruh wanita itu untuk meminta kendaraan anti sadap! Dan juga minta dia untuk me-non-aktifkan pelacak dari tubuhmu!” suara perempuan itu muncul lagi dalam kepal Cakra, ia yang tengah memperhatikan Thungsiruv yang sedari menatapnya. Cakra sempat bingung kenapa tak ada satupun suara yang keluar dari mulut bapak tua tersebut. “Maksudnya apa?” Cakra yang tak paham malah balik bertanya. “Bapak tua itu sedang berkomunikasi dengan wanita itu, mereka ingin menjebak mu! Suruh mereka berkomunikasi dengan suara, agar kamu dapat mendengarnya!” ucap suara dalam kepala Cakra. “Apa yang bapak tua itu lakukan?” tanya Cakra pada Mynhemeni yang membuat Thungsiruv sedikit bergidik. “Tidak ada!” ucap Mynhemeni berbohong. “Tidak mungkin! Hey bapak tua… seperti yang Anda lihat, saya sedang menondongkan senjata kalian ke wanita ini. Jika ingin wanita ini selamat, keluarkan saya dari sini. Berikan kendaraan, agar saya dapat keluar dengan aman!” ucap Cakra mengikuti arahan perempuan yang suaranya bergema dalam kepala Cakra. “Baiklah… Kamu bisa meminta wanita itu untuk menunjukkan kendaraannya. Kamu boleh mengambilnya, dan kau pun pergi dengan aman. Tapi jangan lupa tolong lepaskan dia sebelum kamu pergi!” ucap Thungsiruv berhati-hati. “Minta kendaraan anti sadap! Kendaraan milik wanita itu dapat ditemukan dengan sangat mudah! Dan jangan pernah pergi tanpa membawa wanita itu!” kata perempuan dalam kepala Cakra. “Saya yakin kendaraan milik wanita ini pasti dengan mudah akan ditemukan. Saya minta kendaraan anti sadap! Saya tidak ingin keberadaan saya diketahui! Dan saya akan menculik wanita ini sebagai jaminan! Satu lagi, non-aktifkan pelacak yang ada ditubuhku!” “Lancang sekali kamu…” Thungsiruv sedikit naik pitam, tapi ia langsung berhenti begitu melihat kilatan yang mengelilingi leher Mynhemeni semakin banyak. “Baiklah…” ucap Thungsiruv sedikit ragu namun ia menjalankan keinginan Cakra.  “Tubuhmu kini sudah bebas dari pelacak apapun, kendaraan yang kamu minta akan saya kirimkan!” lanjutnya. “Jangan coba-coba membohongi saya, atau wanita ini akan mati!” ancam Cakra meyakinkan bahwa itu bukan sekedar ancama. “Bagaimana saya dapat mempercayai Anda?” lanjut Cakra. “Kamu bisa meminta wanita itu mengeceknya, kendaraan itu akan segera datang!” ungkap Thungsiruv sedikit cemas. Terlihat raut wajahnya sangat mengkhawatirkan keselamatan Mynhemeni.  "Tubuhmu sudah terbebas dari sadapan dan pelacakan!" ucap Mynhemeni meyakinkan.  “Hemy… kamu sungguh baik-baik saja?” tanya Thungsiruv yang suaranya bergema di kepala Myhemeni. “Hemy masih baik-baik saja Yah… tolong ikuti kemauan anak ini, Hemy bisa jaga diri!” ucap Mynhemi lembut pada pikiran Thungsiruv ayahnya. “Minta kirimkan kendaraan di area parkir lima, di sana sepi tak banyak orang yang datang ke situ!” seru suara perempuan itu kembali di dalam kepala Cakra. “Kirimkan kendaraan di tempat yang sepi!” ucap Cakra kepada Thungsiruv. “Ketua, kirim kendaraan anti sadap ke area parkir lima…” kata Mynhemeni sedikit terbata-bata, untuk meyakinkan ayahnya bahwa dirinya sangat terancam. “Baik, kalau itu yang kamu inginkan, kendaraan itu akan saya kirimkan sekarang!” seketika proyeksi Thungsiruv lenyap, dan petakan lantai kembali bergerak menuju gerbang kaca gedung pusat pemerintahan Distrik Nor. Mynhemeni membawa Cakra menuju area parkir lima tanpa mengetahui bahwa kehadiran Cakra sudah diketahui oleh Rumsun. Wakil Ketua Pemerintahan Distrik Nor,  sekaligus orang yang ingin menyingkirkan ayah Mynhemeni agar posisinya dapat ia rebut.  Rumsun tertawa riang, ketika salah satu pasukan yang dihajar pingsan oleh Cakra, langsung melaporkan kejadian tersebut pada Rumsun. Di saat Cakra berhasil melayangkan pukulan yang membuatnya melayang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN