“Paman! Ada penyusup masuk ke kantor kita! Dia sangat kuat! Ketua minta kita untuk menyekapnya dan menutupi hal ini….” ucap salah satu petugas yang berhasil terhempas jauh setelah mendapatkan pukulan dari Cakra.
Petugas itu merupakan petugas tambahan dari kloter dua untuk menangkap Cakra dan mengurungnya kembali. Ia harus ikut dalam operasi rahasia ini, karena ia merupakan petugas keamanan tingkat empat, dari gedung pusat pemerintahan tempatnya diberi tugas. Ia memutuskan untuk memberitahukan perihal Cakra pada Rumsun, wakil ketua pemerintahan Distrik Nor sekaligus kerabat jauhnya. Rumsun merupakan adik dari bibi kakak iparnya. Kendati hanya kerabat jauh, namun mereka cukup dekat. Apalagi Rumsun dapat menggunakan anak polos itu, untuk dapat merebut posisi Thungsiruv.
Kala itu Rumsun yang sedang mengadakan rapat dengan timnya untuk membicarakan pengajuan pembatalan posisi Thungsiruv kepada pusat, langsung mendapatkan angin segar. Alasan selama ini yang ia kumpulkan, belum cukup kuat untuk menjatuhkan sepupu jauhnya tersebut. Posisi Thungsiruv yang ia peroleh dari ayahnya setelah ayahnya meninggal, membuat keluarga Rumsun sedikit murka dan kecewa. Mereka sempat berpikir bahwa Thungsiruv tak mampu meraih nilai lebih tinggi dibanding Rumsun, walau sistem pemerintahan di Porkah merupakan kerajaan monarki.
Namun, setiap raja yang sudah selesai masa jabatannya, entah karena meninggal atau digulingkan. Bukan berarti estafet kepemimpinan akan diturunkan kepada keturunannya, sebagaimana yang terjadi pada sistem kerajaan di daratan bumi. Sistem kerajaan Porkah juga demokratis. Raja dipilih langsung oleh rakyat dengan masa jabatan seumur hidup, kecuali jika Raja melakukan kelalaian yang mengharuskannya untuk digulingkan. Selain Raja, seluruh pemimpin daerah Porkah pun berlaku sistem yang sama, termasuk di Distrik Nor. Yaitu, kepala pemerintahan setiap distrik akan dipilih langsung oleh rakyatnya setelah pemimpin Distrik sebelumnya tutup usia, ataupun dikudeta.
Adapun nama-nama calon pemimpin, sudah disosialisasikan oleh seluruh media di Porkah, jauh sebelum sang Raja ataupun Ketua distrik digulingkan ataupun wafat. Kriteria calon pun sesuai dengan garis keturunan, dan juga sepak terjang selama ia mengabdi pada kerajaan Porkah. Karena memang, setelah dewasa segala pekerjaan yang diterima oleh rakyat Porkah merupakan hasil dari latar pendidikan, keahlian, kemampuan dan juga keinginan orang tersebut.
Tidak hanya dalam pemerintahan, dalam produksi kebutuhan rakyat Porkah pun berlaku sistem yang serupa. Dikarenakan, tidak ada satupun benda yang berada di negeri Porkah ini milik perseorangan, seluruhnya milik bersama dalam pengawasan pemerintahan yang dipimpin langsung oleh sang raja. Segala kebutuhan rakyat selalu terpenuhi, terlepas apakah kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan primer, sekunder, tersier atau bahkan kebutuhan luxury sekalipun.
Sistem jual-beli tidak berlaku pada negeri Porkah.
Sumber daya alam yang melimpah dari bumi, mereka manfaatkan sebaik-baiknya untuk mereka. Tanpa menghancurkan ekosistem serta mengganggu kehidupan manusia darat.
“Kita mendapatkan jackpot!” Rumsun seketika tertawa bahagia, setelah melihat tayangan ulang seluruh rangkaian pertarungan Cakra, dan juga pasukan yang berusaha melumpuhkannya. Walaupun sosok Cakra tidak terlihat sempurna, karena posisi petugas saudara jauh Runsum berada di belakang. Dan Ia pun yang terhempas pertama, bersamaan dengan beberapa pasukan lainnya yang ada dihadapannya. Sehingga ia hanya mampu memproyeksikan betapa kuatnya sang penyusup, di saat itu pulalah ia menghubungi Runsum.
Namun ia harus terluka dan pingsan, begitu seragam dengan alat pelindung dirinya rusak sebagian dan membuat kepalanya terbentur salah satu dinding.
“Kita tidak butuh laporan kecil tak berguna ini!” dengan semangat yang membara, Rumsun langsung membubarkan rapat kecilnya dan meleset ke ruang kerja Thungsiruv. Ia tak memedulikan segala data kesalahan kecil Thungsiruv yang sudah dipersiapkan tim kecilnya untuk menghancurkan Thungsiruv.
Data yang untuk dibicarakan saja tidak perlu! Apalagi untuk dituntut?
Sebenarnya, bisa saja ia menyingkirkan Thungsiruv dengan melenyapkan nyawanya, agar posisi Thungsiruv dapat diisi olehnya.
Namun hal itu tidak akan pernah terjadi.
Bangsa Porkah tidak mengenal istilah membunuh kecuali mengancam bangsa Porkah itu sendiri. Kriminal yang terjadi juga tidak jauh dari percekcokan beda pendapat, kesalahpahaman, dan juga keterbatasannya pengetahuan atas suatu perkara. Tidak akan ditemukannya kriminal tingkat tinggi seperti, pelecehan seksual?
Hal ini sangat tidak akan mungkin, karena setiap bangsa Porkah yang terlahir, sudah disematkan gen jodoh. Sehingga, mereka sudah dipastikan hanya tertarik pada orang yang sudah ditentukan.
Pencurian?
Apa yang harus dicuri, kalau semua kebutuhan mereka sudah terpenuhi tanpa bersusah payah? Walau semua bangsa Porkah harus mendapatkan itu semua lewat tenaga, waktu dan juga jasanya untuk negara. Namun, itu semua sepadan. Seluruh orang yang berada di bawah kekuasaan bangsa Porkah harus bekerja, tidak terkecuali pemimpin kerajaan termasuk raja itu sendiri. Tidak ada yang tidak bekerja, apalagi hanya karena alasan malas.
Karena, mereka tidak boleh bermalas-malasan dalam melakukan kewajiban mereka. Satu-satunya hukuman yang akan menjadi kriminalitas tinggi adalah rasa malas. Adapun hukuman yang akan diterima setiap orang berbeda dari tingkat kemalasan yang berlaku. Yaitu, malas bekerja, malas menempuh pendidikan, malas mengurus diri, malas mengurus keluarga, malas mengurus lingkungan, malas mengurus kepentingan rakyat.
Hukuman terendah terdapat pada malam mengurus diri, sedangkan hukuman tertinggi adalah malas bekerja dan tidak bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Dimana hukuman ringan adalah mereka harus menyumbangkan waktu, tenaga, dan pikiran mereka kepada publik. Sedangkan, hukuman terberat adalah hukuman pelempasan jiwa. Hukuman yang lebih menakutkan dari pada hukuman mati. Sejauh ini tidak pernah ada hukuman mati ataupun hukuman pelepasan jiwa, hanya ada hukuman perasingan dan juga siksaan dalam penjara seumur hidup.
Kriminal tingkat tinggi lainnya seperti penipuan pun, tidak pernah terjadi di negeri Porkah. Adapun penipuan yang berlaku, hanya bersifat candaan. Ataupun bersifat kelakar semata. Contoh lainnya seperti kekerasan, juga tidak pernah terjadi di Negeri Porkah. Karena minimnya kecemburuan sosial di mata rakyat Porkah, membuat tingkat kekerasan di Negeri Porkah minim.
Kehidupan di Negeri Porkah cenderung kaku dan tidak fleksibel, semuanya telah diatur sedemikian rupa sehingga membuat mereka tampak seragam dan monoton. Namun, mereka tak mempermasalahkan hal tersebut. Karena, sifat-sifat buruk yang biasanya sering ditemukan pada diri manusia darat. Jarang ditemukan dalam diri rakyat Porkah. Walaupun pasti ada sisi buruk dari rakyat Porkah, namun itu hanyalah seperkian nol persen jika dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh manusia darat.
Jadi, tidak heran mengapa Negeri Porkah sangat damai, harmonis, dan juga taat peraturan yang ada. Dan tentunya, peraturan yang dibuat pun, bukan untuk kepentingan segelintir orang atau kelompok saja.
Melainkan untuk kepentingan bersama.
Walaupun tidak ditemukannya tindakan kriminal yang tinggi di Negeri Porkah, bukan berarti mereka tidak mempunyai sistem keamanan dan perilindungan diri. Justru, sembilan puluh sembila koma sembilan puluh sembilan persen rakyat Porkah tahu bagaimana ilmu bela diri serta mempergunakan senjata. Karena sedari kecil mereka sudah dididik secara militer.
Hal ini tidak luput dari trauma yang terjadi pada planet mereka beribu-ribu tahun yang lalu, jauh sebelum manusia modern di bumi hadir. Kekuatan militer mereka pun jauh lebih tinggi dari pada apa yang dimiliki oleh negara adidaya di muka bumi saat ini. Apa yang mereka lakukan pada Cakra tak lebih dari nol koma seperkian persen dari kekuatan militer mereka.
Semua itu ditunjang dengan teknologi militer yang tinggi, serta alutsista yang lengkap serta berteknologi canggih. Sungguh, hanya butuh satu detik bagi bangsa Porkah untuk meluluh lantakkan bumi ini. Sungguh, hanya butuh tak lebih dari satu detik untuk menang melawan seluruh negeri yang ada di muka bumi ini. Bahkan, jika seluruh negara yang ada di bumi ini bersatu menyerang Porkah, maka mereka akan kalah dalam sekejap.
Sedahsyat itulah sistem pertahanan dan juga kekuatan militer yang dimiliki oleh bangsa Porkah. Karena alasan itu pulalah, tindak kriminalitas di negeri ini sangat kecil. Walaupun membosankan, para pekerja keaamanan negeri Porkah tetap melaksanakan tugas mereka dengan baik. Maka dari itu, mereka cukup terkejut dan terheran saat Cakra berhasil membuat mereka bergerak. Baru pertama kali ini, para petugas keamanan bekerja esktra.
Bahkan hingga membentuk pasukan.
Mereka pun sebenarnya ingin mencoba segala macam bentuk senjata kepada Cakra, selama ini seluruh senjata itu hanya mereka gunakan saat latihan saja, tidak pernah digunakan untuk menyerang apalagi melindungi diri. Namun, disaat mendapatkan amanat untuk tidak melukai Cakra, kekecewaan mereka pun timbul. Usai sudah harapan mereka, untuk dapat menggunakan seluruh kemampuan mereka pada Cakra. Sempat, mereka ingin melawan dengan lebih di saat Cakra secara membabi buta menghabisi mereka, namun sekali lagi amanat untuk tidak melukai Cakra menjadi penghalang.
“Akhirnya bisa juga kita pake senjata ke orang lain!” ucap salah satu petugas yang ikut melayang bersamaan dengan saudara jauh Runsum.
“Ingat kata Komandan, kita tidak boleh membuatnya terluka, apalagi terbunuh!” ucap pasukan lainnya.
“Tapi heran, kenapa membutuhkan seluruh pasukan keamanan gedung pemerintahan jika harus melumpuhkan satu orang saja? Bahkan, tim analis yang menjadi pemimpin pasukan! Kenapa bukan Bzarrmu yang memimpin?” tanya saudara jauh Runsum, yang hanya dibalas saling mengangkat bahu dari seluruh pasukan yang melayang dalam satu petakan yang sama dengannya. Tapi kenyataannya, satu orang yang mereka remehkan, telah membuat seluruh pasukan keamanan terkurung dalam gudang penyimpanan benda manusia darat.
Mereka terkunci rapat, hanya dapat menunggu orang lain untuk membebaskan mereka.
Kini Runsum sudah berada di depan ruangan Thungsiruv, dinding berwarna kuning itu seketika langsung bergerak hingga membentuk lubang. Ia masuk sembari menghiraukan hologram kepala wanita yang memintanya untuk tidak masuk karena Thungsiruv tidak dapat diganggu.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” begitu Runsum melangkahkan kaki kirinya ke dalam ruangan Thungsiruv. Ia sempat melihat Thungsiruv berbicara dengan seseorang. Untung saja, Runsum datang setelah Thungsiruv berhasil memerintahkan petugas yang bertanggung jawab atas kendaraan, untuk mengirimkan jet anti sadap kepada Mynhemeni di area parkir lima. Ia pun yakin, jet itu sudah bergerak menuju ke sana.
“Oh Rumsun, tumben kamu datang ke ruanganku tanpa aku panggil…” ucap Thungsiruv berusaha bertingkah seperti tidak ada hal genting yang terjadi. Ia tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya, berusaha menyambut Rumsun dengan hangat. Meskipun ia bertanya-tanya bagaimana lelaki yang umurnya lebih tua empat tahun itu, mengetahui soal Cakra.
Namun satu hal yang pasti.
Rumsun datang karena berita tentang Cakra sudah bocor ke telinganya.
“Tidak usah kau berpura-pura! Aku tau perihal penyusup itu! Apa yang sebenarnya terjadi? Penyusup seperti apa yang bikin kau sampai mengerahkan segala pasukan keamanan?” hardik Runsum langsung duduk di sofa ruangan Thungsiruv yang dikhususkan bagi tamu. Runsum menggerakkan kepalaya ke kiri, tiba-tiba muncul setitik bola kecil dari lengan kanannya. Bola itu melesat ke hadapan Rumsun dan langsung masuk kedalam mulutnya. Seketika mulutnya teraliri cairan dingin dengan rasa lemon bercampur stroberi hingga ke kerongkongannya.
“Oh, aku memang berniat menceritakannya padamu! Tapi, melihat situasinya yang sangat genting, aku terpaksa menundanya. Maaf….” ucap Thungsiruv sembari menghampiri Rumsun yang sudah duduk nyaman di atas sofanya.
“Jadi siapa penyusup itu? Apakah itu orang pusat yang ingin menghancurkanmu? Atau orang kerajaan yang ingin memata-mataimu?” tanya Rumsun yakin jika penyusup itu adalah mata-mata dari kerajaan untuk menilai Thungsiruv.
Karena memang setiap pemimpin distrik akan disusupi mata-mata kerajaan, bila terdengar desas-desus buruk mengenai kepemimpinan suatu pemimpin distrik. Fungsinya, tentu sebagai usaha agar kerajaan dapat menadapatkan bukti akurat tanpa harus melihat pihak manapun. Tapi setahunya, tidak ada satupun mata-mata yang berhasil diketahui identitasnya. Kalaupun diketahui, harusnya Thungsiruv memperlihatkan sisi baik bukan sebaliknya menyuruh pasukan untuk menyekapnya.
“Aaah… andai dia adalah suruhan kerajaan, pastinya kita akan menyambut orang itu degan hangat bukan?”
“Lalu siapa penyusup itu? Tidak mungkin ada pencuri di negeri ini!” tanya Rumsun sekali lagi, kali ini ia diiringi tatapan ancaman.
“Baiklah! Tapi sebelumnya, kamu harus berjanji untuk tidak membesar-besarkan masalah ini!” pinta Thungsiruv sedikit khawatir. Ia tak yakin apakah bijaksana menceritakan perihal kehadiran Cakra kepada orang yang selama ini berusaha menjatuhkannya.
Namun, setelah ditimang, ia pun tak ada piihan lain. Karena Rumsun berhak tahu apa yang terjadi di dalam wilayah mereka, karena sudah masuk ke dalam ranah tugas dan pekerjaannya. Ia hanya dapat berharap, agar Rumsun cukup dewasa dalam menyikapi masalah ini. Karena bukan saja dirinya yang akan terancam, namun seluruh jajaran pemerintahan Distrik Nor akan mendapatkan hukuman yang sama, tidak terkecuali dirinya dan Runsum yang merupakan wakilnya.
“Baiklah…” terdengar sedikit nada kecewa, ia mengira Thungsiruv telah melakukan kesalahan sehingga harus dipantau oleh pihak kerajaan. Ia pikir, penyusup yang ingin disekap Thungsiruv adalah mata-mata utusan pihak kerajaan. Ia pikir, dengan tindakan Thungsiruv menyekap mata-mata tersebuh, dapat membuat Thungsiruv harus lengser dari posisinya. Bahkan ia berharap Thungsiruv akan mendapatkan hukuman, paling tidak diasingkan seumur hidupnya.
“Punyusup itu seorang anak berusia tujuh belas tahun…”
“Apa? anak usia tujuh belas tahun….?” belum selesai kalimat yang keluar dari mulut atasannya, Rumsun langsung memotong dengan keterjutannya.
Tentu ia terkejut!
Pasalnya, seluruh anak di bawah usia dua puluh satu tahun dan di atas lima tahun, harus berada di sekolah. Seluruh anak-anak bangsa Porkah harus menempuh pendidikan selama enam belas tahun. Sistem sekolah mereka tentu berbeda dengan sekolah di daratan bumi. Sistem pendidikan bangsa Porkah, mengharuskan anak-anak usia lima tahun hingga dua puluh satu tahun, menempuh pendidikan di sekolah yang sudah ditentukan oleh kejaraan. Penentuan ini, bersadarkan analisa kemampuan mereka masing-masing. Sekolah itu hanya terdapat di sepuluh distrik yang tersebar ke seluruh dunia.
Selama bersekolah, mereka tidak diizinkan untuk pulang ke rumah mereka. Mereka akan tinggal di asrama pada sekolah telah ditentukan untuk mereka dan bersekolah hingga mereka mendapatkan tugas atau pekerjaan sesuai dengan kampuan, dan sepak terjang mereka selama bersekolah. Jika mereka merindukan keluarga mereka. Mereka cukup menghadirkan orang yang mereka rindukan ke hadapan mereka. Selain itu setiap waktu libur sekolah, keluarga dapat menjenguk mereka. Akan tetapi mereka tetap tidak diperbolehkan untuk pulang ke rumah.
“Apa anak itu menyusup karena kabur dari sekolahnya?” oceh Ramsun sok tahu.
“Tapi, itu hal yang mustahil… tak ada alasan bagi anak sekolah kabur! Lagipula kalaupun dia kabur, sudah pasti seluruh rakyat akan diberi tahu mengenai hal itu kan?” ia malah menjawab pertanyaannya sendiri membuat dirinya pusing.
“Bukan… anak itu bukan bangsa kita!” satu kalimat yang membuat rona wajah Ramsun seketika berubah menjadi ungu.
“Apa maksud kamu anak itu bukan bangsa kita?” ia menarik napas dalam, seakan ia butuh lebih banyak oksigen sebelum otaknya semakin berspekulasi lebih jauh lagi.
“Saat Letnan Rihum sedang berpatroli seperti biasa, dia mendapati tiga anak manusia darat terseret ombak. Dua berhasil diselamatkan, namun satu anak tersangkut palung. Saat ingin membantu anak itu untuk keluar dari palung, justru Letnan Rihum menemukan keanehan. Anak itu dapat bernapas…”
“Aaaa…apaa…? Tunggu…. Tunggu….! Bagaimana seorang anak manusia darat dapat bernapas di dalam air? Apakah teknologi mereka sudah sampai situ?”
“Tentu saja belum…..”
“Lalu….?”
“Yaah… seperti yang sudah ku katakan, anak itu dapat bernapas di dalam air! Tapi yang lebih mengejutkannya lagi adalah. Anak itu dapat menghancurkan karang, bahkan luka di tubuhnya akibat karang sembuh dengan sendirinya…!” seuntai kalimat yang berhasil membuat metabolisme Rumsun meningkat. Ia tak lagi dapat menguasai emosinya karena Thungsiruv tak segera memberitahu informasi ini. Terlebih, Letnan Rihum yang merupakan ponakannya tidak segera memberitahunya.
“Kenapa Anda baru memberitahukan hal ini saya sekarang? Apa maksud Anda menyembunyikan hal ini? Saya wakil Anda!” Runsum tak dapat menahan emosi.
“Tenang Runsum tenaaang… seperti yang sudah aku katakan…. Aku berencana ingin memberitahumu, tapi sebenarnya ini bukan masalah yang harus kamu tangani. Karena ini masuk dalam ranah tugasku!” ingat Thungsiruv menyadarkan Runsum bahwa apa yang ia katakana benar. Seluruh hal yang bersangkutan dengan manusia darat menjadi tanggung jawab Thungsiruv sebagai pemimpin.
“Lalu di mana anak itu sekarang?” tanya Rumsun setelah dapat menguasai emosinya. Ia sempat mengonsumsi cairan penyeimbang emosi, agar dapat berpikir jernih setelah sekali lagi ia menggoyangkan kepalanya, dan membiarkan bola kecil lainnya masuk ke dalam sistem pencernannya.
“Anak itu berhasil kabur….” Satu kalimat yang berhasil membuat Rumsun kembali terkejut. Ia yakin, jantungnya yang sedari tadi sehat, kini melemah. Lagi-lagi ia harus memasukkan bola kecil untuk membuat dirinya tetap stabil.
“Tenang… anak itu akan kita dapatkan kembali!”
“Bagaimana anak itu bisa kabur?”
“Dia begitu kuat, coba kamu saksikan ini!” kini giliran bola kecil keluar dari tubuh Thungsiruv. Namun bedanya bola kecil itu tidak masuk ke dalam mulut Thungsiruv melainkan menayangkan seluruh kejadian yang dialami Cakra, mulai dari ia terseret ombak, hingga bagaimana ia berhasil menculik Mynhemeni.
“Cukup! Sekarang saya ambil alih… saya akan kerahkan pasukan pertahanan untuk menangkap anak itu! Karena kasusnya kini sudah masuk ke tanggung jawabku!” seketika ia beranjak. Pikirannya terpusat untuk menangkap Cakra, dan ia pun tidak ingin bertindak gegabah. Ia paham mengapa Thungsiruv harus merahasiakan hal ini. Jika pusat atau kerajaan mengetahui tentang Cakra, maka bukan saja Thungsiruv yang akan dihukum, namun seluruh anggota pemerintahan Distrik Nor akan dihukum. Bayangan dirinya kehilangan jiwanya langsung terbesit di kepalanya.
“Rumsun… dengarkan jangan gegabah….!” ingat Thungsiruv. Ia tak dapat menghentikan Runsum karena kasus Cakra sudah masuk ke dalam tugas wakilnya. Namun, ia cukup khawatir mengingat Rumsun yang sedikit impulsif.
“Saya tahu apa yang saya lakukan, saya tidak akan melukai anak itu. Kita tidak tahu dari mana asalnya dan detektor apa yang ada pada tubuhnya!”
“Hemy… putriku diculik oleh anak itu! Kita tidak tahu apa yang akan dilakukannya terhadap putriku…” ucap Thungsiruv memohon. Ia takut Cakra membunuh putrinya jika mereka melawan. Karena mereka sudah tahu bahwa perangai manusia darat dapat saling membunuh dengan mudahnya, tanpa tuntutan hukum yang sebaliknya.
“Sepertinya kamu harus mengucapkan selamat tinggal pada putrimu! Dan sejarah pembunuhan pertama Distrik Nor sepertinya akan terjadi hari ini… Saya akan berusaha membawa anak itu dalam keadaan hidup, tapi saya tidak menjamin keselamatan putrimu!” ucapnya datar lalu langsung pergi meninggalkan Thungsiruv dengan perasaan yang campur aduk.