Sang Komadan cantik dengan tergesa-gesa berjalan menuju pada dinding besi satu-satunya di ruangan itu, dinding tersebut tiba-tiba bergerak turun seakan dimakan oleh lantai yang juga berlapis besi hitam pekat. Ia keluar dari ruangan tersebut lalu berdiri sejenak di depan pintu besi.
Tiba-tiba dari arah bawah pijakan kakinya, sepetak besi dengan lebar yang dapat menampung orang berbadan besar untuk duduk di atasnya, bergerak ke atas tanpa meninggalkan bekas.
Seakan sepetak besi tersebut dapat memecah dirinya, sehingga lantai yang berbahan seperti besi mengkilap itu tidak terlihat rusak, tidak meninggalkan bekas satu petakan kecil yang tercongkel paksa.
Kemudian, petakan besi tersebut melaju kencang membawa tubuh Sang Komandan melayang lembut menyusuri lorong dengan kecepatan dua puluh kilometer perjam. Beberapa kali petakan tersebut membawanya melewati ruangan tanpa pemisah, dan beberapa kali juga ia melewati ruangan dengan berbagai macam ukuran, berbagai macam warna dinding, dan berbagai macam warna pintu besi.
Ia beberapa kali melewati orang-orang yang juga melayang, sambil saling mengangguk saat mereka saling melewati satu sama lain di atas petakan kecil dengan berbagai jenis ukura. Bahkan, petakan itu ada yang berukuran besar, hingga dapat menampung sepuluh orang sekaligus, sampai-sampai mengharuskannya berhenti sesaat.
Akan tetapi ia tak hanya berhenti, Sang Komandan bahkan harus menempel pada dinding. Agar petakan yang membawa kawanan yang terdiri dari berbagai bentuk, jenis kelamin dan usia dapat melaju tanpa hambatan.
Namun yang aneh dari itu semua, saat Sang Komandan menempel pada dinding bagaikan cicak, petakan yang ditumpanginya menyatu dengan dinding yang menjadi sandaran tubuh Sang Komandan. Seakan-akan petakan itu dilahap oleh dinding dengan gaya arsitektur industrial namun tampak futuristik, seolah dinding itu hanyalah bayangan yang dapat ditembuh oleh benda apapun.
Selagai Sang Komandan menempel pada dinding layaknya cicak, ia menundukkan kepalanya sambil menyilangkan tangan kanannya ke bahu kirinya, sedangkan gerombolan yang berada di atas petakan besar itu hanya mengangguk sambil serentak tersenyum ke arahnya. Setelah mereka berhasil melewati Sang Komandan yang sempat menghalangi jalan, Sang Komandan mulai bergerak beriringan dengan bagian petakan yang sempat di lahap oleh dinding, petakan kecil itu muncul seketika seakan dimuntahkan oleh dinding tanpa memberikan bekas apapun.
Seolah-olah itu hal yang lumrah.
Petakan itu kembali membawa Sang Komandan pada destinasinya, melewati lorong yang nampaknya suasananya silih berganti. Beberapa kali ia melewati orang berbeda sambil saling menyapa, bahkan ia sempat berhenti sejenak saat melewati seorang lelaki tua, mereka sempat bercengkrama.
Saat si lelaki tua menghampiri Sang Komandan, petakan yang menopang mereka menyatu, saling tarik menarik dan melebur, warna petakan yang semula kontras menjadi senada.
Di saat mereka sudah selesai bertukar kabar, petakan itu kembali memisahkan diri layaknya sel amoeba. Kemudian, Sang Komandan kembali melaju hingga ia melewati beberapa orang yang sengaja berhenti untuk mempersilakan dirinya melaju terlebih dahulu, sambil menunduk padanya dan menyilangkan tangan kanan mereka ke bahu kiri mereka.
Tidak jarang pula, Sang Komandan melewati beberapa orang melayang lebih tinggi hingga melaju melewati kepala orang yang berada di hadapannya.
Karena alasan itulah, mengapa bangunan teresebut mempunyai langit-langit yang tingginya mencapai tujuh meter dari dasar lantai. Agar mereka dapat melaju tanpa menghalangi satu sama lain. Jika diperhatikan, lorong luas dan panjang itu sering berbagi suasana diakarenakan langit-langit lorong tersebut juga silih berganti seiring dengan lajuan petakan yang membawa mereka pergi.
Saat awal Sang Komandan melaju, langit-langit diatasnya hanya memaparkan keindahan alam semesta, lengkap dengan galaksi, bintang, dan juga benda langit lainnya. Beberapa meter setelahnya ia memasuki area dengan langit-langit yang menampilkan pembiasan cahaya yang menembus permukaan air, lengkap di bawahnya tersuguhkan aneka biota laut lengkap dengan berbagai macam flora dan faunanya yang juga silih berganti.
Seluruh aneka bahari itu bagaikan slime yang dapat mengubah bentuknya sendiri. Slime itu pun memancarkan cahaya dengan aneka warna yang indah. Sang Komandan juga sempat melewati langit-langit, yang hanya memaparkan cahaya layaknya aurora yang berlarian. Namun yang lebih aneh lagi, segala cahaya itu seperti tidak mempengaruhi pencahayaan di bawahnya. Lorong itu tetap tampak terang benderang, menerangi lajunya petakan yang membawa tubuh Sang Komandan melayang di udara cair.
Setelah melayang beberapa menit di atasnya, petakan kecil itu akhirnya berhenti di depan dinding berwarna kuning terang dan membawanya turun, petakan tersebut seakan menyatu dengan lantai dan berubah menjadi warna peach pastel.
Menyesuaikan warna lantai yang ada di depan dinding warna kuning tersebut. Saat lantai sudah menyatu, dari dinding kuning muncul hologram kecil, dengan proyeksi bagian kepala dengan wajah wanita muda yang tidak jauh umurnya dengan Sang Komandan. Wanita tersebut berambut ikal yang diikat kebelakang layaknya ekor kuda, membiarkan kumpulan rambut ikalnya jatuh di atas pundaknya.
“Selamat Siang Nyonya Mynhemeni, Ketua Thungsiruv sudah menanti Anda, silakan masuk,” seketika wanita tersebut lenyap. Sedetik kemudian, dinding berwarna kuning di hadapan Nyonya Mynhemeni terjadi pergerakkan dari satu titik di tengah-tengah dinding tersebut.
Kemudian bergerak teratur dengan cepat, menjauhi titik tersebut untuk bergerak melingkar seperti cara kamera membuka dan menutup lensanya.
Kini dihadapannya dinding tersebut terdapat lubang bundar sempurna, namun dari lubang itu tidak menampilkan isi dari ruangan tersebut malainkan seperti gelombang air berwarna putih kebiruan. Gelombang air itu seakan berfungsi sebagai penghalang, agar orang dari luar tidak dapat mengintip apa yang terjadi di dalam ruangan saat dinding terbuka.
Sedangkan dari dalam, dengan bebas siapa saja yang berada di ruangan itu dapat melihat dan mengamati apapun yang terjadi di luar. Dengan langkah pelan, Mynhemeni mamasukkan tubuhnya ke gelombang air putih kebiruan, dan seketika lubang tersebut menyusut kembali menjadi dinding padat begitu ia sudah berada di ruang kerja Ketua Thungsiruv.
Ruangan itu berbentuk persegi panjang, luasnya tidak lebih dari sepuluh meter persegi. Di hadapan Sang Komandan bernama Mynhemeni ini, terdapat meja kerja besar setengah melingkar bergelombang yang terbuat dari semacam batu namun memaparkan cahaya lembayung redup pada setiap pinggirannya.
Ingin memamerkan betapa mewahnya ia.
Tepat di belakang meja mewah itu, terdapat dinding bening seakan tanpa penghalang menampilkan pemandangan laut yang penuh akan keangekaragaman bahari yang berterbangan. Mulai dari ikan yang sering dijumpai manusia di pasar, di kebun binatang, hingga di beberapa tayangan dokumenter mengenai dunia hewan bawah laut.
Namun yang membuat merinding adalah, di balik dinding transparan itu tersuguhkan aneka fauna yang tak pernah dilihat oleh manusia sebelumnya.
Jumlah mereka yang tidak sedikit berserakan di luar sana, satwa-satwa itu terdiri dari berbagai macam bentuk dan ukuran. Ada yang berbentuk seperti kuda laut, namun ukurannya sebesar gajah dan memiliki sayap ikan pari. Ada pula yang berbentuk seperi ular piton besar, namun memiliki lima kaki kecil di masing-masing kanan-kiri tubuhnya.
Selain itu di balik dinding yang merupakan jendela itu, tersuguhkan pula tebing gunung laut yang menjulang dengan pahatan, serta ukiran arsitektur indah, lengkap dengan jendela-jendela dalam berbagai ukuran dan warna. Menjadikan tebing gunung laut tersebut adalah sebuah bangunan tinggi pencakar langit. Tebing gunung itu laksana situs arkeologikal di Ma'an Yordania bernama Petra. Namun dengan sentuhan yang jauh lebih berwarna dan juga modern.
Selain itu, ada pula bangunan-bangunan megah lainnya dengan ketinggian yang berbeda-beda yang terjejer rapi di atas permukaan tanah di dasar laut. Ada juga beberapa bangunan tinggi yang menempel pada tebing-tebing tinggi, dengan gaya artsitektur melebihi modern.
Terdapat beberapa tiang-tiang besar yang terhubung tabung besar transparan yang meghubungkan satu gedung ke gedung lain yang dilewati oleh kotak besi yang juga transparan yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tiiang-tiang itu juga menghubungkan tiang lainnya yang berada di atas sebuah terumbu karang yang melayang. Dimana di atas terumbu karang terdapat beberapa bangunan dari berbagai macam bentuk dan juga bermacam ketinggian.
Di balik jendela itu pula terdapat pancaran cahaya yang terpisah-pisah dan juga berkumpul, cahaya tersebut nampak seperti kumpulan galaksi di luar angkasa dengan cahaya dari berbagai macam warna.
Sungguh! Pemandangan dari jendela ruangan tersebut tidak akan didapatkan di atas daratan bumi.
Pemandangan di luar ruangan yang tergambarkan dari jendela bening, sama indahnya dengan pemandangan yang ada di dalam ruangan itu. Langit-langit ruangan menampilkan suasana langit malam yang cerah lengkap dengan awan kelabu tipis, dan juga bulan purnama besar memanarkan cahaya merah kebiruan, yang biasanya dijumpai di daratan bumi.
Dibawah langit-langit, melayang mahluk seperti ubur-ubur yang memancarkan cahaya biru-jingga menggantikan bintang pada pemandangan malam di langit-langit itu. Namun anehnya, ruangan itu tidak nampak gelap, melainkan terang benderang seakan cahaya dari langit-langit dan juga mahluk bercahaya itu tidak mempengaruhi sistem pencahayaan pada ruangan tersebut.
Tembok ruangan itu juga berwarna kuning moccasin, yang dihiasi ukiran-ukiran seperti bunga yang merambat pada setiap pojok dinding tersebut. Pada beberapa dinding tergantung lemari kaca dari berbagai ukuran, setiap lemari tersebut menampilkan proyeksi cahaya indah dari berbagai macam benda cantik dan juga pemandangan. Bahkan, beberapa dari lemari yang pintunya terbuka, proyeksi itu masih berhubungan seakan pintu lemari tidak dapat mengacaukan keindahannya.
Belum lagi lantai ruangan yang nampak seperti kepulan asap tipis, dengan percikan seperti air dengan sentuhan kilatan cahaya layaknya petir. Seakan-akan orang yang berjalan di dalam ruangan tersebut, sedang berjalan diatas awan Cumulonimbus yang gemuruh.
Mynhemeni menolehkan kepalanya ke penjuru ruangan, ia tidak mendapati siapapun di sana. Malahan, meja tamu persegi panjang yang terbuat dari batu yang sama dengan meja kerja pada runagan itu, dengan ukiran dan juga pancaran cahaya yang berbeda, lengkap dengan sofa panjang di setiap sisinya, tidak menunjukkan bahwa ada seseorang yang duduk di atasnya.
Saat ia ingin melangkah menelusuri ruangan itu lebih jauh, tiba-tiba sepetak lantai berukuran dua meter persegi di sebelah kiri meja kerja Ketua Thungsiruv, memudar dan lenyap. Kemudian dari bawah muncul naik ke atas, seorang pria dengan penampilan fisik seperti seseorang yang sudah beranjak kepala lima.
Ia menggunakan jas berbentuk jubah berwarna merah gelap dengan pakaian putih di dalamnya. Matanya yang terlapisi iris merah kecoklatan dibalik bingkai besi segitiga, menyiratkan rasa cemas ketika melihat Mynhemeni berdiri tegap di depan gerbang ruangannya.
Wajah putih yang diselimuti rambut putih di bawah dagunya, tidak dapat menyembunyian rasa kekawatiran. Dengan langkah cepat, ia menghampiri Mynhemeni sambil mengayunkan tangannya, mengisyaratkan agar Mynhemeni mendekatinya.
“Bagaimana? Sudah bisa dipastikan status anak tersebut?” tanyanya menyambut Myehemeni sambil mengajak gadis itu duduk di sofa panjang.
“Negatif Ketua! Dia mengaku bahwa dia hanyalah anak remaja biasa! Bahkan kami tidak dapat melesuri ingatannya lebih jauh Ketua! Kami hanya mampu mengorek ingatan anak tersebut saat ia terdampar ombak menghantam karang. Selebihnya nihil! Seakan otaknya menyadari bahwa ada penyusup yang menggeledah ruang ingatannya!” Thungsiruv memicingkan matanya cemas dan bingung dalam satu waktu kemudian melayangkan kembali pertanyaan.
“Apa yang kamu lihat dari ingatan anak itu?”
“Anak itu melihat letnan yang sedang bertugas ketua!”
“Maksudnya?” tanyanya sambil membetulkan menyenderkan tubuhnya lebih dalam pada sofa terebut, sofa itu tiba-tiba bergerak seperti berusaha memeluknya.
“Seperti yang Ketua tahu, selama ini kita membantu manusia darat yang hanyut di lautan, mereka akan melihat kita dengan wujud yang mereka yakini… Biasanya di wilayah tempat anak itu hanyut, manusia melihat wujud kita seperti wanita dengan pakaian berwarna hijau yang mereka sebut Nyai Roro Kidul. Namun pada anak ini, ia melihat kita dengan jelas Ketua! Walaupun sedikit rabun namun kami yakin proyeksi yang ditampilkan pada penglihatan anak itu, bukan proyeksi yang seharusnya! Coba Ketua perhatikan!” kata Mynhemeni sambil mengedipkan matanya dua kali, lalu dari matanya keluar dua cahaya putih terbang menjauhinya, kemudian dua cahaya putih tersebut tiba-tiba bertabrakan kemudian muncul proyeksi ingatan Cakra akan kejadian saat ia hanyut.
“Terlihat siluet Letnan Rihum lengkap dengan helem dan juga tongkat senjata patroli Ketua! Lalu saat anak itu menghantam karang, seketika karang itu pecah Ketua!” jelas Mynhemeni takjub sekaligus takut dan ngeri atas apa yang ia saksikan dari proyeksi tersebut.
"Sepertinya kita tidak punya pilihan lain Ketua! Anak itu bersikeras mengaku bahwa ia manusia biasa! Kita harus mengambil bagian tubuhnya agar dapat memastikan siapa anak itu Ketua! Kita harus menggunakan proyeksi DNA Ketua!!” bujuk Mynhemeni, ia yakin bahwa satu-satunya jalan bagi mereka mengetahui status Cakra adalah dengan menggali siapa Cakra lewat DNA yang dapat dianalisa oleh teknologi mereka.
“Tidak! Sangat beresiko, kita tidak tahu apa yang dapat ditimbulkan begitu bagian tubuh anak itu masuk ke dalam proyektor DNA! Bisa saja tubuh itu justru mengakibatkan anomali! Dan, kecurigaan kita benar bahwa anak itu berasal dari planet lain. Dan lebih menakutkannya lagi, kalau-kalau anak tersebut berasal dari planet yang dulu menghancurkan planet kita! Jadi kita tidak boleh gegabah dan ambil resiko atas itu!” ucapnya tegas.
“Tapi Ketua?”
“Tidak ada tapi-tapian! Kita tidak tahu detektor seperti apa yang terdapat pada anak itu! Jika satu saja bagian tubuhnya dapat membawa bahaya bagi bumi, maka sudah dipastikan bumi tak akan lagi selamat!” tiba-tiba suaranya meninggi, kemudian ia memicingkan matanya setelah itu menatap Mynhemeni dengan tajam.
“Kita harus menemukan jawaban dari anak itu! Jangan biarkan anak itu mati! Dan jangan biarkan anak itu bebas! Dan pastikan jangan sampai berita mengenai anak itu terdengar oleh divisi lain, terutama oleh pusat!!” jelasnya, kemudian ia berdiri dan berjalan pelan memutari ruang kerjanya.
Lalu melanjutkan perkatannya.
“Selama ini kita sudah membiarkan mahluk seperti itu berada di daratan bumi. Terlebih, anak itu ditemukan di wilayah kita. Walaupun ini bukan kesalahan kita, tapi selama ini tugas kita adalah memastikan bumi dan isinya harus selalu aman dari serangan planet lain. Tidak ada satupun mahluk dari planet lain yang dapat menginjakkan kaki di planet ini! Kalau Baginda Raja mengetahui tentang mahluk ini, kita semua pasti akan dihukum mati!” ucapnya geram, kemudian ia menggeleng kepalanya
“Tidak!” ia mengoreksi lalu berucap pelan seakan-akan ada yang lebih menakutkan dari pada kematian.
“Baginda Raja pasti akan mengambil jiwa kita! Jadi jangan gegabah dan tetap pastikan kalian mendapatkan jawaban dari anak itu! Bagaimanapun caranya! Kita harus tahu dari mana dia berasal dan tujuannya datang ke planet ini! Jangan sampai kejadian berpuluh ribu tahun lalu terjadi lagi di Bumi...” serunya lalu berhenti tepat di depan gadis tersebut.
“Sekarang kamu kembali, lakukan apapun demi mendapatkan jawaban darinya. Dan jangan sekali-kali kalian berusaha mengambil bagian tubuhnya untuk menjalankan uji DNA!” ucap sang ketua sembari melingkarkan kedua tangannya kebelakang dan berjalan menuju meja kerjanya.
Mynhemeni segera berdiri, menundukkan badannya begitu sang ketua duduk di kursinya sambil menyilangkan tangan kanannya ke bahu kiri. Lalu melangkah dengan langkah cepat keluar menuju dinding tempat ia masuk. Tak lama dinding itu kembali membuat lubang besar, dan memaparkan sekatan gelombang kembali, sekali lagi ia melangkah melewati gelombang yang akan membawanya keluar dari ruangan tersebut.
Namun, ketika gelombang tersebut membelah tubuhnya, sehingga sebagian tubuhnya berada di luar ruangan dan sebagian lainnya masih menjejaki ruangan itu tiba-tiba langkahnya terhenti oleh suara peringatan yang tersiar di seluruh ruangan itu.
“Apa itu?” tanya Thungsiruv kaget kemudian beranjak cepat dari tempat duduk meja kerjanya. Dengan tergesa-gesa ia menghampiri Mynhemeni yang kembali memundurkan tubuhnya dan berbalik panik, ia kemudian mengerjapkan matanya dan tiba-tiba muncul proyeksi pria bertubuh besar dengan status analis tingkat tiga dihadapannya. Terlihat dari wajahnya yang nyaris tertutupi oleh rambut hitam keriting nan tebal, menyiratkan air muka yang memancarkan ketakutan, kepanikan, kecemasan dan juga ketidakyakinan.
“Apa yang terjadi?” tanya Mynhemeni padanya sambil berjalan menuju Thungsiruv yang juga berjalan cepat ke arahnya.
“Maaf Ketua!” katanya begitu proyeksi tubuhnya diapit oleh Mynhemeni dan Thungsiruv.
“Anak remaja yang kita kurung di ruangan khusus tiba-tiba kabur,” jelasnya tanpa berani memandang mereka.