04. Mynhemeni

1816 Kata
Cahaya transparan dengan proyeksi gambar menampilkan adegan Cakra yang baru saja terjatuh lemas, seorang pria dengan tubuh besar, berwajah sadis dengan tato seperti bekas luka berbentuk garis sepanjang lima sentimeter dan lebar satu senti meter, yang dikelilingi rambut tebal hitam pekat nan keriting, mencoba menganalisa semua pergerakkan tubuh Cakra berikut kalimat yang keluar dari mulutnya.  "Apakah anak itu benar-benar manusia darat?" ucapnya lirih.  Ia teryakinkan bahwa apa yang dikatakan Cakra bukanlah suatu kebohongan.  Pria tersebut berada di sebuah ruangan berbentuk segi enam dengan luas tujuh meter persegi bersama lima orang lainnya yang merupakan rekan kerjanya. Ruangan itu gelap dan terang secara bersamaan, tergantung siapa saja yang mengininkan bagaima suasana cahaya di ruangan itu tercipta.  Masing-masing dari mereka menghadap pada proyeksi gambar bergerak yang dihasilkan cahaya transaparan tersebut, cahaya itu selalu mengikuti kemana arah pandang mereka, seakan seperti anak anjing yang selalu mengikuti kemana tuannya pergi, minta diperhatikan.  Ukuran dari cahaya tersebut juga beragam, dengan tampilan gambar bergerak yang berbeda-beda. Ada yang memperhatikan seekor binatang seperti ikan dengan ekor buaya, ada pula yang memperhatikan proyeksi gambar bangunan indah nampak futuristik yang berada di atas karang mengambang tanpa adanya permukaan. Serta, beberapa bangunan tak kalah indahnya yang menyatu dengan tebing bebatuan.  Sungguh pemandangan yang ditampilkan oleh proyeksi gambar tersebut bukanlah pemandangan yang biasa akan ditemui di bumi belahan manapun.  Terlihat semuanya tampak serius memperhatikan proyeksi gambar. Bahkan proyeksi tersebut tidak hanya menampilkan pada satu sisi saja dari sebuah objek melainkan seluruh sudut dapat diamati, layaknya hologram empat dimensi dengan resolusi yang sangat jernih, bahkan lebih jernih dari pada pandangan manusia, dan anehnya proyeksi tersebut hadir tanpa adanya alat yang memancarkannya.  Adapun adegan dalam setiap proyeksi itu dapat berubah otomatis sesuai kehendak orang yang dihadapannya, tanpa harus mengoperasikannya, seakan-akan cahaya gambar bergerak itu terhubung langsung dengan pemikiran orang-orang di hadapannya.  Pria dengan tubuh besar itu masih memperhatikan Cakra dari segala sudut dengan adegan yang silih berganti, seolah-olah seluruh kejadian interogasi kilat yang dialami Cakra merupakan tayangan sebuah film yang dapat dimaju-mundurkan sesuka hati.  Bebarapa kali ia menggosok hidungnya sambil menggelengkan kepala seakan tidak percaya dengan pemikirannya sendiri, hingga ia dikejutkan oleh suara berat yang tiba-tiba menepuknya.  “Gimana? Sudah bisa kamu analisa?” suara tersebut berasal dari seorang wanita yang tampak seperti baru memasuki usia dua puluh tahun.  Wajahnya oval dengan dagu sedikit runcing, kulitnya secerah mutiara, bibirnya tipis bergelombang menampilan sisi seksi dari wajahnya yang tampak polos, matanya bulat dihiasa bulu mata lentik panjang tebal seakan terbubuhi maskara berkali-kali. Rambutnya yang perak secerah kulitnya nampak tipis namun rimbun terurai.  Ia mengenakan pakaian yang tidak begitu berbeda dengan pria bertubuh besar, yaitu balutan busana biru tua yang terbuat dari semacam plastik, busana itu seakan menempel pada tubuhnya namun masih memberikan sedikit ruang bagi setiap kulitnya untuk bernafas, busana itu juga seperti tidak ada kancing seakan baju tersebut dapat terpasang dan terlepas dari tubuh penggunanya secara otomatis.  Namun yang membedakan dari busana wanita berkulit cerah dengan pria bertubuh besar adalah tulisan pada proyeksi layar berukuran lima inci yang terdapat pada bagian tengah namun tidak menyatu dengan busana.  Layar itu seperti mengambang tiga senitemeter di depan diafragma mereka, menampilkan identitas sang wanita sebagai Komandan Analis Distrik Nor Tingkat Satu. Sedangkan pada layar identitas sang pria bertuliskan Analis Tingkat Tiga Distrik Nor. “Bebelum komandan!” jawab pria bertubuh besar sedikit terbata-bata, terkejut dengan kehadiran sang komandan secara tiba-tiba. “Aneh... sejauh ini apa pendapatmu?” ucap wanita itu sambil menyentuh cahaya tersebut, adegan semula menampakkan Cakra memberontak mencoba melepaskan rantai yang mengikat pergelangan tangannya kini berubah menjadi adegan saat Cakra menghantam karang, dan karang tersebut seketika larut dalam ombak.  Selang berapa detik adegan berganti menjadi siluet seseorang dengan kepala bertanduk rusa yang berkobar serta memegang sabit panjang. “Biasanya manusia melihat sesosok perempuan dengan pakaian berwarna hijaukan?” tanya si komandan memastikan tanpa menoleh kepada pria bertubuh besar, wajahnya masih sibuk menganalisa dari setiap pancaran gambar yang diproyeksikan oleh cahaya tersebut. “Betul komandan!” jawabnya penuh yakin. “Apa istilah mereka kok saya lupa…” ia berusaha mengingat. “Ada yang menyebut mereka Kanjeng Ratu Kidul, ada juga yang bilang Nyi Roro Kidul dan ada juga yang memanggil kita dengan sebutan Nyai Roro Kidul, Pokoknya… Semua manusia yang hanyut dan berhasil kita selamatkan di wilayah lima belas derajat koma tiga puluh Nor Utara akan melihat proyeksi wanita cantik berpakaian hijau, kadang mereka juga melihat wanita itu berada di kereta kencana Komandan!” jelas sang pria bertubuh besar.  Ia tersenyum seakan berhasil membuat sang komandan terkenas. ia pun kemudian melanjutkan setelah sang komdan hanya mengangguk.  “Tapi yang dilihat oleh anak itu berbeda, hampir mendekati penampilan kita saat berpatroli, bahkan dia juga melihat jelas kapal kita. Makanya Letnan Rihum membawanya ke kantor, karena anak ini bukan manusia pada umumnya. Ada indikasi bahwa anak ini bukan dari planet Bumi!” jelas sang pria tubuh besar secara detail yang tentunya sudah diketahui olehnya. “Jadi tak ada satupun kalimat yang keluar dari mulut anak itu?” tanyanya kembali masih memperhatikan layar proyeksi itu berharap ada yang dapat ia temukan darinya. “Tidak ada komandan! Coba perhatikan ini Komandan!” pria itu lalu mengambil alih layar tersebut lalu menunjukkan anomali yang terjadi pada tubuh Cakra ketika ia tertabrak terumbu karang. “Terumbu karangnya pecah! Dan dia bernapas Komandan…. Dia dapat bernapas di dalam air….! Dan lihat ini!” ditunjuknya lengan Cakra yang seketika pulih dari sobekan yang diakibatkan dirinya terhantam terumbu karang. “Dia bisa menyembuhkan diri sendiri dalam waktu yang sangat singkat tanpa bantuan medis Komandan!” serunya takjub. “Teknologi medis kita saja tak sampai sesingkat itu! Dan setahu saya hanya di film-film mereka saja manusia darat mempunyai kekuatan menyembuhkan diri, saya yakin anak itu bukan dari bumi Komandan!” “Iya saya paham itu!” “Kenapa kita tidak boleh mengambil sampelnya Komandan? Tentu mudah mencari asal-usulnya dengan proyeksi DNA!” “Kamu lupa kata saya tadi? Ketua melarang kita menggunakan proyeksi DNA, kita tidak tahu mahluk apa dia, dan kita tidak tahu dalam tubuhnya membawa detektor apa! Satu-satunya yang bisa kita lakukan hanyalah memantau dan menginterogasinya!” “Tapi bagaimana jika anak itu bersikeras Komandan? Apa langkah selanjutnya?” “Untuk itu saya juga belum tahu, Ketua masih memikirkan langkah selanjutnya, saya akan menemui beliau, kamu coba analisa lagi, gali terus memorinya sampai kamu bisa menemukan jawaban asal-usul mahluk itu!” “Sudah saya coba komandan, seperti yang saya bilang, kita tidak dapat mengetahui ingatan anak itu lebih jauh, sepertinya anak itu tahu kita mengusik ingatannya. Tiba-tiba saja dia seperti menghalangi kita untuk masuk lebih jauh ke dalam ingatannya, ini bukti lainnya kalau anak itu bukan manusia dari planet bumi komandan!” “Tapi kita juga tidak tahu apakah dia berbahaya atau tidak! Jangan sampai kita lengah, jangan sampai gara-gara rasa penasaran kita membuat planet ini hancur seperti planet kita beribu tahun yang lalu..." komandan cantik itu tiba-tiba menaikkan volume suaranya.  Sebenarnya kalimat itu ia tekankan pada dirinya.  Rasa penasaran akan Cakra membuatnya ingin menggunakan metode lain yang langsung ditolak oleh Ketua distrik Nor, pemimpin sekaligus kepala pemerintahan distrik Nor. Kota kecil yang terletak tak jauh dari tempat Cakra terdampar.  Sejak pertama kali rekannya Letnan Rihum membawa Cakra ke kantor keamanan manusia darat yang berjarak tak lebih dari tiga kilometer dari kantornya di Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor, seluruh kantor keamanan heran mendapati Cakra yang masih bernyawa setelah dihantam ombak ke karang keras dan tajam secara bertubi-tubi.  Letnan Rihum serta rekannya yang juga saksi bagaimana mereka melihat Cakra menghancurkan karang membuat mereka langsung heboh, hingga komandan kantor keamanan manusia daratpun menghubungi pemimpin distrik mereka. Mereka pun membawa Cakra ke Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor dan membuatkan penjara khusus baginya. Karena, tak ada tempat yang lebih aman untuk ancaman dunia luar selain tempat dimana Ketua berada. Kantor keamanan yang sempat geger diminta Ketua untuk tutup mulut, bahkan mereka terancam dengan kurungan penjara apabila kabar Cakra diketahui lebih banyak orang.  "Apa sebaiknya kita minta bantuan pusat Komandan?"  "Kamu tidak dengar penjelasan saya, saat pengarahan? Tidak ada siapapun yang boleh mengetahui kehadiran anak ini, apalagi pusat!" ingat Sang Komandan memicingkan matanya ke petugas tersebut. Ia sampai harus menekankan ucapannya pada kata pusat.  Saat ini hanya dua tempat yang mengetahui mengenai Cakra, yaitu Kantor Keamanan Manusia Darat, serta Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor. Dimana, anggota kantor keamanan manusia darat yang mengetahui keberadaan Cakra adalah komandan kantor keamanan manusia, Letnan Rihum dan dua anggotanya. Serta lima orang lainnya yang merupakan kerabat serta teman kerja Letnan Rihum.  Sedangkan untuk anggota penghuni gedung pusat pemerintahan distrik Nor adalah Ketua Distirik Nor, Komandan Satuan Keamanan Distrik Nor Tingkat Satu beserta seluruh analis yang berada dibawahnya yang berjumlah enam orang termasuk pria bertubuh besar, berikut para penjaga yang mengawasi Cakra berjumlah delapan orang.  "Tapi manusia darat tidak akan mampu bertahan dengan kondisi hanyut seperti itu Komandan, dan entah kenapa saya merasa bahwa anak itu berkata benar!" Sejatinya mereka tak perlu menyembunyikan perihal Cakra bila Cakra tidak mempunyai kemampuan menyembuhkan diri tanpa bantuan alat medis yang melekat. Atau, kemampuan yang dapat menghancurkan terumbu karang yang tak sengaja terhantam olehnya akibat sapuan ombak.  Karena sudah sering mereka membawa manusia darat untuk mereka selamatkan bila sang manusia darat masih utuh, atau masih bernyawa. Bahkan, manusia darat yang tubuhnya sudah hancurpun kadang mereka bawa ke tempat mereka kemudian para petugas dari satuan wilayah setempat akan menyatukan kembali jasad manusia yang hanyut itu.  Hal itu terjadi karena, setiap daerah di lautan bumi terdapat distrik-distrik bangsa Porkah yang senantiasa membantu manusia bila mereka tenggelam ataupun terjadi kecelakaan. Disaat mereka rasa manusia sudah pulih ataupun jasad manusia yang hanyut sudah dapat disatukan kembali. Mereka akan mengembalikan manusia darat tersebut ke tempat yang lebih aman, agar dapat ditemukan oleh manusia lainnya. Seperti yang mereka lakukan terhadap teman-teman Cakra yang baru saja hanyut bersamanya. Namun untuk kasus Cakra mereka tak dapat mengembalikannya ke daratan walaupun Cakra sudah siuman, mereka tak tahu mahluk apa sebenarnya Cakra, mereka juga sangsi Cakra adalah salah satu dari mereka. Karena seluruh data warga Porkah terekam dengan rapi, dan sudah dipastikan tidak ada data mengenai Cakra pada sistem kependudukan bangsa Porkah. Untuk itu mereka berusaha menyelidiki ingatan Cakra, namun ingatan terjauh yang dapat mereka dapatkan berkat tekonologi mereka adalah disaat Cakra terombang-ambing di lautan. "Jangan mencoba berspekulasi tanpa data nyata!" ucapnya masih berdiri di hadapan proyeksi Cakra. Sang Komandan kemudian menghela napas, ia geram tak dapat bertindak jauh, ia bingung bagaimana cara untuk mendapatkan iformasi mengenai Cakra selain dari Cakra sendiri. Walaupun Ketua Distrik Nor tidak menyuruhnya untuk mendapatkan informasi tersebut dengan segera, namun ketidak berdayaannya membuat ia kecewa akan dirinya sendiri.  Terbesit keinginannya untuk melakukan proyeksi DNA agar teka teki ini segera terpecahkan.  "Kamu coba lagi gali memorinya lebih jauh... Jangan coba-coba berspekulasi tanpa bukti! Saya akan mendiskusikan kembali dengan Ketua, mungkin kita harus melakukan proyeksi DNA! " dengan yakin sang komandan cantik berlalu mundur dan menyuruh pria tubuh besar untuk mengambil alih komando proyeksi Cakra.  Ia memutuskan untuk harus bertemu sekali lagi dengan Sang Ketua, menyarankan agar melakukan proyeksi DNA terhadap Cakra   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN