Chapter 7

1211 Kata
Beth terbangun dengan wajah yang berseri. Bahkan ia kini masih setia memandang wajah lelaki yang masih terlelap disampingnya. Jari Beth menyentuh wajah lelaki itu, hingga membuatnya terusik dan membuka matanya. "Kau sudah puas melihat wajah tampanku?" ujar Rick dengan suara khasnya. "Aku tak akan pernah puas jika hanya memandang wajahmu, Rick." Rick beranjak dari ranjang lalu menuju kamar mandi. Rick mengusap wajahnya kasar. Jantungnya berdegub begitu kencang saat menatap wajah Beth. Perasaan Rick sangat kacau untuk saat ini, ia menepis semua yang membuatnya jatuh hati pada wanita cantik berdarah perancis itu. "Sial!" umpat Rick. Ia melanjutkan kegiatan membersihkan dirinya. Hingga lima belas menit lamanya. Setelah itu, Rick keluar mengenakan handuk yang hanya menutup setengah tubuh atletisnya. Ia berjalan menuju walk in closet disamping kamar mandi. "Apa kau ada jadwal hari ini?" tanya Beth yang kini beranjak dari ranjang tanpa mengenakan sehelai benangpun. Ya, sejak kejadian semalam Beth tidak mengenakan pakaiannya kembali. "Tidak ada, mungkin aku hanya akan dimansion. Apa kau ada meeting hari ini?" tanya Rick yang kini mengenakan kaos tipis dengan celana pendek. "Entahlah, aku belum memeriksa jadwal hari ini. Apa kau ingin menemaniku?" "Kemana?" "Meeting, jika ada,"jawab Beth asal. "Baiklah, akan kutemani." Tentu, Rick dengan senang hati menerima tawaran Beth untuk menemaninya saat meeting. Karena hal itu sungguh menguntungkan bagi Rick. Kini giliran Beth masuk kedalam kamar mandi. Ia membersihkan dirinya dari sisa sentuhan Rick semalam. Meski hanya foreplay, tetapi Beth menikmatinya. "Aku akan membuatmu mencintaiku, Rick." gumam Beth didepan kaca yang ada didalam kamar mandinya. Beth membersihkan dirinya, ia melakukan beberapa perawatan tubuh, seperti body scrub dan lainnya. Bahkan air didalam bath up-nya berisi air s**u yang melembutkan kulit tubuhnya. Setelah mengahabiskan waktu selama tiga puluh menit didalam kamar mandi. Beth keluar mengenakan handuk yang menutup bagian d**a hingga pahanya. Saat keluar dari kamar mandi, Beth melihat Rick yang tengah sibuk melihat layar ponselnya dan duduk di sofa. Beth melanjutkan langkahnya masuk kedalam walk in closet. Ia memilih sebuah dress panjang tanpa lengan, dengan motif bunga berwarna orange. Nampak belahan d**a Beth yang begitu menggoda. Rick yang sekilas melihat penampilan Beth, kini ia kesulitan menelan salivanya. Rick terlihat sedikit salah tingkah melihat Beth yang berjalan mendekatinya. "Rick, mari kita sarapan," ajak Beth yang kini berjalan menuju pintu. Tanpa menjawab, Rick berdiri dari posisinya. Ia berjalan mengekor pada Beth hingga sampai diruang makan. Tanpa perlu bersuara, para asisten rumah tangga kini tengah menghidangkan makanan diatas meja. Rick mulai terbiasa tinggal di mansion kekuarga Evacska. Ia juga mulai terbiasa dengan Beth. Hanya dentuman sendok dan piring yang terdengar, saat mereka sedang menyuapkan makanan kedalam mulut masing-masing. Begitu selesai, Beth mulai bersuara. "Kau ingin pergi kemana hari ini?" tanya Beth "Kenapa kau bertanya lagi? Sudah kubilang jika tidak ada jadwal hari ini!" "Aku juga tidak ada jadwal hari ini, Rick. Bagaimana jika kita pergi berlibur?" "Kau ingin pergi kemana?" "Bagaimana jika kita pergi ke taman hiburan?" "Kau gila? Disana sangat ramai, banyak orang yang akan mengenaliku tentunya." "Kau cukup berdanda seperti ini, jangan mencolok atau menarik perhatian orang lain," ujar Beth menjelaskan. "Haaaah ... kau memang wanita yang keras kepala, baiklah jika itu maumu." Rick menghela napas kasar, ia tak bisa berpikir lagi jika wanita dihadapannya sedang menginginkan sesuatu. Beth tergolong orang yang sangat ambisius dan egois. Ia tak memikirkan orang lain yang terkena dampak dari perbuatannya. *** Kini mereka berada di sebuah taman hiburan. Beth sedikit berlari sembari menggandeng Rick. Awalnya Rick sangat malas untuk pergi ketempat ramai seperti taman hiburan. Jika bukan karena Beth yang bersikeras, Rick pasti tak akan mau ketempat itu. "Ayolah Rick! Jangan seperti itu. Sesekali kau harus menikmati hidup dengan seperti ini," ujar Beth. Entah sejak kapan wanita itu sudah memegang sebuah gula-gula berwarna biru. Ia memakannya sedikit demi sedikit. Sesekali ia juga menyuapi Rick, meski sudah menolak, Beth tetap memaksa Rick untuk mencobanya. Pada akhirnya lelaki itu luluh dengan sikap kekanakan Beth. "Aku ingin naik biang lala!" ujar Beth. "Kau saja, aku akan menunggumu disini." "Tidak! Kau juga harus ikut!" Beth menarik tangan Rick sedikit kasar, hingga lelaki itu akhirnya mau mengikutinya untuk naik pada permainan itu. Rick mendengus kesal, ia berpikir untuk menurut saja kali ini. Karena Beth akan semakin memaksa jika ia menolak. "Lihatlah, Rick! Pemandangannya sangat indah dari atas sini." "Ya," jawab Rick malas. Saat posisi mereka berada dibagian atas, tiba-tiba saja mesinnya mati. Beth dan Rick sedikit panik, tubuh Beth bergetar wajahnya menjadi pucat. Rick yang melihat hal itu menjadi khawatir. Ia menarik tangan Beth untuk duduk disampingnya. Rick memeluk Beth, berharap wanita itu akan baik-baik saja setelah ini. "Kau baik-baik saja?" tanya Rick pada Beth. "Entahlah, aku sedikit takut jika membayangkan sesuatu yang akan terjadi jika -" ucapannya terhenti. Rick tengah melumat bibir Beth, perlahan lumatan itu membuat tubuh mereka semakin b*******h. Beth tentu dengan senang hati membalas ciuman yang dilakukan Rick. Lidah Rick menjulur menyusuri rongga mulut dan saling bertukar saliva. Tangan Rick mulai menyusup kedalam pakaian Beth lalu meremas b*******a yang kini mengeras. "Ehm," desah Beth tertahan saat salah satu payudaranya tersentuh oleh tangan Rick. Cukup lama mereka berciuman hingga mesin pada permainan itu menyala kembali. Mereka kembali pada posisinya, duduk saling berhadapan. Mata mereka tak berani saling menatap, meski sesekali tanpa sengaja mata mereka saling bertemu. Setelah selesai dengan permainan itu, Beth menarik tangan Rick lagi. Kali ini ia ingin masuk kedalam rumah hantu. "Aku sudah membeli tiketnya, ayo kita masuk," ujar Beth sembari menarik masuk tangan Rick kedalam ruangan gelap tanpa cahaya itu. Mereka berjalan menyusuri jalanan setapak yang gelap tanpa penerangan. Sesekali ada sosok yang keluar untuk mengejutkan mereka. Tentu hal itu menguntungkan bagi Beth, ia bisa dengan sengaja memeluk dan berlindung pada tubuh kekar milik Rick. "Aarrghh!" teriak Beth saat ada yang membuatnya terkejut. "Ayolah, semua yang ada disini tidak nyata!" ujar Rick yang sedikit kesal. "Meskipun tidak nyata, tetapi mereka membuatku terkejut." "Dasar wanita!" celetuk Rick. "Dasar lelaki dingin!" balas Beth dengan melirik iris biru milik Rick. Lelaki itu hanya berdecak kesal, lalu ia melanjutkan langkahnya untuk segera keluar dari permainan bodoh yang membuatnya terjebak dengan wanita gila. Setelah berhasil keluar dari rumah hantu, mereka memutuskan untuk duduk di sebuah bangku. Beth merengek meminta ice cream pada Rick. "Tunggu disini! Akan kubelikan." Rick beranjak menuju penjul ice creame. Ia membeli dua cone ice cream untuknya dan Beth. "Ini," sembari memberikn satu cone ice cream rasa vanila dan cokelat pada Beth. Beth tersenyum senang, tiba-tiba saja ia mencium pipi Rick lalu mengucapkan terima kasih. Tentu hal itu membuat Rick terpaku, ia tak pernah merasakn hal ini sebelumnya. Bahkan selama bersama Pedro, Rick tidak pernah merasa degup jantungnya berpacu seperti sekarang. Seakan ia sedang berlari mengejar sesuatu. Malam semakin petang, Rick memaksa Beth untuk mengakhiri kegiatannya. Rick ingin segera pulang dan merebahkan diri diatas ranjang empuk di mansion Evacska. "Aku sangat senang, terima kasih sudah menemaniku hari ini," ujar Beth pada Rick. "Ya," jawab Rick singkat. Mobil mereka melaju hingga sampai didepan mansion. Selama perjalanan Beth tertidur pulas, dan saat sampai pun ia tak kunjung membuka mata. Rick yang melihat Greg akan menggendong Beth, tiba-tiba saja menyelanya. "Biar aku saja yang membawanya kekamar," ujar Rick. "Baiklah, silakan Tuan." Akhirnya Rick menggendong Beth masuk kedalam kamar mereka. Ia merebahkan tubuh Beth diatas ranjang dengan perlahan. Rick takut jika Beth membuka matanya, m ia sedang berusaha dengan keras menahan diri agar tidak menyerang wanita itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN