Dua puluh menit berlalu, Devan datang diikuti oleh ambulans. Dokter itu kemudian menghampiri Kirana yang sedang duduk tertunduk memandangi suaminya yang terkapar. “Astaga!” Devan tak menyangka kondisi Bima akan separah itu. Segera ia meminta bantuan rekan medis untuk membawa Bima ke ambulans. “Kirana, gimana kondisi lo? Pusing juga? Lemes? Mual?” Devan sibuk memeriksa kondisi Kirana yang berantakan. Tangannya terulur untuk mengecek suhu di kening Kirana, kemudian memeriksa kelopak bawah mata ibu hamil muda itu. “Kita ke rumah sakit, yah.” Kirana hanya mengangguk lemas, ia pun pasrah saat Devan memapah langkahnya menuju mobil. Sepanjang perjalanan mendengar sirine ambulans, hati Kirana semakin remuk, pikiran buruk kini menghantuinya. Tak henti-hentinya ia menangis, bahkan hidungnya

