“Aku mau cerai!”
Bima masih mencerna kalimat Kirana, “kamu kenapa sih, Sayang? Kok tiba-tiba ngomong begitu?”
Mulut ibu hamil muda itu kembali terkunci rapat, Bima semakin dibuat penasaran.
“Aku nggak ngerti sebelum ini kamu habis ngapain, habis nonton drakor apa atau habis mimpi apa sampai tiba-tiba minta cerai, yang jelas kita nggak akan pisah. Sampai kapan pun.”
Kirana akan menarik tangan kirinya yang bebas dari infus untuk menjauh, tapi kalah cepat karena suaminya sudah mengenggam jemarinya, erat. Perempuan berlesung pipi itu menoleh ke kiri dan mendapati Bima sedang tersenyum manis, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
“Aku mau cerai, Mas!”
Lagi, Kirana mengulang kalimatnya. Bima hanya menggeleng.
“Aku nggak sudi hidup bersama seorang pembohong dan pengkhianat!”
Seketika Kirana menarik tangannya dari kungkungan jemari Bima. Laki-laki berjambang tipis itu menarik napas dalam, sebelum terdiam.
“Aku nggak akan rela anakku tinggal sama seorang ayah yang pembohong dan pengkhianat!”
Mendadak Bima merasa dikuliti, netra Kirana menyorot tajam bak belati yang menghunus ke ulu hati.
“Aku tahu kamu nggak training di Bandung. Selama ini kamu masih ada di kota ini, iya kan? Tega kamu bohongin aku, Mas!”
“Hh … Kiran, bisa aku jelasin. Kemarin ak-“
“Nggak perlu! Aku udah tahu semuanya.”
Sekuat tenaga Kirana menahan cairan di pelupuk matanya agar tak kembali luruh. Ia tak mau terlihat lemah di depan Bima.
“Siapa Rani?”
Kirana bisa melihat perubahan air muka suaminya saat mendengar nama perempuan yang sering berbagi kata mesra dengan Bima. Bak maling yang tertangkap basah, suami Kirana hanya bisa menelan ludah dan menunduk.
“Sejak kapan, Mas?”
Perempuan berambut lurus itu memulai interogasinya, ia ingin mendengar jawaban jujur dari sang suami tercinta.
“Jawab, Mas!”
Bima memijat keningnya sebelum berkata, “aku … minta maaf, Sayang. Aku khilaf.”
Kirana menggeleng tak percaya mendengar jawaban suaminya yang mengisyaratkan kebenaran atas semua bukti-bukti yang ia lihat.
“Kenapa, Mas?”
Manik cokelat itu sudah mulai berkabut, satu kedipan berhasil meneteskan cairan bening yang sedari tadi sudah Kirana tahan.
“Iya, aku akui aku salah, aku udah jahat sama kamu, Kirana. Please … maafin aku.”
Bima berusaha mengusap bulir air mata di pipi Kirana tapi lagi-lagi tangannya ditepis, “jangan sentuh aku! Aku jijik sama kamu, Mas!”
Suami Kirana itu kini hanya bisa terduduk lesu di kursi samping brankar. Rasanya penjelasan apapun tak akan berguna bagi Kirana saat ini. Dalam hati Bima menyesali kecerobohannya sendiri yang lupa menghapus riwayat pesan Rani, dan lupa memberi tahu perempuan mudanya untuk tak menghubunginya jika sedang di rumah.
“Pulang dari rumah sakit, aku mau tinggal di rumah Mama.”
“Kiran, Sayang … kamu 'kan lagi hamil. Sebaiknya kamu di rumah, Sayang.”
“Justru karena aku lagi hamil. Aku mau nenangin diri, aku nggak mau ketemu kamu sampai proses perceraian kita selesai.”
“Tapi, Ki-“
“Bukannya kamu seneng kalau aku nggak ada, biar kamu bebas ngelakuin apa aja sama perempuan itu!”
“Sayang, please … aku minta maaf, aku janji ini yang terakhir. Aku akan selesaikan masalahku sama Rani.”
Kirana menggeleng lalu membuang muka, “bukan urusanku lagi, Mas!”
Bima menghela napas berat, seberat kesalahannya yang tak lagi bisa diampuni oleh Kirana.
*****
Setelah tiga hari tiga malam berbaring di brangkar perawatan, Kirana kini diperbolehkan pulang karena kondisi janin dan ibu hamil sudah stabil. Namun, dokter tetap merekomendasikan Kirana untuk istirahat total dari semua aktifitas berat. Selama tiga hari itu pula Kirana mendiamkan Bima.
“Sebisa mungkin kondisi Ibu Kirana dijaga ya, Pak. Kalau bisa selalu dampingi istri Bapak, beri support terus dan diingatkan buat selalu minum vitamin dan asam folatnya.”
Bima mengangguk-angguk penjelasan dokter saat visit terakhir. Kirana sedang dibantu suster untuk melepas jarum infus.
“Sama satu lagi, jangan sampai Ibu Kirana stres dan banyak pikiran. Karena itu juga bisa dirasain oleh janin loh.”
“Baik, dok.” Bima melirik istrinya, tapi Kirana segera melengos.
Dokter kemudian berpamitan, disusul oleh perawat yang menutup pintu kamar. Kini menyisakan dua insan yang saling membisu. Berkali-kali Bima mencoba membujuk Kirana, tapi perempuan berkulit kuning langsat itu masih enggan bicara pada ayah dari janin yang di kandungnya.
“Anterin aku ke rumah Mama, Mas.”
“Sayang … kondisi kamu masih lemes, kamu nanti kecapekan perjalanan jauh.”
Kirana menggeleng, keputusannya sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat. Mulai hari ini ia akan kembali pada orang tuanya. Dan tak mau lagi kembali ke rumah bersama Bima.
Perempuan yang bekerja sebagai public relation itu memang belum menceritakan kepada keluarga besar perihal nasib rumah tangganya. Tapi Kirana yakin, keluarga pasti akan mengerti dan menerimanya kembali dengan lapang d**a.
Apalagi jika ayahnya sampai tahu putri kesayangannya disakiti. Bungsu dari tiga bersaudara itu yakin ayahnya tak akan rela membiarkan dirinya tersiksa dalam pengkhianatan.
“Kiran, aku mohon beri aku kesempatan kedua. Aku janji akan perbaiki semua, please …” Bima sudah berlutut dan memohon pada istrinya.
Tapi Kirana tetap bergeming, rasa cintanya telah habis bersamaan dengan hatinya yang mulai mati rasa. Bahkan air matanya kini sudah mengering tak tersisa.
Cukup bagi Kirana menangisi lelaki yang ia harap akan mendampinginya selamanya, tapi kini justru telah mematahkan hatinya dan merusak kepercayaanya.
“Semoga kamu nggak hilang ingatan kalau aku pernah bilang tentang dua kesalahan yang nggak akan bisa aku maafin, Mas. Semoga kamu nggak lupa kalau aku paling nggak bisa menerima sebuah pengkhianatan!”
Kirana mundur satu langkah dan menjauh dari suaminya yang masih berlutut.
“Iya, aku inget,” ucap Bima lirih.
"Baguslah!" Kirana menjawab ketus.
Kini Bima tak ada pilihan lain selain mengantar istrinya pulang ke rumah orang tuanya yang berada di pinggiran kota. Karena Kirana bersikeras akan pulang sendiri menggunakan kendaraan umum jika suaminya itu tak mau mengantar.
Sepanjang perjalanan 90 menit yang ditemani siraman hujan, dua insan yang pernah berjanji menua bersama itu tetap tak saling bicara. Keduanya tenggelam dalam lautan angan masing-masing. Kirana sibuk dengan pikirannya untuk kembali menata ulang hati dan hidupnya pasca berpisah dengan Bima nanti.
Sedangkan Bima sibuk dengan cara bagaimana kembali meluluhkan hati istrinya. Bagaimana pun lelaki tinggi itu tak akan membiarkan palu hakim memisahkan mereka. Ia sadar atas kesalahannya telah mendua, tapi tak ada niatan sedikit pun dalam benaknya untuk menggantikan posisi Kirana dengan Rani.
Karena bagi seorang Bima, Rani hanya lah sebuah pembuktian bagi jati dirinya sebagai lelaki di depan para kaumnya yang membuat tantangan konyol untuk menaklukan perempuan muda yang masih berstatus mahasiswi itu.
Awalnya Bima hanya iseng menerima tantangan dari teman sekantornya untuk menaklukan seorang Rani yang menurut mereka adalah perempuan muda yang dingin dan angkuh, meski berprofesi sebagai seorang pamandu lagu di sebuah tempat karaoke malam.
Menurut temannya, para tamu karaoke belum ada yang berhasil berkencan dengan perempuan berambut kecoklatan itu.
Maka sebagai mantan pemain band yang biasa dikelilingi perempuan cantik yang berteriak histeris dengan tatapan memuja, jiwa lelaki seorang Bima Yudha Pranata merasa tertantang untuk mencoba pertaruhan bodoh yang kini akan ia sesali seumur hidup.
Tanpa diduga, hanya dalam tiga kali pertemuan dan jalan bersama, Bima berhasil membuat seorang Rani takluk dan bertekuk lutut dalam arti sebenarnya. Suami Kirana itu akhirnya kalah dan menyerah pada godaan perempuan malam itu dan merobek janji sucinya terdahulu di hadapan ribuan malaikat saat terucap kata akad.