Sepi Sendiri

1429 Kata
Satu tamparan keras membuat pipi kiri Bima terasa pedas. Laki-laki jangkung itu hanya diam terpaku, seolah pasrah menerima hukuman dari sang istri. “Pulang kamu, Mas! Pergi!” Kirana menunjuk ke arah pintu. “Kiran …” “STOP! Diem di situ!” Bima terpaksa menghentikan langkahnya. "Aku nggak mau lihat kamu lagi, Mas! Sekarang kamu pergi dan silakan temuin perempuan itu lagi!" "Kirana, please ...kasih aku kesempatan buat jelasin." Kirana menggeleng. "Aku nggak ada niatan buat selingkuh. Aku cuma iseng ikut tantangan anak-anak kantor." Kalimat Bima justru semakin memancing emosi Kirana. Mata beningnya membulat memancarkan amarah. "Apa kamu bilang? Iseng? Tantangan? Hh! Segampang itu kamu bilang iseng?" Kirana menggeleng tak percaya mendengar penjelasan Bima. Laki-laki berjambang tipis itu hanya bisa mengangguk lemah. “Aku minta maaf, Sayang. Aku khilaf.” "Tolong pergi sekarang, Mas. Aku capek! Aku mau istirahat." "Kirana ...." Bima akan memeluk istrinya, tapi Kirana beringsut dan berjalan menuju pintu lalu membukanya. Tanda suaminya harus segera pergi dari kamar. Dengan berat hati, Bima akhirnya berjalan ke arah pintu. Sebelum pergi, mantan pemain band itu mengecup pucuk kepala istrinya. Kirana membuang muka. "Aku pulang dulu yah, kamu harus banyak istirahat. Jangan lupa minum vitamin. Aku pasti bakal kangen banget sama kamu, Kiran." Kirana tak menanggapi pesan suaminya. Segera ia menutup pintu dan menguncinya saat Bima baru saja keluar. Kali ini air mata kembali membanjiri pipinya. Ibu hamil muda itu terduduk lemas di lantai dan bersandar ke pintu. Ia tak menyangka kepercayaannya bertahun-tahun tergadai begitu saja hanya demi sebuah tantangan. Malam ini Kirana akan mulai membiasakan diri tidur sendiri berteman sepi, tanpa Bima di sisi. Sementara Bima segera kembali ke rumah, usai berpamitan dengan kedua mertua. Laki-laki berjambang tipis itu yakin jika Kirana tidak benar-benar akan bercerai dengannya. Ia percaya istrinya masih sangat mencintainya, apalagi ada buah cinta mereka yang kini bersemayam di rahim Kirana. Bima pun siap menerima konsekuensi dan hukuman apa pun dari Kirana maupun keluarganya, asal bukan perceraian. Dan malam ini ia akan menyelesaikan hubungan gelapnya dengan si perempuan malam. **** Pagi menjelang, matahari kian menjulang. Bima mulai mengerjap dan matanya menyipit karena sinar yang terang benderang menyelusup di sela-sela tirai. Suami Kirana mulai menyadarkan diri dan menyeret nyawanya kembali dari alam mimpi. Betapa terkejutnya Bima saat melihat angka 08:10 pada jam digital di nakas. "Astagaaaa! Udah jam delapan!" Bima terlonjak dari kasurnya dan setengah berlari menuju kamar mandi. Tapi sebelumnya ia mencari-cari kain handuk. "Sayaang ... Kiran ... liat handuk aku nggak? kamu kok nggak bangunin aku, sih?" Cerocos Bima sambil membuka lemari baju, matanya awas mencari sesuatu. "Sayaaang ... kamu taruh handuk di mana? Udah kesiangan nih. Kirana ...." Gagal menemukan yang dicari, Bima lalu keluar kamar dan menuruni tangga. Berharap menemukan handuk sekaligus istrinya yang ia duga sedang memasak di dapur. Namun, langkah Bima terhenti di ujung tangga. Saat menyadari tak ada seorang pun di rumah selain dia. Dapur yang biasanya mengepul di pagi hari, terasa hening dan rapi. Bima kemudian duduk di anak tangga dan mengangsur napas berat. Diusap wajahnya kasar. Ia baru tersadar jika Kirana sedang tidak ada di rumah. Pantas saja ia bangun kesiangan, karena biasanya istrinya yang menjadi alarm hidup. Manajer keuangan itu berjalan gontai ke arah dapur. Setelah puas meneguk air seperti unta kehausan, Bima menatap nanar ke sekeliling dapur. Biasanya setiap pagi dapur ini sudah riuh oleh suara Kirana yang beradu dengan denting sutil dan penggorengan, tapi kini benar-benar sunyi. Dering telepon yang nyaring membuat Bima terlonjak kaget. Calon ayah itu gegas setengah berlari kembali meniti tangga menuju kamar. “Halo, Bim, lo nggak masuk?” sebuah suara bariton menyapa saat panggilan sudah terhubung. “Sorry, Lan. Gue kesiangan. Tapi gue masuk kok.” “Oh, kirain lo kenapa-kenapa di jalan, nggak ada kabar soalnya. Oke deh, kalau lo masuk, jangan lupa jam 10 ada meeting ya,” Alan mengingatkan agenda hari ini. “Iya, gue inget, thank you, Bro!” Alan pun mengakhiri panggilan. Sementara Bima masih terduduk di tepi kasur. Kemudian ia men-dial nomor istri tercinta. Bukan suara Kirana yang ia dengar, melainkan sang operator provider yang meminta maaf. [Pagi Sayang, aku kangen sarapan buatan kamu] Bima memilih mengirim pesan, tapi hanya centang satu tanda pesan belum terkirim. Lelaki berhidung mancung itu memijat kening. Betapa ia merasa hampa jika tanpa Kirana. Sementara Kirana justru merasa paginya begitu menenangkan. Usai salat subuh, pecinta tanaman itu segera menyapa dedaunan dan bunga warna warni di halaman. Udara yang masih segar berpadu dengan embun berkabut memanjakan paginya. Kirana menutup mata dan menghirup udara dalam-dalam, berharap bisa menghapus jejak kesedihanya. Dipetiknya bunga melati yang bermekaran lalu kembali ia menghirupnya dalam genggaman. Aroma melati yang menenangkan membuat Kirana merasa lebih rileks. Setidaknya amarah sisa semalam sudah mereda meski masih belum sepenuhnya bisa memaafkan kesalahan sang suami. “Non, minum tehnya di sini yah,” suara Bi Nur saat meletakkan cangkir di atas meja teras. “Iya, Bi, makasih.” Kirana kembali melanjutkan memetik bunga-bunga yang bermekaran. Hari ini ia akan merawat tanaman di halaman agar pikirannya bisa kembali tenang. ***** Bima sama sekali tak konsentrasi saat rapat, perutnya meronta meminta jatah. Sejak terbangun kesiangan, lambungnya belum terisi lagi selain air putih. Ditambah Rani berkali-kali menelepon, meski sudah diabaikan membuat mood Bima terjun bebas. Usai rapat dibubarkan, Bima kembali ke meja dengan langkah lunglai. Harinya benar-benar berantakan. Laporan kinerjanya dikritik habis-habisan selama meeting berlangsung, membuatnya semakin tak karuan. “Bro, lo kenapa sih?” Tepukan Alan membuyarkan lamunan Bima yang terduduk lesu di kursi. Bima memijat kening, “Kirana udah tahu semuanya.” “Hah? Serius lo?” Alan memajuan posisi duduknya, Bima mengangguk lemah. “Gue udah putusin Rani semalem,” lanjut Bima. “Terus, gimana? Kirana masih marah? Raninya gimana?” Alan penasaran. Bima menyandarkan punggungnya, mencoba melepaskan beban berat di pundak. “Kirana minta cerai, Rani nggak terima diputusin. Gue pusing, Bro!” “Ya udah, lo ikutin aja maunya Kirana, toh lo udah punya cadangan si Rani.” Kali ini Bima justru menghujani tatapan tajam pada Alan yang merupakan salah satu temannya yang berkontribusi membuat tantangan konyol itu. “Iye, sorry, Bim. Terus mau lo gimana?” “Iya, gue akan tetep pertahanin Kirana lah, apa lagi dia lagi hamil sekarang. Lagian gue sama Rani buat have fun doang, nggak bakal gue nikahin juga tuh cewek.” “Ya udah kalau gitu Rani buat gue aja sini. Lumayan kan masih bisa gue pake.” “Bungkus gih! Biar nggak nempelin gue mulu. Lama-lama risih gue kalau dia udah bawa-bawa perasaan.” Bima mulai menyerah menghadapi Rani, sikapnya yang manja dan selalu menuntut perhatian membuat lelaki tampan itu kewalahan. Padahal niat awal Bima hanya untuk mencoba keseruan baru bersama teman-temannya dengan membuat tantangan menaklukan perempuan muda berambut cokelat itu. Awal keberhasilannya mengajak kencan Rani, menjadi kebanggan tersendiri bagi Bima sebagai seorang lelaki karena bisa mengalahkan teman-temannya yang tak berhasil menggaet ayam kampus itu. Setelah puas menghisap kenikmatan dari seorang Rani, justru membuat suami Kirana itu ketagihan dan lupa tujuan awal yang hanya sekadar iseng. Hingga menghadirkan rasa nyaman pada perempuan mudanya yang kini menuntut hubungan yang lebih dari sekadar seorang simpanan. Rani seolah sengaja mengirim pesan sewaktu Bima di rumah, tujuannya memang agar istri sah pacar gelapnya marah dan meminta pisah. Namun, kenyataannya justru Rani yang diminta Bima untuk menyudahi permainannya. Dan kini perempuan muda itu tak mau lepas dari kekasih gelapnya dengan dalih sudah jatuh cinta pada suami Kirana. ***** Bima pulang dari kantor pukul 10 malam, usai merevisi laporan kinerjanya yang sudah dikuliti sampai habis saat meeting bersama direktur. Bahkan Bima sudah melewatkan jam makan malamnya. Kini mobil sedan sudah terparkir di carport, rumah dan terasnya masih terlihat gelap. Bima keluar mobil dengan lunglai dan sisa-sisa tenaga. Suami Kirana itu lalu masuk ke dalam rumah yang gelap tak berpenghuni. Setelah menyalakan lampu, Bima duduk termenung di sofa. Netranya menatap bingkai foto pernikahannya bersama Kirana yang terpasang di dinding. Tampak pasangan pengantin memakai baju adat Sunda sedang berpelukan dan tersenyum sumringah menghadap kamera. Rasa bersalah kini menghantui Bima, ia benar-benar menyesal telah melalukan hal bodoh yang menyeretnya ke dalam masalah yang rumit. Suami Kirana itu mengeluarkan ponsel dari sakunya dan men-dial nomor istrinya. Lagi-lagi panggilannya hanya tersambung dengan operator telepon. Sehari tanpa kehadiran Kirana sudah membuat hidup seorang Bima berantakan dan kalang kabut. Rasanya ia benar-benar tak sanggup jika harus berpisah dengan istrinya apalagi calon anaknya. Lelaki berkulit putih itu sungguh tak kuasa bila harus merasakan sepi sendiri tanpa mendengar celotehan manja dari istrinya. Bima mencoba untuk menghubungi nomor Kirana lagi, tapi nihil. Ia lalu membanting gawainya di sofa dan mulai frustasi. Rambutnya ia acak kasar, kedua siku bertopang pada paha. “Kirana, Sayang, pulang, please ...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN