Penolakan Catrine
"Pergi kamu, pergi dari sini!" Teriakan Catrine saat itu, membuat semua orang seisi ruangan pergi meninggalkan dirinya dan sang putra berdua di dalam ruangan.
"apa yang Mama lakukan?"
"Mama tidak mau kamu menjalin hubungan dengan wanita itu!"
"Wanita itu, Wanita mana yang Mama maksud?"
"Asisten pribadimu yang kegatelan!"
Kaisar membuang nafas kasar. Dia benar benar sangat risih ketika Mama menyebut Kania sebagai wanita gatal. Pasalnya, hubungan yang mereka jalin selama ini adalah berawal dari dirinya.
Dirinya yang mencintai dan mengagumi sosok Kania terlebih dahulu. Pertemuan intens antara kedua pun akhirnya menumbuh kan benih benih cinta dalam hati Kaisar kepada Kania.
"Dengar Mama baik-baik, Kaisar! Mama tidak ingin mempunyai menantu yang bibit, bebet dan bobotnya tidak jelas!"
"Ma, pergilah sebelum Kaisar berbuat kasar pada Mama. Mama sudah mempermalukan kaisar di depan pasien pasien Kaisar, Ma! Kaisar malu!"
Mendenger nada bicara putranya yang sudah mulai frustasi, akhirnya Catrine memilih untuk mengalah. Dia akhirnya memilih untuk pergi meninggal kan ruang Praktek sang anak.
"Saya meminta maaf atas kericuhan yang terjadi di ruang praktek Dokter Kaisar!" Kata Catrine meminta maaf. Dia lalu pergi berjalan meninggalkan ruang praktek sang anak.
Catrine berjalan menuju parkiran mobil dengan mimik wajah yang kesal, namun saat dia hendak masuk ke dalam mobil sebuah tangan kekar menepuk pundaknya.
Catrine yang terkejut segera membalikkan badan.
"Mas Jean" Kaget Catrine, melihat sang suami di belakangnya.
Tanpa menunggy waktu yang lama, Jean segera menyeret istrinya masuk ke dalam mobil. Raut wajah Jean terlihat sedang menahan amarah.
"Apa yang kamu lakukan, Pa!"
"Masuk!!" Bentak Jean pada sang istri
Catrine dengan raut mukanya yang masih kesal, melangkah kaki masuk menuju kendaraannya. Jean sudah terlihat memerah mukanya.
"Kenapa kamu bersikap kasar seperti ini kepada ku, Pa!" Tanya Catrine yang masih tidak terima dengan perlakukan sang suami dengan kasar.
Terlihat Jean tengah mencoba meredam emosinya sebelum akhirnya di berbicara.
"Apa yang kamu lakukan di ruangan Kaisar?"
"Pa, aku hanya tidak ingin Kaisar di dekati sama wanita yang gatel seperti kania!"
"Jaga ucapan-mu Catrine!"
Jean benar benar tidak habis fikir dengan ucapan sang istri barusan. Bagaimana bisa dia mengatakan bahwa Kania adalah wanita gatal!
"Kamu membentak aku, hanya untuk membela perempuan yang tidak punya harga diri itu?"
"Kalau memang iya, apa yang ingin kamu lakukan? Mempermalukan aku, seperti kamu mempermalukan putra mu?"
"Dengar baik baik, Pa! Aku melakukan ini karena aku sangat menyanyangi Putraku, Putra kita. Wanita gatal dan tidak tau malu seperti dia, tidak akan aku restui mendekati putra ku!"
"Sepertinya kamu benar benar tidak tau siapa Kania?"
"Aku tau siapa dia, aku tau. Maka dari itu aku tidak memperboleh kan putraku untuk dekat dekat dengannya!"
"Apa kamu yakin, kamu tau siapa dia? Aku takut kamu menyesal jika tau siapa Kania sebenarnya!"
Keadaan mulai memanas, Catrinepun semakin marah melihat suaminya itu terus terusan membela Kania. Padahal jelas jelas Jean tau, Catrine sangat membenci Kania.
"Atau jangan jangan kamu juga mencintainya, Pa?!!"
Braaak!!!
Jean memukul meja dengan sekuat tenanganya. Emosinya semakin memuncak saat mendengar perkataan sang istri.
"Jaga ucapan mu Catrine!!"
"Aku tidak tahu, apa yang sudah wanita licik itu lakukan sehingga bisa membuat suami dan anakku tunduk seperti ini!"
"Catrine, Putrimu juga seorang dokter dia kenal siapa Kania. Tidak seharusnya kamu mengatakan itu hanya karena profesinya sebagai bidan!"
"Karena dia bidan, aku jadi tidak mau dia mendekati putra ku! Dia sama sekali tidak sepadan dengan kita, Pa!!"
"Kamu tidak mengenal siapa dia, kamu pun tidak tau bagaimana latar belakang keluarganya, tapi biss bisanya kamu memperlakukan Kania seperti ini. Maaf Catrine, kali ini aku sudah benar benar tidak tahan dengan sikapmu!"
"Apa yang kamu katakan? Apakah kamu akan menceraikan ku?"
"Beri aku waktu. Sekarang pulanglah, aku akan menyusul mu setelah semua pekerjaan ku selesai?"
Dengan terpaksa, Jean keluar dari mobil dan segera pergi menjauh dari Catrine.
Di tempat lain, Catrine dengan perasaan kecewa segera pergi meninggal kan parkiran Rumah Sakit, mengemudikan mobil yang di kendarainya menuju ke rumah. Namun, saat masih dalam perjalanan dia berhenti di pingginr Jalan A.Yani untuk menenangkan fikirannya.
Kali ini, dia akan mencari tau siapa Kania sebenarnya, dan mengapa semua orang disana sangat mengagumi dan menghormati Kania.
"Farhan, datang kerumah saya sekarang." Perintah Catrine pada orang suruhannya.
Catrine sedang memikirkan cara untuk membuang jauh jauh Kania dari hadapan sang putra.
Catrine memang bukan wanita sembarangan, meskipun usianya yang tidak lagi muda, namun dia masih bisa menyingkirkan orang orang yang menganggu kehidupannya.
***
"Pa, apa yang di lakukan Mama Pa? Kaisar malu!"
"Maafkan Mamamu, nak. Entah apa yang merasuki hati dan pikiran Mamamu, sehingga dia tega melakuka hal seperti itu kepada putranya sendiri!"
"Aku sedang menangani banyak pasien, namun dengan tiba tiba Mama datang mengusir semua pasienku,termasuk juga asistenku Kania!"
"Kaisar, apa kamu sudah menjalin hubungan dengan Kania?"
Perkataan Papa kali ini membuat ku sedikit tercengang. Pasalnya, selama ini Papa tidak pernah mau ikut campur dengan masalah pribadiku. Namun kali ini, sepertinya Papa sedang serius dengan pertanyaannya.
"Pa, maaf jika ternyata Kaisar menyalahi aturan. Tapi Pa, perasaan itu tumbuh begitu saja. Papa pasti tau, Kaisar ini adalah seorang lelaki yang sangat tidak muda untuk jatuh cinta, namun melihat Kania, perasaan Kaisar beda, Kaisar jatuh cinta pada Kania, Pa!"
Jean membuang nafas dengan kasar. Dia tau betul, kenapa istrinya sampai melakukan tindakan seperti ini, itu karena dia tidak mau putranya jatuh kepada wanita yang menurut dia tidak jelas dan tidak sebanding.
"Kaisar, sebuah perasaan yang muncul secara tiba tiba memang tidak bisa di salahkan, Nak. Tapi, mungkin ini akan menjadi kisah cinta terumit untuk kamu, jika kamu ingin menjalaninya!"
"Apa maksud Papa?"
"Nak, sudah jelas Mamamu menolak keinginan mu kepada Kania. Entah sekarang Papapun tidak tau, apakah kamu sudah menjalin hubungan dengan kania atau belum? Tapi yang pasti, Mama mu sangat menolaknya!"
"Aku belum menjalin hubungan dengan Kania, Pa. Aku baru mendekatinya, namun sangat sulit. Dia bukan wanita sembarangan, yang mudah di dekati oleh laki laki. Itu yang aku suka dari Kania, Pa!"
Jean tersenyum mendengar apa yang di katakan oleh Putranya itu. Diapun lalu bergegas pamit dan kembali keruangannya.
"Papa dukung kamu!" Katanya menepuk pundak sang putra.
Seolah olah memberikan semangat pada Kaisar dan memberika tanda bahwa dia menyetujui keinginan sang putra.
Kaisar duduk di kursinya, menghadap kejendela dan melihat mobil yang tengah berlalu lalang lewat.
Dia masih memikirkan tindakan yang baru saja di lakukan oleh sang ibu. Dalam hatinya, dia sangat kecewa dan terpukul melihat perlakuan sang ibu. Sejak kecil hingga dewasa dan menjadi doker, Catrine memang sama sekali tidak pernah menolak apapun keinginan anaak - anaknya. Dia selalu menuruti apa yang anak anaknya mau, dia pun tidak pernah terlihat kasar kepada anak-anaknya.
Namun ternyata kali ini berbeda, dia begitu berani dan arogan datang ke tempat kerja Putranya lalu marah marah. Kaisar masih tidak menyangka jika Mamanya melakukan itu.
Setelah kurang lebih dua puluh menit menghadap ke jendela luar, dia pun memutar kursinya dan mengambil gawainya.
Dia lalu menelfon Kania, dan mengonfirmasi pasien pasien dia yang berada di RS ini.
Bersambung....