Ketika Berdua dengan Naga

1961 Kata
Habis kepikiran seharian soal yang Susi bilang, kepalaku sakit malam ini. Terus, daripada pusing makin berlarut, akhirnya aku memilih untuk meredamkan diri di dalam bath tub. Sebelumnya, aku kunci rapat-rapat pintu kamar mandi biar Naga tidak bisa ikutan. Bukannya apa-apa, aku sudah sering didoktrin sama Susi, kalau nanti bisa saja kita berdua bakal melakukan 'itu' di kamar mandi. Susi yang sudah menikah tiga bulan lalu bilang aktivitas begitu di kamar mandi katanya enak. Bahkan bisa dibilang bikin hubungan suami istri makin mesra. Boro-boro aku mau sampai ke situ, baru membayangkan Naga naked di depanku saja, rasanya mau pingsan. Tidak mau, deh! Aku masih mau menjaga diri sampai siap. Omong-omong, tadi Mami datang dan dia dampingi aku sampai acara selesai. Jujur saja, untuk masalah perjodohan ini, aku tidak berani cerita sama sekali dengan Mami. Pada dasarnya, dari kecil aku memang lebih dekat ke Papi. Karena, Papi bukan cuma sabar, tapi juga bijak. Ya, bisa dibilang seperti pacar pertama dalam hidupku. Aku sengaja tidak mau bilang masalah ini ke Mami karena takut nanti dia menyalahkan Papi. Aku yakin, Papi pasti pilihkan yang terbaik. Tidak mungkin asal-asalan. Cuma, memang akunya saja yang belum bisa ikhlas terima Naga jadi suami. "Sakhi!" Naga memanggil sambil mengetuk pintu kamar mandi. Air dalam bak sampai terciprat ke muka gara-gara aku kaget dengar panggilan dia. Jantung berdebar kencang. Aku takut Naga mau macam-macam. Bukan, intinya aku tidak mau Naga apa-apakan aku. Masalahnya, tidak mungkin, dong, bilang terang-terangan ke dia. Terus, harus bagaimana? Aku memeriksa sekitar, lihat kira-kira ada barang apa yang bisa kupakai untuk melindungi diri. Tidak ada apa-apa. Yah, namanya lagi di kamar mandi, paling mentok alat yang aku dapat cuma sikat WC. Seandainya aku pukul ke kepala Naga, mungkin tidak berefek apa-apa. Ditambah aku punya badan kurus-- bukan kurus kurang gizi, kurus ideal. Tinggi badan 165, berat badan 50 kg. Masuk ideal, kan, ya? "Sakhi!" Naga memanggil lagi. Mau apa, sih, dia panggil terus? Tidak tahu apa, kalau aku di kamar mandi lagi merenung dari tadi. Aku mau atur strategi, bagaimana caranya biar bisa tetap kelihatan baik-baik saja di depan semua orang dan pastinya aku tetap bisa melindungi diri sendiri. Kalau begini, renunganku jadi gagal namanya. "Heh, kamu tenggelam di bak apa gimana?" Ih, apaan aku dikira tenggelam di bak. Memangnya aku boneka LOL! Kelihatannya, aku sudah kelamaan di kamar mandi, sampai bikin dia curiga. Keluar dari bak, kusambar kimono yang kebetulan menggantung tepat di sisi sebelah kanan. Pakai segera dan merapatkan ikatannya supaya jangan ada celah sedikit pun, baru keluar dari kamar mandi. Di depan pintu sudah ada Naga yang tampak dingin berdiri menunggu. Sebentar dia menyorotku ari ujung kepala sampai ujung kaki. Dilihat sampai sini, aku tidak punya nafsu sama sekali ke dia. Dia malah buat aku tidak nyaman berdekatan. Aku tidak habis pikir, bisa-bisanya kemarin menurut sama Papi cuma karena kepikiran soal kesehatan beliau yang makin buruk. Ujungnya, pas semua sudah terlanjur basah begini, aku malah menyesal sendiri dan juga mungkin menyiksa Naga. Aku menghela napas. "Kakak ngapain manggil aku?" Ya, aku memang manggil dia pakai sebutan kakak sejak awal bertemu. Walaupun tidak pernah ada kesepakatan. Meski selisih umur kita sedikit, cuma 2 tahun 3 bulan tetap saja aku mau menghormati dia. "Bukan apa-apa." Dia menggeleng. "Aku cuma bingung dengan kamu karena kamu sudah setengah jam di kamar mandi." Aku menggesekkan kaki di keset, mengambil beberapa langkah menuju ke walk-in closet pribadi milikku. Beginilah kehidupan kami. Naga mau dia jadi satu-satu pemimpin di rumah. Maka dari itu, jauh sebelum kami menikah, dia sudah menyiapkan rumah buat dan barang-barangku sudah dipindahkan satu minggu sebelum ijab kabul dilaksanakan. Papi setuju. Dia memang sengaja langsung biarkan aku pergi dari rumah, walau sebenarnya dia bilang tidak tega lihat aku hidup sendiri tanpa dia. Yah, aku anak satu-satunya makanya wajar kalau Papi sayang banget dan menjadikan aku princess di rumah. Tapi, beliau bilang aku harus mandiri. Ikut suami dan Papi tidak mau ikut campur sama sekali dalam urusan rumah tangga aku dan Naga. Papi bilang, aku nanti harus belajar apa yang kurang di rumah tangga, mana yang harus dibenahi. Aku harus belajar mandiri. Papi juga tidak mau mengintervensi Naga. Biar dia yang memimpin aku dengan benar. Tuh, 'kan? kalau urusan yang begini bijaknya Papi bisa dibilang kelewatan. Bagaimana seandainya Naga bukan laki-laki baik? Ternyata dia cuma kamuflase. Terus, aku kalau buat salah diikat sama Naga terus dicambukin sampai luka-luka. Papi mana tahu kayak begitu seandainya sampai kejadian. "Kita baru nikah beberapa jam yang lalu, sampai kamu sakit gara-gara kelamaan di toilet, Papi kamu bisa salahin aku!" Bibirku sedikit menipis ketika Naga menatap. "Aku kalau mandi memang lama," kataku beralasan. Padahal, biasanya juga tidak pernah lama-lama di kamar mandi. Papi bilang tidak bagus. Soalnya, kamar mandi itu tempat berkumpul Jin. Apalagi, aku perempuan. Entah Papi menakut-nakuti atau bagaimana, dia bilang di dalam kamar mandi biasanya ada jin yang mengawasi kita dan mengintip. Makanya aku tidak pernah 100% naked di dalam sana. Cuma, tadi tuh, aku lagi merenung. Serius merenung, loh, karena aku lagi menghindari Naga. Untung, dia bukan cowok agresif yang menyerang tiba-tiba. Ini saja, aku lihat mukanya yang cuek dan dingin malah jadi kikuk. Sambil menunggu tanggapan dari Naga, aku buka lemari kemudian melihat baju apa yang kira-kira akan aku kenakan malam ini. Bukannya aku sok sibuk malam-malam sampai harus pusing memikirkan baju. Aku cuma lagi mau atur biar Naga jangan sampai terangsang sedikit pun melihatku. Sembari memikirkan baju apa ya mau aku pakai, ekor mataku menangkap Naga sedang duduk di atas tempat tidur kami yang sudah dipenuhi dengan taburan kelopak bunga. Entah itu kelopak bunga sungguhan atau cuma kelopak palsu. Secara, zaman sekarang, 'kan, kepalsuan ada di mana-mana. Naga memperhatikan aku dari tempatnya. Dag dig dug jantung ini rasanya, berdebar tidak karuan. Tapi, setelah beberapa detik terfokus pada Naga, as sesuatu yang mengalihkan perhatianku. Di bawah tempat tidur agak ke pojok tembok, tumpukan kado pernikahan kami masih terbungkus rapi. Belum sempat tersentuh sama sekali. Kadang aku lihat naga seperti melihat ke tumpukan kado tersebut. Sejujurnya, dari tadi juga aku penasaran mau buka. Selain hadiah dari Susi yang aku belum tahu isinya apa dan dia bilang spesial--aku yakin itu tidak bakalan terlalu spesial. Pastinya cuma iseng. Aku juga penasaran kado yang Miller kasih. Tadi dia tidak datang cuma titip ke Mami. Umh, yah, aku tahu dia memang tidak akan datang. Jauh-jauh hari sebelumnya dia sudah bilang akan absen ke pernikahanku sebab tidak mau jadi orang yang bawa kabur pengantin perempuan lelaki lain. Sedih kalau ingat ke situ. Sejujurnya, aku malah mau dibawa kabur Miller. Tapi, balik lagi sih setiap aku ingat Papi, aku jadi tidak tega melakukannya 0. Aku terima Naga buat Papi karena aku mau berbakti dengan dia. 22 tahun aku hidup selama ini, Papi tidak pernah menuntut apa-apa. Selalu mengabulkan permintaanku dan bahkan marah pun tidak pernah. Semua kesalahanku dimaafkan begitu saja dan dia selalu kasih petuah-petuah bijak. Ketika Papi bilang dia tidak tahu umurnya sampai kapan, dia memercayakan Naga untuk jaga aku. Sebetulnya, pernikahan ini adalah wujud baktiku ke beliau. Supaya Papi merasa tenang dan happy selalu. Katanya, kalau orang sakit banyak happy jadi cepat sembuh. 'Kan? Naga melepas tatapannya dariku kemudian mengibas-ngibas tempat tidur. Kelihatannya dia juga lelah. Beberapa detik kemudian, dia sudah berbaring santai. Ya, meskipun aku perhatikan tidak santai amat, sih. Soalnya muka dia masih kelihatan tegang. Kayaknya, aku dan Naga sefrekuensi. Sama-sama masih tidak nyaman satu sama lain. Ya, bagaimana mau langsung nyaman? Kita tidak pakai tahap pacaran sama sekali. Naga anak mendiang sahabat Papi yahg sudah kenal lama. Dia yang aku tahu termasuk orang yang penurut ke Papi. Ketika Papi menawarkan aku untuk jadi istrinya, Naga langsung terima dan dia langsung mau. Tidak tahu, deh, ini yang disebut jodoh atau apa. Aku, sih, berpikirnya seandainya Naga menolak nolak dulu atau mungkin dia punya pacar atau gebetan lain pasti aku masih bisa menjalani hidup seperti biasa. Oke, memang aku mungkin tidak bisa berjodoh dengan Miller. Tapi, paling tidak aku masih punya waktu sampai menemukan cinta sejati. "Sakhi, kamu nggak capek bengong terus?" Naga kalau ngomong memang biasa saja. Masalahnya, jantungku langsung olahraga dengar suara dia. Aku menoleh ke arahnya. "Lu-mayan." Tanganku dingin banget. Ini bukan gara-gara mandi, tapi lantaran Naga yang masih memperhatikan aku. Ya Allah, tolong selamatkan hambamu ini. Please, untuk malam ini dan malam seterusnya sampai aku siap, aku mau tetap perawan. Aku janji, deh, bakal sedekah salah satu koleksi lipstik ke Mbak Iis. Soalnya kemarin mata dia sudah lirik terus lipstik aku yang merek dari Korea warna pink Coral kesukaan. Kayaknya dia sir, deh. Pokoknya, aku janji kalau misalnya malam ini 'selamat' dari Naga bakal aku sedekahkan ke Mbak Iis. Walaupun bekas tetap saja, 'kan, jatuhnya itu sedekah. Iya bukan, sih? Duh, si Naga masih memperhatikan aku. Ya, Rabb ... aku jadi scaning diri sendiri setiap inci tubuhku. Jangan-jangan otaknya Naga udah mulai nyambung ke ke arah sana. Terus, bagaimana, dong? Aku bisa menolak, 'kan? Yah, kalau Naga maksa itu namanya p*********n dalam pernikahan. Aku bisa laporkan dia ke komnas perlindungan perempuan. Panik ... aku panik dalam hati. Kalau di kartun ini pasti udah kelihatan di kepalaku ada gambar aku sendiri yang lagi muter muter di atas sambil keluar asap. Aku mau ganti baju, Naga terus melihat begitu. Ya masa, sih, mau aku usir. Paling tidak, dengan bahasa tubuhku yang kelihatan dari tadi, harusnya dia sudah paham, dong. Papi bilang dia jenius. Percuma dong, jenius kalau tidak peka. Laki-laki yang penting peka P-E-K-A, pakai huruf k. Jangan-jangan, Naga bukan jenius tapi pea! Hachi! Tuh, aku bersin. Ini pasti saking sudah kedinginan sampai bersin. Mana Naga langsung bangun dengar suar bersinku. "Heh, kamu sudah bersin!" Apa, sih, dia manggil-manggil! Tidak tahu apa aku lagi panik. Kalau dia ajak ngobrol terus yang ada aku makin tidak nyaman. "Lain kali jangan lama-lama di kamar mandi." Naga menyambung obrolan yang tadi. Aku menelan saliva sambil mengangguk pelan. "Iya, Kak?" jawabku seadanya. Padahal baru diajak ngomong begitu saja sudah gemetaran suara ini. "Dasar konyol!" Aku dengar Naga mengatakannya meski dia bilang sambil berbisik. Menghina banget itu, namanya. Sekarang, aku mau ganti baju tidak bisa sama sekali. Mata dia, kenapa masih lihat ke sini. Terus, dia tidak sadar apa, aku udah diam di tempat mau ambil baju saja sampai tidak jadi jadi. Pikiranku kacau karena Naga terus melihat ke arahku. Apa, dia mulai m***m? Masa ke kamar mandi lagi, pakai bajunya? 'Kan ribet. "Kimono kamu harus dibuka, udah mulai basah," katanya. "Hah!" Aku hampir saja gelagapan ketika dia bilang begitu. Tarik napas dan embuskan perlahan. Kayaknya aku harus komunikasikan masalah ini biar sama-sama enak. Kalau aku kucing-kucingan, kasihan juga dia tidak tahu isi hatiku. Yah, Man From Mars and Woman From Venus. Aku sadar, aku cewek dan pastinya Aku suka main kode-kodean. Ya, memamg susah loh, mau bilang langsung. Dan, mungkin Naga tipe lelaki yang tidak peka alias aku bilang tadi. PEA! Aku harus bilang ke dia untuk keluar dari kamar, baik-baik. Ayo, Sakhi. Bilang! Aku menguat-nguatkan hati. Tapi, tetap saja susah. Ini bahkan lebih susah dari waktu aku bilang ke Papi soal tidak sengaja siram komputer kerja dia dengan air sampai rusak total. "Hah!" Naga kelihatan bosan. "Aku sudah jadi suami kamu, loh!" Dia mengatakannya sambil beranjak dari tempat. Subhanallah! Baru juga aku mau ungkapkan isi hati ternyata dia tahu. Oke, tampaknya Naga memang bukan cowok oon kayak yang dari tadi ada di pikiranku. Aku tidak jawab apa-apa, cuma tersenyum tipis waktu Naga memilih untuk keluar dari kamar dan menutup pintu dari luar. Di detik itu juga aku menghela napas lega. Mumpung ada kesempatan, buru-buru aku pakai baju tidur kesayangan yang ada boneka beruang di depan bajunya. Model tangan panjang dan celana panjang. Dengan begini, 'kan, aurat jadi tertutup. Tapi, tetap saja pas bercermin lekuk tubuhku kelihatan. Katanya, kalau laki-laki sudah satu kamar dengan perempuan, bisa jadi gampang terangsang. Sekalipun mereka dalam pakaian tertutup. Emh, apa Naga juga termasuk dalam golongan laki-laki yang begitu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN