Aku sudah selesai ganti baju, tapi Naga belum kembali ke kamar. Kelihatannya, kesempatan ini bisa aku pakai untuk cari kado apa yang Miller kasih.
'Kan, tidak masalah dong, kalau aku masih menyimpan rasa buat Miller. Secara, dia memang cinta pertama, dan aku juga tinggalkan dia bukan karena ada pertengkaran. Tapi, status kamu yang bikin tidak bisa bersama.
Aku berjongkok di depan tumpukan kado. Seingatku, tadi Mami bawa kotak kado warna putih, ukuran pas setelapak tangan. Mana, ya?
Aku geser beberapa kado besar yang mungkin menutupi hadiah dari Miller. Sambil ingat bentuk kotaknya, aku juga memeriksa satu per satu setiap hadiah yang kutemukan. Sampai mataku menangkap sendiri sebuah kotak kecil--persis seperti yang kuingat tadi.
Ambil, tatap sebentar kotak itu.
Menurutku, Miller tidak mungkin kasih hadiah yang biasa saja. Dia selalu punya filosofis sendiri untuk setiap hal yang diberi. Masih ingat dulu pas aku baru selesai uji komprehensif skripsi, teman-teman pada kasih buket bunga. Tapi, Miller malah kasih pulpen.
Aku ya memang awalnya agak kesal sama dia. Masa, orang lain bisa ingat kasih hadiah yang lebih manis dia tidak kreatif sama sekali. Eh, tidak tahunya, dia bilang aku memang tidak perlu yang manis.
Pulpen itu untuk ingatkan aku kalau setelah ujian masih ada tugas yang lain. Ditambah tantangan berikutnya adalah mau jadi apa aku setelah lulus.
Yah, yang dia maksudkan adalah aku tidak perlu terlalu bangga untuk hal yang memang seharusnya aku selesaikan.
Dan, pulpen adalah salah satu benda yang aku butuhkan untuk menyelesaikan misi. Setidaknya, setiap kali tanda tangan berkas, aku membutuhkannya.
Ya, setelah pemberian pertama Miller, aku jadi selalu penasaran dengan hadiah apa yang akan dia kasih. Entah itu ulang tahun atau pas dia memang mau kasih kejutan, aku benar-benar penasaran apa yang dia kasih.
Makna semuanya tidak pernah bisa aku tebak dan selalu punya filosofi yang bagus. Itulah kenapa aku bisa kelepek-kelepek setengah mati dengan dia.
Kali ini, aku penasaran Miller kasih hadiah apa. Sobek kertas kado pembungkus, setelahnya aku dapat sebuah kotak kecil yang di dalamnya ada sebuah jam tangan berwarna kristal. Setelah kuambil, aku menemukan sebuah catatan kecil di bawahnya.
'Kamu harus ingat, berapa banyak waktu yang kita lewati bersama. Berapa lama kita terpisah. Dan, berapa lama kamu bisa bertahan dengan dia.'
Oke, hatiku jadi meleleh lagi. Sampai, tanpa sadar bulir air sudah meluncur dari pelupuk mata. Aku memang terlalu egois dan hanya memikirkan diri sendiri.
Aku ingin Papi tetap jadikan aku princess di hatinya. Makanya, aku mau menurut apa kata dia. Tanpa aku pikirkan kalau ini justru menyiksa kami bertiga. Aku, Miller, dan Naga.
"Ehemh!" Ada yang berdeham.
Aku kaget, tahu-tahu ada tangan besar yang menemplok di pundak. Saking kagetnya sampai terlonjak tubuhku, setelahnya ada bunyi pecahan di belakang. Buru-buru aku menengok ke belakang.
Naga termangu.
Aku juga jadi terpaku. Suasananya asli awkward banget.
"Mm-maaf." Aku tundukkan kepala di depan Naga sebagai pertanda kalau menyesal sudah bikin tumpah minuman yang dia bawa. Tampang dia yang kaku kayak kertas ujian nasional bikin aku makin tegang.
"Aku nggak tahu kalau kamu ngelamun."
Ditebak benar begitu, bikin jantung jadi mau meletup. Mana dia cara bilangnya dingin kayak es kering.
Naga berjongkok untuk memungut beling yang beserakan.
"Maaf kalau bikin kaget," katanya tanpa mengangkat pandangan dari pecahan gelas.
Aku ikutan jongkok. "Kakak ngapain samapi bikin aku jantungan gitu?"
Naga tersenyum miring. Ya Allah, seram juga dia. Aku jadi makin ciut nyalinya. Padahal, tadinya mau marah sama dia.
"Aku panggil kamu dari tadi untuk tawarin teh herbal ini. Soalnya kamu tadi bersin, makanya aku siapin minuman hangat."
Tanganku tetap setia di balik dengkul, hanya memperhatikan Naga yang sibuk memungut pecahan gelas. Aku tidak mau ikutan, nanti kalau kena bisa luka. Sakit. Aku paling tidak tahan sama yang namanya luka gores.
Kalau dulu, sih, enak, aku bisa tunjukkan ke Mami atau Papi. Habis itu, aku bisa ngomel ngomel biar ada kompensasi untuk luka yang aku dapat. Misalnya, Papi ganti uang plester dengan kasih izin untuk aku belanja tas baru.
"Teh herbal itu apa?" Aku memang tidak tahu minuman apa itu.
"Sama kayak teh biasa. Tapi serbuk teh yang dipakai dari bunga crisantemum, bagus untuk membantu supaya nyenyak tidur. Aku juga ganti gula dengan madu, dan pakai sedikit lemon."
"Astuti yang siapin?"
"Bukan." Naga menggeleng. Sekarang dia menatapku langsung setelah selesai mengumpulkan pecahan gelas. "Aku siapin ini untuk kamu."
Naga kalau ngomong memang tanpa nada tinggi-- sejauh ini yang aku tahu. Tapi, ekspresinya yang selalu datar-datar saja dan sama sekali tidak bisa naik nada bicaranya justru bikin hati jadi ketar-ketir. Aku sulit menebak dia lagi marah, tersinggung, atau biasa aja.
"Kakak buat sendiri?" Aku tanya begini bukannya ragu Naga yang buatkan aku teh. Cuma, aku jadi merasa tidak enak sudah menumpahkan minuman yang dia buat.
"Mmh." Naga kemudian beranjak untuk membuang pecahan gelas ke tong sampah.
Aku menjalin jemari. Meskipun tidak suka dengan Naga, bukan berarti aku mau bersikap semaunya pada dia. Sekarang aku lagi merasa tidak enak. Naga sudah mau buatkan minuman, lantaran aku tadi memikirkan Miller minuman yang dia buat sampai tumpah berserakan.
Naga mengelap bekas tumpahan tadi, habis itu ke kamar mandi untuk mencuci tangan.
Berhubung aku tidak suka menyimpan rasa bersalah, akhirnya aku beranikan diri untuk menawarkan Naga teh baru. Bukan buat aku sendiri, tapi buat kita berdua. Walaupun tidak yakin bakalan enak atau tidak. Umh, cuma di mana-mana yang namanya buat teh, gampang, 'kan? Tinggal seduh teh sama air panas, terus tambah gula masing-masing.
"Kakak, mau aku buatin teh lagi?"
Naga mengangkat pundaknya. "Kalau kamu mau teh lagi, biar aku aja yang buat. Soalnya, Tuti udah tidur."
Apaan dia meragukan banget kalau aku mau buat teh sendiri. Mentang-mentang Papi bilang aku anak manja dan hampir tidak pernah ke dapur, bukan berarti aku tidak bisa apa-apa. Kalau cuma 'masak air biar mateng' hal kecil buatku.
Memang dasar Naga itu tidak peka. Aku sudah setengah mati mau niat baik, dia malah nyambungnya ke arah yang lain.
"Bukan. Aku tuh, mau buat teh untuk Kakak."
"Hah?"
Aku salah omong atau bagaimana sih, ini? Naga aku tawarin teh malah jadi bengong lihat aku terus sampai beberapa detik sebelum dia mengangkat sudut bibir. Jangan kira dia mau senyum tulus. Senyumnya itu cuma sebelah, jelas dia kayak lagi meledek.
"A-ku mau buat teh lagi," kataku menegaskan. Dikira aku tidak bisa marah, apa?
"Oh." Naga cuma berkomentar satu kata. Ngeselin! Aku merasa kayak lagi nikah sama minikin untuk pajangan baju. "Lebih baik nggak usah. Tuti udah tidur, kamu bisa repot kalau ada yang tumpahan atau apalah."
"Kakak kira aku nggak bisa apa-apa?"
"Umh. Ini udah malam. Biar aku buatin lagi untuk kamu." Tanpa banyak bicara, Naga melangkah perlahan keluar dari kamar menuju dapur.
Aku menghela napas setelah Naga turun ke bawah. Apa coba maksudnya bilang ini udah malam.
Dia oon atau bagaimana? Mau pagi, siang, atau malam, kapan pun waktunya cara buat teh ya sama saja.
Dengan langkah terseret-seret aku mengikutinya ke dapur. Dia sempat lirik sekilas ke arahku, waktu aku baru sampai di dapur.
Sumpah deh, aku belum pernah cuma berdua di dalam ruangan begini sama laki-laki. Ya, memang ini bukan ruangan apa-apa, cuma dapur dan tidak ada sisi romantis sama sekali. Tapi, tetap saja jatuhnya ini cuma berduaan.
Aku merasa canggung. Dari tadi cuma sibuk telan air ludah sendiri. Coba kalau dia menurut saja untuk aku yang buat, pasti sudah kelar dari tadi.
Berhubung ada Naga di dapur aku jadi tidak mau melakukan apa-apa. Cukup lihat dia yang lagi siapkan dua cangkir, memasukkan bubuk teh, kemudian menambahkan madu sebagai pengganti gula. Habis itu seduh dengan air panas.
Tadinya aku tidak ingin minum teh, tapi setelah uap dari seduhan itu tercium di dua lubang hidungku, mendadak jadi terbayang yang lain.
Kelihatannya enak juga malam-malam begini minum teh hangat berdua. Mirip iklan teh di TV itu. Nge-teh berdua.
Waktu Naga lagi mengaduk-aduk teh, aku jadi kepikiran sesuatu. Kata orang cinta itu bisa tumbuh karena terus bersama sering melihat kelakuannya, mendapat perhatian darinya.
Hal hal kecil yang kayak begitu itu bisa menumbuhkan cinta? Aku jadi penasaran, apa nanti saat aku terus bersama Naga, bisa juga tumbuh cinta untuk dia?
Misalkan, ya, aku sudah cinta sama Naga, apa aku bersedia untuk disentuh olehnya? Mungkin mulai dari kecupan, ciuman, atau mungkin sampai ke tahap yang lebih sebagai suami istri?
Oke, perhatianku jadi terpusat pada Naga. Mengamati dia dari ujung kepala sampai ujung kaki, menelisik dengan saksama setiap garis di wajah dan juga lekuk di tubuhnya.
Tinggiku cuma sebatas dagu Naga. Aku jadi membayangkan, misalnya kami mau mulai dari berciuman, mungkin Naga harus memiringkan kepala sampai teleng supaya bibir dia bisa pas ke bibirku. Masalahnya, apa benar kita akan lakukan itu?
"Emh!" Kedua kali aku dikagetkan sama dehaman dia yang menggelegar. Wah, teh nya sudah jadi, aku pasti keasyikan melamun sampai tidak sadar.
Aku berterima kasih waktu Naga berikan satu cangkir padaku.
Sesap teh-nya ....
"Heh!" Naga menyentak membuat aku hampir tersedak teh.
Mata Naga memicing. "Jangan minum sambil berdiri." Setelahnya dia melenggang keluar dari dapur membawa minumannya sendiri duduk di ruang tengah kemudian menyalakan tv.
Kayaknya asyik juga tuh duduk di ruang tv minum teh sambil nonton. Siapa tahu juga ini bisa jadi cara buat mengulur-ulur waktu supaya Naga tidak kepikiran soal urusan ranjang.
Masalahnya, aku seperti merasa ada yang kurang di sini.
Biasanya kalau minum teh aku harus ada camilan. Entah cuma keripik kentang atau snack. Malah kalau bisa aku ingin makan ayam goreng sekarang.
Jangan salah, ukuran body-ku memang kecil. Tapi, untuk urusan makan tampunganku cukup besar.
Aku lapar, tapi malu mau cari makanan. Naga bahkan sudah duduk tenang, menyesap teh beberapa kali dengan mata terfokus pada layar televisi. Sialan dia. Basa-basi mengajak duduk pun tidak. PEA!
"Ada masalah apa?" Naga menoleh ke belakang, aku langsung gelagapan. Untung masih bisa mengendalikan diri.
"Nggak ada apa-apa," jawabku dengan senyum yang dipaksakan. Kadang aku merasa takut Naga punya ilmu untuk bisa membaca pikiran orang lain. Kata Papi dia jenius dan bisa melakukan apa saja. Takutnya, di balik kejeniusannya itu, ternyata dia punya indra keenam.
'Kan, bahaya. Soalnya, sejak tadi pagi pikiranku negatif terus ke dia. Mana sekarang jauh dari Papi, aku takut tidak ada yang membelaku. Semoga, ini cuma pikiran konyol. Aku harap, Naga cuma punya lima indera. Sama kayak aku.
"Kalau sudah beres di sana, duduk di sini." Naga mengedik ke sofa yang bisa aku duduki.
"Ah, iya." Aku jalan pelan-pelan. Masih aman saja meski matanya Naga terus menatapku tajam. Sampai aku hanya berjarak beberapa sentimeter dari Naga dengan posisi tetap sama--dia duduk dan aku berdiri--siapa sangka perutku bunyi kencang banget.
Seketika aku membeku di tempat lalu memegang perut. Naga tampak terkejut mendengar rintihan perutku, dia bahkan lupa mengatup mulut.
Aku menyeringai di depannya. "Ada makanan nggak, di kulkas?"