Ditinggal Menikah

1196 Kata
Leo duduk termangu di kursi tamu. Temannya sudah menyarankan agar ia tidak menghadiri undangan mantan kekasihnya itu. Leo berkata akan kuat dan berusaha untuk ikhlas. Namun, nyatanya ia justru sesak kala melihat perempuan yang dulu selalu ia genggam jemarinya duduk di pelaminan bersama lelaki lain. “Saheer datang melamar, Leo,” ucap perempuan yang duduk di pelaminan itu beberapa bulan yang lalu. Membuat hati Leo teriris, apalagi saat perempuan itu melanjutkan, “Papa menerima lamarannya.” Wajah perempuan yang menjadi kekasih Leo selama lebih dari lima tahun mulai memerah. Linangan air mata tergenang di pelupuknya. Leo mulai meraih jemari Revi, kekasihnya. “Kenapa? Aku Cuma minta kamu menunggu sampai tahun depan.” Suara Leo bergetar. Posisi tinggi itu sudah di depan mata. Ia tidak mau kehilangan kesempatan besar, menjadi kepala cabang untuk area timur. “Aku sudah minta kamu datang melamarku terlebih dulu, Leo.” Rahang Leo mengeras. Tangannya mengepal tidak terima. Menurutnya, jika Revi memang mencintainya, maka perempuan itu seharusnya mau menunggu dan bersabar. Tidak ada sedikit pun niat dalam dirinya untuk meninggalkan kekasihnya itu. “Aku melakukan semuanya untuk kamu, Rev. Aku ingin menjadi pantas di depan keluargamu. Tapi ... tapi ... kenapa?” Bagi Leo, Revi bukan hanya sekadar kekasih. Perempuan itu adalah satu-satunya hal berharga yang ia miliki saat ini. Ia tidak memiliki siapa pun sejak kematian neneknya dua tahun yang lalu. Melepas Revi sama dengan melepas alasan untuk hidup. “Leo, maaf, aku bosan menunggu. Kamu Cuma bisa berjanji. Aku rela menunggu saat kamu bilang akan melamarku sepulang dari Inggris. Tapi, kamu terus membuat alasan,” ungkap Revi. Perempuan itu sudah berlinang air mata. Pipinya telah basah sejak tadi. Leo terdiam mendapati kenyataan bahwa Revi meragukan ketulusannya. Semua perjuangan yang ia lakukan untuk Revi. Leo adalah yatim piatu. Ia diasuh oleh neneknya dengan bantuan yang pensiunan dari kedua orang tuanya. Sementara, Revi berasal dari keluarga terpandang dan berkecukupan. Hal itu yang menyebabkan Leo ingin membuktikan diri bahwa ia mampu menjadi lelaki sukses yang bisa memenuhi kebutuhan kekasihnya itu. Namun, ambisi yang tidak ada habisnya, justru memisahkan Leo dari perempuan yang ia cintai. Kini, ia duduk menjadi tamu di pernikahan kekasihnya. Pandangan Leo mengedar pada ruangan yang didominasi putih dan perak. Bunga-bunga berjejer rapi di pinggir karpet merah yang menyambut tamu. Di atas pelaminan yang di depannya dipenuhi mawar putih duduk Revi dan suaminya. Senyum getir tersungging di bibir Leo. Harap untuk menggantikan posisi lelaki itu di atas pelaminan mendesak. Kalau saja pengendalian dirinya kurang, mungkin saja sudah ditarik lelaki itu untuk turun. Namun, ini pilihan Revi. Ia menghargainya. “Kalau kamu bahagia dengan pilihanmu, aku juga ikut bahagia,” ungkap Leo saat itu. Ia berusaha memberi senyum yang paling indah pada Revi. Meski, hatinya sudah hancur tidak tersisa. “Aku harusnya tau kalo kamu memang tidak pernah serius, Leo!” tutur Revi. Perempuan itu menghempas jemari Leo dan beranjak menjauh, menjadikan kalimat itu sebagai baris kata terkahir yang masuk dalam telinga Leo. Langkah Leo pelan menyusuri karpet merah. Beberapa mata memandang sambil berbisik. Bibirnya melebar, menampakkan sebagian deretan giginya. Berusaha meyakinkan diri bahwa kebahagiaan Revi adalah yang utama. Kakinya menaiki empat anak tangga satu persatu. Perempuan itu di sana, berdiri menanti. Tenggorokan kering Leo dialiri ludah, meski berat. Napasnya terpotong-potong menahan sesak. Impiannya hanya satu, membahagiakan Revi. Mata dua sejoli yang pernah memadu kasih itu bersibobrok. Saling menatap lama, mengenang segala kenangan indah. Leo, lelaki yang dulu menjanjikan dunia pada Revi. Nyatanya, ia kini justru dipersunting oleh lelaki lain. “Selamat, ya,” lirih Leo. Ia menyunggingkan senyum dengan tangan menyalami jemari lembut Revi. Hanya hari ini, ia ingin menatap perempuan bergaun putih itu sebagai cinta dalam hidupnya. “Terima kasih,” balas Revi. Wajah mempelai wanita itu tampak bahagia. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun. Mungkin memang Revi tidak salah. Ini salah Leo yang tidak bisa mengambil sikap. Jemari Leo beralih pada jemari kekar milik mempelai pria. Ada seringai di wajah lelaki yang mengenakan tuksedo putih itu. Merasa senang telah memenangkan perempuan yang telah dipersuntingnya. “Tolong jaga Revi!” pinta Leo menepuk lengan Saheer. Banyak hal yang ingin Leo katakan pada Saheer. Ia ingin lelaki itu tahu bahwa Revi adalah sosok yang sederhana. Lebih suka makan di pedagang kaki lima, daripada di restoran mahal. Lebih memilih membaca buku di perpustakaan, daripada nongkrong di kafe. Leo juga ingin Saheer tahu bahwa Revi takut gelap dan cicak. Perempuan itu menyukai hujan, terutama aroma saat hujan bertemu dengan tanah kering untuk pertama kali. Petrikor, kata Revi itu namanya. Namun, lidah Leo mendadak kaku. Ia lantas tersenyum. Saat melangkah untuk menuruni tangga, ia hampir limbung. Pandangannya mengedar ke penjuru ruangan, tempat tamu-tamu yang lain berada. Merasa menjadi pusat perhatian, ia segera menyeret langkah meninggalkan ballroom di salah satu hotel berbintang itu. *.*.*. Langit di luar kaca jendela gelap berteman bulan separuh dan beberapa bintang. Lampu-lampu di bawah gedung itu lebih bercahaya dari bintang di atas. Sesekali Leo menyeringai, mengejek dirinya sendiri. Sesal yang bersarang di hatinya tidak lagi berguna. Perempuan yang dulu dengan bangga ia sebut sebagai milik telah digenggaman orang lain. “Jadi, besok kamu akan pindah ke Makassar?” Pertanyaan dari seorang lelaki yang duduk di sofa tidak jauh dari tempat Leo berdiri tidak mendapatkan jawaban. “Sudahlah, Bro. Masih banyak perempuan lain di luar sana,” sambung lelaki yang di tangannya ada gelas bening berisi cairan cokelat keemasan. Leo masih berdiri di depan jendela. Matanya lurus ke depan, menatap pantulan wajahnya yang seakan bersatu dengan cahaya lampu di jalanan Ibu Kota. Di luar sana memang banyak perempuan yang bisa menerima Leo. Namun, mereka bukan Revi. Perempuan-perempuan itu tidak akan melihatnya sebagai Leo, si anak yatim yang berpeluh untuk mendapatkan receh. Mereka hanya mengenal Leo, seorang deputi di sebuah perusahaan bonafit. “Ini salahku,” lirih Leo. Tangannya mengepal hingga buku-bukunya tercetak jelas dan kulit di sekitarnya memutih. “Kalau saja aku tidak serakah, Revi masih bersamaku.” Lelaki yang berada di sofa meletakkan gelas berisi alkohol di meja. Ia sudah berdiri di samping Leo. Memasukkan dua tangan di saku celana jeans-nya. “Maksud lu baik, Bro.” Martin—begitu lelaki itu dipanggil—menepuk pundak Leo. “Mungkin kalian emang nggak jodoh.” Leo mendongak, menatap bulan separuh. Itu adalah hatinya yang kini tidak utuh lagi. Sebagian bongkahan itu telah pergi, dibawa pergi oleh pemiliknya. “Lu tau, setiap kali gue menjemput Revi waktu masih kuliah dulu, orang tuanya selalu menatap gue tidak suka,” ungkap Leo. “Gue yatim piatu, bekerja di bengkel untuk menyambung hidup.” Benak Leo mengembara menuju hari di mana ia merasa rendah diri. Hari yang membuatnya memantapkan niat untuk menjadi orang besar. Ia ingin diterima dan dipandang sebagai lelaki yang pantas. Namun, semua kerja kerasnya sia-sia sudah. Sinar jingga yang selalu ia kejar telah berganti gelap. Pupus sudah harap yang sudah ia tanam. “Menurut gue, ini saatnya lu jadiin diri sendiri sebagai alasan untuk bertahan. Nggak ada gunanya terpuruk untuk cewek yang nggak ngerti perjuangan lu,” saran Martin. “Pergi ke Makassar. Kalo lu berhasil capai target dalam tiga bulan, posisi COO lu yang pegang.” Pandangan Leo berbalik pada Martin. Ia memang mengejar posisi itu. Posisi yang akan membuatnya puas. Merasa lebih pantas. Namun, sepertinya sudah tidak berguna lagi. .*.*.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN