Perempuan berambut ikal itu meregangkan otot-otot lehernya. Seharian berada di depan komputer membuat mata dan tubuhnya kelelahan. Rekan-rekannya yang lain sudah pamit jam lima tadi. Sudah dua jam berlalu, dan ia baru selesai mengerjakan beberapa berkas untuk keperluan serah terima dengan pimpinan cabang yang baru. Sebagai manajer administrasi, ia bertanggung jawab atas dokumen-dokumena itu.
Winka Marissa, nama itu yang tertera di name tag yang tergantung di leher jenjangnya. Cekatan, ia menata meja kerjanya setelah mematikan komputer. Memerhatikan ruangan itu secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada barang yang berceceran. Kotak bekal yang tadi ia bawa sudah masuk di dalam tas jinjing.
Suasana di kantor administrasi lengang. Hanya ada derik pintu yang dibuka oleh Risa yang terdengar. Kubikel-kubikel krem yang biasanya diisi oleh rekan-rekan Risa sudah kosong. Perempuan berambut ikal yang berniat pulang itu menggeleng-geleng melihat beberapa meja yang ada di kubikel berantakan.
Di salah satu meja ada camilan sisa yang tidak dihabiskan oleh pemiliknya. Risa mengambil bungkusan itu, meletakkannya di dalam plastik yang baru saja diambil dari pantry. Kursi-kursi yang tidak masuk dalam meja, ia dorong dan memperbaiki posisi agar rapi.
Langit telah gelap, tetapi tempat yang merupakan area perkantoran itu masih terang. Jalan Jenderal Sudirman di mana gedung kantornya berada seakan tidak pernah lengang. Lampu-lampu di Lapangan Karebosi masih terang, begitu pun pusat perbelanjaan yang ada di sampingnya.
Risa, perempuan itu, berdiri di samping pos penjaga menunggu taksi online yang telah ia pesan. Mobil Risa dibawa oleh temannya ke salah satu Mall. Ia berniat untuk menyusul ke salah satu Mall besar yang merupakan tempat berkunjung seluruh kalangan di kota besar itu.
Mata Risa mengembara menatap etalase-etalase yang menampilkan sepatu dan pakaian. Ia berbelok memasuki salah satu toko. Menatap high heels yang tingginya sekitar lima sentimeter. Sepatu itu dibalik dan mencoba mencari label harga. Senyum puas terpasang di wajah cantik itu. Harga yang sesuai dengan kualitas.
Besok adalah kedatangan bos baru Risa. Perempuan itu merasa perlu untuk mengenakan pakaian yang lebih rapi dan baru. Kesan pertama adalah kunci segalanya.
Deringan ponsel mengalihkan perhatian perempuan dengan rok pensi selutut itu. Tidak dijawab, ia melenggang keluar dari toko dengan satu paper bag.
Rumah makan cepat saji yang terdapat di depan super market asal Korea itu cukup ramai. Terlihat antrian yang tidak beraturan. Meski bekerja di perusahaan makanan cepat saji, Risa tidak mengonsumsi produknya sejak tiga tahun yang lalu. Memutuskan untuk memulai pola hidup sehat adalah alasannya.
Tatapan perempuan semampai itu mengedar ke seluruh ruangan. Namun, yang dicari belum ketemu. Pintu yang menghubungkan indoor dan outdoor restoran itu dibuka. Embusan air curtain yang terpasang di atas pintu sempat menyapu kulit Risa. Perempuan yang dicari Risa ada di dekat terali besi yang menjadi pagar area outdoor itu.
Perempuan berambut ikal berwarna maron itu adalah Kinan, teman serumah Risa di Makassar. Kinan tampak menyesap sebatang rokok berwarna putih. L.A mentol mini, setahu Risa itu merek rokok kesukaan Kinan. Ada seorang lelaki yang mengenakan kemeja serupa dengan Kinan. Sepertinya teman kerja.
Baru saja Rida ingin menghampiri dua orang yang sedang duduk dengan meja yang hanya berisi piring kosong. Namun, tiba-tiba ia hampir terjerembab akibat tabrakan dari seorang perempuan berjilbab toska. Risa hanya menatap punggung perempuan berjilbab itu. Seketika terbelalak saat si perempuan berjilbab menarik rambut Kinan.
Suara teriakan perempuan berjilbab toska juga erangan kesakitan Kinan bersambut dengan keriuhan oleh pengunjung lain. Orang-orang yang sedang menikmati makanan mendadak meninggalkan kursi. Mereka menuju satu titik, menonton dua perempuan yang sedang beradu dengan satu lelaki yang mencoba memisahkan. Ada yang tercengang, ada pula yang sigap mengeluarkan ponsel untuk merekam. Tidak jarang pula yang melakukan siaran langsung melalui media sosial.
Risa tidak ingin masuk dalam tangkapan kamera itu, tetapi tidak tega melihat Kinan yang diserang bringas oleh perempuan yang terhasut emosi. Ia melangkah dan menarik Kinan yang sudah berhasil menarik pasmina yang terpasang di kepala perempuan yang entah siapa itu.
"Dasar Pelakor murahan!" teriak perempuan itu pada Kinan. Tangannya masih berusaha meraih rambut Kinan, meski pinggangnya sudah dipegang erat oleh lelaki yang Risa tebak sebagai suaminya.
"Punya mulut dijaga, ya!" Kinan Tidka mau kalah. Perempuan itu menghentak nerusah terlepas dari pegangan Risa.
"Udah, Kinan. Ayo!" Risa menarik Kinan menjauh.
Sekuriti sudah datang, begitupun supervisor restoran itu. Suasana kembali kondusif setelah supervisor datang mengarahkan. Sekuriti pun mulai berbincang dengan ibu yang jilbabnya masih berada di tangan Kinan.
"Maaf, ya, Pak, sepertinya hanya salah paham," bela Risa pada sekuriti saat si perempuan yang rambutnya sudah acak-acakan mengatai Kinan sebagai pelakor.
"Dia teman kerja, jangan malu-maluin begini," bisik lelaki bertubuh tinggi itu.
"Alasan mi terus! Kau kira saya tidak tau dia selingkuhanmu!" Perempuan itu berteriak dengan aksen Makassar yang kental.
"Eh, jangan asal ngomong lu, ya!" Jiwa bar-bar Kinan bangkit lagi. Untung ada Risa yang terus menahan agar ia tidak maju untuk menampar mulut perempuan yang terus mengatainya pelakor.
"Bu Risa," sapa lelaki berkemeja putih dengan celana abu-abu. Lelaki itu adalah supervisor restoran yang kebetulan merupakan salah satu cabang milik perusahaan Risa bekerja.
"Dia teman saya, Pak. Maaf, membuat keributan."
Lelaki itu mengangguk pelan. Lantas, melangkah ke tengah-tengah. "Maaf, Pak, Bu, tapi kalau memang ada masalah harap diselesaikan di luar tanpa mengganggu pengunjung yang lain."
Kinan memicingkan mata pada perempuan yang tadi menyerangnya bergantian dengan lelaki berseragam sepertinya. "Tanya tuh istri lu, gue bukan perempuan selera rendahan."
Risa membungkuk sedikit sebagai bentuk ucapan maaf. Langkahnya mengekor pada Kinan yang telah berbalik terlebih dahulu. Mata-mata di meja restoran itu mengekor pada Kinan. Mereka saling berbisik tentang kejadian tadi. Kata-kata pelakor bermunculan dari mulut orang-orang itu. Cap baru yang menempel pada Kinan.
*.*.*.
"Ouch!" adu Kinan saat Risa membersihkan bekas cakaran di lengannya.
Risa cekatan membersihkan luka yang berdarah, juga mengompres bengkak di kepala Kinan. Sesekali Kinan mengumpati perempuan yang merupakan istri rekan kerjanya.
"Kamu juga, sih. Ngapain coba berduaan sama suami orang?" Risa datang dengan segelas teh yang di dalamnya ada daun mint.
Kinan berselonjor di sofa. Teh itu mulai diseduh, mengaliri kerongkongan Kinan. Perempuan itu mulai beralasan hanya keluar makan malam bersama. Ia dan Rifal---lelaki di restoran tadi---hanya sekadar teman kerja. Tidak lebih.
"Kalo mau jadi pelakor, ngapain tanggung. Mending rebut Ardi Bakrie. Penghasilanku lebih banyak dari suami perempuan gila tadi," jelas Kinan kesal. Ia menatap kukunya. Baru kemarin Kinan memasang nail art. Kini, hasil karya perpaduan warna peach dan faded glitter itu patah di beberapa jari Kinan.
"Kamu punya teman yang kerja di kantor pengacara, 'kan?" tanya Kinan masih memperhatikan kuku-kukunya. "Kira-kira aku dapat berapa kalo ngelaporin Perempuan Gila itu?"
Risa menggeleng. Menolak gagasan Kinan untuk melaporkan perempuan yang menyerangnya tadi. Menurut Risa, kasus tadi tidak usah diperpanjang lagi. Mungkin istri rekan kerja Kinan itu sedang cemburu buta. Selain itu, Kinan baik-baik saja. Tidak ada luka serius.
"Enak di dianya, dong. Lihat, kuku mahalku jadi rusak," keluh Kinan bersedekap. Dendam terlanjur merasukinya. Selain itu, ia juga sedang butuh uang, ganti rugi secara materil dan moril sepertinya ide yang bagus.
Risa hanya mendesah frustrasi begitu Kinan menyampaikan niatnya. "Ya, nggak bisa sepenuhnya salahin istrinya temanmu. Lihat tampilan kamu, udah kayak germo."
Kinan dan Risa telah bersahabat sejak masih kuliah. Namun, mereka adalah dua perempuan dengan tampilan dan perangai yang berbeda. Risa lebih senang tampil sederhana dan sopan. Sementara, Kinan menyukai pakaian mini dan ketat.
"Enak aja, don't judge a book by its cover!" tekan Kinan tidak terima.
"Bodoh amat, Kin. Pokoknya aku nggak mau ikut-ikut." Kedua tangan Risa terangkat di udara. Ia lantas berdiri dan pamit, "Aku mau bobo. Besok bos baru mau datang."
Niat Risa untuk tidur lebih awal hanya tinggal rencana. Tatapanya kini berpusat pada langit-langit kamar. Penyakit insomnia perempuan itu belum sembuh. Setiap malam ia kerap kali terjaga dengan pikiran yang melayang.
Benak Risa dipenuhi oleh insiden di restoran tadi. Ingin mengejek kelakuan sang istri yang begitu gegabah. Pun mengutuk kelakuan si suami yang mau saja pergi berdua dengan perempuan lain tanpa memikirkan perasaan istri sendiri.
Dari insiden itu, pikiran Risa terus melayang. Suara piring pecah dan teriakan seakan menggema dalam kepalanya. Wajah perempuan yang merusak memori masa kecilnya muncul begitu saja. Dadanya seketika sesak. Air mata pun muncul begitu saja dari pelupuknya.
Hingga kini, Risa belum mengerti hakikat dari pernikahan. Jika memang untuk saling melengkapi, maka mengapa harus ada orang ketiga?
Risa tidak habis pikir pada pasangan yang tega mengkhianati kesakralan akad demi nafsu sesaat. Harusnya manusia bisa belajar pada burung maleo.
***