Bos Baru

1370 Kata
Jalanan yang pada dasarnya ramai ditambah proses pembangunan yang baru saja dimulai menambah kemacetan. Biasanya, Risa selalu berangkat kerja lebih awal. Namun, insomnia yang kambuh, menyebabkan perempuan itu tidur saat menjelang subuh. Imbasnya, ia terlambat bangun. Dalam hal apa pun, Risa selalu taat peraturan. Untuk hari ini, ia mengenyampingkan semua aturan lalu lintas. Mobil yang ia kendarai menerobos lampu merah begitu saja saat dirasa memiliki kesempatan. Ia tidak peduli pada klakson-klakson yang memekakkan telinga. Di kepalanya hanya satu, tidak boleh terlambat. Mobil Risa terparkir di basemen gedung tinggi itu. Perusahaannya menyewa dua lantai di gedung milik salah satu jutawan Sulawesi Selatan itu, lantai tujuh dan delapan. Ia menekan tombol di kedua lift yang ada di basemen. Kaki Risa bergerak tidak sabaran. Sesekali bibirnya bawahnya digigit. Ini hari pertama kedatangan kepala cabang baru pengganti Bu Angel. Mau ditaruh di mana muka Risa, jika sampai terlambat. Padahal, ia adalah karyawan yang terkenal disiplin dan cekatan. Lift sebelah kanan terbuka lebih dahulu. Lift itu kosong, hanya ada dirinya. Barulah saat di lantai satu, mulai banyak karyawan lain yang juga bekerja di gedung itu mulai masuk. Risa terdorong ke belakang tepat di sudut. Setiap ruangan divisi dipisah, lantai tujuh tempat divisi operasional, teknisi, dan . Setelah keluar lift, ruangan pertama adalah milik bos barunya. Risa mengintip sedikit melalui kaca segi empat yang ada di pintu. Ruangan itu masih kosong, berarti Risa masih aman. Mungkin bos barunya itu masih lelah setelah menjalani penerbangan Jakarta-Makassar. Meskipun, waktu tempuh hanya dua jam, tetap saja melelahkan. Saat Risa membuka ruangan divisi administrasi, ruangan itu sunyi senyap. Rekan-rekannya yang lain, sudah berada dalam kubikel masing-masing. Suara pertemuan jari-jari dan keyboard memenuhi ruangan. Sebenarnya, hal ini cukup aneh. Biasanya orang-oramg dalam ruangan itu, meski bekerja masih sering mengobrol satu sama lain. Tidak mau terlalu berpikir, Risa mulai menyapa orang-orang yang sibuk dengan komputer. Sapaan Risa mendapat respon dari rekan-rekannya, tetapi terdengar kamu dan formal. Meski Risa adalah atasan, ia tidak pernah mau mendapatkan perlakuan yang terlalu formal. “Ada apa?” tanya Risa pada perempuan berjilbab hitam. Mata perempuan itu bergerak-gerak tajam ke samping, sebagai tanda agar Risa menatap ke ruangannya. Pandangan Risa tertuju pada ruangan kecil miliknya. Dari pintu yang terbuka, ia bisa melihat dua lelaki yang sedang mengutak-atik komputernya. Panas di seluruh tubuh Risa naik hingga ubun-ubun. Lelaki yang berdiri dengan tubuh condong ke komputer masih dikenal olehnya, Pak Nur, salah satu staf IT. Sementara, lelaki yang dengan berani duduk di kursi sambil membuka komputer tidak dikenal oleh perempuan itu sama sekali. Jika dilihat dari wajah, maka lelaki itu mungkin belum mencapai usia 30-an. Risa pun menyimpulkan, alih-alih pemimpin baru, kantor pusat justru mengirim auditor baru untuk melakukan audit dadakan. “Selamat pagi, Pak!” sapa Risa dengan suara tinggi. Pak Nur menjawab dengan ramah, berbeda dengan lelaki asing yang duduk di kursi milik Risa. Lelaki itu hanya mengangkat wajah sekilas, lalu kembali terfokus pada layar komputer. Perlakuan lelaki asing itu memantik emosi Risa. “Apa Anda sadar kalau perbuatan Anda melanggar kode etik perusahaan? Apa Anda pikir data-data dalam komputer saya itu mainan? Bahkan, menerobos pengaman dengan bantuan IT!” Si pria asing menyeringai. Ia mengungkapkan fakta bahwa dirinya telah duduk sejak dua puluh menit yang lalu dan pemilik ruangan yang ia tunggu baru datang sekarang. Wajah Risa merah padam, menahan malu. Ia terdiam sejenak. Merasa malu karena memang ia terlambat, dan itu salah. “Te-tetap saja. Anda tidak seharusnya membuka komputer saya tanpa persetujuan saya,” tekan Risa dengan awalan yang gugup. “What a waste!” desis lelaki itu. “Aku makin penasaran dengan isi komputer ini. Mungkin ada cacat dalam data-data di dalamnya.” Ia melanjutkan dengan nada curiga, memicingkan mata pada Risa. Kedua rahang Risa menyatu erat, seakan menggigit sesuatu yang keras. Ia tidak terima dengan tuduhan lelaki sok tahu di depannya itu. “Apa maksud Anda, saya berbuat curang?” tanya Risa yang dibalas dengan bahu bergidik. “Simpan kata itu untuk diri Anda!” tegasnya. Risa melangkah mendekat ke kursi. Ia menatap lelaki yang menyeringai ke arahnya. Sungguh, Risa ingin memukul kepala lelaki yang lancang membuka data yang harusnya hanya dibuka olehnya. Seakan mengerti, lelaki itu berdiri. “Saya mau semua data pay in dan pay out, dari awal tahun sampai kemarin. Include berita-berita acara di ruanganku, baik soft copy dan hard copy!” pinta lelaki yang tingginya melampaui Risa itu, “before lunch!” tekannya. Pak Nur mengekor di belakang lelaki yang menyebalkan itu. Baru kali ini ada auditor selancang lelaki tadi. Risa sudah berencana untuk membuat keluhan pada Pak Ilham selaku supervisor tim auditor. Lihat saja, lelaki itu pasti akan menyesal. Satu tarikan napas panjang diambil oleh Risa, lalu diembuskan perlahan. Kepalanya yang tadi memanas mulai sejuk. Sudah saatnya melakukan pekerjaan yang diminta oleh auditor baru yang sok berkuasanya itu. Dalam bekerja, Risa selalu menekankan untuk bekerja santai, tetapi serius. Di mana mereka bisa bercanda, tanpa melupakan pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun, kali ini ia tidak ingin ada candaan. Suaranya ditekan setiap kali memerintah. Tugas mulai dibagi berdasarkan posisi masing-masing. Selfi berada di bagian sales, hingga perempuan berambut bob itu bertugas untuk mengumpulkan data penjualan. Sementara, Mia bertugas untuk mengumpulkan data pembiayaan dan segala jenis pengeluaran lainnya. Rutukan dan u*****n tidak berhenti dilontarkan oleh Risa dalam hati untuk auditor kacang itu. Padahal, kalau ingin berbicara kedudukan, posis Risa lebih tinggi dari auditor baru itu. Tumpukan berkas mulai dikeluarkan dari jejeran map yang ada di gudang. Untunglah, ia sering meminta Rudy—office boy kantor—agat rutin membersihkan gudang itu. “Bagaimana mungkin kita audit lagi, padahal baru selesai bulan lalu?” tanya Risa. Di tangannya sudah ada beberapa tumpukan map. “Loh, yang tadi bukannya Pak Leo?” Asti yang menemani Risa keheranan. “Oh, namanya Pak Leo,” sebut Risa. Ia terdiam sejenak, mengalihkan pandangan pada Asti. Matanya membesar dengan alis terangkat. Berharap perkataan Asti tadi salah. “Pa-Pak Leo?” Pikiran Risa kini menghardik diri sendiri. Ia memang sempat curiga bahwa lelaki yang ada di ruangan tadi adalah kepala cabang yang baru. Namun, usia yang masih sangat muda menipu Risa. Ia mengira Pak Leo adalah lelaki tua berkepala plontos dan perut buncit. Jauh dari ekspektasi, bis barunya jutru sangat muda dan cukup keren. Semua bekerja cepat hari itu. Data-data yang dibutuhkan Risa sudah siap, begitupun file-file yang diperlukan. Senyum puasa tersungging di bibir perempuan itu. Mungkin, ia salah karena terlambat, tetapi kali ini ia akan tunjukkan hasil kerjanya. “Maaf, Bu. Data tanggal 26 bermasalah.” Selfi memberi informasi. Ia lanjut menjelaskan mengenai kesalahan cabang dalam pengiriman laporan penjualan. Menurutnya, laporan yang salah itu telah dikembalikan, tetapi sampai sekarang belum ada. “Telepon cabangnya! Saya mau laporan itu diantar sekarang!” Suara Risa menggelegar di ruangan kecilnya itu. Perempuan itu jarang marah, nyaris tidak pernah. Itu sebabnya karyawan yang mendengar amukan Risa seketika tegang. Suasana di ruang administrasi siang itu mencekam. Tidak ada tawa atau suara kunyahan yang terdengar. Hanya ada suara ketikan dan percakapan formal via ponsel. Sudah jam sebelas, tetapi laporan yang ditunggu Risa belum juga datang. Tidak mau mempertaruhkan kredibilitas, ia memutuskan untuk membawa berkas dan data yang diminta oleh Pak Leo. Melihat dari usia muda Pak Leo, Risa yakin lelaki itu masuk melalui jalur khusus. Tidak mudah untuk mendapatkan jabatan kepala cabang yang memimpin seluruh Indonesia Timur, Sulawesi, sebagian Sumatera, juga Bali dan Surabaya. Ia ragu bos barunya itu bisa menyelesaikan analisa dalam satu jam. Sekali lagi, hari itu semua seakan berkonspirasi untuk menjatuhkan Risa. Saat perempuan itu asyik mengerjakan beberapa laporan, ponselnya berdering. Panggilan dari Pak Leo. Nomor bosnya itu memang sudah disimpan sejak kemarin, saat penyambutan di grup What**pp. Pak Leo menelepon hanya untuk meminta Risa agar segera ke ruangannya. Di luar ekspektasi Risa, berkas yang ia kumpul sudah selesai dianalisa. “Laporan tanggal 26 mana?” tanya Pak Leo. Risa mulai menjelaskan alasan yang membuat laporan itu belum ada. Terkesan menyudutkan toko, tetapi kenyataannya memang itulah yang terjadi, keteledoran pihak toko. “Ini bukan zaman batu, Bu. Laporannya bisa difoto dulu dan di-print,” papar Leo. Cara itu sempat terpikir oleh Risa, tetapi rasa tidak enak mengurungkan niatnya. “Apa itu hobby-mu? Melimpahkan kesalahan yang harusnya tanggung jawab kamu!” “Maaf, Pak.” Risa benci situasi itu. Ia benci saat harus meminta maaf, saat tidak melakukan kesalahan. *..*..*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN