Anniversary
Anin menengadahkan kepalanya menatap langit yang kian pekat, tidak ada bulan dan bintang Suram seperti hatinya saat ini.
"Jam setengah sembilan." Anin bergumam setelah melihat jam di pergelangan tangannya, itu artinya ia sudah berdiri di pinggir jalan selama dua jam setengah.
Hari ini adalah hari jadi pernikahannya yang kedua dengan Faris. Faris berjanji akan menjemput Anin dan mengajaknya makan malam di kafe.
Anin sangat senang dan bersemangat, senyum selalu tersungging di bibir tipisnya, lagu-lagu cinta pun ia dendangkan saat bekerja, ia sangat tidak sabar menantikan saat-saat pulang kantor. Anin mengambil ponsel dari dalam tasnya.
Wanita dua puluh enam tahun itu masih berpikiran positif, mungkin sang suami telat menjemput karena terjebak macet. Kantornya dan Faris berlawanan arah dan melewati banyak titik macet,helaan napas terdengar dari mulut Anin ketika akhirnya sambungan telepon terhubung.
"Halo, assalamualaikum," sapa Anin.
"Waalaikumsalam, kamu lembur ya, Nin? Jam segini kok belum pulang, enggak ada makanan pula," kata Faris dengan santai.
"Kamu ada di mana sekarang, Mas?"
"Di rumah, lagi main game sama Ari dan Doni."
"Apa?" Anin mulai kesal.
"Ntar kalau pulang bawain nasi goreng tiga pedes semua oke!"
Anin menarik napas dalam-dalam. "Apa kamu sama sekali enggak ingat sama janji kamu tadi pagi, Mas?"
"Janji?" Faris balik bertanya.
"Kamu janji akan menjemput aku dan ngajak makan malam untuk merayakan hari jadi pernikahan kita yang kedua, kan?" Air mata yang susah payah Anin tahan, keluar juga.
Faris terdiam karena sedang bingung menyusun kata-kata.
"Kenapa diam, Mas? Segitu mudahnya kamu melupakan janji ke aku!"
"Nin, aku lupa soalnya Ari sama Doni ngajakin main game," sahut Faris dengan terbata-bata.
"Demi game kamu membiarkan aku menunggu di depan kantor selama dua jam lebih, Mas? Bener-bener, ya, kamu ....!"
"Ya, udah pulang aja naik ojol, tapi jangan lupa pe ...."
Belum selesai Faris berkata-kata, Anin sudah mematikan sambungan telepon. Ia duduk di tepi trotoar dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang seiring tangisannya yang kian kencang.
Beberapa orang yang melintas menatap Anin dengan tatapan heran, ada pula yang merasa kasihan, bahkan mengejek. Hati Anin sangat sesak, hari bahagia yang harusnya diisi dengan sukacita malah berakhir mengenaskan.
Di hari jadi pernikahan mereka yang pertama, Anin sudah memasak makanan kesukaan Faris plus kue tart. Mendekorasi rumah dengan bunga dan balon berbentuk hati, Anin pun sudah berdandan dan memakai gaun yang ia beli dari hasil mengumpulkan uang selama empat bulan.
Namun, Faris yang berjanji akan pulang cepat malah memilih menemani adik perempuannya ke acara reuni SMA, lalu menginap di rumah orang tuanya. Saat kembali ke rumah tidak ada permintaan maaf apalagi penyesalan.
Dengan bangga, Faris malah menceritakan kemeriahan pesta reuni dan tanpa memikirkan perasaan Anin ia mengatakan bertemu dengan cinta pertamanya. Faris memang pernah menjalin hubungan istimewa dengan salah satu sahabat adik perempuannya, yang bernama Farina.
Anin memilih diam karena tidak mau ada konflik dan perdebatan dalam rumah tangganya, ia memendam semua rasa kesal, kecewa, dan sedih sendiri dan menangis dalam diam.
"Nin," panggil seseorang.
Anin mendongak. "Dit, lo belum pulang?" Buru-buru Anin menyeka air matanya.
"Gue kan lembur, lo kenapa masih di sini? Katanya Faris ...."
"Dia lupa lagi sama janjinya, Dit!" Anin memotong perkataan Aditya.
Aditya mendengus kesal. "Bisa-bisanya dia ngelupain istrinya sendiri," gumamnya.
Anin berdiri dan mendekati Aditya. "Apa gue enggak berarti buat dia, ya, Dit?"
Aditya menggedikan bahunya, lalu mengajak wanita berkacamata itu untuk naik ke motornya karena ia yang akan mengantar Anin pulang. Akan tetapi, Anin menolaknya karena akan menesan ojek online.
"Kelamaan, Nin," kata Aditya geregetan.
"Udah malam dan kayaknya mau hujan."
Setelah dibujuk akhirnya Anin mau pulang bareng Aditya. Dari kaca spion Aditya bisa melihat sahabatnya dari SMA itu sedang menangis. Aditya semakin merasa kesal dengan Faris, ia tahu ini bukan pertama kalinya Anin menangis karena ketidakpedulian suaminya.
"Lo harus tegas sama Faris sesekali, Nin. Biar dia enggak seenaknya kayak gini," kata Aditya.
"Gue enggak tau harus bagaimana, Dit," sahut Anin.
Saat tiba di pintu gerbang perumahan, Anin meminta Aditya menghentikan laju motornya. "Gue turun sini aja, enggak enak kalau sampai di rumah."
"Sampai gang rumah lo aja, dari sini masih jauh banget lho."
"Enggak apa-apa, sampai sini aja." Anin bersikeras, Aditya pun menepikan motornya. Anin melepaskan helmnya dan mengucapkan terima kasih karena sudah bersedia mengantarnya padahal rumah mereka berlawanan arah.
"Iya, langsung istirahat, ya. Muka lo keliatan lelah banget," kata Aditya.
Anin mengangguk. "Lo juga, ya."
Aditya mengacungkan ibu jarinya. Pria berlesung pipi itu terus menatap Anin, ia ingin memastikan wanita itu aman. Sampai akhirnya Anin berbelok ke gang rumahnya barulah Aditya pergi.
Anin membuka pintu rumahnya, kekesalannya semakin bertambah karena ruang tamunya berantakan. Bantal -bantal kecil yang biasa ada di sofa, berserakan di lantai bersama dengan sepatu dan kaus kaki juga remahan keripik.
Sementara sang suami tengah asyik main game dengan dua sahabatnya, ia becanda dan tertawa seolah tidak sedang terjadi apapun. Tawa Faris terhenti saat Ari yang menyadari kehadiran Anin.
memberitahukannya, Faris meletakkan stik PS-nya dan langsung menghampiri Anin.
"Akhirnya kamu pulang juga, aku khawatir banget sama kamu," kata Faris.
Anin tersenyum sinis. "Ekspresi dan tingkah laku kamu sama sekali enggak menunjukkan kekhawatiran."
"Perasaan kamu aja, aslinya aku khawatir banget."
"Kenapa kamu enggak menghubungi aku? Atau ... Kalau kamu malas dengerin suara aku, bisa kirim pesan, kan?"
"Hape aku lowbat, tanya aja tuh sama mereka." Faris menoleh ke belakang dan memberikan kode agar salah satu sahabatnya membantunya bicara.
"I-iya, hapenya lowbat, Nin," kata Ari.
Anin mengambil bantal-bantal kecil dan meletakkan ke tempat semula. Namun, pertanyaan konyol Faris membuat emosinya kembali tersulut. Bukannya minta maaf pria berkulit putih itu malah menanyakan soal nasi goreng titipannya.
Anin menatap tajam suaminya. "Kamu mengikari janji dan membuat aku menunggu selama dua jam lebih, aku capek, pegel, dan malu karena diliatin orang, kamu enggak ada permintaan maaf malah nanyain nasi goreng, punya perasaan enggak sih kamu, Mas?!"
"Aku udah bilang kalau lupa, lupa kan manusiawi!" Faris membela diri. Ia memang tidak pernah mau disalahkan.
"Kalau lupa satu atau dua kali memang manusiawi, kalau keseringan itu keterlaluan namanya!" balas Anin dengan sengit. "Coba kamu ingat-ingat kamu sering berjanji mau jemput, ngajak makan siang bareng, makan malam, jalan-jalan saat weekend, sampai menemani konsultasi ke Dokter, ada yang kamu tepati?"
Faris menggaruk kepalanya, bingung harus berkata apa.
"Kamu selalu mementingkan kedua sahabat kamu dan keluarga kamu sendiri. Ari sakit perut kamu rela nganterin dia ke Dokter sampai membatalkan rencana mau nonton, Doni mau mudik kamu mau nganterin dia sampai ke stasiun, sedangkan aku harus konsultasi sendiri, kamu janji mau ngajak aku jalan, aku udah happy banget, tapi kamu batalin karena mau anter Farin ke salon."
Pertahanan Anin jebol juga, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang tirus. "Sebegitu enggak pentingnya kah aku dimata kamu, Mas?"
"Udah enggak usah marah-marah, kamu enggak malu diliatin Ari dan Doni."
"Harusnya mereka yang malu, ngapain masih ada di sini," kata Anin dengan ketus yang membuat Ari dan Doni salah tingkah.