Kedatangan Ibu Mertua

1075 Kata
Seperti biasanya Anin yang pulang terlebih dahulu, setelah mandi ia langsung membersihkan rumah, mengangkat jemuran, dan menghangatkan capcay sisa tadi pagi, lalu menyantapnya sendiri. Faris baru akan pulang larut malam apalagi ini weekend, ia pasti akan menghabiskan waktu bersama dua sahabatnya atau menginap di rumah ibunya. Sebagai seorang istri ia juga ingin menghabiskan malam berdua dengan suami, sekadar nonton film atau drama Korea. Namun, keinginan sederhana itu tidak pernah dianggap penting oleh Faris. Tiba-tiba ia mendengar suara pintu pagarnya dibuka, disusul suara mobil. Anin mengintip dari jendela untuk memastikan suaminya yang datang. "Tumben banget," gumamnya. Wanita bernama lengkap Anindya Paramita itu bergegas ke kamar untuk berganti pakaian, menyisir rambut, memakai bedak dan lipstik, serta parfum yang biasa ia pakai untuk menghadiri acara penting. Ini adalah peristiwa langka, jadi ia ingin menampilkan yang terbaik. Anin membuka pintu dan menyambut kepulangan suaminya dengan senyum manis, tetapi senyum itu sirna ketika mendapati suaminya pulang bersama Ibu dan adiknya, juga seorang wanita cantik yang tidak pernah Anin lihat sebelumnya. "Masak apa kamu, Nin?" tanya Bu Lina, Ibu dari Faris dan Farin. Wanita berusia lima puluh tiga tahun itu melenggang masuk ke dapur dan membuka tudung kepalanya geleng-geleng saat mendapati hanya ada semangkuk kecil capcay dan dua potong ayam."Kasian banget anak lelakiku, cuma dimasakin kayak gini." "Maaf, Bu. Biasanya Mas Faris kalau weekend pulang larut malam, malah kadang enggak pulang, jadi saya enggak masak," ujar Anin. "Karena pelayanannya tidak memuaskan makanya enggak betah di sini!" sahut Bu Lina. "Enggak ada cemilan juga, ya?" tanya Farin sambil membuka-buka kulkas. "Pantes Kakakku badannya tambah kurus." Ingin sekali Anin mengoleskan saus cabai di mulut adik iparnya yang julid itu, tapi keinginan tersebut harus ia pendam dalam-dalam. Jika itu sampai terjadi bisa-bisa Ibu mertuanya akan bertambah benci padanya. Di saat Ibu dan adiknya sedang menyudutkan Anin, Faris justru asyik becanda dengan Celine. "Nin, cepetan kamu beli martabak atau cemilan, malu ada tamu penting," perintah Bu Lina. "Memangnya dia siapa, Bu?" tanya Anin. "Dia Celine, mantan pacarnya Faris!" jawab Bu Lina. Jawaban Ibu mertuanya membuat hati Anin nyeri, bisa-bisanya mereka mengajak wanita itu ke rumah dan bertemu dengannya. 'Apa maksud semua ini?' tanya Anin dalam hati Bu Lina menepuk lengan Anin. "Bukannya cepet-cepet pergi beli cemilan malah melamun!" Anin mengangguk , lalu kembali ke kamarnya untuk mengambil dompet dan kunci motor. Di dalamnya hanya ada tiga lembar uang seratus ribu dan beberapa recehan. "Mudah-mudahan cukup sampai akhir bulan nanti." "Mas, anterin beli martabak di depan, yuk," ajak Anin. Awalnya Faris bersedia karena ia merasa tidak enak hati pada Anin, akan tetapi Bu Lina melarangnya. "Suami baru pulang kerja malah disuruh-suruh, lagian ada Celine kan enggak enak kalau ditinggal-tinggal." Anin menatap Celine sekilas, lalu kembali menatap Faris dengan sorot mata penuh harap agar sang suami menuruti perkataannya, Anin ingin sekali saja Faris bersikap tegas dan membelanya di depan Ibu dan adiknya. Namun, harapan Anin sia-sia belaka, Faris lebih menuruti kemauan ibunya. "Cuma beli martabak di depan sana kan enggak jauh, Nin." "Oke," sahut Anin dengan perasaan kecewa. "Istri kamu umurnya berapa sih, Kak Faris?" tanya Celine ketika Anin sudah pergi. "Dua enam," jawab Faris. "Keliatan tua, kayak udah empat puluhan, ya," celetuk Farin. Celine mengangguk sembari terkekeh. "Itulah wanita yang enggak berguna, enggak bisa merawat diri dan suami," timpal Bu Lina. Akhirnya Anin menjadi olok-olok tiga wanita itu, Faris hanya mendengarkan sambil sesekali tersenyum. Sebenarnya tidak tega mendengarnya, tetapi mau membela pun percuma karena apa yang dikatakan Ibunya memang benar. Setengah jam kemudian Anin tiba di rumah dengan membawa dua martabak dan lima bungkus es kelapa muda. Anin langsung ke dapur untuk memindahkan es ke dalam gelas, lalu membawanya ke ruang tamu. "Maaf, Mbak Anin, jadi ngerepotin," kata Celine berbasa-basi. "Enggak apa-apa, udah biasa," sahut Anin. Saat Anin akan kembali ke dapur, Bu Lina memanggilnya dan memintanya untuk duduk karena ada yang mau dibicarakan. Anin meminta suaminya untuk pindah tempat duduk ke sofa single. "Kamu sama Celine bukan muhrim, enggak baik duduk terlalu berdekatan." Dengan sangat terpaksa, Faris pindah tempat duduk. "Kata Faris, kamu yang pegang uang tabungan, ya, Nin?" tanya Bu Lina. "Iya, Bu," jawab Anin. "Harusnya uang itu dipegang suami, kamu mau menguasai uang tabungan itu sendiri, ya!" tuding Bu Lina. "Saya yang pegang karena saya yang rajin menabung, Bu. Gaji Mas Faris habis untuk bayar cicilan mobil dan ngasih jatah untuk Ibu dan Farin, ya kan, Mas?" Anin menepuk-nepuk paha Faris. "I-iya, Bu," jawab Faris yang gelagapan. "Udah ada berapa uang tabungannya?" Bu Lina kembali bertanya. "Emangnya ada apa, ya, Bu? Bukankah semua biaya kuliah Farin udah beres." Anin balik bertanya. Ekspresi wajah Faris menegang, ia yakin sebentar lagi akan ada perdebatan. Anin pasti tidak akan setuju dengan rencana ibunya. Ditambah lagi ada Celine, entah bagaimana pendapat wanita itu nanti pada keluarganya. "Tiga bulan lagi cicilan mobil itu lunas, kan?" tanya Bu Lina. "Iya," jawab Anin. "Sebentar lagi Farin lulus kuliah, ia memerlukan kendaraan untuk mencari kerja atau keperluan yang lain, jadi ... Ibu mau mobil yang ada di sini untuk Farin," ujar Bu Lina dengan santai. Anin tersenyum sinis. "Nyari kerja juga bisa bawa motor." "Mobil itu punya Faris yang bayar cicilannya dia, Faris pun udah setuju mobil itu untuk adiknya satu-satunya ini!" Nada suara Bu Lina mulai meninggi. Anin menatap sang suami. "Emangnya kamu mau berangkat dan pulang kerja naik kereta, Mas?" "Faris enggak akan naik kereta, masa udah ganteng-ganteng gini umpel-umpelan di kereta!" Bu Lina yang menjawabnya. "Lha, terus naik apa?" Anin tidak mengerti. "Beli mobil baru, uang mukanya pakai tabungan itu!" Lagi-lagi Bu Lina yang menjawabnya, sedangkan Faris hanya menunduk. Anin langsung menyatakan penolakannya, baginya uang tabungan itu untuk sesuatu yang perlu dan mendesak. Ia juga mengatakan bahwa Farin harus belajar bertanggung jawab, jika ia menginginkan suatu barang, ia harus berusaha mendapatkannya dengan usaha sendiri. Lagipula Anin ingin dinafkahi sebagaimana mestinya, ia juga ingin membeli kebutuhan pribadinya dan melakukan hal-hal yang sudah tidak pernah lagi ia lakukan sejak menikah, seperti ke salon, membeli buku dan pakaian. "Kamu sama adik ipar sendiri pelit banget, sih!" omel Bu Lina. "Itu bukan pelit, Bu. Tapi mengajarkan Farin tanggung jawab!" Anin tidak mau kalah, uang tabungan itu adalah Anin tidak rela uang tabungan itu digunakan untuk membeli mobil karena ia yang rutin mengisinya, Faris sendiri tidak pernah mau tahu dengan keperluan rumah tangga. Emosi Bu Lina membuncah, sumpah serapah pun ia berikan untuk menantunya itu. "Benar-benar kamu tuh, udah enggak cantik, enggak bisa ngasih anak, pelit lagi!" omel Bu Lina sembari menunjuk-nunjuk wajah Anin. Anin tidak tinggal diam, ia pun memberikan perlawanan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN