20. Bawang Putih?

1109 Kata
"Apa kamu sesuka itu sama Raka?" tanya Nava penasaran. Emi tersenyum kecil. "Aku mungkin kelihatan murahan, tapi ... aku mau perjuangin perasaanku ini, Mbak." "Kamu bilang Raka deket sama cewek lain, coba kamu pikir ulang. Mungkin dia nggak sebaik yang kamu pikir, mungkin dia udah punya cewek atau mungkin dia tipe cowok yang suka mainin perasaan cewek aja. Dia ganteng, Mi, terkenal, punya banyak uang, yang deketin dia mungkin banyak banget. Yang namanya kucing, kalo ada ikan pasti nggak nolak, kan?" Nava mencoba meyakinkan Emi. Jika Raka menolak Emi, Nava akan kehilangan teman baiknya di rumah kos itu. Namun, jika Raka menerimanya, ia tak ingin teman baiknya menjadi korban dari kenakalan Raka. Karena sikap Raka sejak semalam, Nava mengira Raka adalah tipe pria kurang ajar yang hanya suka memainkan perasaan wanita. Emi kembali tersenyum. "Raka bukan tipe cowok seperti itu, Mbak. Kemungkinan aku ditolak lebih besar, kayaknya aku harus siap-siap cari kos baru." Nava mengerutkan keningnya. "Jangan gitu, dong. Kalo kamu pergi, aku sendirian lagi. Aku nggak apa-apa bangun tiap pagi buat nemenin kamu lari pagi. Aku juga bakal bantu kamu apa pun selagi aku masih bisa. Jadi, jangan pindah, ya?" Lagi-lagi Emi tersenyum. "Kalo gitu, bantuin aku, ya, Mbak? Aku mau kasih kejutan buat Raka." Nava mengembuskan napas panjang. "Ya udah, aku bakal bantuin kamu. Tapi mau ditolak, mau diterima, jangan pindah kosan." Emi terkekeh. "Kita keluar, yuk? Cari makan siang." Gadis itu mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Nava memutar bola matanya. "Tapi aku malu, rambutku begini." Emi mendekat ke Nava, melihat rambut teman kosnya itu dari jarak yang lebih dekat. "Bagus, kok. Nggak norak, Kak Fanya emang jago." "Serius? Aku nggak apa-apa nih keluar begini aja?" tanya Nava yang tak percaya diri dengan penampilan barunya. "Cantik, kok. Sumpah. Aku juga mau lah diwarnain begini, ntar aku bilang ke Kak Fanya." Suasana tegang sudah berganti menjadi hangat seperti biasa. Nava dan Emi mengobrol seperti biasa lagi dan lalu keduanya pergi untuk makan siang. . . Malam tiba, Nava di kamar Emi, membantu gadis itu menyiapkan kejutan untuk Raka. "Jadi, kamu mau kasih hadiah ke Raka? Terus buat pengakuan kayak orang-orang begitu?" tanya Nava. "Iya, Mbak." "Kamu udah siap nanggung malu kalo Raka nolak kamu? Dia kan terkenal, apa nggak sebaiknya kamu diem-diem aja ngakuin perasaan kamu itu?" "Makanya aku udah siap-siap mau pindah kos kalo Raka nolak aku." "Kenapa harus pindah kos? Terus kamu juga mau pindah kampus? Kalian kan satu kampus." "Hm .... Boleh juga." "EMI!" Emi tertawa. "Kamu boleh suka sama cowok, itu hak kamu. Tapi jangan rusak masa depan kamu sendiri karena perasaan kamu itu. Kamu udah semester 6, kan? Lebih baik kamu fokus dulu ke kuliah kamu, kalo kamu berhenti di tengah jalan, sayang banget kan?" Nava terlihat begitu peduli pada teman kosnya itu. Emi mengangguk. "Justru itu, Mbak. Selagi aku masih deket sama Raka, selagi aku masih bisa ngobrol sama dia, aku mau ungkapin perasaan aku. Aku nggak tahu gimana besok-besok kalo dia udah nggak mau temenan sama aku. Nama dia makin terkenal aja, aku takut jarak di antara aku sama dia makin jauh." "Ya kalo begitu, kalian emang nggak jodoh. Aku tahu Raka ganteng, tapi kamu nggak boleh korbanin masa depan kamu begini." Emi tersenyum. "Jangan cuma senyam senyum doang. Aku nggak mau bantu, ya, kalo kamu cuma mau rusak masa depan kamu sendiri begini." Nava marah. "Ngerusak gimana? Aku nggak akan aneh-aneh, Mbak. Ada-ada aja kamu." "Kamu janji dulu kalo kamu nggak akan pindah kampus cuma karena Raka. Oke, kamu boleh pindah kos, kita bisa ketemu kapan aja dan di mana aja. Tapi kamu nggak boleh kuliahnya putus di tengah jalan." "Iya-iya, aku janji nggak akan pindah kampus." Emi tersenyum dan menatap Nava dengan tatapan centil. Nava terkekeh. Gadis itu lalu membantu Emi menyiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk memberi kejutan ke Raka. "Gimana kalo Raka punya acara? Apa nggak sayang duit kamu buat booking tempatnya? Mending kita buat kejutan di sini aja." "Di kamar ini maksud Mbak?" "Ngawur aja! Maksud aku di rumah ini aja." "Malu, Mbak. Gimana kalo ada Bu Lia sama anak-anak yang lain." "Iya, sih. Tapi kan itu lebih jelas, Raka pasti pulang, kamu nggak perlu buang-buang uang buat booking kafe." Emi terdiam sesaat, memikirkan saran dari Nava yang benar adanya. . Nava kembali ke kamarnya setelah selesai membantu Emi mempersiapkan kejutan ulang tahun untuk Raka. Lalu, ia kembali menulis naskah novel karena seharian ia sudah banyak melakukan hal-hal yang menguras waktunya sehingga hanya menulis sedikit saja. Ketika ia mengecek ponsel yang ia gunakan sebagai Bawang Putih, ia menerima pesan dari teman sesama penulis dengan nama pena Putra008. Ya, sepupu Raka itu mengiriminya pesan singkat. [Bawang, aku boleh minta tolong, nggak?] Tiba-tiba saja degup jantung Nava berdegup lebih kencang. "Dia mau minta tolong apa?" Nava melihat jam pesan itu masuk, baru beberapa menit yang lalu. Segera Nava membalas pesan itu karena selama ini ia memang berhubungan baik dengan beberapa penulis, salah satunya Putra. [Minta tolong apa?] Di tempat lain, ada Raka yang kebetulan berada di rumah Putra. Pria itu melihat pesan dari Nava yang kontaknya disimpan dengan nama Bawang Putih oleh sepupunya. "Yah, kamu temenan sama Bawang Putih?" tanya Raka yang masih ingat siapa nama penulis novel yang ia benci sejak beberapa bulan terakhir. Putra yang baru saja kembali dari dapur, menyambar ponselnya yang tengah dipegang sang sepupu. "Kenapa? Kamu masih dendam sama dia?" Ya, Putra tahu sepupunya pernah mengirim surat elektronik ke Bawang Putih karena rasa kesalnya melihat sang ibu yang kerap menangis hanya karena membaca novel milik Bawang Putih. "Dulu kamu cuma kasih aku alamat email aja. Kamu punya nomornya nggak mau kasih tahu aku?!" protes Raka. "Udah, lah. Bawang Putih nggak salah, lagian tante kan udah nggak nangis-nangis lagi sekarang. Mau buat apa kamu minta nomornya?" "Aku mau ajak dia ketemu. Dia kan bisa nulis novel kayak kamu, nggak harus yang sedih-sedih mulu." "Kamu udah sumpahin dia buat kena karma. Masih belum puas? Lagian aku aja nggak tahu wujud asli dia, Bisa-bisanya kamu mau ajak ketemu." "Aku kesel aja, dia kan bisa nulis kayak kamu, nggak harus yang sedih-sedih mulu, kan? Lebay tahu nggak?!" "Yang lebay tuh kamu, Raka. Namanya penulis tuh biasanya punya ciri khas sendiri-sendiri, nah si Bawang Putih ini khasnya memang nulis yang isinya adegan menyedihkan. Cocok sama nama penanya, Bawang Putih, banyak yang muji dia." "Alah, tapi kan tetep aja dia bisa nulis yang lain. Udah, sini, bagi nomornya." "Nggak akan!" "Oke, aku nggak akan bantu kamu lagi ya buat promosi," ancam Raka. Putra membatu seketika. Setelah Raka membantu mempromosikan novelnya, ada banyak orang yang langsung mengikuti akun pribadinya. Ketenaran sepupunya itu memang tak perlu diragukan lagi, tetapi ia tak enak hati jika Raka sampai memaki dan menyumpahi Bawang Putih. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN