"Kalo ada yang tanya siapa cowok paling b******k, kamu orangnya!" Nava mencoba keluar dari salon, tak ingin berdua saja dengan Raka di sana.
Raka menghadangnya.
Nava kembali ketakutan. "Kamu mau apa lagi?"
"Kamu udah nampar aku."
"Itu karena kamu udah kurang ajar sama aku!"
"Nggak adil, dong."
"Apanya?"
"Kamu udah nampar aku, padahal aku belum apa-apain kamu."
"Dasar sinting!"
"Kamu masih hutang satu ciuman sama aku." Raka mengangkat jari telunjuk tangan kanannya, bibirnya menyeringai. Pria itu terlihat santai, seolah tamparan dari Nava tak sakit sama sekali.
"Kalo kamu berani cium aku lagi, aku bener-bener akan laporin kamu ke Bu Lia!" Nava membulatkan matanya.
"Bilang aja! Dari semalem ngancem aja. Kenapa? Kamu nggak berani? Mau aku temani?" Raka benar-benar menikmati apa yang ia lakukan, mengganggu Nava membuatnya senang tanpa alasan pasti.
Nava begitu marah mendengar ucapan Raka, merasa benar-benar disepelekan. Gadis itu menginjak kaki pria di depannya itu, membuat Raka meringis kesakitan.
Nava ingin berlalu begitu saja, tetapi Raka buru-buru memeluk gadis itu dari belakang. Kedua tangan Raka memegang kedua tangan Nava, pelukannya sangat kuat hingga penulis novel daring itu tak bisa berkutik.
"Raka, kamu apa-apaan, sih?! Lepasin, enggak?"
"Enggak." Raka menyahut dengan enteng, di sisi lain ia juga sedang menikmati rasa ngilu kakinya yang baru saja diinjak Nava.
Nava merasa ada getaran aneh yang membuat tubuhnya terasa panas seketika. Gadis itu mengeluarkan seluruh tenaganya untuk bisa lepas dari pelukan Raka, tetapi pria itu malah semakin mengikis jarak di antara mereka.
"Ssstttt, diem dulu," bisik Raka di belakang telangan Nava.
"Kamu maunya apa, sih?" tanya Nava yang kali ini sudah bersikap tenang. Gadis itu juga sudah tak melawan lagi.
Raka tak menjawab, ia sendiri juga bingung kenapa ia senang sekali menggoda dan mengganggu Nava.
Tiba-tiba saja Fanya datang, Raka masih enggan melepas pelukannya. Namun, Nava sudah berusaha melepaskan dirinya, awalnya tak berhasil karena Raka masih ingin memeluk gadis itu.
"Ka, ada Kak Fanya."
"Bodo!" Raka melihat kakaknya belum melepas helm.
Nava kembali menginjak kaki Raka, agar pria itu melepasnya. Benar saja, pemuda tampan itu meringis kesakitan karena kedua kakinya diinjak Nava secara bergantian.
"Sakit, Va. Jahat banget, sih. Udah nampar, nginjek, kasar banget." Raka bertingkah manja.
"Kamu yang mulai."
Fanya masuk ke dalam salon, menatap bingung pada dua orang yang saling beradu tatap itu. "Kenapa?"
Nava enggan menjawab, memilih diam dan berpura-pura kalau tak terjadi apa-apa. Pun dengan Raka yang malas bersuara.
Fanya mencium kejanggalan, di mana Raka dan Nava bersikap yang tak biasa. "Kalo anak kos lain, pasti akan bersikap manis sama Raka. Terus Raka cuma diem aja kaya es balok. Kenapa aku ngerasa Raka suka sama Nava?" tanya Fanya dalam hati.
Proses pewarnaan rambut Nava akhirnya dimulai, Raka pun merekamnya tanpa banyak bicara. Ia hanya bicara seperlunya, mengarahkan kakaknya untuk berada di posisi mana agar hasil videonya bagus dan jelas.
"Kamu nggak rekam dari depan?" tanya Fanya.
"Buat apa?"
"Ya buat nunjukin wajah Nava. Dia cantik, lumayan buat dongkrak video pertama. Nanti aku kasih komisi besar kalo banyak orang ke sini." Fanya menatap Nava melalui cermin di depannya.
Nava awalnya tersenyum ketika menatap Fanya, tetapi langsung menekuk wajahnya ketika menyadari Raka menatapnya dengan sorot mata tajam dari belakangnya sana.
"Kakak mau promosiin karya Kakak? Atau mau bantu Nava open BO?"
"Yah!" teriak Nava kesal.
"Duh, mulutmu ini minta dicatok," ucap Fanya sambil mencubit bibir adiknya.
"Ya lagian, Kakak kan mau promosiin salon Kakak, bukan mau jadi mucikari. Yang penting rambutnya, bukan wajahnya!" Raka terlihat tak suka.
"Iya, Kak. Jangan sampe ke muka, aku malu." Nava akhirnya setuju dengan ucapan Raka.
"Iya iya. Kakak nggak serius, kok."
Fanya kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Ini masih lama, enggak? Aku mau kuliah."
"Nggak, habis keramas ini nanti, terus dikeringin. Kamu bolos kuliah sekali nggak apa-apa, kan?" Fanya merayu.
"Oke, aku bilangin ibu, ya?"
"Jangan, dong! Iya-iya nggak lama."
Nava tersenyum melihat kakak dan adik itu berdebat, diam-diam Raka ikut tersenyum ketika melihat Nava tersenyum dari layar cermin.
Nava menyugar rambutnya, menoleh ke kanan dan ke kiri, memperhatikan rambutnya yang baru saja dicat oleh Fanya.
"Kamu suka nggak sama warnanya? Kalo enggak, besok-besok aku balikin ke warna semula." Fanya menyentuh rambut Nava terus menerus.
"Bagus, Kak. Aku pake ini aja, ntar kalo aku mau ganti, aku bilang ke Kakak." Nava tersenyum.
"Udah, buruan keluar. Aku rekam di luar sana." Raka terus menerus melihat jam di tangannya, tak ingin ketinggalan kuliahnya.
Semuanya akhirnya selesai, Raka pun sudah merapikan alat-alatnya, sudah masuk ke dalam tas.
"Terima kasih, ya, Nava."
"Sama-sama, Kak. Aku pulang dulu."
"Hati-hati."
Nava terpaksa pulang ke rumah kos bersama dengan Raka karena tak ingin berada di salon rambut Fanya yang mulai ramai didatangi para pelanggannya. Raka pun mulai bersikap dingin, tak lagi-lagi menggoda Nava selama di jalan, karena ia buru-buru harus ke kampus agar tidak telat masuk kelas.
Tepat ketika Nava dan Raka turun dari sepeda motor, Emi juga baru saja pulang.
"Kalian dari mana?" tanya Emi penasaran. Hatinya terasa sakit ketika melihat Nava dan Raka berdua saja.
Raka tak menjawab, pria itu pergi begitu saja menuju kamarnya karena memang sedang dikejar waktu.
Nava yang mencoba menjelaskan.
"Oh, begitu?" Emi akhirnya paham kenapa Nava dan Raka bisa pergi berdua. Namun, ia tak bisa menampik kalau ada api cemburu di dalam dadanya.
"Ayo masuk," ajak Nava.
Emi mengangguk, kedua gadis itu lalu berjalan menuju ke kamar mereka. Namun, ketika di depan kamar, Emi tiba-tiba saja memanggil Nava.
"Mbak."
"Hm?" Nava yang baru saja membuka kunci pintunya, menatap Emi dengan tenang.
"Aku boleh minta tolong?" tanya Emi tiba-tiba.
"Apa? Ngomong aja, aku bakal bantu kalo aku bisa." Nava masih bersikap tenang.
"Raka sebentar lagi ulang tahun."
Nava diam.
"Aku mau kasih kejutan sama Raka, Mbak mau kan bantuin aku?"
Nava mengangguk dengan ragu. Ia benar-benar tak tahu harus melakukan apa, ia masih tak berani mengakui apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Raka.
"Aku juga akan mengakui perasaanku lagi ke Raka."
Ucapan Emi barusan berhasil membuat kaki Nava lemas seketika. "Apa?"
"Aku mau akuin perasaanku ke Raka, dan aku mau kami pacaran."
Nava meneguk ludahnya. "Gimana kalo dia nolak lagi?"
"Aku akan pergi dari kos ini."
"Apa?"
Bersambung ...