"Aku mau minta tolong Nava buat jadi model. Aku mau warnain rambutnya, nah dia malah nawarin buat direkam aja. Terus aku buat kanal yutub macem kamu. Tapi kan aku belom tahu caranya gimana, kamu bantu, ya? Bantu editin videonya aja." Fanya mencoba menjelaskan.
Raka akhirnya paham, ia menatap jam tangannya sesaat. "Sekarang?"
"Ya enggaklah. Aku sama Nava baru mau mulai. Aku cuma minta kamu editin videonya aja," sahut Fanya lagi, Nava masih memilih diam.
"Aku sekalian aja yang videoin, deh. Nggak yakin sama hasil Kakak." Raka menyeringai.
Fanya memukul lengan adiknya.
"Mau dibantu nggak, nih? Main pukul aja," protes Raka.
Fanya menatap Nava. "Enak di mana? Di sini apa di salon aja? Salonnya nggak jauh kok dari sini."
"Salon aja, aku nggak mau ya rumah bau," protes Raka lagi.
Fanya menyeringai.
"Aku terserah Kak Fanya aja, sih." Nava menurut.
"Ya udah, kita ke salon aja."
"Jalan kaki, Kak?" tanya Nava dengan polos.
"Minta anterin Raka aja."
Raka menatap Fanya sesaat dan lalu menatap Nava. Penulis novel daring itu terlihat salah tingkah.
"Aku naik motorku sendiri aja, kalian berdua. Nggak apa-apa, kan?" tanya Fanya pada Nava yang memang sengaja ingin membuat gadis itu dekat dengan adiknya. Tanpa tahu kalau tadi malam adiknya sudah melakukan kesalahan, Fanya malah berharap adiknya bisa memiliki kekasih. Karena selama ini adiknya terlihat menjaga jarak dari banyaknya wanita yang mendekatinya.
"Aku sama Kakak aja," sahut Nava buru-buru.
"Kenapa?" tanya Fanya kebingungan.
Raka melirik tajam. "Nggak usah ribut, kalo mau sekarang ya buruan. Aku ada kelas siang ini."
Pemuda itu lalu keluar dari kamar kakaknya, menuju ke kamarnya untuk mengambil alat-alat yang akan ia gunakan untuk merekam.
Fanya menatap Nava dengan bingung. "Kenapa? Kalian ada masalah?" tanya kakak satu-satunya Raka itu.
Nava terlihat kaku, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku malu, Kak."
"Oalah. Udah, kamu sama Raka aja. Aku nggak jago naik motor, takut kita jatuh bareng-bareng, kan nggak lucu."
Nava akhirnya terpaksa naik sepeda motor Raka, sementara Fanya sudah lebih dulu pergi untuk membuka salon.
"Pegangan," ucap Raka yang tak suka Nava menjaga jarak darinya.
"Siapa kamu?!" teriak Nava dari belakang.
Raka yang sebelumnya mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan rendah, tiba-tiba menambah kecepatan dan lalu mengerem mendadak. Pemuda itu sengaja bermain gas sepeda motornya untuk mengerjai Nava.
"Yah!" teriak Nava dari belakang.
"Pegangan, atau kamu mau lagi?"
"Mau apa?"
"Nggak usah pura-pura polos. Aku bisa ajak kamu belok, cari tempat sepi, terus cium kamu lagi." Raka menyahut dengan santai, menikmati sikap resehnya pada Nava.
"Masih untung aku diem, ya. Kalo kamu berani kurang ajar lagi sama aku, aku akan bilang ke Bu Lia!"
"Kenapa nggak bilang dari semalem? Nggak usah muna, kamu sebenernya suka, kan?" Raka terus meledek Nava, hingga mereka sampai di depan salon rambut milik Fanya.
Nava yang sudah menekuk wajahnya, turun dari sepeda motor Raka dengan kesal. Gadis itu langsung menggigit tangan Raka yang masih duduk di atas motor.
"Argh!" Raka melotot pada Nava, pun Nava yang tak mau kalah.
"Kamu zombie?" tanya Raka sembari mengusap tangannya yang baru saja digigit Nava.
Nava sendiri malas menyahut dan langsung masuk ke dalam. Fanya terlihat sibuk membuka beberapa laci.
"Duh, kayaknya warna yang mau aku pake ketinggalan di kamar."
Nava membulatkan matanya. "Ketinggalan?"
"Iya, nih." Fanya menatap Nava, tepat ketika Raka masuk ke dalam salon.
"Suruh Raka aja yang ambil, Kak." Nava tak ingin ditinggal berdua saja dengan Raka di sana.
Raka yang tak tahu apa-apa, hanya membisu dan lalu duduk dengan santai.
"Aku ambil sendiri aja, aku juga lupa naroknya di mana." Fanya bergegas keluar dari salon, meninggalkan Nava dan Raka berdua saja.
Nava yang takut kalau Raka akan macam-macam lagi padanya, memilih mengambil jarak dari anak induk semangnya itu.
Tepat saat itu, panggilan suara masuk ke ponsel Raka.
"Hm?" Raka mengangkat panggilan yang ternyata dari sepupunya-Putra.
"Udah kuliah?" tanya Putra dari seberang sana.
"Belum, aku masih di salonnya Kak Fanya."
"Ngapain?"
"Dia mau but akun yutub juga."
"Mau posting kegiatan di salon?"
"Heem. Kenapa telepon?" tanya Raka yang sadar kalau Nava menguping sedari tadi.
"Aku bosen di rumah, sendirian."
"Yang suruh kamu pindah ke sini, siapa?"
"Bang sad! Ada aku di sini juga kamu bisa pake kamarnya."
"Kamu bilang mau ketemu temen penulis, ketemu aja sana. Udah ah, males banget teleponan sama kamu." Raka mengakhiri panggilan suara dari sepupunya.
Nava pura-pura tak mendengarkan. Padahal, ia sebenarnya merasa begitu penasaran, kenapa Putra pindah dan di mana tempat tinggal penulis novel itu sekarang. Raka tiba-tiba berdiri, lalu menghampiri Nava yang duduk di dekat tempat keramas. Gadis itu berdiri seketika.
"Di situ aja!" teriak Nava ketakutan.
Raka menyeringai. Langkah kakinya masih menuju ke Nava, ke mana gadis itu melangkah, Raka mengikutinya. Hingga akhirnya penulis novel daring itu terpojok. Ia ingin pergi, Raka menghadangnya dengan menempelkan tangannya ke dinding.
"Kamu mau apa, sih, Raka?!" Nava merasa kesal, bercampur gugup, takut kalau Raka akan menciumnya lagi.
Raka sedikit membungkuk dan lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Nava, membuat gadis itu memejamkan matanya seketika.
Raka tersenyum senang, mengamati wajah cantik Nava yang terlihat memerah karena malu. Nava yang masih memejamkan matanya, tanpa ia sadari, ia sudah menunggu Raka melakukan sesuatu padanya. Namun, tak ada yang pria itu lakukan, dan hanya menatapnya dengan senyum nakal.
"Kenapa kamu tutup mata? Kamu pasti pengen banget aku cium kamu." Raka terkekeh lirih.
Nava merasa kesal, perlahan membuka matanya dan lalu menatap tajam pada Raka yang kini wajahnya hanya berjarak tidak lebih dari sepuluh senti dari wajahnya sendiri. Gadis itu mendorong tubuh Raka kuat-kuat, lalu menampar pria itu lagi.
Raka memegang pipi kirinya. "Yah!"
"Kamu suka? Mempermainkan perasaan orang? Kamu suka itu? Kamu nikmatin itu?!" Nava ikut berteriak.
Raka membuka mulutnya, tak tahu harus menjawab apa. Kenyataannya, ia memang sudah mempermainkan perasaan Nava.
"Aku salah apa sama kamu? Kenapa kamu jahat sama aku?! Hanya karena kamu tampan, kamu bisa seenaknya gitu aja sama cewek-cewek yang suka sama kamu!"
"Tunggu, apa artinya kamu juga suka sama aku?" tanya Raka bingung.
Nava terlihat gelagapan.
"Iya, kan? Kamu marah karena sebenernya kamu emang ngeharepin aku?"
"Nggak usah ngarang cerita ya!" Nava berkilah.
Raka tersenyum. "Kalo suka ya bilang aja sih, Va."
Bersambung...