17. Minta tolong

1179 Kata
Nava tak fokus menulis, udara pagi yang sejuk itu seolah tak mampu menyejukkan hatinya. Ucapan Emi sebelumnya membuatnya merasa terganggu. "Kalo bener Raka punya cewek, aku bener-bener akan laporin dia ke Bu Lia. Enak aja main sosor, ternyata udah punya pacar." Nava yang seharusnya menulis itu malah sibuk memikirkan ucapan Emi tadi pagi, ucapan yang masih menggantung karena Emi tak mengaku pada siapa gadis itu merasa cemburu. Nava mengambil ponselnya, tetapi bukan ponsel utamanya melainkan ponsel yang ia gunakan untuk urusan menulis. Ia mengecek pesan-pesan yang masuk ke sana. Ya, sebagai penulis yang namanya sudah banyak disebut di sana sini, tentu saja ada banyak orang yang mencoba mendekatinya. Baik sesama penulis, atau pembaca yang memang ingin dekat dengannya. Gadis itu akan membalas seperlunya saja dan mengabaikan beberapa pesan yang menurutnya tidak penting. Mata Nava menyipit, ketika dalam grup obrolan sesama penulis sedang heboh membahas Putra. Banyak dari mereka yang memuji penulis novel dengan nama pena Putra008. Apalagi sejak semalam, setelah Raka menepati janjinya untuk membantu mempromosikan novel sepupunya itu, nama Putra langsung menjadi topik hangat di kalangan sesama penulis dan pembaca novel daring. Bagaimana tidak, Raka sendiri terkenal sebagai youtuber tampan yang memiliki banyak pengikut di akunnya. Setelah nama Putra disebut pemuda tampan itu, tentu saja hal itu sudah banyak membantu Putra sendiri untuk mencapai ketenaran. Belum lagi semalam keduanya mengunggah video di mana Raka menyanyi, ditemani Putra, keduanya terlihat akrab dan sama-sama jago menyanyi. Bedanya, Putra tak bisa memainkan gitar, hanya bisa bernyanyi. Nava yang penasaran, lalu membuka channel milik anak induk semangnya itu dan melihat bagaimana penampilan pria yang baru saja menciumnya semalam. Gadis itu menggunakan penyuara telinga agar tak ada yang tahu kalau ia sedang melihat penampilan Raka dan Putra. "Gila, udah banyak yang lihat dan komen." Nava membaca beberapa komen yang mengatakan kalau Putra dan Raka sebaiknya menyanyi bersama. Raka yang terkenal sebagai vlogger makanan dan Putra sebagai penulis novel daring, dianggap sebagai pemuda yang multi talenta. Banyak yang meminta keduanya untuk terus menyanyi karena suara mereka yang bagus. Setelah membaca komentar-komentar, Nava menaikkkan volume suara untuk bisa mendengar suara Raka dan Putra. Beberapa saat gadis itu diam, fokus mendengarkan dan hanyut dengan lagu yang ia dengar. "Bagus banget suara mereka, pantes aja langsung banyak yang ngomongin." Nava bahkan mengulang beberapa kali, menonton aksi Raka dan Putra yang menyanyi tanpa editan itu. Ia memperhatikan Putra sesaat, melihat wajah tampan yang terlihat ramah dan hangat. Lalu ia menatap Raka, wajahnya terlihat lebih tampan, tetapi terkesan dingin. "Pantes aja sih mereka sodaraan, sama-sama ganteng. Semoga aja nggak sama-sama bangsad." Ketukan pintu kamar terdengar, Nava buru-buru menyimpan ponselnya dan lalu membuka pintu kamarnya. Gadis itu terkejut ketika melihat Fanya yang berdiri di depan kamarnya. "Kak Fanya?" "Pagi, Nava." Fanya menyapa dengan senyum semringah. "Pagi, Kak." "Sibuk, enggak?" tanya Fanya yang membuat Nava curiga. "Kenapa, Kak?" "Aku mau minta tolong." Fanya memasang mimik wajah manja. "Ha? Minta tolong apa, Kak?" Fanya terlihat ragu, membuat Nava semakin curiga. "Minta tolong apa, Kak? Kalo aku bisa, nanti aku bantu." Nava menawarkan diri. "Boleh enggak, pinjam rambutnya?" "Ha? Pinjam rambut?" "Iya. Aku pengen warnain rambut kamu, terus nanti aku cetak jadi poster. Rambut kamu panjang, bagus, kamunya juga cantik." Fanya merayu. Nava tersenyum. "Aku pikir Kakak mau minta tolong apaan." "Gimana, mau ya?" Fanya merengek dengan manja. "Warna apa dulu? Aku nggak mau ya warnanya terlalu ngejreng. Ntar aku malu, nggak berani keluar lagi." "Nggak, ntar kalo malu, aku ganti warna lagi selang beberapa hari. Mau, ya? Nanti aku kasih komisi, deh." Fanya merayu lagi. Nava akhirnya setuju. Ia tak enak hati jika harus menolak permintaan anak induk semangnya. "Ya udah. Mau kapan? Terus di mana?" tanya Nava. "Sekarang aja kalo bisa, terserah, sih. Mau di sini apa di salon, aku ada kok alatnya di sini. Kan aku cuma butuh foto rambut kamu aja." Nava mengangguk, lalu tiba-tiba memikirkan ide yang membuatnya teringat pada Raka. "Kak." "Apa?" "Kenapa nggak direkam aja? Kakak nggak punya channel youtube kayak Raka?" Fanya menggeleng. "Buat apa? Promosinya divideoin gitu?" Nava mengangguk. "Iya. Kakak kan nyalon, tuh. Kenapa nggak direkam aja setiap kerja, lumayan kan kalo banyak yang lihat. Sekarang kan banyak tuh salon rambut yang begitu, rame loh yang lihat. Kakak bisa promosiin salon Kakak, terus dapet penghasilan tambahan dari youtube." Fanya memikirkan ucapan Nava. "Bener juga. Tapi ... siapa yang mau ngerekam? Aku pun belum ada kamera dan lain-lain." "Iya juga, sih. Rekam pake hape aja, Kak. Ntar minta Raka buat editin." "Mana mau dia?" "Ya coba tanya aja dulu, Kak." "Ya udah, aku coba tanya dia dulu, ya. Kamu ikut turun yuk, ke kamarku aja." Fanya mengajak Nava, gadis itu mengangguk setuju. Nava berjalan di belakang Fanya, menuju ke kamar janda cantik itu. Ketika masuk ke kamar, Nava melihat ke sekeliling, memperhatikan kamar yang terlihat rapi dan luas itu. "Duduk, Va." "Iya, Kak." Nava akhirnya duduk di bibir ranjang Fanya. Tangannya mengambil sebuah majalah, lalu melihat-lihat isinya dengan santai. "Aku coba tanya Raka dulu, ya." "Emang Raka nggak kuliah?" "Ada kelas siang aja dia bilang." Fanya lalu pergi ke kamar Raka yang tepat ada di sebelah kamarnya. "Raka," panggil Fanya setelah ia membuka pintu kamar adiknya. Raka yang baru selesai mandi, masih mengenakan handuk yang melilit di perutnya, merasa kesal pada sang kakak perempuannya. "Bisa kan ketuk pintu dulu? Kakak mamu lihat benda pusakaku?" Raka melotot, kesal karena hampir saja ia melepas handuknya. "Alah, biasa aja. Dulu, siapa yang mandiin kamu pas kecil." Fanya tak mau kalah. "Bener mau lihat? Nih!" Raka berniat membuka handuknya. Fanya berteriak. "Apaan, sih? Aku ke sini mau minta tolong!" "Keluar dulu! Aku mau pake baju!" "Aku tunggu di kamarku." Fanya kembali menutup pintu kamar adiknya. Lalu kembali ke kamarnya, melihat Nava yang tengah melihat album poto. Penulis novel itu melihat poto-poto Fanya dan Raka, dari bayi, anak-anak hingga remaja. "Raka ganteng dari kecil, kan?" Fanya mencoba menggoda Nava. Ia tahu, ada banyak wanita yang suka pada adiknya, tetapi tak ada yang berhasil mencuri hati adiknya itu. Nava begitu terkejut ketika Fanya memergokinya melihat poto Raka ketika remaja. Gadis itu buru-buru menutupnya, merasa malu setengah mati. Fanya tersenyum, lalu duduk di samping Nava. Janda itu kembali membuka album poto itu dan menunjukkan poto di mana Raka yang kala itu terlihat mengenakan daster. "Lihat, Raka kalo jadi cewek juga cantik banget." Nava terkekeh. "Ini kapan?" "Waktu dia SMP kalo nggak salah, acara tujuh belasan itu." Fanya menceritakan beberapa kenangan masa lalu, membuat Nava tertawa. Raka masuk ke kamar kakaknya, sama seperti yang Fanya lakukan sebelumnya, membuka pintu kamar tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Raka terkejut melihat Nava ada di sana, Nava pun terkejut melihat kedatangan Raka yang asal masuk itu. Pemuda tampan itu melirik album di tangan Nava, melihat poto yang ia anggap aib itu dan lalu merebutnya secara paksa dari Nava. Nava cemberut. "Yah, berani banget kamu lihat-lihat poto orang!" Raka memekik karena malu. Ia menutup album itu dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya. Fanya malah tertawa terbahak-bahak. "Ngapain kamu di sini?" tanya Raka penasaran. Nava tak ingin menjawab, ia memilih mengabaikan Raka. Pemuda tampan itu menyeringai. "Coba aja cuma berdua, aku cium lagi, baru tahu rasa kamu," batin Raka. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN