16. Cemburu?

1047 Kata
Pagi tiba, Emi kembali mengajak Nava lari pagi, meskipun penulis novel itu masih sangat mengantuk. Nava tak menolak, hanya Emi teman baiknya di rumah kos itu, ia akan bersikap baik pada gadis itu karena Emi pun baik padanya. "Lembur lagi?" tanya Emi sembari lari pagi. "Heem." "Emang nulis gimana, sih, Mbak? Aku mau dong ikutan nulis, ajarin." "Kamu mau lembur terus, maksudnya?" Nava tersenyum. "Kenapa nggak cari kerja lain aja? Atau nulinya siang aja, kalo siang banyak nganggurnya, ih. Kalo malem begadang. Ngak baik, Mbak, buat kesehatan." Nava menatap Emi, merasa kesal sekaligus senang karena gadis itu peduli padanya. "Sebenernya aku juga nulis siang, gara-gara pindah kos aja ini, masih menyesuaikan, Mi." "Kalo butuh temen, aku mau kok malem tuh tidur bareng. Kalo ada apa-apa, bilang aja, Mbak." Nava kembali tersenyum. "Anak-anak kos suka pulang malem, ya? Semalem aku kesepian, kamu ke mana?" "Kebanyakan masih seumuran sama aku, Mbak. Masih sibuk kuliah, ada beberapa yang ambil kelas malem. Terus mereka juga emang suka pulang malem, maen dulu." Nava mengangguk. "Aku belum simpen nomor kamu, sini bagi." Emi lalu memberikan nomor ponselnya ke Nava, begitu pula sebaliknya. Kedua gadis itu lalu kembali ke rumah kos mereka setelah lelah lari pagi. Tepat ketika mereka sampai di depan gerbang rumah kos, Raka juga baru saja akan masuk ke dalam rumah. Pria itu baru saja pulang dari rumah sepupunya, menatap Emi sesaat dan lalu menatap Nava cukup lama. Nava hanya diam, masih marah pada Raka, gadis itu menekuk wajahnya. "Dari mana?" tanya Emi. Raka melepas helm. "Dari rumah sodara aku." "Tumben nginep." Emi masih bersikap santai. Nava mengerutkan keningnya. "Sodara? Putra maksudnya? Jadi mereka sodaraan? Pantes aja mereka deket," tanya Nava dalam hati. Nava pergi begitu saja, tak ingin berlama-lama dengan Raka. Pemuda itu menatap kepergian penulis novel itu cukup lama, menerka-nerka tentang apa yang Nava rasakan saat ini. "Dia pasti masih marah sama aku," ucap Raka dalam hati. Emi melihat tatapan mata Raka pada Nava, mencium percikan asmara yang membuatnya merasa cemburu. "Sodara kamu yang semalem?" tanya Emi mencoba mengobrol dengan Raka. Raka mengangguk, tersenyum ringan dan lalu meninggalkan Emi begitu saja. Emi merasa sedih, cemburu dan bahkan sakit hati. Walau ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Raka dan Nava, tetapi melihat tatapan Raka pada Nava sebelumnya, membuat hatinya merasa hancur. "Selama ini cuma aku yang bisa deket sama kamu. Dan tiba-tiba Mbak Nava muncul, aku nggak akan biarin kamu jatuh cinta sama dia. Cuma aku, Ka, yang boleh jadi pacar kamu," ucap Emi dalam hati. Emi ikut masuk, tetapi tak langsung menuju ke kamarnya dan malah masuk ke kamar Nava. Penulis novel itu di dalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang berkeringat karena lari pagi. Emi melihat-lihat barang Nava, sama seperti yan Raka lakukan tadi malam. Gadis itu juga mencoba menyalakan laptop milik Nava, tetapi tak tahu kata kunci layarnya. Lalu ia berganti, menatap buku-buku, benar-benar mirip dengan apa yang Raka lakukan semalam. "Mbak," panggil Emi dengan suara lirih. "Apa, Mi?" tanya Nava dari dalam kamar mandi. "Kamu mau makan apa?" "Kamu nggak kuliah?" tanya Nava yang langsung keluar dari kamar mandi. Gadis itu menggunakan handuk untuk melilit tubuhnya dan juga untuk menggelung rambutnya yang basah. "Kuliah," sahut Emi dengan malas. "Lah, kok nanya aku mau makan apa?" tanya Nava sembari menuju ke lemari, mencari pakaian yang akan ia kenakan. "Kan cuma tanya," sahut Emi lagi dengan malas. "Dasar." Emi duduk di ranjang Nava, lalu menatap ke arah kamar mandi, ada keranjang yang sudah dipenuhi pakaian kotor. "Baju kotormu udah numpuk, Mbak." "Hooh, aku baru mau bawa ke tempat laundry nanti." "Yang aku kasih tahu itu aja." "Iya ...." Nava merasa seperti mengobrol dengan ibunya, Emi lebih banyak menasihatinya sejak tadi. Gadis itu tersenyum, merasa senang karena ada yang begitu perhatian padanya. "Udah sana mandi, katanya kuliah." "Males." "Jangan gitu, ntar kalo udah lulus, kamu bakal kangen kuliah begitu." "Emang Mbak kangen pengen kuliah lagi?" "Iya, dong. Rasanya kek kangen sama mantan, nyakitin tapi kadang senyum-senyum sendiri kalo inget." Nava masuk ke dalam kamar mandi lagi setelah mengambil pakaian ganti dan berniat memakainya di sana. "Ha ha ha, dasar." Emi kembali tersenyum, merasa terhibur berkat obrolannya dengan Nava. Ia merasa tak ada gunanya merasa cemburu pada teman kosnya itu karena belum ada bukti tentang hubungan Nava dan Raka. Ia juga tak berhak marah karena ia bukan pacar Raka. Nava keluar dari kamar mandi, lalu mematut dirinya di depan cermin. "Aku ada pengering rambut, tuh, di kamar. Mau aku ambilin?" tanya Emi ketika melihat rambut Nava masih basah. "Nggak, aku nggak suka pake pengering rambut. Ntar rusak lagi rambutku." "Belagu." Nava terkekeh. "Kamu kok males-malesan gitu? Sana mandi, terus kuliah. Nanti telat, loh." "Aku lagi galau, Mbak. Males mau ngapa-ngapain." Nava masih sibuk di depan meja riasnya. Selesai menyisir rambutnya, gadis itu menggunakan beberapa krim wajah dan pelembab kulit. "Galau kenapa? Tadi masih baik-baik aja, malah sok nawarin kalau butuh temen. Jangan-jangan kamu yang butuh temen." Nava berbicara tanpa menoleh ke Emi. "Aku suka sama Raka, Mbak." Pengakuan Emi tersebut berhasil membuat Nava menghentikan apa yang ia lakukan dan langsung menoleh ke Emi. Gadis itu mengerutkan kening, merasa bingung dan gagap sekaligus. "Su-suka?" tanyanya. Bukan berarti Nava tak tahu hal itu. Ya, sejak awal Emi sudah mengatakan kalau alasannya pindah ke rumah kos itu adalah karena Raka. Namun, Nava mengira teman kosnya itu sudah melupakan perasaannya dan memilih berteman. Lalu, bagaimana dengan perasaannya sendiri. "Aku juga suka sama Raka, tapi kayaknya Raka cuma mempermainkan aku," ucap Nava dalam hati. "Aku pikir kalo kami temenan, perasaan ini akan menghilang. Tapi, nyatanya enggak. Aku masih suka sama Raka, aku sakit kalo lihat Raka sama cewek lain. Selama ini aku biasa aja karena Raka emang nggak deket sama siapa-siapa, tetapi sekarang, rasanya aku sakit, Mbak." Emi memukul dadanya pelan. "Raka punya pacar?" tanya Nava yang tak paham kalau sebenarnya wanita yang dimaksud Emi adalah dirinya. Gadis itu malah berpikir kalau Raka memang sedang mempermainkan perasaannya. Emi mengembuskan napas panjang. "Haruskah aku bilang kalo aku cemburu lihat kamu deket sama Raka? Tapi ... salah kamu apa? Kamu juga nggak deket banget sama Raka, kamu aja selama ini nyoba ngehindarin dia, nggak ada alasan buat aku benci sama kamu," batin Emi sembari menatap Nava dengan tatapan sayu. "Emi? Raka punya pacar? Dia lagi deket sama cewek?" tanya Nava yang tak kunjung mendapatkan jawaban. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN