Nava dan Emi kembali ke rumah kos, ketika melewati ruang keluarga, keduanya mendengar suara gaduh dari dalam kamar Raka. Kedua gadis itu melirik ke kamar yang pintunya ditutup rapat itu. Keduanya sama-sama penasaran, apa yang sebenarnya sudah terjadi di dalam sana.
"Berisik, ya?" tanya Fanya yang kebetulan baru keluar dari kamarnya dan melihat Emi dan Nava yang melihat pintu kamar Raka.
Nava dan Emi gagap, bingung mau menjawab apa.
Fanya tersenyum. "Biar aku bantai mereka," ucap janda muda itu.
Fanya membuka pintu kamar Raka, Emi dan Nava malah sengaja berhenti dan ingin melihat apa yang terjadi di dalam kamar sana. Ketika pintu kamar Raka terbuka, semua orang bisa melihat Raka dan Putra yang masih saling memukul. Kamar yang biasanya rapi, kini terlihat berantakan karena ulah kedua pria itu.
Raka tersadar ketika Nava melihatnya, ia buru-buru melepas tangannya dari leher Putra. Baik Raka ataupun Putra, keduanya tampak malu.
"Raka, Kak, yang mulai," ucap Putra yang tak ingin mendengar omelan Fanya.
Raka hanya diam, pria itu langsung berdiri, kemudian mendekati pintu kamar dan berdiri di depan kakaknya. "Oke, aku nggak akan berisik lagi. Aku mau pergi ke rumah Putra."
Setelah selesai berbicara, Raka menutup pintu kamarnya, tetapi matanya tertuju pada Nava yang ada di ruang keluarga.
"Ayo, Mi." Nava mengajak Emi pergi dari sana. Gadis itu masih marah dengan apa yang Raka lakukan padanya.
Hal yang membuat Nava begitu marah adalah karena ia merasa suka pada Raka, tetapi pria itu malah menciumnya tanpa izin, seolah ia tak berharga di depan pria itu. Akan lebih mudah bagi penulis novel daring itu untuk melupakan kesalahan Raka jika ia tak memiliki perasaan pada pria itu, juga jika Raka tak sengaja datang ke kamarnya hanya untuk mengganggunya.
Sebelum pintu tertutup, Putra juga melihat keberadaan Nava di ruang keluarga. "Suer, cewek kamu cantik banget."
Raka melirik sepupunya. "Jangan lihat-lihat dia. Kalo dia ngajak kamu kenalan, abaikan dia."
Putra terkekeh. "Jadi bener, kalian pacaran?"
Raka tak menjawab, pemuda itu merapikan barang-barang yang akan ia bawa ke rumah sepupunya.
"Kenapa kamu ditampar? Ketahuan selingkuh?" tanya Putra yang lagi-lagi diabaikan Raka.
Raka sendiri tak mungkin mengakui apa yang barusan ia lakukan ke Nava. Ia tak lebih dari pria brengsekk yang memang pantas mendapatkan tamparan itu.
"Tapi ... setahu aku, kamu bukan tipe yang begitu. Aku malah nggak pernah lihat kamu deket sama cewek mana pun." Putra menerka-nerka, bingung dengan pikirannya sendiri.
"Ah, aku tahu," ucap Putra yang sukses membuat Raka menoleh padanya.
"Aku tahu," ucap Putra sekali lagi.
"Kamu tahu apa, Brengsekk?!"
"Cewek tadi suka sama kamu, kan?"
Raka mengerutkan keningnya.
"Iya, dia pasti suka sama kamu. Terus dia ngaku suka sama kamu, tapi karena harga diri kamu yang terlalu tinggi, kamu nolak dia. Makanya kamu ditampar sama dia?" Putra percaya diri dengan tebakannya yang salah total itu.
Raka menyeringai. "Pantes aja kamu sukses jadi penulis, soalnya kamu pinter ngarang!" Raka melempar bantal dan tepat mengenai wajah sepupunya.
Putra tak menghindar, ia masih penasaran dengan apa yang terjadi. "Terus apa? Aku bisa mati penasaran kalo begini caranya."
Raka terkekeh. "Udah, ayo."
"Kamu cerita dulu sama aku. Kalo enggak, aku nggak akan kasih izin kamu pake kamar di rumahku." Putra kembali mengancam.
Raka menyeringai. "Oke, nggak masalah. Aku bisa cari tempat lain."
"Oh, gitu? Ya udah, aku bilang ke tante kalo kamu habis ganggu anak kos." Putra hendak keluar dari kamar Raka.
Raka berdiri tepat di depan pintu, lalu menatap sepupunya dengan mata yang seakan hampir keluar dari tempatnya. "Kamu bener-bener bosan hidup, ya?"
"Aku penasaran, dan aku nggak mau ini terus terjadi. Aku bisa nggak fokus nulis nanti, aku harus tahu kenapa kamu bisa sampe ditampar. Dan apa yang kamu lakuin dari atas sana? Cewek kamu aja tadi keluar."
Raka hanya diam, mengembuskan napas panjang.
"Aku akan bantu promoin novel terbaru kamu." Raka memiliki ide untuk menghentikan ulah sepupunya.
Putra tertawa. "Wah, dari dulu aku minta kamu buat promoin novel aku, kamu nggak pernah mau. Dari aku masih bukan siapa-siapa, dan sekarang setelah aku punya nama, kamu baru mau bantu promo?"
"Nggak mau? Ya udah." Raka membuka pintu, lalu menggendong tas dan keluar dari kamarnya.
Putra mengejar. "Siapa yang bilang nggak mau. Tapi aku nggak mau kamu promoin novel baru aku, itu belum tamat. Aku mau kamu promoin novel pertama aku, itu yang paling rame." Putra berbicara sembari mengikuti langkah kaki Raka. Kedua pria itu sudah sampai di depan kamar Dahlia, Raka membuka pintu kamar itu tanpa permisi.
"Bu, aku tidur tempat Putra." Raka meminta izin.
Dahlia yang masih berbaring di kasur sembari melihat televisi, menoleh pada sang anak dengan mata sayu. Ya, ibunda Raka itu sebenarnya sudah mengantuk dan ingin tidur. "Iya, jangan ribut terus kalian itu. Kasihan yang lain, butuh ketenangan dalam hidup," sahut Dahlia.
"Kalo ada apa-apa, telepon aku segera." Raka merasa khawatir, ia memang jarang menginap di luar karena ia satu-satunya pria di sana.
"Iya-iya. Lagian nggak akan ada apa-apa, lingkungan aman, anak-anak kos juga pulang tepat waktu." Dahlia tak suka mendengar omelan anaknya.
Raka akhirnya pergi bersama Putra.
Sementara Dahlia, bukannya malah tidur, ia malah memanfaatkan kesempatan di mana anak bujangnya yang memilih menginap di rumah sepupunya. Wanita itu ingin puas-puas membaca novel, ia memang harus membaca novel ketika Raka tak ada karena takut anaknya akan menyita ponselnya.
Seperti biasa, Dahlia tertawa dan menangis ketika ia larut dalam membaca novel. Ia tak tahu, penulis yang sukses membuat perasaannya naik turun itu adalah Nava-salah satu penyewa kamar di rumahnya.
Di lantai atas sana, Nava tengah fokus menatap layar laptopnya, gadis itu menulis sebuah cerita baru. Cerita di mana ia menggambarkan dirinya sendiri di dalam novel tersebut, tentu saja atas kisahnya sendiri. Yaitu seorang gadis yang menyukai pria yang tak menyukainya dan malah memanfaatkannya hanya untuk kebutuhan biologis semata.
Selama ini, novel Nava lebih banyak mengangkat kisah rumah tangga yang kerap dibumbui dengan adanya orang ketiga. Walaupun ia masih single dan tak pernah mengalaminya, tetapi ia mampu membuat para pembaca novelnya tersentuh dan terbawa oleh tulisannya. Namun, kali ini ia menulis kisah seorang gadis remaja yang hidupnya hancur karena jatuh cinta pada pria tampan yang hanya memanfaatkannya saja.
Tulisan itu adalah hasil kemarahan Nava, ia ingin meluapkan apa yang ia rasakan saat ini. Rasa marah yang dibalut dengan rasa malu, semua itu membuatnya ingin menulis novel yang menggambarkan di mana ia benar-benar menyesal karena sudah jatuh hati pada pria karena tampangnya saja.
Saking fokusnya menulis, makanan yang sudah ia beli, masih utuh di atas meja, belum ia sentuh sama sekali sejak tadi.
"Argh!!" Nava membanting tubuhnya di badan kursi kerjanya. Ia memejamkan matanya, dan masih membayangkan betapa lembut bibir Raka yang berhasil membuatnya memainkan bibirnya lagi.
"Murahan banget sih aku jadi cewek. Mentang-mentang selama ini aku nggak pernah pacaran." Nava merutuki dirinya sendiri.
Nava membuka matanya, lebar-lebar. Ia tak ingin memejamkan matanya lagi karena bayangan wajah Raka yang terlihat begitu dekat di depan matanya, masih terbayang-bayangan di benaknya. Gadis itu beranjak dari kursi kerjanya, lalu membanting tubuhnya di atas ranjang. Berguling ke sana ke mari.
"Ayolah, Nava. Dia nggak suka sama kamu, dia cuma mau cium kamu. Cuma mau bibir kamu."
Bersambung...