Putra menyeringai. "Jadi curiga, lampu kamar siapa yang habis kamu benerin?"
Raka tak menggubris ucapan Putra dan langsung menuju ke tempat di mana paket miliknya yang sudah diobrak-abri sepupunya itu. "Udah lengkap?" tanya Raka, ia yakin sepupunya sudah mengeceknya.
"Udah. Kamu serius mau nyanyi?" tanya Putra.
"Heem. Mereka udah sebut aku ini itu, sebut aku rakus, mata duitan. Nggak fair kalo aku nggak ngelakuin tapi dapet sebutan ini itu. Jadi ya sekalian aja aku ngelakuin." Raka terlihat santai, tetapi pikirannya masih sibuk memikirkan Nava. Ia masih membayangkan apa yang barusan ia lakukan pada gadis itu. Juga memikirkan kemungkinan Nava akan melaporkannya pada ibunya, ia akan bersiap menanggung malu di depan ibunya jika memang Nava mengadu.
Putra berdiri di samping sepupunya, dari jarak dekat, ia bisa melihat pipi kiri Raka yang tampak merah. "Yah," ucap Putra yang langsung membulatkan matanya.
Raka tak menydarinya.
"Kamu habis cium anak kos pasti," ucap Putra menebak-nebak.
Aktivitas Raka terhenti seketika, matanya menatap sang sepupu dengan tajam. "Gimana bisa dia tahu?" tanya Raka dalam hati.
Putra tersenyum. "Sekarang aku tahu, kamu ke atas buat goda cewek, kan? Kenapa? Kamu ditolak? Seorang Raka Suherman, ditolak? Wah gila sih ini." Putra tertawa terbahak-bahak.
Tepat pada saat itu Dahlia dan Fanya tiba, membuat Raka menatap sang sepupu dengan tajam. "Diem kamu!"
"Aku akan ngadu ke tante," sahut Putra yang sengaja mengancam Raka.
"Kamu mau mati?"
Raka semakin gugup ketika ibu dan kakaknya mulai memasuki rumah.
"Janji dulu, cerita siapa cewek itu dan kenapa kamu bisa ditampar begitu."
Raka terkejut ketika sepupunya itu tahu kalau ia barusan ditampar. Ia tak sadar kalau pipi kirinya masih terlihat merah, walau hanya tinggal samar-samar. Anak bungsu Dahlia itu memegang pipi kirinya.
"Kalo kamu nggak mau cerita, aku akan ngadu ke tante." Putra mulai menurunkan suaranya.
Raka tak menjawab, ia masih dilema.
"Putra? Kapan dateng?" Dahlia menyapa anak kakaknya.
"Halo, Putra." Fanya juga ikut menyapa.
"Halo, Kak Fanya yang cantik. Halo, Tante. Barusan aja, kok." Putra tersenyum.
"Barusan aja dateng dan lihat,-" ucap Putra yang terpotong karena Raka buru-buru menginjak kaki saudaranya itu.
Dahlia dan Fanya bingung. "Lihat apa, Put?"
"Lihat ini, Bu." Raka menyela, menunjuk barang-barang di depannya.
Putra yang awalnya meringis kesakitan, kini tersenyum puas melihat sepupunya yang tampak seperti maling kepergok.
"Kamu mau nyanyi sekarang?" tanya Fanya.
Raka mengangguk. "Di rumah Putra kan ada kamar kosong, Raka mau pake satu." Pemuda itu bersikap setenang mungkin, padahal jantungnya berdegup lebih kencang.
"Ya udah, semoga sukses, ya." Fanya pergi meninggalkan ruang keluarga itu.
"Putra kalau mau apa-apa, ambil sendiri, ya? Tante capek, mau istirahat dulu."
Putra mengangguk. "Siap, Te." Pria yang usianya 3 tahun lebih tua dari Raka itu tahu ke mana perginya Dahlia dan Fanya, karena ibunya pun pergi ke acara itu. Ia tahu adik ibunya itu memang kelelahan.
Dahlia ikut meninggalkan Raka dan Putra. Kini hanya ada mereka berdua, keduanya pun saling melempar tatapan tajam.
"Aku akan bilang ke tante kalo kamu nggak cerita."
"Aku akan bongkar sisi buruk kamu ke media kalo kamu sampe ngadu ke ibu!"
Sebagai sepupu Putra, Raka tahu sisi baik dan sisi buruk Putra, mereka memang akrab sejak kecil. Kini, Putra yang terkenal sebagai penulis novel, memiliki penggemar di mana-mana.
"Wah, ketahuan banget kamu. Kamu pikir aku nggak bisa bongkar keburukan kamu?" Putra tak ingin kalah.
"Aku masih simpan foto masa kecil kamu yang makan ingus. Pasti rame tuh kalau aku posting di IG!"
"Yah!" Raka memekik kesal.
"Why? Nggak terima? Kamu pikir kamu aja yang bisa ngancem?"
"Kamu yang duluan ngancem."
"Apa susahnya cerita. Aku nggak akan rebut cewek itu, aku cuma pengen tahu cewek mana yang udah nampar kamu. Mau aku belikan hadiah dia," ucap Putra yang semangat menggoda sepupunya itu. Putra tahu kalau Raka sangat populer dan banyak yang suka, ia tak menyangka kalau ada wanita yang menolak sepupunya itu.
Tepat saat itu, Emi dan Nava baru saja kembali. "Buruan," teriak Emi yang tak turun dari sepeda motornya.
Nava masuk ke dalam rumah, membulatkan matanya ketika sadar ada Putra di sana. "Putra?" tanyanya dalam hati. Gadis itu terkejut bukan main, ia benar-benar ingin menghindari Putra dan kali ini ia juga tak ingin bertemu dengan Raka.
"Bisa-bisanya beli makan nggak bawa duit," gerutu Emi dari atas motor.
Nava pergi begitu saja setelah menampar Raka, ia tak membawa uang sama sekali dan begitu pula Emi. Kedua gadis itu sudah memesan makanan, tetapi ketika hendak membayar, keduanya harus menanggung malu karena tidak ada yang membawa uang. Di sepanjang jalan Emi sudah mengomel, tetapi Nava tak terlalu mendengarkannya karena ia sibuk memikirkan Raka.
Raka menatap tajam ke Nava, tatapan aneh yang membuat Putra curiga. Nava lalu pergi begitu saja, menghindari tatapan aneh dari dua pria yang kini ingin ia hindari sebisa mungkin.
Putra menyeringai. "Cantik juga."
Raka menggertakkan giginya. "Maksud lo?"
"Dia kan?"
"Apa?"
"Cewek yang udah nampar kamu?" tanya Putra dengan suara berbisik.
Raka tak menjawab.
"Bukan?" tanya Putra dengan tatapan menggoda.
Raka masih diam, tak menjawab.
Nava kembali melewati ruang tengah itu, tetapi kali ini ia hanya melirik sesaat pada dua pria yang serius melihatnya.
Nava pergi lagi bersama Emi.
"Bukan dia?" tanya Putra lagi.
"Bukan!" Raka akhirnya menjawab, tetapi kali ini ia berbohong.
"Baiklah, kalo begitu nggak masalah kan aku deketin dia?"
Raka melotot pada sepupunya. "Jangan macem-macem!"
"Dia anak baru, kan? Kalau memang bukan dia, nggak masalah kan kalo aku yang deketin. Cantik, dia termasuk tipeku," ucap Putra yang hanya ingin mengganggu sepupunya.
Raka menyeringai. Tangannya mengepal. Pemuda itu teringat ketika Nava terus bertanya tentang Putra. "Gimana kalau Nava suka sama Putra? Kemarin dia tanya-tanya terus soal Putra. Apa itu alesan dia nampar aku? Karena dia nggak suka sama aku?" tanya Raka dalam hati. Ada banyak pertanyaan dan rasa khawatir yang kini mengganggu konsentrasinya.
"Jangan ganggu dia."
"Aku akan berhenti kalo kamu ngaku. Kalo memang bukan dia, aku nggak ada alesan buat nggak deketin dia. Dia cantik, tipeku banget, kenapa aku harus sia-siain kesempatan bagus seperti ini?"
Raka menggertakkan giginya. "Ayo keluar, kita berantem di luar."
Putra tertawa terbahak-bahak. "Wah, jadi anak baru itu yang udah nampar kamu? Kamu serius? Kamu ditolak sama dia?"
Melihat sepupunya marah, Putra yakin kalau gadis yang baru saja ia lihat adalah gadis yang sudah meninggalkan tanda merah di pipi Raka.
Raka tak menjawab.
"Coba aku tanya tante, aku mau tahu namanya siapa." Putra berjalan menuju ke kamar Dahlia.
Raka mencekal lengan sepupunya. "Aku bener-bener akan bunuh kamu."
Putra terkekeh lantang. Tangan satunya melepas tangan Raka dari lengannya, lalu menatap Raka dengan tajam. "Kamu bener-bener nggak mau cerita?"
"Iya, dia yang udah nampar aku. Puas?!" Raka berkata tegas, tetapi suaranya tak terlalu lantang, tak ingin ibu dan kakaknya mendengarnya.
Putra tertawa terbahak-bahak. "Jadi bener? Dia? Kamu ditolak? Nggak-nggak, bentar, kalo ditolak aja nggak mungkin dia nampar kamu. Sekarang kamu ngaku, kamu ngapain dia, bisa ditampar begitu? Kalian udah pacaran? Kamu ketahuan selingkuh?"
"Kamu tahu? Kamu bawel, mirip emak-emak PKK!" Raka mengangkat kardus berisi barang-barangnya dan lalu membawanya ke kamar.
Putra ikut masuk ke kamar sepupunya itu. "Jawab, dong. Aku penasaran banget gimana ceritanya dia bisa nampar kamu."
"Kalo kamu nggak mau diem, aku bener-bener aku hajar kamu."
Putra sama sekali tak peduli dengan ucapan Raka. Keduanya memang kerap bercanda, saling mengolok, tetapi tak pernah dimasukkan ke hati.
"Kamu mau aku tanya langsung ke cewek tadi?" tanya Putra.
Raka mendorong tubuh Putra ke atas ranjang, duduk di atasnya, lalu tangannya mengambil bantal dan kemudian ia gunakan untuk menutupi wajah Putra. Keduanya saling melempar pukulan dan membuat gaduh rumah dalam waktu sekejap.
"Kalau ada Putra, rumah pasti rame," celetuk Fanya dari dalam kamarnya.
Sementara di tempat lain, ada Nava yang masih bertanya-tanya, kenapa ada Putra di rumah kosnya. "Apa hubungan Putra sama Raka? Mereka sahabatan? Sampe dateng ke rumah. Terus gimana kalo aku sering ketemu Putra. Aku nggak mau dia sadar kalo aku Bawang Putih," ucap Nava dalam hati.
Bersambung...