13. First Kiss

1065 Kata
"Jawab," pinta Raka lagi, masih dengan gerakan bibir saja. "Mbak, ayo aku anterin beli makan kalo kamu belum makan." Emi kembali berteriak. Nava menatap Raka lekat, degup jantungnya semakin tak terkendali. Gadis itu bingung harus bagaimana. "Mbak?!" Emi mengetuk pintu kamarnya. Nava dan Raka sama-sama menoleh, gugup tak karuan. Emi mengetuk pintu lagi, suaranya terdengar semakin lantang. "Iya, bentar. Aku baru ganti baju." Nava akhirnya menyahut. "Baru mandi? Jam segini?" teriak Emi dari luar kamar. "Tungguin bentar," sahut Nava yang ikut berteriak. Nava tiba-tiba menarik tengkuk Raka, membuat pemuda itu menunduk. Jarak wajah keduanya semakin terkikis, membuat Raka semakin gugup. Itu adalah kali pertamanya dekat dengan penghuni rumah kos ibunya, itu adalah kali pertama ia merasa tertarik pada wanita yang lebih tua darinya. Rasanya ... ia ingin melakukan sesuatu yang mungkin akan membuat Nava marah. Nava menarik Raka agar pria itu menunduk, agar ia bisa berbisik di samping telinga pemuda tampan itu. "Aku keluar cari makan sama Emi, kamu bisa keluar dari sini kalo kami udah pergi." Bukannya fokus dengan ucapan Nava, Raka yang kali itu menatap leher mulus Nava malah meneguk ludah beberapa kali. Berada pada jarak yang sangat dekat dengan Nava membuat pria itu menegang seketika. Nava melepas tangannya dari tengkuk Raka, dan lalu menatap pria itu dengan kening yang berkerut. "Ka!" panggil Nava, dengan suara lirih. "Cepetan!" teriak Emi dari luar kamar. "Iya, sebentar." Nava hendak pergi mengambil tas, tetapi Raka mencegahnya. Tangan kokohnya menarik lengan Nava, didorongnya lagi tubuh kurus itu hingga membentur dinding. Kedua tangan Raka menangkup wajah Nava yang mungil itu, sementara bibir Raka sudah melahap habis bibir Nava dalam hitungan detik. Nava membuka matanya lebar-lebar, degup jantungnya semakin cepat, semakin tak terkendali. Sesapan Raka membuatnya merasa ada desiran aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya. Gadis itu mendorong tubuh Raka, kuat-kuat, hingga pemuda tampan itu menyudahi aksi gilanya. Nava bernapas tersengal, mulutnya terbuka agar ia bisa mengambil napas lebih banyak. Begitu pun dengan Raka, pria itu juga masih membuka mulutnya. Kedua orang itu saling bertatapan, dengan mata yang tak ingin berkedip. "Kamu mau mati?" Nava kesal dengan sikap Raka yang seenaknya. Ia memang menyukai pria tampan itu, tetapi dicium tanpa izin seperti itu membuatnya merasa kesal dan marah. Raka tak peduli, ada yang lebih menguasai dirinya, hasrat yang mengalahkan logika. Pria itu kembali mendekati Nava, kali ini dengan tatapan mengerikan. "Bunuh aku, tapi setelah ini." Kembali Raka mencium Nava, membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya. Gerakan bibirnya bahkan lebih liar, lebih berhasrat dan yang jelas lebih lama. "Mbak!" teriakan Emi kembali terdengar. Nava mencoba mendorong tubuh Raka, tetapi pria itu sudah siaga, menjaga tubuhnya agar tak kalah lagi ketika didorong. Memukul. Mencubit. Segala cara Nava coba untuk menghentikan ulah anak induk semangnya itu. Namun, sia-sia karena tenaganya tak akan bisa menyaingi tenaga pria tampan itu. "Lama banget, sih, Mbak!" teriak Emi lagi. Nava hanya bisa diam, menerima apa yang Raka lakukan padanya. Kini, ia juga menikmatinya, walaupun ia berusaha menolak perasaan itu. Suka. Nava suka pada Raka, suka juga dengan apa yang Raka lakukan padanya. "Kenapa aku beg0 begini? Udah bener tadi aku marah, kenapa sekarang malah aku suka?" batin gadis berambut panjang itu. Kedua tangan Nava meremas ujung kaos Raka, masih menikmati desir aneh yang menjalar di tubuhnya. "Mbak!" Kali ini Emi menggedor pintu, membuat Raka mau tidak mau harus menyudahi aksi gilanya itu. Nava dan Raka saling bertatapan untuk sesaat. "Kamu masih mau bunuh aku?" tanya Raka dengan seringainya. Nava sendiri sudah gemetaran, ia benar-benar olahraga jantung karena ulah Raka yang sudah kurang ajar padanya. "Mbak! Kamu pingsan?!" teriak Emi. "Bentar," sahut Nava, matanya menatap Raka dengan kesal. Setelah melihat ekspresi pria itu, ia merasa seperti dipermainkan olehnya. "Aku akan bilang Bu Lia." "Kamu mau ngadu?" tanya Raka, tetapi pria itu tersenyum senang. Ia benar-benar dalam kondisi yang baik, ia baru saja mendapatkan apa yang ia inginkan. "Aku akan bilang kalau anaknya udah berbuat kurang ajar!" Nava melotot tajam. "Ya udah, kalo begitu biarin Emi lihat aku di sini. Kamu butuh saksi, kan?" Raka memegang gagang pintu kamar Nava, gadis itu memegang tangan Raka, mencoba mencegahnya. Ia tak ingin Emi melihat kalau Raka ada di kamarnya, ia tak ingin teman kosnya itu salah paham. "Kenapa? Kamu bilang mau ngadu ke ibu," ucap Raka, masih dengan suara yang terdengar lirih. Nava menggertakkan giginya. Ia benar-benar tersinggung dengan apa yang Raka lakukan. "Dasar beg0! Dia cuma mainin kamu, untuk apa kamu suka sama cowok begitu?" batin Nava. "Tunggu aku di bawah, Mi. Bentar lagi," ucap Nava dengan suara lantang. "Kamu ngapain, sih? Lama betul!" "Perutku sakit," sahut Nava berbohong. "Diare?" "Mungkin. Tunggu aku di bawah aja, ya." "Ya udah, buruan." Terdengar suara langkah kaki Emi yang semakin lama semakin tak terdengar. Setelah memastikan Emi sudah pergi, Nava mendorong tubuh Raka agar memberinya sedikit jarak. Lalu dalam hitungan detik, tangan kanan Nava sudah menampar keras pipi kiri Raka. "Dasar berengsekk!!!" umpat Nava yang lalu pergi begitu saja. Raka menyeringai, membelai lembut pipi kirinya. "Ah, nikmat." Suara benturan keras pintu yang ditutup Nava membuat Raka meringis sesaat. Nava pergi menyusul Emi, ia kesal, ia marah, ia kecewa. Sementara Raka, ia malah tersenyum. "Bisa-bisanya aku suka sama anak kos ibu." Bukannya langsung pergi, Raka malah memperhatikan isi kamar Nava. Ada sebuah laptop di atas meja, ada pula tablet di sampingnya. "Sebenernya dia jualan apa?" tanya Raka yang langsung duduk di depan meja kerja Nava. Pemuda itu mencoba menyalakan laptop, tetapi ia tak bisa masuk karena ada kunci layar. "Apa passwordnya?" Raka kembali mematikan layar laptop, lalu ia melihat beberapa buku yang terpajang di rak. Ada beberapa buku ilmu pengetahuan, resep memasak dan kamus, tetapi lebih banyak novel di sana. "Apa dia suka baca novel?" Ponsel Raka tiba-tiba bergetar. Pria itu mengecek dan melihat siapa yang meneleponnya. "Kenapa?" tanya Raka sesaat setelah ia mengangkat panggilan suara itu. Orang yang meneleponnya adalah Putra, pria yang tak lain adalah sepupunya sendiri. "Aku di rumah kamu. Kamu di mana? Motor kamu di depan, kok nggak ada di kamar?" Raka buru-buru pergi dari kamar Nava, berlari menuruni tangga dan segera menemui sepupunya yang kini sudah berada di kamarnya. "Kapan sampe?" tanya Raka, ia menoleh ke paket yang masih berada di ruang tengah. Namun, kondisinya tak lagi sama, ia yakin sepupunya lebih dulu membukanya. "Kamu dari mana?" tanya Putra yang seolah tahu kalau Raka baru saja melakukan kesalahan. "Tumben kamu ke atas," ucap Putra lagi. Raka menelan ludah dengan kasar. "Tadi benerin lampu." Pria itu memilih berbohong. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN