12. Kesempatan dalam kesempitan

1128 Kata
"Naif?" tanya Raka, pemuda itu tersinggung dengan apa yang Nava katakan. "Hooh. Untuk apa kamu mikirin hal begitu? Lakuin apa yang ingin kamu lakuin asal kamu nggak ngerugiin orang lain." Nava menjawab tanpa ragu. Raka menyeringai. "Tapi kalo Raka nyanyi, dia ngerugiin orang lain, Mbak. Banyak yang suka, youtuber lain pasti terancam," ucap Emi. "Nggak begitu, Mi. Raka kan ngevlog, penontonnya nggak harus nonton dia aja. Beda urusannya kalo makan, kita udah makan bakso, kenyang, nanti kita udah nggak pengen lagi kalo ada yang jualan sate. Nah ini, Raka kan jualan tontonan, ditonton nanti apa sekarang sama aja, penggemarnya juga bebas mau nonton acara Raka aja atau mau nonton yang lain. Karena itu cuma tontonan, dikit apa banyak nggak ngaruh, nggak buat kenyang perut, kan?" Nava mencoba menjelaskan. Raka yang sebelumnya kesal karena ucapan Nava, kali ini malah merasa salut pada cara berpikir gadis itu. "Bener juga, untuk apa aku mikirin omongan orang yang nggak suka sama aku. Toh aku kerja yang halal, selama ini juga udah kutahan-tahan biar aku nggak nyanyi. Udah cukup aku nahan," ucap Raka dalam hati. Raka menatap Nava dengan lekat. "Kamu ngomong udah kayak pengalaman aja." Nava meneguk ludahnya, terkejut karena Raka berbicara seperti itu. Apa yang ia bicarakan memang bagian dari pengalamannya. Sebagai orang yang sama-sama mencari keuntungan dari platform online, Nava tahu betul kalau ada banyak pesaing yang mungkin melakukan hal yang tak seharusnya. Termasuk menyinggung dan membahas keburukan pesaing lain, tujuannya adalah ingin menjatuhkan pesaingnya itu. Pasalnya, Nava pernah beberapa kali merasakan apa yang dirasakan Raka. Nama Bawang Putih pernah disebut sebagai plagiator, tukang tambal sulam dan bahkan penulis biasa yang terkenal karena nasib baik. Segala sebutan buruk sudah pernah gadis itu terima, tetapi ia berhasil bertahan hingga sekarang. Nama Bawang Putih sendiri sudah semakin terkenal, bahkan beberapa penerbit sering menghubungi untuk bisa bekerja sama dengan Nava. Sayangnya, gadis itu masih belum memiliki nyali untuk menunjukkan siapa dirinya sebenarnya karena tak ingin orang menilainya dengan sebelah mata. Ya, baginya menjadi sederhana lebih baik, lebih mudah baginya untuk mencari teman yang benar-benar mau menerimanya apa adanya. "Kalau semua orang ngomong harus karena pengalaman, nggak ada guru sejarah di sekolah." Nava berkilah. Raka tersenyum. "Aku baru tahu kalau kamu pinter ngomong." "Aku juga pinter buat orang naik darah," ucap Nava yang langsung menarik tangan Emi untuk pergi dari sana. Emi hanya diam, ia memikirkan apa yang Nava katakan. Membenarnya cara berpikir teman kosnya itu dalam hati. . . Malam tiba, Nava keluar dari kamarnya, melihat ke sekeliling yang terasa sepi. "Yang lain ke mana, sih? Sepi amat. Emi juga, biasanya udah pulang. Main aja." Nava memutuskan untuk turun ke bawah, mencari induk semangnya untuk mengobrol. Di ruang tengah, gadis itu tak melihat orang yang ia cari. Ia malah melihat Raka yang baru saja membongkar paket yang dibungkus menggunakan kardus besar. Gadis itu berniat pergi begitu saja ketika melihat Raka, tak ingin bertemu pria yang sudah membuatnya sport jantung itu hanya berdua saja. Jika ada Emi, setidaknya Raka tak berbuat seperti tadi malam, membuatnya berdebar dan malu bukan kepalang. Melihat Emi berbalik, Raka memanggil nama gadis itu. "Nava!" Nava menoleh, lalu menyeringai. "Yah!" Raka tersenyum. "Mau ngapain?" "Panggil aku mbak dulu." "Iya, Mbak Nava mau ngapain? Kok nggak jadi?" tanya pemuda itu. "Ibu kamu mana?" "Ibu sama Kak Fanya pergi kondangan, temennya ibu anaknya nikah. Kenapa?" tanya Raka yang sudah mulai bersikap santai pada Nava. "Nggak apa-apa. Sepi aja, biasanya anak-anak udah pulang, aku kesepian. Mau ngobrol aja sama ibu." "Oh, mereka main mungkin." Nava mengangguk. "Apa? Sekarang cuma ada aku sama Raka aja di rumah? Mending aku ngurung diri di kamar aja, deh," ucap Nava dalam hati. "Ya udah, aku balik ke atas." Nava pamit dengan berteriak, ia berlari secepatnya karena tak ingin berlama-lama dengan Raka. Raka mengerutkan keningnya, bingung dengan apa yang Nava pikirkan. Namun, beberapa saat kemudian ia akhirnya sadar kalau hanya ada dirinya dan Nava di rumah itu. Artinya ... Raka bisa menggoda gadis yang sudah beberapa hari ini berhasil menyita perhatiannya. Raka meninggalkan paket yang belum sempat ia cek kelengkapannya, lalu menaiki tangga menuju ke lantai dua. Raka sangat jarang naik ke lantai atas, ia hanya naik jika melakukan perbaikan, entah lampu yang mati atau kerusakan lain. Maka ia naik ke atas, jika tidak, maka ia tak akan pernah naik ke atas. Namun, kali ini keberadaan Nava berhasil membuatnya melakukan hal yang tak pernah ia lakukan. Nava sudah masuk ke kamarnya, menutup dan mengunci pintunya, lalu menyalakan musik untuk menghilangkan kesunyian. Suara ketukan pintu terdengar, Nava menatap pintu kamarnya dengan mata yang melotot tajam. Degup jantungnya semakin cepat, seolah ia baru saja turun dari roller coaster. Ia takut kalau itu adalah hantu. "Siapa?" tanya Nava. "Raka." Nava semakin terkejut dan takut setelah mengetahui kalau Raka yang mengetuk pintunya. "Mau apa?" Raka tak langsung menjawab, ia sendiri tak tahu kenapa ia datang ke kamar gadis itu. Yang ingin ia lakukan hanya mengganggu Nava, dekat-dekat dengan gadis itu berhasil membuatnya merasa senang tanpa alasan pasti. "Aku cuma mau bilang, kalau sepi begini, mungkin aja ada hantu di atas dalem lemari." Raka tersenyum puas, menggoda Nava. Nava buru-buru beranjak dari ranjangnya dan membuka pintu kamar. Matanya melotot pada Raka yang berdiri tepat di depan pintu kamarnya. "Kamu!" teriak Nava kesal. "Apa?" tanya Raka dengan tatapan nakal. "Resek banget, sih? Ganggu aja!" "Kamu bilang kesepian." "Terus?" "Mau aku temenin?" "Ogah! Sana pergi!" teriak Nava. "Yakin? Nggak takut kalau tiba-tiba,-" ucap Raka menggantung. Nava memukul lengan Raka. "Jahat banget, sih!" Raka tertawa. "Aku serius." Tiba-tiba ada suara langkah kaki yang terdengar sedang manaiki tangga. Raka yang tak ingin ketahuan berada di sana, segera mendorong tubuh Nava untuk masuk ke dalam kamar dan lalu menutup pintu rapat-rapat. Nava terkejut dengan apa yang dilakukan Raka. Pemuda itu mendorong tubuhnya sampai tubuhnya membentur dinding, jarak mereka pun sangat dekat. Dari jarak yang sangat dekat itu, Nava bisa mencium aroma parfum yang dipakai Raka. Degup jantungnya semakin cepat, bahkan lebih cepat dari pada tadi. "Yah!" Nava hendak marah, tetapi Raka buru-buru membungkam mulut gadis itu menggunakan telapak tangannya. "Ssssttt! Diem!" bisik Raka. "Mbak, udah makan belum?" teriak Emi dari luar. Ternyata gadis itu yang baru saja datang. Sembari membuka kunci pintu kamarnya, Emi berteriak pada teman kosnya itu karena tahu kalau Nava tak punya sepeda motor dan mungkin saja belum makan. Pada kenyataannya Nava belum makan, ia memang kelaparan dan tengah menunggu kepulangan Emi dari tadi. Namun, kini ia berada dalam posisi yang membuatnya tak bisa berkutik. Gadis itu tak menjawab dan malah sibuk menikmati degup jantungnya yang tak terkendali itu. "Jawab!" Raka meminta Nava menjawab, hanya dengan gerakan bibirnya saja. Pria itu tak berani bersuara, perlahan tangannya menyingkir dari bibir Nava. "Bilang kalo kamu udah makan, jangan bilang aku di sini. Aku akan cium kamu kalo berani bilang aku di sini," ancam Raka dengan berbisik. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN