Nava meringis, menyipitkan mata, tepat ketika embusan napas Raka mengenai lehernya.
"Aku nyicip, ya?" tanya Raka dengan berbisik. Apa yang pemuda itu lakukan sukses membuat Nava merinding seketika.
"Nyicip? Maksud dia, dia mau cium aku? Emang bibir aku sayur asem? Dicicip?" tanya Nava yang kini sudah berani membuka matanya, tetapi sebisa mungkin menjauhkan wajahnya dari wajah Raka. Padahal tubuh mereka hampir saling bersentuhan dan Raka masih memegangi tangan Nava.
"Maksud kamu? Kamu mau cium aku?" tanya Nava dengan mata yang melotot tajam.
"Teh." Raka menyeringai.
Tak lama kemudian Raka melepaskan tangan Nava dan tersenyum semakin lebar. "Aku pengen nyicip teh buatan kamu. Kenapa kamu mikir aku bakal cium kamu? Kelihatan banget sebenernya kamu yang pengen aku cium kamu, kan?" tanya Raka dengan nada menggoda.
Malu!
Nava malu setengah mati, ia memejamkan matanya, mengerutkan bibirnya dan mengepalkan tangannya. "Berengsek! Kenapa bisa aku tanya begitu?" ucap Nava dalam hati.
Raka terkekeh. "Gimana?"
"Apanya?" Nava melotot lagi dan lagi pada pemuda yang sudah mengambil jarak darinya.
"Boleh nggak aku nyicip?" tanya Raka, masih dengan nada menggoda, mimik wajahnya terlihat begitu senang.
Nava menatap tajam ke Raka seolah ingin membunuh pemuda itu menggunakan matanya.
"Kenapa? Kamu berharap aku beneran cium kamu? Kamu mau?" Raka melangkah maju, kembali mendekati Nava.
Namun, gadis itu pergi begitu saja. "Minum aja tehnya, semua. Dan aku nggak pernah berharap kamu cium aku!" Gadis itu sempat berhenti beberapa saat, menoleh pada Raka dengan sorot mata tajam sebelum akhirnya kembali ke lantai atas.
Nava benar-benar kesal pada anak induk semangnya, Raka berhasil mengobrak-abrik hatinya. Dari takut, benci, suka, benci lagi, Nava tak tahu harus dengan apa ia menyebut perasaannya ke Raka kali ini. "Dasar nyebelin!!!" Nava menutupi wajahnya menggunakan bantal, berguling ke kanan dan ke kiri, rasanya ia tak akan bisa tidur malam ini karena rasa malu.
Di tempat lain, ada Raka yang tersenyum senang, ia menyeruput teh buatan Nava dengan perasaan berbunga. "Segernya."
Pemuda itu meletakkan cangkir teh di meja kerjanya, ia memang belum tidur dan sedang lembur bekerja. Ya, Raka tengah menyusun video untuk diposting di chanel akun YouTube miliknya. Tujuannya ke dapur untuk mengambil air dingin, malah membuatnya bertemu dengan Nava. Apa yang barusan ia lakukan kepada salah satu penghuni rumah kos ibunya itu berhasil membuat mood-nya membaik, padahal sebelumnya ia merasa kesal karena ada salah satu konten kreator yang menyebutnya sebagai orang yang tidak memiliki pedoman.
Aksi panggung Raka tadi siang direkam dan diunggah ke media sosial salah satu penontonnya, tentu saja itu bukan Emi. Video itu mendapat banyak respon positif, banyak yang memuji aksi pemuda tampan yang memiliki suara merdu itu. Namun, beberapa orang yang memiliki pekerjaan yang sama dengannya, menganggap dirinya terlalu maruk dan bahkan tak berpendirian. Itu sebabnya Raka tak pernah merekam aksi panggungnya sendiri dan hanya fokus untuk konten makan-makan saja, ia terlalu lelah menghadapi orang-orang yang membencinya. Ia ingin bercerita pada seseorang, tetapi ia tak memiliki siapapun untuk bercerita. Ibu dan kakaknya tak ia izinkan ikut memikirkan hal yang tak penting itu.
"Aku juga pengen punya pacar," celetuk Raka sembari membayangkan kalau suatu hari nanti ia bisa memiliki hubungan spesial dengan Nava.
.
.
Emi mengetuk pintu kamar Nava, pagi-pagi sekali. "Mbak, bangun!" teriak Emi. Suara Emi begitu menggelegar sehingga berhasil membuat Nava bangun. Bahkan, tak hanya Nava, melainkan penghuni kos lain yang memilih menutup telinga mereka menggunakan bantal.
Nava membuka pintu kamarnya dengan mata yang masih merah, sembap. "Ada apa, Mi. Kamu sakit?" tanya Nava dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Ayo lari pagi." Nava memperhatikan penampilan Emi. Gadis itu memang sudah bersiap, sudah mengenakan pakaian olahraga dan wajahnya juga sudah terlihat cantik. Tak seperti dirinya yang masih bermuka bantal, membuka matanya saja masih terasa berat.
"Aku ngantuk, Mi." Nava memang masih mengantuk karena semalam ia tak bisa tidur dengan nyenyak. Gadis itu bahkan kembali merangkai kata-kata karena rasa kantuknya sudah hilang sejak Raka menggodanya di dapur.
"Ayo, dong, Mbak. Biar sehat." Emi merengek. Tangannya menarik tangan Nava, penulis novel daring itu akhirnya setuju.
"Aku solat dulu. Kamu tunggu di sini." Nava menunjuk bangku panjang di depan kamar mereka.
"Siap, Bos. Buruan, ya." Emi tersenyum puas.
Emi dan Nava akhirnya pergi lari pagi, berangkat sebelum hari mulai terang. Pada saat itu, keduanya secara tak sengaja bertemu dengan Raka yang memang lari pagi setia harinya.
Emi menatap Raka dengan lekat. "Kamu lembur tadi malem?"
Raka menyambar botol air minum yang Nava pegang dari tadi, dan lalu meminumnya begitu saja. Emi hendak mencegahnya, ia hanya mau bilang kalau itu air minum Nava dan gadis itu meminumnya langsung dari botol. "Kenapa rasanya Raka bersikap beda sama Mbak Nava?" tanya Emi dalam hati.
Nava sendiri menyeringai, kesal karena Raka tiba-tiba saja menyerobot air minumnya. "Resek banget, sih," gerutu gadis itu.
Raka tersenyum, menatap Nava dengan tatapan nakalnya, pemuda itu tak mengindahkan pertanyaan Emi dan malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Pikirannya mulai melanglang buana, tentu saja karakter utama dalam pikirannya itu adalah Nava.
"Bukan aku ya yang bagi video kamu," ucap Emi lagi, berusaha mengakhiri tatapan Raka ke Nava yang membuat gadis itu merasa cemburu.
"Aku tahu. Tenang aja, aku nggak marah sama kamu. Thanks ya tugas akuntansinya." Raka akhirnya menatap Emi.
Nava bingung, tak tahu dengan maksud ucapan Emi.
"Nggak usah didengerin, dia cuma iri aja sama kamu karena kamu serba bisa." Emi kembali berbicara tentang hal yang tak dipahami Nava.
Alih-alih bertanya, Nava malah mematung dan mencoba mencerna obrolan Emi dan Raka dengan asumsinya sendiri.
"Iya, aku tahu. Aku emang dilahirin terlalu sempurna, nyaris nggak punya cela. Udah ganteng, tinggi, pinter nyanyi, pasti banyak yang iri sama aku." Raka menyombongkan diri, ia memang sengaja berkata seperti itu agar Nava mendengarnya.
Nava menyeringai, lalu menatap Emi dan memutuskan untuk bertanya langsung. "Ada apa, sih?"
"Itu si Raka banyak yang nyerang semalem. Pas dia nyanyi kemarin itu, ada yang posting. Nah, youtuber lain ada yang sebut kalo ada youtuber yang nggak tahu malu, nggak berpendirian, suka ikut-ikutan. Ya walaupun nggak sebut nama Raka langsung, tapi terang-terangan mereka sebut vlogger makanan yang followernya udah jutaan. Siapa lagi kalo bukan Raka," sahut Emi panjang lebar.
Nava lalu menatap Raka dengan tatapan iba.
"Makanya Raka nggak mau buat konten nyanyi-nyanyi, pasti rame, banyak yang suka memang, tapi banyak juga yang nyerang dia. Sindir-sindir di medsos mereka." Kembali Emi menjelaskan.
"Kenapa harus dipikirin?" tanya Nava yang membuat Raka cukup terkejut.
"Maksudnya, kamu mau aku abaikan ocehan meraka?"
Nava mengangguk. "Kalau perlu nyanyi aja tiap hari. Biar berbusa mulut mereka, kamu dapet banyak duit."
Raka terkekeh. "Kamu mau aku manfaatin ocehan mereka. Karena mereka lagi ngomongin aku, aku post aja video nyanyi biar banyak yang buka akunku?"
Nava mengangguk.
"Aku bukan tipe orang yang seperti itu." Raka menggelengkan kepalanya.
"Terus, kamu orang seperti apa?" tanya Nava dengan kedua alis yang terangkat sempurna.
Raka benar-benar terkejut mendapat pertanyaan seperti itu dari Nava, tak menyangka gadis itu memiliki cara pandang seperti itu.
"Jangan naif jadi orang," imbuh Nava.
Raka terkekeh, lagi dan lagi. Merasa tersinggung dengan ucapan Nava, baginya ucapan gadis itu adalah hinaan. Sebagai pemuda multi talenta, ia jarang menerima hinaan, kecuali dari orang-orang di dunia maya. Nava adalah orang yang berani terang-terangan menyinggung perasaan Raka di hadapan pemuda tampan itu secara langsung.
Bersambung...