Raka menyipitkan matanya, mengerucutkan bibirnya dan lalu memutar bola matanya. "Apa aku harus suka sama dia buat bisa simpen nomor dia?" tanya Raka yang malah memutar kata, membuat Emi merasa bingung. Sakit hati? Tentu saja, Emi tak ingin Raka dan Nava semakin dekat. Namun, ia merasa bingung karena Raka malah berkata seperti itu. "Terus, kenapa kamu minta nomornya Mbak Nava?" "Oh, itu ... aku mau nawarin kerjaan sama dia. Temenku ada yang nyari kerja, biar nanti aku kasih nomornya Nava ke temenku." Raka berbohong. Tujuan utamanya adalah ingin menyimpan nomor Nava, ia ingin mengganggu penulis novel daring itu. Emi percaya begitu saja, rasa cemburu di hatinya perlahan luntur. Senyumnya mulai mengembang. "Nanti aku bagi ke kamu, sekarang aku nebeng kamu, ya?" Raka mengangguk. "Oke." Emi

