24. Tanya nomor

1009 Kata

Nava kembali masuk ke kamarnya dengan perasaan tak karuan. "Kenapa aku jadi serba salah begini? Dia tahu aku ketemu Raka begitu aja udah marah. Gimana kalo dia tahu Raka pernah cium aku?" Malam itu, Nava memilih begadang hingga pagi menjelang, ia menulis banyak naskah. Gadis itu tak berencana bangun lebih cepat untuk lari pagi seperti biasanya karena percaya Emi masih marah padanya. Namun, Emi tetap membangunkan teman satu kosnya itu. "Mbak, kamu nggak marah sama aku, kan? Aku minta maaf." Emi menggedor pintu kamar Nava beberapa kali. Tak ada sahutan karena pemilik kamar memang sedang tidur pulas. Namun, Emi tak menyerah begitu saja dan terus menggedor pintu kamar itu hingga ada sahutan dari dalam. Nava membuka pintu kamarnya dengan mata yang sulit terbuka sempurna. "Apa, Mi? Aku baru

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN