"Mas, makan buah dulu ya. Biar cepet sembuh." Aruni mendekatkan sepotong buah apel yang sudah dikupasnya ke arah Aji yang terbaring diam di atas tempat tidur rumah sakit. Sebuah senyuman manis terukir di wajah cantik itu.
"Jangan sok peduli, Aruni. Kau membuatku muak!" Tangan Aji mendorong kasar uluran tangan istrinya itu ditemani sebuah tatapan tajam penuh kebencian dari sorot matanya.
Tangan aruni yang sedang memegang garpu pun terhempas dan menjatuhkan garpu dan apel yang ada di tangannya.
Aruni terdiam beberapa saat. Sikap suaminya berubah sejak beberapa bulan terakhir. Bukan tanpa alasan. Aruni sangat paham mengapa sikap Aji berubah drastis seperti itu. Semua memang karena kesalahannya yang sudah sangat melukai hati suaminya itu.
Manik hitam yang dulu menatapnya penuh cinta kini telah berubah menjadi tatapan kebencian yang terasa begitu dingin setiap melihatnya.
Aruni menunduk pelan. Berusaha menegarkan hatinya dan sekuat tenaga menahan butiran bening itu jatuh. Ada harga yang harus dibayarnya karena kesalahan yang sudah diperbuatnya.
"Atau Mas mau roti? Tadi aku minta Pak Sardi membelikan roti kesukaan Mas," ucap Aruni bangkit dari tempat duduknya dan mengambil garpu yang terjatuh tadi dari lantai.
Baru saja Aruni akan berjalan kembali ke tempat duduknya, pintu kamar rawat inap itu tiba-tiba terbuka.
Kedua netra Aruni spontan melihat ke arah pintu. Sesosok perempuan masuk dengan langkah terburu-buru.
"Mas!" teriak perempuan itu histeris begitu melihat Aji di atas tempat tidur.
"Kenapa bisa begini, Mas? Aku baru aja pulang dari Jepang malah mendengar kabar seperti ini. Mas tahu gak sih gimana khawatirnya aku?" Perempuan itu menggenggam tangan Aji dengan erat. Wajahnya diselimuti ekspresi khawatir yang sangat membuncah. Dia sama sekali tidak mengindahkan kehadian Aruni di sana.
"Mas tidak apa-apa, Sayang. Mas cuma kecapekan kerja. Akhir-akhir ini pekerjaan Mas lagi banyak-banyaknya." Wajah Aji berubah drastis. Sebuah senyum manis terukir di wajahnya. Netranya menatap perempuan itu dengan begitu teduh. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang dilihat oleh Aruni tadi.
Tangan Aruni mengepal kuat. Tatapan itu dulu miliknya. Siapa perempuan yang kini dengan lancang ikut menikmati hal itu?
"Mbak teman kerjanya Mas Aji?" Tanya Aruni dengan sebuah senyum yang sekuat tenaga diukirnya meski hatinya sakit melihat hal yang jelas-jelas tidak wajar dilakukan lawan jenis berkedok teman.
"Dia Dira. Istriku. Kami sudah menikah siri," jawab Aji.