Episode 1 Gugatan Cerai

1085 Kata
“Istri siri?” Aruni tercekat melihat ke arah Aji dan Dira bergantian. Aruni sama sekali tidak menyangka Aji bisa membagi cintanya semudah itu pada wanita lain. Aji yang dikenalnya selama ini adalah seorang pria yang begitu setia mencintainya. Bahkan saat semua orang mencemooh Aruni yang tak kunjung hamil di usia pernikahan mereka yang menginjak tahun ketiga. “Bisakah kamu meninggalkan kami berdua sebentar? Aku ingin melepas rindu dengan Dira. Atau kamu ingin tetap berada di sini?” ucap Aji pada Aruni yang masih berdiri mematung. Aruni menatap dalam suaminya untuk beberapa saat sebelum akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Tidak ada satu katapun yang bisa terucap dari dalam mulut Aruni. Hal ini terlalu menyakitkan baginya. Tapi bagaimana mungkin dia bisa membantah dan meluapkan kemarahannya sementara dia sudah lebih dulu menyakiti hati suaminya itu meskipun hal itu terjadi tanpa disengaja. “Bukankah kita sepakat hanya sebatas sepasang kekasih? Kenapa tadi Bapak bilang kalau kita sudah menikah siri?” tanya Dira begitu Aruni keluar. “Jangan panggil saya dengan panggilan itu jika berada di dekat Aruni. Saya takut kamu tanpa sengaja memanggilku di depannya seperti itu dan mengacaukan semuanya.” Aji menarik tangannya yang berada di dalam genggaman Dira dan memperbaiki posisi duduknya. Dira baru tersadar kalau sejak tadi dia lupa melepaskan tangan Aji karena terhanyut dengan drama yang sedang dimainkannya di hadapan Aruni tadi. “Saya sengaja mengubah skenario kita. Saya ingin Aruni lebih cepat membenciku dan mengajukan gugatan cerainya. Saya akan mengganti isi perjanjian kita dan menambah nominal bayarannya,” lanjut Aji. Dira menatap Aji dengan cukup lama. “Ada apa? Kamu keberatan? Kamu tidak boleh mundur Dira. Aku sudah memperkenalkan kamu sebagai istri siriku pada Aruni. Kamu tahu kan apa konsekuensi jika kamu tiba-tiba berhenti di tengah jalan? Semua sudah kita sepakati sejak awal. Saya tidak main-main dengan perjanjian itu.” Aji membalas dengan tatapan tajam. “Bagaimana mungkin saya membatalkan perjanjian itu. Saya membutuhkan uangnya dan Mas membutuhkan jasa saya. Mutualisme kan? Hanya saja saya ragu hal ini akan berjalan cepat,” jawab Dira. “Kenapa?” Aji mengernyitkan keningnya. “Sepertinya kalian saling mencintai satu sama lain, dan cinta itu sangat kuat. Aku khawatir bukan hanya Aruni yang akan merasakan sakit di sini.” Dira tersenyum ke arah Aji. Aji segera membuang wajahnya mendengar ucapan Dira barusan, “Itu bukan urusanmu, Dira. Lakukan saja tugasmu dengan baik.” “Baiklah, aku pulang dulu, Mas. Jika ada apa-apa, hubungi saja aku. Aku akan segera datang.” Dira bangkit dari tempat duduknya dan mulai beranjak meninggalkan Aji. “Ingat, jangan sampai rahasia ini terbongkar dimanapun, terutama di kampus,” ingat Aji yang berhasil membuat langkah Dira terhenti dan membalikkan tubuhnya kembali. Dira menganggukkan kepalanya dan memberikan isyarat ‘oke’ dengan tangannya kemudian melanjutkan langkahnya. Manik hitam Aji mengikuti setiap gerakan Dira sampai keluar dari dalam ruangan rawat inapnya itu. Dira membuka pintu ruangan rawat inap Aji dan berjalan keluar. Netranya langsung menangkap keberadaan Aruni yang sedang duduk di bangku depan ruangan itu. Suara pintu yang ditutup oleh Dira akhirnya menyadarkan Aruna dari lamunannya dan spontan melihat ke arah sumber suara. “Kalian sudah selesai?” tanya Aruni sambil berdiri dari tepat duduknya dan menatap ke arah Dira. Dira menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, “Aku Dira. Kita belum sempat berkenalan tadi.” Dira mengulurkan tangannya ke arah Aruni bermaksud ingin berjabat tangan. Aruni menatap uluran tangan itu beberapa saat sebelum meresponnya. “Aruni,” balas Aruni singkat sambil membalas jabatan tangan Dira. “Maaf jika kedatanganku tadi mengejutkan, Mbak. Aku juga sangat syok mendengar kabar kalau Mas Aji dirawat di Rumah Sakit.” “Kalian sudah lama saling kenal?” tanya Aruni. “Belum lama.” “Kapan kalian menikah?” tanya Aruni lagi. Dira terdiam. Netranya menatap lekat wajah Aruni yang terlihat berusaha untuk tegar berdiri di hadapannya. Jelas Aruni bukan wanita yang lemah. Dira tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya dia jika di posisi Aruni saat ini. “Lebih baik Mbak dan Mas Aji bicara aja dulu berdua. Mbak bisa menanyakan hal itu dengan Mas Aji. Saya pamit dulu ya, Mbak,” jawab Dira kemudian berjalan meninggalkan Aruni yang terdiam sambil terus menatap Dira yang berjalan menjauh. Aruni menghelakan napasnya dengan kasar. Entah bagaimana caranya membicarakan hal ini dengan suaminya. Dia tidak tahu apakah hatinya akan sekuat itu mendengar setiap penjelasan mengenai pernikahan siri itu. Aruni mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan rawat inap suaminya. Aruni berpura mengambil segelas air minum hangat dan meneguknya pelan sebelum memulai percakapan. “Mas sengaja kan?” tanya Aruni begitu selesai meneguk habis air minumnya. Aji yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Aruni sejak masuk tetap terdiam. “Mas mau membalas sakit hati mas ke aku kan?” lanjut Aruni karena Aji tak kunjung bersuara. “Maksud kamu tentang Dira?” “Jangan berpura tidak mengerti, Mas.” Aruni membalas tatap Aji. “Aku mencintainya dan Dira juga mencintaiku, setelah itu kami menikah. Tidak ada alasan lain.” Aruni memegang kuat gelas yang ada di tangannya. Seperti dugaannya tadi. Pembahasan ini akan sangat menyakitkan baginya. Tapi dia juga tidak ingin memendam semua pertanyaan di dalam hatinya. “Kenapa tidak menceraikan aku terlebih dahulu, Mas? Setelah itu kamu bebas menikahi siapapun!” nada bicara Aruni mulai meninggi. Ini bukan tentang kemarahan, ini tentang rasa kecewa yang mendalam. “Silahkan jika kamu ingin mengajukan gugatan cerai.” Aruni mengalihkan tatapannya dari Aji. Diletakkannya gelas yang ada ditangannya ke atas meja dengan keras. Aji terlalu keras kepala. Aruni mengira Aji akan segera menceraikannya sejak sebuah kejadian menyakitkan itu, tapi perkiraannya salah. Aji tidak pernah menalaknya meski sikapnya semakin hari semakin dingin. Ternyata bukan kalimat talak yang diterimanya, melainkan seorang madu yang menjadi pelampiasan dendamnya. “Jika kamu tidak menerima kehadiran Dira, aku persilahkan kamu untuk mengajukan gugatan ceraimu, Aruni. Jika kamu tidak mengajukan gugatan cerai, aku anggap kamu sudah menerima kehadiran Dira sebagai adik madumu,” tegas Aji. Aruni menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menahan perih dan sesak di dalam dadanya. Wajahnya basah. Kedua tangan Aji mengepal kuat. Segera dialihkannya wajahnya dari Aruni. Hatinya ikut sakit melihat wanita yang begitu dicintainya menangis tersedu. Dia dulu selalu berjanji di dalam hatinya, tidak akan pernah membuat air mata Aruni jatuh karena perbuatannya. Tapi kini janji itu diingkarinya dengan sengaja dan sadar meski ada alasan mendalam di balik semua itu. “Baiklah jika itu mau Mas,” ucap Aruni sambil menyeka air matanya. Aji tercekat. Wajahnya yang tadi beralih dengan cepat kembali menatap Aruni. Itu adalah kalimat yang ingin di dengarnya tapi terasa begitu perih di hatinya. Aruni menyetuju perpisahan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN