“Pak Aji sudah boleh pulang hari ini. Tapi Pak Aji tetap harus menjaga pola makan dan pola istirahatnya. Jangan terlambat makan dan terlalu banyak begadang dulu,” ucap Dokter yang memeriksa Aji sambil membenarkan stetoskop yang telah dipakainya.
“Tidak ada masalah lagi dengan lambungnya, Dok?” tanya Aruni yang berdiri di samping ranjang Aji berhadapan dengan Dokter.
“Perlukaan di dinding lambungnya sudah lebih baik. Nanti saya akan berikan resep untuk obat yang harus dikonsumsi di rumah,” jawab Dokter.
“Baik, Dokter.” Aruni menganggukkan kepalanya.
“Saya permisi dulu, Pak, Bu.” Dokter itu pamit setelah menuliskan sesuatu di berkas status kesehatan yang ada di tangannya.
“Terima kasih, Dokter,” ucap Aji dan Aruni hampir bersamaan.
Dokter itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum sebelum berjalan keluar dari dalam ruangan rawat inap itu.
Aruni membuka tas yang ada di atas meja yang berada tidak jauh dari ranjang Aji dan mengambil sepasang baju untuk suaminya.
“Mas ganti baju dulu ya.” Aruni berjalan mendekati Aji sambil membawa sepasang baju.
“Subuh tadi aku sudah membereskan semua barang-barang kita. Jadi nanti kita bisa langsung pulang begitu administrasinya selesai,” lanjut Aruni sambil berdiri membukakan setiap kancing baju yang akan dipakai oleh Aji.
“Aku bisa melakukannya sendiri. Keluarlah,” ucap Aji sambil mengambil baju yang ada di tangan Aruni.
Aruni terdiam. Suara Aji masih sopan dan lembut meskipun terasa begitu dingin. Hanya saja penolakan itu bagai sembilu yang menyayat batin Aruni sebagai seorang istri, meskipun tak lama lagi posisi itu akan dilepasnya dan digantikan oleh wanita lain.
Tiba-tiba pintu ruangan itu diketuk oleh seseorang. Tak lama kemudian seorang suster muncul dari balik pintu.
“Administrasi Pak Aji sudah siap. Ibu bisa menyelesaikannya di ruangan administrasi sekarang,” ucap Suster begitu berjalan mendekati Aruni.
“Baik, Sus. Saya akan segera ke sana. Terima kasih,” jawab Aruni.
“Sama-sama, Bu.” Suster itu menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dari dalam ruangan.
“Aku ke ruangan administrasi dulu, Mas,” pamit Aruni pada Aji yang terlihat enggan melihat ke arahnya, berpura sibuk dengan baju yang akan dipakainya.
Aruni menghelakan napas halus kemudian berjalan keluar dari dalam ruangan rawat inap menuju ke ruangan administrasi rumah sakit.
“Aruni!” panggil seseorang saat Aruni baru saja menandatangai berkas administrasi suaminya.
Aruni spontan melihat ke arah sumber suara. Wajahnya seketika memucat dengan kedua manik hitam yang membulat. Seakan tidak percaya siapa yang sedang berdiri di dekatnya kini.
“Ma-Mas Adam?” ucap Aruni terbata, menyebut nama pria yang memanggilnya tadi.
“Kamu ngapain di sini? Siapa yang sakit? Kamu? Astaga, Wajahmu sangat pucat, Aruni,” ucap Adam bertubi-tubi sambil memindai tubuh Aruni dari atas sampai bawah, mencari tahu apa yang sedang Aruni alami dengan wajah yang begitu khawatir.
“Bukankah aku sudah bilang jangan pernah berada di sekitarku lagi, Mas Adam!”
“Ini kan bukan sebuah pertemuan yang disengaja, Aruni. Kebetulan saja kita bertemu di sini. Apakah Aji juga ada di sini?” Adam melihat ke sekitarnya, mencari sosok Aji.
“Mas Aji sedang dirawat di sini, Mas. Hari ini kami akan pulang ke rumah. Urusanku di sini sudah selesai. Aku duluan, Mas,” balas Aruni terburu-buru. Napasnya sampai tersengal berusaha mempercepat segala kata dan momen saat ini.
“Tunggu, Aruni!” Adam meraih tangan Aruni yang baru saja akan meninggalkannya.
Langkah Aruni seketika terhenti dan membalikkan tubuhnya. Dengan cepat Aruni menarik tangannya dari genggaman Adam.
“Apa kamu membenciku karena kejadian itu? Kamu terus menghindariku, Aruni. Bahkan di saat kita tidak sengaja bertemu seperti ini. Tatapanmu berbeda.”
“Aku hanya tidak ingin menambah masalah yang sudah rumit ini, Mas. Ada baiknya jika kita berpura tidak saling kenal satu sama lain.”
“Tapi aku tidak ingin seperti itu. Kejadian itu bukan sesuatu yang disengaja. Tak seharusnya kita malah memutuskan tali silaturahmi seperti ini kan?” bantah Adam.
“Aku permisi dulu, Mas.”
Aruni memilih mengabaikan Adam. Saat ini hidupnya sudah sangat hancur. Entah apa lagi yang harus direlakannya pergi akibat kejadian nahas itu.
Dalam diam Aruni membenarkan apa yang dikatakan Adam tadi. Kejadian itu kesalahan yang sama sekali tidak mereka sadari. Entah kenapa hal itu bisa terjadi.
“Arrrghh!” Aruni mengusap wajahnya dengan kasar sambil terus melangkahkan kakinya kembali menuju ke ruangan rawat inap Aji. Hidupnya berubah 180 derajat setelah kejadian itu.
“Maafkan aku, Mas Adam. Bukan maksudku untuk membencimu. Tapi rasa takut dan rasa bersalah pada Mas Aji membuatku harus menghindar darimu. Entah bagaimana caraku untuk membuat kepercayaan Mas Aji kembali utuh seperti dulu,” gumam Aruni sepanjang perjalanan.
Aruni tiba di depan ruangan rawat inap Aji. Begitu dia membuka pintu ruangan itu, suara tawa renyah menggema dari arah dalam. Aruni mengenal suara itu. Suara khas wanita yang mampu membuat hidupnya hancur dalam sekejap.
“Dia datang lagi. Pasti Mas Aji yang menelponnya, memberi tahu bahwa dia sudah diperbolehkan pulang hari ini,” batin Aruni.
Niatnya untuk masuk ke dalam ruangan itu diurungkan. Aruni memilih duduk diluar. Setidaknya sampai batinnya kuat untuk masuk ke dalam dan melihat kemesraaan suaminya dengan adik madunya itu.
“Ngapain duduk di luar, Mbak? Administrasinya sudah selesai? Mas Aji sudah siap. Tadi aku yang bantuin Mas Aji ganti baju,” ucap Dira yang tiba-tiba keluar dari dalam.
Aruni bangkit dari tempat duduknya, menatap nanar wanita yang masih berdiri di depan pintu. Tubuhnya terasa dialiri sengatan listrik. Panas dan perih mendengar wanita itu membantu memakaikan pakaian suaminya. Menikmati setiap jengkal bagian tubuh yang dulu hanya menjadi miliknya.
Aruni tersenyum simpul kemudian berjalan masuk ke dalam tanpa menjawab apapun. Begitu tiba di dalam, dia melihat Aji sudah duduk di sofa sambil memainkan gawainya.
“Malam ini aku akan menginap di apartemen Dira. Kamu pulang saja duluan. Jangan menungguku. Mungkin aku akan bersama Dira untuk beberapa minggu ini,” ucap Aji saat Aruni memeriksa kembali barang-barang mereka.
“Aku sudah meminta Pak Sardi untuk naik dan mengambil semua barang-barang ini. Kamu tinggal turun dan pulang,” lanjut Aji sambil berdiri dari tempat duduknya.
“Ayo sayang kita pulang. Mas sudah tidak sabar ingin baring sambil memeluk kamu.” Aji meraih tangan Dira dan berjalan menuju ke pintu.
“Kami duluan ya, Mbak,” pamit Dira begitu melewati Aruni.
Aruni terdiam sampai suara pintu terdengar dibuka dan langkah sepasang manusia itu menjauh pergi. Tubuh Aruni meluruh ke lantai. Tangisnya pecah tak terbendung lagi. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan bagaimana hancurnya hatinya saat ini.
Tanpa disadarinya, seorang laki-laki telah berdiri di depan pintu ruangan menatapnya dengan tatapan sendu.